Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, setengah tahun sudah Bian tinggal bersama keluarga Mika dan hubungan Bian dan Mika pun semakin lama semakin dekat.
"Pak, Bu, setelah makan malam Rian mau minta izin untuk bicara dengan Bapak dan Ibu," seru Rian.
"Kamu mau bicara apa, Rian?" tanya Pak Rusdi.
"Nanti saja kalau sudah makan malam," sahut Rian dengan senyumannya.
Mika yang mendengar itu merasa deg-degan, entah kenapa dia punya firasat kalau Rian akan mengatakan hal yang menyangkut perasaannya. Anggap saja Mika kepedean, tapi kalau raut wajah Rian seperti itu, sudah pasti Rian akan bicara mengenai masalah perasaan.
Setelah selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruangan keluarga.
"Apa yang ingin kamu bicarakan kepada kami, Nak?" tanya Mama Nuri.
Rian mulai mengatur nafasnya dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.
"Pak, Bu, Rian cuma ingin berterima kasih kepada Bapak dan Ibu karena selama ini sudah mau merawat Rian, maaf karena Rian sudah lancang, tapi Rian memang tidak bisa membohongi perasaan Rian kalau Rian saat ini sudah jatuh cinta kepada Mika," seru Rian.
Pak Rusdi dan Bu Nuri saling tatap satu sama lain, sedangkan Mika hanya bisa menundukan kepalanya karena malu.
"Kalian pasti ragu dengan Rian karena identitas Rian tidak jelas, tapi Rian sudah terlanjur jatuh cinta kepada Mika. Masalah pekerjaan, Rian akan mencari pekerjaan apa pun pekerjaannya Rian akan menjalaninya untuk kebahagiaan Mika. Masalah mas kawin, Rian sudah membelinya karena selama ini uang yang diberikan oleh Bapak, Rian simpan."
Pak Rusdi tampak terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Bukan masalah materi yang ia pikirkan, tapi ia takut di kehidupannya Rian sudah mempunyai istri atau pacar, karena secara saat ini posisinya Rian sedang hilang ingatan.
"Bagaimana Pak, Bu, apa kalian mengizinkan Rian untuk menikahi Mika?" seru Rian.
Lagi-lagi Pak Rusdi dan Bu Nuri hanya saling pandang, kemudian menoleh ke arah Mika yang dari tadi hanya bisa menundukan kepalanya.
"Bagaimana Mika? Apa kamu sudah siap untuk menerima lamaran dari Nak Rian?" tanya Pak Rusdi.
"Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, karena yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan," sambung Bu Nuri.
"Tidak Ayah, Ma, sebenarnya Mika juga menyukai A Rian," lirih Mika dengan malu-malu.
Rian tersenyum karena merasa senang dengan jawaban Mika, dia tidak menyangka kalau Mika pun punya perasaan yang sama seperti dirinya.
"Nak Rian, Bapak tidak memperdulikan Nak Rian datang dari keluarga seperti apa, cuma yang Bapak khawatirkan, takutnya Nak Rian di kehidupan sebelumnya punya kekasih atau bahkan punya istri. Nanti Bapak akan merasa bersalah dan kasihan kepada Mika," seru Pak Rusdi.
"Pak, Rian jamin kalau Rian tidak akan meninggalkan Mika walau pun apa pun yang terjadi karena Rian sudah yakin dengan perasaan Rian kepada Mika," sahut Rian mantap.
"Bagaimana Ma?" tanya Pak Rusdi dengan menatap istrinya itu.
"Kalau Mama terserah Mika saja, kalau Mika bahagia, Mama pun akan ikut bahagia," sahut Bu Nuri.
"Ya sudah Nak Rian, Bapak terima lamaran kamu. Bagaimana kalau dua minggu dari sekarang, kalian menikah kebetulan dua minggu lagi Mika ulang tahun," seru Pak Rusdi.
"Rian ikut saja Pak, kapan baiknya."
"Baiklah."
Rian melirik ke arah Mika dan Mika pun sama, keduanya saling melempar senyum satu sama lain.
Sementara itu, Parman yang awalnya ingin menemui Pak Rusdi seketika menghentikan langkahnya karena mendengar pembicaraan antara mereka.
Malam ini Parman sudah tampil rapi karena dia berniat ingin melamar Mika juga, namun sayang Rian lebih dulu yang melamar Mika.
"Kurang ajar pisan eta si Rian, sudah diurus baik-baik sekarang malah minta si Neng geulis, saya saja yang dari dulu suka sama si Neng geulis gak berani ngomong seperti itu," batin Parman dengan kesalnya.
Parman pun memilih untuk pergi dari rumah Mika, Parman sangat marah kepada Rian karena sudah mendahuluinya melamar Mika.
