Berita Duka

"Kamu kenapa, Mika?" tanya Mama Nuri yang segera datang saat mendengar gelas jatuh.

"Perasaan Mika tidak enak Ma, Mika takut terjadi kenapa-napa kepada A Rian," sahut Mika dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Istighfar Mika, kita do'akan saja semoga Rian baik-baik saja."

"Amin."

Sementara itu, jalanan itu berubah menjadi macet karena banyak korban juga yang berjatuhan. Polisi sudah berseliweran, Parman dan Rian dibawa ke rumah sakit dengan keadaan yang tak sadarkan diri.

Sesampainya di rumah sakit, para korban langsung mendapatkan penanganan dan Polisi pun mulai menghubungi para keluarga korban.

Mika menyalakan tv dan langsung terlihat berita mengenai kecelakaan beruntun yang terjadi, seketika mata Mika melotot saat melihat mobil bak terbuka milik Ayahnya yang sedang di derek oleh polisi.

"Astaghfirullah, Ayah, Mama, cepat ke sini?" teriak Mika.

Ayah Rusdi dan Mama Nuri segera berlari menghampiri Mika.

"Ya Allah, kamu kenapa Neng?" tanya Ayah Rusdi yang terkejut melihat anaknya sudah menangis.

"Itu Yah, itu bukanya mobil milik Ayah," seru Mika.

Seketika Ayah Rusdi dan Mama Nuri membelalakan matanya, tiba-tiba telepon rumah Ayah Rusdi pun berbunyi dan Mama Nuri segera mengangkatnya.

📞"Hallo!"

📞"Hallo, kami dari kepolisian, apa benar ini dengan keluarga dari saudara Rian dan Parman?"

📞"Iya betul, Rian adalah menantu saya."

📞"Maaf Bu, saudara Rian dan Parman mengalami kecelakaan beruntun dan saat ini sedang ditangani di rumah sakit xxx."

📞"Inalillahi, terima kasih Pak, kami akan segera ke sana."

Mama Nuri pun segera mematikan sambungan teleponnya.

"Ada apa Ma?" tanya Mika.

"Itu benar mobil Parman dan Rian, saat ini mereka sedang ditangani di rumah sakit xxx," sahut Mama Nuri.

Tangis Mika langsung pecah, ternyata firasatnya benar-benar terjadi.

"Ayo Yah, Ma, kita teh harus segera ke kota, Mika ingin cepat-cepat bertemu dengan A Rian."

Ketiganya pun bersiap-siap dan segera pergi menuju kota dengan diantar oleh salah satu karyawan Ayah Rusdi, selama dalam perjalanan Mika tidak henti-hentinya menangis, dia takut terjadi kenapa-napa kepada suaminya itu.

Mobil Ayah Rusdi sampai di kota sore hari, dan langsung menuju rumah sakit tempat dimana Rian dan Parman ditangani. Sesampainya di rumah sakit, Mika segera berlari masuk menuju meja resepsionis.

"Neng, jangan lari kamu harus ingat kalau kamu teh sedang hamil!" teriak Ayah Rusdi.

"Sus, maaf ruangan korban kecelakaan beruntun tadi siang di mana ya?" tanya Mika dengan deraian airmata.

"Oh, Mba jalan saja lurus nanti belok kanan, di sana ada ruangan ICU, semuanya ada di sana."

"Oh, baiklah terima kasih, Sus."

Mika pun segera menuju ruangan yang disebutkan oleh Suster tadi, dan ternyata di sana sudah banyak keluarga korban.

"Maaf Dok, kami keluarga Parman dan Rian," seru Ayah Rusdi.

"Oh, mari ikut saya."

Dokter pun membawa ketiganya menuju ruangan yang terdapat banyak korban.

"Maaf Pak, atas nama Parman dan Rian ternyata tidak bisa diselamatkan, mereka berdua meninggal dunia."

"Apa?"

Mika langsung histeris, Ayah Rusdi membuka penutup tubuh dua korban itu.

"Inalillahi, Parman."

Ayah Rusdi dan Mama Nuri tampak terkejut, wajah Parman penuh dengan luka. Sementara itu, Mika berdiri di samping korban lainnya yang tubuhnya sudah ditutup dengan kain putih.

Airmata Mika terus saja berjatuhan, bahkan tangannya sudah bergetar hebat saat ingin membuka penutup itu.

"Kamu yang sabar Mika, mungkin ini sudah suratan takdir."

