Merasa Kenal

Butuh waktu berjam-jam untuk Odik dan Rian sampai di kota, hingga menjelang waktu makan siang, mereka pun baru sampai di kota.

"Dik, kita mampir dulu ke mesjid untuk shalat dzuhur habis itu kita makan siang," seru Rian.

"Iya Kang."

Setelah shalat dzuhur, mereka berdua pun mencari tempat untuk makan siang.

"Kita makan di warteg itu saja," tunjuk Rian.

Rian dan Odik pun masuk ke warung nasi untuk sekedar makan siang, setelah memesan makanan, mereka berdua pun duduk.

Rian melihat ke arah jalanan, dan tidak lama setelah itu ada sebuah mobil yang kebetulan berhenti karena macet. Mobil itu ternyata mobil Bima yang hendak mengantar Ririn ke kampus, jendela mobilnya terbuka.

Rian terus saja memperhatikan Ririn. "Kok, aku sepertinya kenal dengan wanita itu, tapi dimana ya?" batin Rian.

Rian terus saja memperhatikan Ririn, hingga Ririn pun tidak sengaja menoleh dan tampak terkejut melihat ada Bian di sana. Mobil Bima pun segera melaju dan Ririn terus saja menoleh ke belakang.

"Ada apa sayang?" tanya Bima.

"Bim, kok tadi aku seperti melihat Bian ya."

"Kamu salah lihat kali, Bian itu sudah di neraka. Lagipula kalau orang itu si Bian, dia pasti nyamperin kitalah gak mungkin dia diam saja," sahut Bima.

"Iya juga, mungkin aku salah lihat," seru Ririn.

Sementara itu, Rian terus saja melihat mobil Bima sampai tidak terlihat lagi.

"Kang, kenapa diam saja? Ayo makan, makanannya sudah siap."

"Ah iya."

Selama makan, Rian terus saja memikirkan wanita tadi.

"Perasaan aku kenal sama wanita itu, tapi siapa dan di mana?" batin Rian.

Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya pun selesai makan.

"Dik, toko pupuknya di mana?" tanya Rian.

"Tidak jauh dari sini kok Kang, di depan sana."

"Ya sudah, ayo kita cepat menuju tokonya biar kita juga langsung pulang."

Keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil dan menuju toko pupuk. Sesampainya di toko pupuk, Rian langsung menanyakan perihal pupuk yang temannya beli tempo hari.

"Pak, pasti Bapak tahu kan dengan karyawan Pak Rusdi yang sudah menjadi langganan beli pupuk di sini," seru Rian.

"Tahulah Mas, mereka setiap bulan beli pupuk di sini."

"Begini Pak, pupuk yang waktu terakhir kali karyawan beli itu sepertinya ada masalah soalnya tanaman sayur yang kami tanam tidak tumbuh sama sekali bahkan bibitnya pun membusuk."

"Masa sih Mas? Karyawan Pak Rusdi itu sudah belasan tahun jadi langganan saya, masa iya baru sekarang komplain padahal selama ini pupuk dari saya itu yang paling bagus dan Pak Rusdi pun tidak pernah komplain apa-apa," sahut pemilik toko.

"Coba Bapak cek pupuknya, kali aja ada yang bermasalah soalnya saya sama sekali tidak mengerti dengan masalah pertanian," seru Rian dengan menyerahkan sample pupuk kepada pemilik toko.

Pemilik toko pun segera memeriksanya dan ternyata benar saja, pupuk itu sudah di campur dengan sesuatu soalnya bentuknya pun jadi sedikit menggumpal padahal kalau yang bagus tidak menggumpal.

"Ini sepertinya ada yang sengaja mencampur pupuknya dengan sesuatu."

Rian dan Odik saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya pemilik toko mengatakan hal yang mengejutkan.

"Saya ingat, Mas Parman waktu itu beli obat untuk perusak tanaman tapi saya tidak tahu dia gunakan untuk apa, bisa jadi Mas Parman mencampurkannya dengan pupuk ini biar tanamannya rusak dan tidak tumbuh," seru pemilik toko.

"Sudah ku duga," sahut Rian.

Rian pun akhirnya memesan pupuk yang baru dengan memakai uangnya sendiri, Rian merasa bersalah dan menggantinya dengan uangnya tanpa sepengetahuan Pak Rusdi dan juga Mika.

Setelah beres, keduanya pun memutuskan untuk kembali ke kampung.

"Saya teh tidak menyangka kalau Kang Parman bisa melakukan hal jahat seperti itu," seru Odik.

"Kamu jangan banyak bicara Odik, biar aku saja yang urus semuanya."

"Tapi Kang, dia sudah jahat kepada Akang."

"Tidak apa-apa, Kang Parman pun sama-sama butuh pekerjaan, dia melakukannya karena dia marah kepada aku karena sudah menikahi Mika."

"Si Parman teh, memang sudah sejak dulu suka sama Neng Mika tapi Neng Mikanya tidak pernah mau menerima Parman. Kalau sekarang Neng Mika menikah dengan Akang, itu kan sudah suratan takdir dari gusti Allah kenapa dia mesti dendam kepada Akang?"

