Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, dua minggu sudah dan akhirnya hari ini adalah hari pernikahan Rian dan Mika.
Tidak ada pesta mewah dan megah, hanya keluarga dan tetangga saja yang diundang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mikaila Diandar binti Rusdi dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 5 gram dibayar tunai."
"Sah...."
"Saaaaahhhhh...."
"Alhamdulillah, akhirnya kalian sudah sah menjadi sepadang suami istri," seru Penghulu.
Mika langsung mencium punggung tangan Rian, sedangkan Rian mencium kening Mika. Rian dan Mika begitu sangat bahagia, akhirnya mereka sudah sah menjadi suami istri.
Semuanya terlihat sangat bahagia, hanya Parman saja yang terlihat kesal karena cintanya yang sudah sejak lama dia pendam harus dia kubur karena ternyata dia kalah dengan orang asing yang baru saja Mika kenal.
Setelah acara pernikahan selesai, Mika dan Rian pun masuk ke dalam kamar Mika. Mika tampak duduk di ujung ranjangnya dengan menundukan kepalanya sungguh saat ini Mika merasa deg-degan.
Rian menghampiri Mika dan membalikan tubuh Mika supaya menghadap ke arahnya, kemudian mengangkat dagu Mika dengan jari telunjuknya.
"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak merasa bahagia?" tanya Rian.
"Tidak A, justru Mika sangat bahagia tapi Mika masih merasa takut, A."
"Takut kenapa?"
"Takut Aa----"
"Takut aku sudah menikah dan mempunyai anak, begitu?" Rian memotong ucapan Mika.
Mika pun menganggukan kepalanya...
"Mika dengarkan aku, kalau seandainya nanti ingatanku kembali, aku janji sama kamu kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi."
"Mika percaya sama Aa, dan Mika akan pegang janji Aa."
Keduanya pun saling tatap satu sama lain, hingga akhirnya perlahan Rian pun mendekatkan wajahnya ke wajah Mika bahkan Mika sudah memejamkan matanya.
Sore itu menjadi saksi penyatuan antara dua insan manusia yang saling mencintai, bahkan alam seakan memberikan restunya dengan menurunkan hujan menambah kesan dingin dan cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madu.
Rian memperhatikan wajah cantik istrinya itu, entah kenapa ada perasaan bahagia dalam diri Rian.
"Terima kasih sudah mau menjadi istriku dan menerimaku apa adanya, aku tidak tahu harus membayar dengan cara apa untuk kebaikan keluarga ini," batin Rian dengan membelai wajah Mika.
***
Keesokan harinya....
Seperti biasa, Mika dan Mama Nuri akan membuatkan masakan untuk sarapan semuanya.
Setelah membuatkan sarapan, Mika pun masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Rian sedang duduk di depan jendela, merasakan hawa dingin yang sangat menusuk tubuh itu.
"Aa lagi ngapain di depan jendela? Dingin A," seru Mika.
"Aku cuma ingin menghirup udara segar saja."
"Ayo kita sarapan dulu, Mika sudah masak sarapan."
Mika hendak melangkahkan kakinya dan Rian menahannya.
"Ada apa, A?"
"Mika, aku mau mengucapkan terima kasih karena kamu dan keluarga kamu sudah mau menerima aku apa adanya. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa?" seru Rian.
"Aa cukup berada di samping Mika pun itu sudah cukup."
Rian tersenyum dan memeluk istrinya itu. "Terima kasih Mika, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu dan akan selalu mencintaimu walaupun apa yang akan terjadi ke depannya."
"Iya A."
Mika pun melepaskan pelukannya dan mengajak Rian untuk sarapan terlebih dahulu karena hari ini, Rian akan memanen hasil perkebunan Pak Rusdi.
Setelah sarapan, Rian pun pamit sebentar untuk mengantarkan Mika ke klinik milik Mika sendiri.
"Aa hati-hati ya, jangan lupa makan siang."
"Iya sayang, nanti aku jemput kamu."
Rian pun mencium kening Mika sebelum pergi membut wajah Mika seketika memerah karena malu.
"Bu Bidan, apa yang tadi pacar Bu Bidan?" tanya salah satu Ibu yang baru saja datang.
