Sudah satu minggu berlalu, tapi Mika dan kedua orangtuanya sama sekali belum menemukan Rian.
Setiap hari Mika selalu saja menangis sampai-sampai matanya bengkak.
"Neng, sudah satu minggu kita mencari dan kita sama sekali tidak menemukan keberadaan Rian bahkan kita sudah bolak-balik ke kantor polisi dan polisi bilang kalau benar anggotanya membawa salah satu korban ke rumah sakit itu tapi rumah sakit tidak menerima pasien bernama Rian waktu itu, terus kita mau cari ke mana lagi, Neng?" seru Ayah Rusdi.
"Mika, lebih baik sekarang kita pulang saja ke kampung, kita menunggu kabar saja di sana mudah-mudahan saja Rian selamat dan pulang," sambung Mama Nuri.
"Tidak Ma, Mika ingin tetap di sini mencari A Rian, Mika tidak mau pulang sebelum Mika bisa menemukan A Rian," sahut Mika dengan deraian airmata.
"Neng dengarkan Ayah, penginapan ini bayarnya mahal dan Ayah sudah tidak bawa uang lagi, ini yang terakhir. Kita tunggu saja kabar di kampung, mudah-mudahan ada keajaiban dan Rian segera ditemukan."
Mika terdiam dengan deraian airmatanya, dia tahu menyewa penginapan itu sangat mahal tapi Mika juga tidak mau pulang sebelum bisa menemukan suaminya.
"Tapi Yah----"
"Neng, Ayah mohon dan kamu jangan khawatir karena Ayah juga sudah bilang ke polisi kalau menemukan Rian, segera hubungi Ayah."
Mika pun tampak berpikir, hingga akhirnya setelah lama berpikir, Mika pun menganggukan kepalanya dan dia memutuskan untuk pulang ke kampung.
***
Bian melepaskan pelukannya dan memberikan buket bunga itu kepada Ririn.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu wisuda juga," seru Bian dengan senyumannya.
"Ka-mu ke-na-pa bi-sa ada di sini?" tanya Ririn terbata.
"Kenapa pertanyaannya seperti itu? Apa kamu tidak senang melihatku kembali? Jangan-jangan kamu mengharapkan aku mati, ya?" seru Bian.
Seketika wajah Ririn pucat dengan ucapan Bian, karena memang Ririn mengharapkan Bian mati.
"Kenapa kamu bisa muncul, Nak? Padahal kami sudah mengira kalau kamu sudah meninggal," seru Papa Yudi.
"Ini adalah keajaiban dari Allah, tapi aku tidak ingat sama sekali kalau selama satu tahun ini aku tinggal di mana," sahut Bian.
"Ya sudah tidak apa-apa, Alhamdilillah kamu bisa kembali lagi di tengah-tengah kami dan kami sangat bahagia," seru Mama Yulia.
Sementara itu, Bima yang hanya bisa melihat Bian dari kejauhan, memilih untuk pergi dari sana. Bian masuk ke dalam mobilnya dan dengan cepat segera meninggalkan tempat wisuda kekasihnya itu.
"Kurang ajar, kenapa si Bian bisa kembali seperti itu? Jelas-jelas aku lihat kalau mobilnya itu meledak," geram Bima.
Bima memukul stir mobilnya dengan sangat keras, sungguh dia sangat marah rencana dia akan menikah dengan Ririn kembali akan gagal.
"Brengsek!" teriak Bima.
Bian pun mengajak semuanya untuk makan bersama merayakan kelulusan istri tercintanya itu dengan kedua orangtua dan mertuanya.
Bian tidak pernah melepaskan genggaman tangannya kepada Ririn karena Bian benar-benar sangat merindukan istrinya tapi berbeda dengan Ririn yang tampak gelisah dan tidak nyaman karena takut kejahatannya bersama Bima terbongkar.
"Kenapa Bian kembali di saat aku mau menikah dengan Bima sih?" batin Ririn kesal.
Mereka semua pun duduk di sebuah restoran dengan privat room dan Bian sudah memesankan makanan untuk semuanya.
"Bian, selama satu tahun kamu ke mana saja? Kami sangat bahagia akhirnya kamu bisa kembali lagi, kami pikir kamu sudah tewas soalnya mobil kamu hancur bahkan sopir kamu pun tewas di tempat, kami sangat sedih saat jasad kamu tidak ditemukan," seru Papa Yudi.
