Keesokan harinya....
Bian mulai menggerakan tubuhnya, dia meraba-raba ke samping mencari keberadaan Ririn. Bian pun membuka matanya dan ternyata Ririn sudah tidak ada di sana.
"Sayang, kamu di mana?" panggil Bian.
Tidak ada jawaban, akhirnya Bian pun bangun dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Bian pun segera memakai baju dan keluar dari kamarnya.
"Sayang, kamu ada di mana?" teriak Bian.
"Ada apa, pagi-pagi sudah teriak-teriak?" seru Mami Maharani.
"Ririn mana, Mi?"
"Lah, memangnya tidak bilang dulu sama kamu, dia pagi-pagi sekali berangkat katanya Papanya sakit, mau bangunin kamu katanya gak tega soalnya lagi nyenyak tidurnya," sahut Mami Maharani.
"Kok, dia bangunin aku sih? Aku juga kan menantunya, kita bisa pergi sama-sama," sahut Bian kecewa.
"Ya sudah, sekarang kamu sarapan dulu nanti habis sarapan kamu susul Ririn ke rumah orangtuanya."
Bian pun akhirnya duduk dan sarapan bersama kedua orangtuanya.
"Pi, Bian izin belum bisa masuk kantor ya? Paling besok, Bian mulai kembali ke kantor lagi."
"Iya, terserah kamu saja," sahut Papi Ganendra.
Setelah selesai sarapan, Bian pun langsung menuju rumah mertuanya untuk menyusul Ririn. Sementara itu, Ririn ternyata saat ini sedang berada di apartemen Bima, dia berbohong mengatakan Papanya sakit karena dia ingin bertemu dengan Bima.
"Sayang, maafkan aku. Aku juga gak tahu kalau Bian masih hidup, bukanya kamu bilang kalau mobil Bian hancur ya? Tapi kenapa sekarang Bian masih hidup bahkan terlihat baik-baik saja," seru Ririn.
Ririn saat ini sedang membujuk Bima yang sedang marah kepada Ririn karena kemarin Ririn tidak menghubunginya sama sekali.
"Aku juga tidak tahu Ririn, kenapa semua ini bisa terjadi," sentak Bima frustasi.
Ririn menghampiri Bima yang saat ini sedang berdiri di depan jendela apartemennya. Ririn memeluk Bima dari belakang tapi Bima hanya diam saja.
"Sayang, sudah dong jangan marah terus, aku takut kalau kamu marah seperti ini," rengek Ririn.
"Kamu keterlaluan Ririn, kemarin kamu sama sekali tidak menghubungi aku, apa kemarin kamu sibuk melepas rindu dengan si Bian?" geram Bima.
"Sayang, maafkan aku. Kemarin aku susah sekali ngapa-ngapain soalnya Bian nempel terus sama aku, kalau aku menghubungi kamu sama saja aku bunuh diri dong," sahut Ririn.
Ririn melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Bima, Bima saat ini memang sangat marah kepada Ririn tapi Bima orangnya tidak tegaan dan tidak bisa marah lama-lama kepada Ririn.
Ririn pun mulai berjinjit dan mencium bibir Bima, tentu saja Bima membalasnya. Sementara itu, Bian baru saja sampai di rumah mertuanya.
Tok..tok..tok..
Ceklek...
"Nak Bian, tumben pagi-pagi sudah ke sini? Ririn mana?" tanya Mama Yulia.
Bian tampak terkejut saat mendengar Mama mertuanya menanyakan Ririn, padahal Ririn tadi pamit kepada Mami Maharani untuk pergi ke rumahnya karena Papanya sedang sakit.
"Oh, Ririn ada di rumah Ma. Barusan Ririn bilang ingin makan lontong, kebetulan Bian lewat sini jadi Bian mampir dulu," dusta Bian.
"Owalah, anak itu masih saja manja, mau apa-apa harus selalu dituruti. Ya sudah, ayo masuk dulu."
"Ah, tidak usah Ma, Bian hanya mampir sebentar karena katanya Papa sedang sakit."
"Sakit? Kata siapa? Papa tidak sakit kok, malahan pagi ini dia sudah berangkat ke kantor," sahut Mama Yulia.