"Bukan pacar, tapi suami," sahut Mika.
"Owalah, Bu Bidan sudah menikah, kapan Bu Bidan nikah?"
"Kemarin Bu, kami hanya akad nikah saja tidak ada pesta-pestaan."
"Selamat ya Bu Bidan, suaminya juga tampan cocok sama Bu Bidan yang cantik."
"Terima kasih Bu. Yuk, Ibu tiduran saya periksa dulu."
"Ah, iya Ibu Bidan."
Mika pun mulai memeriksa kandungan Ibu itu dengan sangat teliti, setiap hari banyak sekali Ibu hamil yang datang ke klinik Mika karena selain cantik, Mika juga terkenal dengan Bidan yang baik dan ramah membuat semua Ibu hamil berbondong-bondong datang ke klinik Mika.
Mika pun tidak mematok harus bayar berapa, banyak juga yang datang ke kliniknya dan tidak bisa bayar karena tidak punya uang tapi Mika tidak mempermasalahkannya, dia masih saja melayaninya dengan sangat baik.
Sementara itu, di perkebunan....
"Rian, kamu teh kan hilang ingatan, bagaimana kalau kamu itu sebenarnya sudah punya anak dan istri, terus nanti Neng geulis teh mau kamu ke manakan?" ketus Parman.
"Akang Parman jangan sok tahu, aku tidak akan pernah meninggalkan Mika. Dan jikalau aku sudah menikah, aku akan urus semuanya," sahut Rian.
"Awas saja kalau kamu teh sampai nyakitin Neng geulis, saya sendiri yang akan menghukum kamu."
"Jangan khawatir Kang, aku tidak akan menyakiti Mika karena Mika adalah wanita yang aku cintai," sahut Rian dengan senyumannya.
Parman tampak kesal dan sangat membenci Rian karena Rian sudah berani merebut Mika darinya, padahal Parman sudah sejak dulu menyukai Mika.
Tidak terasa waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Rian segera membuka kotak bekal yang sudah disiapkan oleh Mika. Rian duduk di bawah pohon sembari menatap hamparan perkebunan milik Pak Rusdi yang sangat luas.
"Bagaimana kalau yang dikatakan Kang Parman benar, kalau aku sudah punya anak dan istri, apa yang harus aku lakukan?" batin Rian.
Perasaan Rian jadi tidak enak, dia terus saja berusaha mengingat masa lalunya tapi sedikit pun Rian tidak bisa mengingatnya. Rian memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Ya Allah, aku harus melakukan apa? Aku benar-benar bingung," batin Rian dengan memegang kepalanya.
Rian pun terdiam sejenak, setelah rasa sakitnya mulai reda, Rian pun melanjutkan makan siangnya.
***
Ririn saat ini sedang duduk di atas kasur dalam kamar milik Bian yang sekarang sudah menjadi kamar mereka berdua. Ririn mengambil bingkai foto Bian yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
"Maafkan aku Bian, aku dari dulu tidak menyukaimu setelah sekian lama kamu pergi, tiba-tiba kamu datang kembali merusak semuanya. Aku sangat mencintai Bima, dan aku minta izin sama kamu kalau aku akan menikah dengan Bima, semoga kamu tenang di alam sana, jangan gentayangan ya," gumam Ririn dengan senyumannya.
Ririn kembali mengusap foto Rian. "Kamu memang pria tampan, namun sayang kematianmu sungguh sangat tragis," gumamnya kembali.
Ririn sangat lega, akhirnya tidak ada lagi orang yang akan jadi penghalang hubungannya dengan Bima, hanya tinggal menunggu waktu saja Ririn dan Bima akan segera melangsungkan pernikahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
udah buruan kamu cerai terus nikah ma Bima biar bian ma mika nggak ada hambatan 😂😂😂
2022-12-08
1
DSN5
Alhamdulillah SAH ,tenang aja Mika
walaupun Bian udah menikah ,tpi dia masih perjaka kok belum terjamah sm si Ririn
2022-11-25
2
kayla azzahra
dasar sepasang manusia yg gk punya hati, xan ber 2 akan m'dpt balasannya...
next kak, semangat.... 🥳🥳🥳🥳🥳
2022-11-08
1