Rian hanya tersenyum menanggapi ocehan Odik, Rian tahu kalau dia mengatakan yang sebenarnya kepada Ayah mertuanya, sudah pasti Parman akan di pecat tapi Rian memutuskan untuk tidak memberitahukannya.

Rian tahu saat ini Parman hanya tinggal bersama Neneknya yang sering sakit-sakitan jadi Rian tidak tega kalau melihat Parman dipecat.

Rian dan Odik sampai di kampung tepat pukul 23.00 malam dan semua orang sudah tertidur. Odik pun berpamitan untuk pulang, di saat Rian hendak masuk rumah, dia melihat Parman yang masih memeriksa bibit untuk di tanam esok hari.

Parman memang selalu seperti itu dari dulu, biar pekerjaannya esok hari lebih mudah.

"Kang Parman."

Parman tersentak kaget mendengar panggilan Rian.

"Astaga, kirain saya jurig," sahut Parman dengan memegang dadanya karena kaget.

"Kang Parman kenapa melakukan semua ini? Kang Parman sadar tidak, kalau perbuatan Akang itu merugikan semua orang?"

"Memangnya apa yanh sudah saya lakukan?" sahut Parman santai.

"Akang jangan pura-pura tidak tahu, Akang kan, yang sudah mencampur pupuk dengan cairan perusak tanaman?"

Seketika Parman menghentikan kegiatannya dan menatap tajam ke arah Rian.

"Kamu sadar tidak, kalau kedatangan kamu teh sudah menghancurkan semuanya. Neng geulis awalnya baik sama saya bahkan dia mau saya antar ke mana-mana, tapi semenjak kamu hadir, si Neng geulis teh tidak mau dekat-dekat lagi sama saya, bahkan si Neng geulis malah menerima kamu sebagai suaminya yang jelas-jelas hanya orang asing yang tidak jelas asal-usulnya," kesal Parman.

"Kang, itu urusan pribadi jadi kalau Akang membenciku, Akang ya balas ke aku saja jangan buat semua orang merugi. Kasihan semua orang dan juga Ayah Rusdi yang sudah mempercayakan semuanya kepadamu."

"Karena aku ingin Pak Rusdi marah dan mengusir kamu dari kampung ini."

"Tapi Akang lihat kan, usaha Akang itu sia-sia buktinya Ayah Rusdi tidak mengusirku. Sekarang bagaimana kalau sebaliknya? Ayah Rusdi tahu kalau dibalik masalah ini, biang keroknya ternyata Akang? Dan Akang dipecat dari perkebunan? Mau kerja di mana Akang?"

Seketika Parman terdiam, dia tidak memikirkan ke depannya bagaimana.

"Astaga, kenapa saya teh tidak memikirkan sampai ke sana? Bagaimana kalau Pak Rusdi tahu, bisa-bisa Pak Rusdi beneran memecat saya lalu saya harus membeli obat pakai apa kalau saya sampai dipecat," batin Parman panik.

"Untuk kali ini aku maafkan Akang, karena aku tahu Akang harus mengurus Nenek Akang yang sakit-sakitan. Aku akan menutupi semuanya dan tidak memberitahukan kepada Ayah Rusdi, tapi maaf aku harus memotong gaji Akang untuk beberapa bulan ke depan sebagai hukuman untuk Akang."

Parman masih terdiam, dia tidak tahu harus bicara apa.

"Sudah malam, aku masuk dulu. Akang juga harus segera pulang dan tidur karena besok pagi-pagi sekali kita harus berada di kebun untuk menanam kembali sayuran yang kemarin gagal."

Rian pun segera meninggalkan Parman dan masuk ke dalam rumah Mika. Sedangkan Parman tampak mengepalkan kedua tangannya, merasa kesal kepada Rian.

"Sial, kenapa nasibnya selalu beruntung," geram Parman.

Parman pun akhirnya memilih untuk pulang.

🌺

🌺

🌺

Yuk, yang ikutan event tetap semangat....

Event gift....

Juara 1 : Poin 5k + Pulsa 100k

Juara 2 : Poin 3k + Pulsa 75k

Juara 3 : Poin 2k + Pulsa 50k

Event Vote....

Juara 1 : Poin 1k + Pulsa 50k

Juara 2 : Poin 1k + Pulsa 30k

Juara 3 : Poin 1k + Pulsa 20k

Terpopuler

Comments

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

haish man Parman udah dikasih maaf sama kesempatan kok ya tetap iri hati mbok ya sadar ada nenekmu noh yang butuh perawatan jangan egois cinta itu nggak bisa dipaksa

2022-12-10

1

DSN5

DSN5

Itu Ririn istrimu yg jahat Rian
Untung Rian gak laporin kamu ke pak Rusdi lho Parman

2022-11-26

2

Bunda Elsa Caca

Bunda Elsa Caca

baik banget ini si Rian,udah di jahatin ama Parman masih aja di maafin

2022-11-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!