Lagi-lagi Bian kaget, ternyata Ririn sudah membohonginya dan juga Maminya.
"Oh, berarti tadi aku salah dengar, ya sudah kalau begitu Bian pamit dulu, kasihan Ririn pasti sudah nungguin Bian."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya, Nak."
"Iya Ma."
Bian pun segera masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan rumah mertuanya itu.
"Ririn ke mana? Kenapa dia bohong?" gumam Bian.
Bian terlihat mengepalkan tangannya, dia benar-benar tidak menyangka kalau istrinya bisa membohonginya. Bian pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, dia ingin memeriksa mengenai kesehatannya.
"Bagaimana Dok, hasilnya?" tanya Bian saat selesai diperiksa.
"Hasilnya semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah, Tuan."
"Terus kenapa, jantung saya suka berdebar-debar tak karuan? Bahkan hati saya tiba-tiba merasa sakit tanpa sebab," seru Bian.
"Apakah anda sebelumnya pernah mengalami kecelakaan?" tanya Dokter.
"Pernah Dok, satu tahun yang lalu dan menurut keluarga saya, selama satu tahun itu saya menghilang bahkan keluarga saya pun sudah mengira kalau saya meninggal tapi buktinya saya masih hidup, tapi yang jadi permasalahannya, selama satu tahun itu saya tidak ingat apa-apa. Saya tinggal di mana, siapa yang menolong saya, semuanya saya tidak ingat," sahut Bian.
Dokter itu tampak terdiam sejenak. "Mungkinkah selama satu tahun itu anda mengalami amnesia?" seru Dokter itu.
Bian terdiam, dia benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi selama satu tahun belakangan ini. Bian pun menggelengkan kepalanya tanda dia tidak tahu apa-apa.
"Saya yakin kalau selama satu tahun anda menghilang, mungkin saja anda mengalami amnesia dan dibalik amnesia itu ada sebuah cerita yang mungkin anda lupakan karena saat ini anda sudah kembali pada ingatan anda. Kalau menurut saya, jantung anda berdebar-debar itu bukan karena ada masalah dalam jantung anda, tapi bisa jadi di luar sana ada yang sedang memikirkan anda. Mungkin saja jantung anda berdebar-debar itu sebuah perasaan yang muncul karena ada ikatan batin satu sama lain."
"Ikatan batin? Tapi sama siapa, Dok?" tanya Bian.
"Saya tidak tahu, itu hanya pemikiran saya saja karena kalau menurut pemeriksaan medis keadaan anda sangat sehat, jantung dan hati anda pun sehat tidak ada masalah."
"Baiklah, kalau begitu terima kasih, Dok."
"Sama-sama Tuan."
Bian pun akhirnya keluar dari rumah sakit dengan perasaan bingung, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Dokter itu.
"Apa benar ya, selama aku hilang, aku mengalami amnesia? Tapi siapa yang sudah menyelamatkan aku?" gumam Bian.
***
Sementara itu di kampung, Mika terlihat terus saja menangis membuat kedua orangtuanya merasa sangat khawatir apalagi saat ini Mika kurang sekali makan.
"Mika, makan dulu ya, biar Mama yang suapin kamu."
"Tidak Ma, Mika tidak lapar."
"Mika, kamu jangan seperti itu, ingat saat ini kamu itu sedang mengandung, kamu tidak mau kan kalau sampai terjadi kenapa-napa dengan bayi kamu?"
Mika tersentak dan langsung mengusap perutnya sendiri.
"Astagfirullah, Mika lupa. Maafkan Bunda sayang, karena Bunda sudah menelantarkan kamu dan tidak memperdulikanmu."
"Sekarang kamu makan, ya."
"Iya, Ma."
Mama Nuri pun akhirnya memutuskan untuk menyuapi Mika, Mama Nuri merasa sangat kasihan kepada Mika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
semoga kebohongan dan keculasan Ririn dan Bima semoga terbongkar 😡
2022-12-10
1
DSN5
Mulai ketahuan kebohongan Ririn ,besok ketahuan lgi pastii dehh
Bener tuh kata Dokter Bian ,,kamu ada ikatan batin sm Mika dn anakmu
2022-11-26
2
Bunda Elsha
udah mulai kebongkar kebohongan Ririn,
2022-11-15
1