"Bian juga tidak tahu Ma, yang Bian ingat hanya mobil Bian jatuh ke jurang habis itu Bian gak ingat apa-apa lagi. Entah Bian tinggal di mana dan dengan siapa, Bian sama sekali tidak ingat padahal Bian ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah menolong Bian," sahut Bian.
"Sudahlah jangan terlalu dipaksakan mengingat, yang penting sekarang kamu sudah kembali lagi dan kami sangat bahagia," seru Papi Ganendra.
Semuanya tampak bahagia, hanya Ririn yang dari tadi diam tidak bicara sedikit pun.
"Kamu kok diam saja sayang? Apa kamu sakit?" tanya Bian dengan mengusap pipi Ririn.
"Ah, tidak aku tidak apa-apa kok."
Setelah makan bersama, Bian pun mengajak Ririn pulang. Sesampainya di kamar, Bian memeluk Ririn dari belakang.
"Aku sangat merindukanmu, sayang," seru Bian dengan terus menciumi tengkuk Ririn.
"Bi, jangan seperti ini," tolak Ririn dan berusaha melepaskan diri.
"Kenapa? Kita kan sudah menikah? Apa kamu tidak merindukanku?" seru Bian.
"Bukan begitu Bi, maaf aku lagi datang bulan," dusta Ririn.
Seketika Bian terlihat kecewa tapi Bian juga langsung tersenyum dan memeluk Ririn.
"Maafkan aku, aku hanya sangat merindukanmu, aku akan sabar menunggu," seru Bian.
Lagi-lagi Ririn sama sekali tidak bahagia, bahkana saat ini yang ada dipikirannya Bima.
"Pasti Bima sangat marah sama aku," batin Ririn.
Sore pun tiba....
Akhirnya setelah berpikir panjang, Mika pun mau menuruti keinginan kedua orangtuanya. Mika dan kedua orangtuanya sore ini memutuskan untuk pulang ke kampung, selama dalam perjalanan Mika tidak henti-hentinya meneteskan airmata.
"A, kamu teh ada di mana? Mika sangat merindukan Aa, semoga Aa baik-baik saja dan segera pulang karena Mika dan calon anak kita sangat membutuhkanmu," batin Mika.
Mika sangat khawatir kalau ingatan Rian sudah pulih dan kembali kepada keluarganya.
"Maafkan Mika A, karena Mika tidak mengharapkan ingatan Aa pulih, Mika takut Aa akan melupakan Mika dan meninggalkan Mika," batin Mika dengan deraian airmatanya.
Mama Nuri mengusap punggung anaknya itu, hatinya pun ikut sakit melihat anaknya menangis seperti itu.
"Mama yakin kalau Rian akan kembali jadi kamu harus banyak-banyak berdo'a semoga Rian selamat dan pulang," seru Mama Nuri.
"Amin."
Malam pun tiba...
Ririn sudah tidur dengan lelapnya tapi Bian belum juga bisa tidur, entah kenapa tiba-tiba saja hatinya begitu sangat sakit.
"Ada apa ini? Kenapa hatiku tiba-tiba merasa sakit, bahkan dadaku terasa sesak," batin Bian.
Bian bangkit dari tidurnya dengan sangat pelan karena takut istrinya terbangun, lalu Bian pun menuju balkon kamarnya. Bian kbali memegang dadanya.
"Perasaanku tidak enak, dan dadaku juga terasa sesak, apa ada masalah dengan jantungku akibat kecelakan itu? Sepertinya besok aku harus periksa kesehatan lagi ke rumah sakit, takutnya ada apa-apa," batin Bian.
Bian pun berdiri menatap langit yang saat ini terlihat sangat indah dengan bintang yang bertaburan, begitu juga dengan Mika yang saat ini sedang berdiri di depan jendela kamarnya dengan tatapan yang menerawang jauh.
"A Rian, pulanglah," batin Mika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
nyesek banget jadi mika😢😢😢😢😢semoga semuanya cepat membaik ya mika kamu harus kuat dan sabar menunggu bian
2022-12-10
1
DSN5
Smoga aja Bian tahu kebusukan Ririn trs diceraiin si Ririnnya
2022-11-26
2
Ilah Alfiah
sabar ya mika semoga ajah ada keajaiban dan bian merasakan kesedihan yang kamu rasakan karena ada 8katan batin antara bian dan anak nya 😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥
2022-11-14
1