Setelah perbincangan itu, Rian pun mengajak Mika untuk ngobrol sebentar di teras rumah.
"Apa Aa teh sudah yakin mau menikahi Mika?" tanya Mika.
"Yakin Mika, sangat yakin malah."
"Mika mah takut, kalau yang dibicarakan Ayah tadi benar."
"Yang mana?"
"Itu masalah kehidupan Aa yang sebelum hilang ingatan, bagaimana kalau Aa teh sudah punya istri? Terus kalau kita menikah dan ingatan Aa kembali, bagaimana? Apa Aa akan meninggalkan Mika dan menceraikan Mika?"
Rian memberanikan diri untuk menggenggam tangan Mika dan itu membuat Mika terkejut.
"Apa pun yang terjadi ke depannya, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kamu percayakan sama aku?"
Mika tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Iya A, Mika percaya dan Mika pegang janji Aa."
***
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Mika berangkat ke klinik namun bedanya sekarang Rian akan antar jemput Mika ke klinik dan itu lagi-lagi membuat Parman kesal.
"Terima kasih ya A, sudah nganterin Mika ke klinik."
"Sama-sama, nanti aku jemput kamu jadi kalau aku belun datang kamu jangan pulang dulu."
"Iya A."
Rian pun pergi meninggalkan klinik menggunakan motornya, setelah itu Rian pun membantu Parman panen sayur-sayuran di kebun.
Parman yang merasa kesal kepada Rian, menyuruh Rian mengerjakan ini itu sedangkan dirinya hanya diam saja memperhatikan Rian.
"Kang Parman, pekerjaan kita masih banyak kalau yang mengerjakan hanya aku sendiri, tidak akan selesai-selesai. Bisakah Akang bantuin aku juga?" seru Rian.
"Kamu teh berani nyuruh-nyuruh saya, saya teh pekerja lama di sini jadi saya bebas ngelakuin apa pun. Kamu saja yang kerjanya lamban," ledek Parman.
"Bukanya lamban Kang, tapi kan perkebunan ini luas kalau aku yang kerjakan sendiri gak bakalan beres-beres, nanti Pak Rusdi bisa marah."
"Ya biarin, yang dimarahi pasti kamu bukanya saya."
Rian sudah tidak mau berkata apa-apa lagi, dia pun melanjutkan pekerjaanya. Sedangkan Parman hanya tersenyum senang, karena berhasil membalaskan dendamnya.
Lagipula, Parman akan memanfaatkan situasi biar dia bisa menjemput Mika.
Sementara itu, di restoran milik Bima...
Ririn dan Bima sedang bermesraan di ruangan pribadi Bima.
"Sayang, kapan kita akan menikah dan kamu bercerai dengan Bian?" seru Bima.
"Sabar dong sayang, belum juga satu tahun aku gak enak kalau harus memutuskan untuk menikah lagi, apa kata mertua aku nanti."
"Tapi aku sudah gak sabar ingin cepat-cepat menikahi kamu."
"Iya sayang, aku juga sudah gak sabar kok buat jadi istri kamu," sahut Ririn.
Bima memeluk Ririn dengan sangat mesranya, mereka berdua memang benar-benar tidak tahu diri bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.
💜
💜
💜
PENGUMUMAN EVENT
Hallo para reader kesayanganku, kali ini Author akan mengadakan Event buat kalian semua bagi yang mau ikutan cus masuk ke GC ku tapi bagi yang mau masuk ke GC ku harap sebutkan password "MAU IKUTAN EVENT" nanti Admin akan langsung acc.
Event berlangsung selama 2 bulan ya, dari tanggal 1 november sampai 31 desember dan pengumuman pemenangnya akan diumumkan tanggal 1 Januari 2023.
Siapa pun boleh ikut bebas hanya dengan syarat tap ❤ di karyaku yang berjudul "SUAMI AMNESIAKU", Rate bintang 5, like dan komen di setiap babnya dan dilarang melakukan boom like tanpa membaca.
Ada pun 5 misteri box untuk 5 orang top fans karyaku yang sudah setia dari karya pertama sampai sekarang dan selalu memberikan dukungannya.
Yuk, tunggu apa lagi cus ramaikan eventnya lumayan tahun baru dapat pulsa gratis😁😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
idih bener2 keterlaluan mah di Ririn udah kak cerein aja mereka biar bian sama mika aja dasar istri nggak tahu diri🤧
2022-12-08
1
DSN5
gak sabar nunggu Mika menikah dgn Bian
dan nunggu karma buat Ririn haha
2022-11-25
2
☠☀💦Adnda🌽💫
tambah nggak resep liat Ririn sama Bima ... aturan ad yg mergokin kelakuan busuk mereka biar kapok kasian keluarga Bima jg punya mantu nggak ad akhlak 🤭🤭
2022-11-08
1