"Tidak Ma, bagaimana dengan anak Mika yang harus ditinggal, bahkan anak kami belum lahir ke dunia ini," sahut Mika dengan deraian airmata.

Mama Nuri langsung memeluk anaknya itu, Mama Nuri pun ikut meneteskan airmata.

"Ma, Mika ingin melihat wajah A Rian untuk terakhir kalinya."

Perlahan Mika pun membuka penutup itu, dan betapa terkejutnya ketiganya saat melihat orang yang sudah meninggal itu ternyata bukan Rian.

"Loh, ini bukan Nak Rian," seru Ayah Rusdi.

"Dokter, ini bukan suami saya," seru Mika.

"Memangnya suami Mba siapa namanya?"

"Namanya Rian, dan suami saya memang bersama Kang Parman korban meninggal itu," sahut Mika.

Dokter itu pun segera memeriksa kembali nama-nama yang menjadi korban kecelakaan beruntun itu.

"Maaf Mba, saya sudah periksa dan di sini nama Rian hanya satu, dan inilah orangnya," seru Dokter dengan menunjuk jenazah bernama Rian itu.

"Ya Allah Yah, terus A Rian ke mana?" seru Mika dengan perasaan yang mulai takut.

"Ayah juga tidak tahu Neng, coba kita tanya polisi yang mengurus kecelakaan itu."

Ayah Rusdi pun mengurus semua kepulangan jenazah Parman, sedangkan Ayah Rusdi bersama anak dan istrinya terpaksa harus tinggal dulu di Jakarta sebelum bisa menemukan Rian di mana.

Penglihatan Mika mulai berkunang-kunang, hingga akhirnya Mika pun jatuh tak sadarkan diri untung mereka masih berada di rumah sakit.

***

Sementara itu, di rumah sakit yang lainnya Rian sudah mendapat penanganan. Ternyata tadi salah satu polisi membawa Rian ke rumah sakit yang berbeda karena kondisi Rian yang sangat kritis maka dari itu polisi dengan cepat membawa ke rumah sakit yang lebih besar.

"Bagaimana ini, tidak ada identitas sama sekali, terus kita harus menghubungi keluarganya ke mana?" seru salah satu Dokter.

Dokter yang lainnya terus saja memperhatikan wajah Rian dengan seksama, hingga akhirnya dia terkejut karena ingat sesuatu.

"Tunggu, bukanya dia Biantara Ganendra ya? Anak pengusaha Tuan Ganendra."

"Kok kamu tahu?"

"Satu tahun yang lalu beritanya viral ke mana-mana, Biantara dinyatakan hilang dalam kecelakaan mobil dan jasadnya sama sekali tidak bisa ditemukan."

"Bagaimana kalau dia hanya mirip saja? Banyak kali di dunia ini orang yang mirip."

"Aku juga sih tidak tahu, tapi apa salahnya kalau kita hubungi keluarga Ganendra kali aja dia benar-benar anaknya yang hilang itu."

"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi kita hubunginya ke mana?"

"Sebentar, sepertinya aku masih menyimpan nomor keluarga Ganendra."

Salah satu Dokter itu kemudian mencari nomor keluarga Ganendra dan ternyata ada bahkan masih aktif.

Tuan Ganendra yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya merasa terkejut saat Sekertarisnya tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Maaf Tuan, saya dapat kabar gembira," seru Thomas.

"Kabar gembira apa, Thomas?"

"Barusan saya mendapat telepon dari rumah sakit, katanya mereka menemukan pasien yang sangat mirip dengan Tuan Biantara."

"Apa? Cepat kita harus segera ke rumah sakit."

Tuan Ganendra pun dengan cepat langsung meluncur menuju rumah sakit, tidak lupa dia menjemput istrinya yang saat ini sedang arisan bersama teman-teman sosialitanya. Keduanya tampak bahagia mendengar berita tersebut, mudah-mudahan saja orang itu memang benar-benar anaknya Bian.

Terpopuler

Comments

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

huwaaaaa gimana dengan mika kak😢😢😢😢😢semoga Ririn udah nikah ma Bima jadi bian status nya cerai ma ririn

2022-12-10

1

DSN5

DSN5

Nyeseknyaaa jdi Mika

2022-11-26

2

Bunda Elsa Caca

Bunda Elsa Caca

gimana sih ini polisi'y ...ngasih infonya gk lengkap,semoga mika bisa menemukan Rian

2022-11-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!