Ulah Parman

Parman merasa sangat marah kepada Rian karena sudah berani memarahinya di depab karyawan lainnya.

"Awas kamu Rian, tunggu apa yang akan aku lakukan kepadamu," batin Parman.

Rian dan yang lainnya saat ini sedang panen sayur-sayuran, tugas dibagi-bagi ada yang tugas memanen semua sayuran, ada yang nyortir antara yang bagus dan yang jelek, dan ada juga yang mulai mengepack dan menatanya di mobil bak terbuka karena sayursn itu mau langsung dibawa ke kota.

Rian tampak menyeka keringatnya dan melihat Parman pun sudah mulai bekerja dan itu membuat Rian tersenyum.

Begitu pun dengan Mika yang saat ini banyak sekali pasien yang datang ke Mika untuk sekedar konsultasi masalah kandungannya.

"Terima kasih, Bu Bidan."

"Sama-sama, jangan lupa makan makanan yang bergizi ya Bu dan diminum juga susunya," seru Mika.

"Iya Bu Bidan."

Mika tampak tersenyum melihat Ibu-ibu itu...

"Aku juga nanti pasti akan seperti itu?" gumam Mika dengan senyumannya.

Mika pun mengusap perutnya sendiri. "Mudah-mudahan kamu cepat tumbuh di dalam perut Bunda," batin Mika.

Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore dan itu adalah waktunya Mika menutup kliniknya.

Mika segera mengunci kliniknya dan mulai berjalan menuju rumahnya karena hari ini Rian tidak bisa menjemputnya dan itu sama sekali tidak masalah untuk Mika karena jarak klinik ke rumahnya tidaklah jauh.

Sementara itu di kebun, semuanya sudah hampir beres bahkan semua sayur-sayuran sudah berada di dalam mobil bak terbuka.

"Ini kapan berangkat ke kotanya?" tanya Rian.

"Besok pagi Kang, biasanya kami teh berangkat pukul 03.00 pagi untuk pergi ke kota," sahut salah satu karyawan perkebunan.

"Oh oke, kalau begitu kalian boleh pulang dan persiapkan diri buat besok."

"Baik, terima kasih Kang."

Semua karyawan perkebunan pun langsung pulang ke rumah masing-masing. Rian pun menghampiri Parman yang saat ini sudah siap-siap mau pulang.

"Kang Parman, tunggu!"

"Ada apa kamu teh panggil-panggil saya?" sahut Parman dengan ketusnya.

"Aku mau tanya, semuanya kan sudah di panen, terus apa yang dikerjakan lagi?" tanya Rian.

"Ya bekas panen ini dibersihkan dulu, habis itu kita mulai lagi menanam sayuran yang baru, bibitnya ada di rumah Pak Rusdi nanti pupuknya biar saya saja yang beli, kamu teh tinggal ngomong saja sama Pak Rusdi biar pupuk dan pestisida serta obatnya saya yang beli besok ke kota," sahut Parman.

"Oh iya, baiklah terima kasih, Kang."

"Sama-sama," ketus Parman sembari pergi meninggalkan Rian.

Rian pun segera menaiki motornya, dan pulang ke rumahnya.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Mika segera menghampiri Rian dan mencium punggung tangan Rian.

"Ini kopinya, A."

"Terima kasih, sayang."

"Capek A?"

"Lumayan, tapi aku senang ini adalah pengalaman pertamaku mengurus perkebunan seperti ini dan aku butuh banyak belajar."

"Aa pasti berasal dari keluarga kaya."

Rian yang sedang menyesap kopinya langsung menoleh ke arah Mika.

"Kenapa kamu bicara seperti itu?"

"Soalnya dulu, di saat Mika dan Ayah menemukan Aa, Aa itu memakai jas dan sepatu mahal juga, semua barang-barang Aa Mika simpan di dalam lemari dan sudah mika cuci juga."

"Jangan berpikiran seperti itu, siapa tahu aku hanya karyawan biasa kalau di kota kan, karyawan biasa pun selalu pakai jas."

"Bisa jadi."

Rian tersenyum saat menatap Mika, istrinya yang begitu sangat cantik dan baik hati.

"Kenapa Aa lihatin Mika kaya gitu?"

"Aku sangat beruntung bisa dipertemukan dengan wanita cantik yang ramah dan baik hati seperti kamu," sahut Rian dengan mengusap kepala Mika.

"Ah Aa jangan buat Mika geer, Mika kan jadi malu."

Rian terkekeh dan mencubit pipi Mika dengan gemasnya.

"Kamu tambah cantik kalau malu-malu seperti itu."

"Sudah ah, sana mandi habis itu kita makan bersama."

"Mandi bareng yuk!"

"Enggak A, Mika sudah mandi."

Tapi Rian tetap menarik Mika supaya ikut mandi bersamanya, Mika hanya pasrah saja dengan ajakan suaminya itu.

***

Keesokan harinya....

Perkebunan tampak sepi karena sebagian pergi ke kota untuk menjual sayur-sayuran hasil panen kemarin, begitu pun Parman yang ikut ke kota untuk membeli pupuk dan obat untuk tanaman.

Di saat pekerja perkebunan menjual hasil panennya, Parman pergi ke sebuah toko alat-alat pertanian dan Parman membeli sebuah obat entah obat apa itu.

Setelah mendapatkan apa yang dia mau, akhirnya Parman pun kembali bergabung dengan yang lainnya.

Malam pun tiba....

"Sayang, seandainya kalau kita punya anak pasti anak kita lucu ya," seru Rian.

"Memangnya Aa mau punya anak berapa?"

"Aku ingin punya anak banyak Mika, biar di masa tua kita nanti tidak kesepian."

"Mudah-mudahan, Mika cepat hamil ya A biar rumah ini rame."

"Amin."

Waktu pun berjalan dengan cepat, para karyawan perkebunan yang pergi ke kota baru saja sampai tengah malam dan mereka pun langsung pulang ke rumah masing-masing setelah mengantarkan mobil ke rumah Pak Rusdi terlebih dahulu.

Sementara itu, Parman tampak celingukan dan setelah dirasa tidak ada siapa-siapa, Parman pun mencampur obat yang dia beli tadi dengan pupuk.

"Rasakeun maneh Rian, matakna tong macam-macam sama saya teh. Pasti Pak Rusdi teh bakalan marah besar sama kamu dan mengusir kamu dari sini," gumam Parman dengan senyumannya.

***

Seperti biasa, pagi ini setelah Rian mengantarkan Mika ke klinik, dia langsung pergi ke kebun untuk menanam benih sayur-sayuran.

Rian langsung turun tangan sendiri, karena sebelumnya Rian memang sudah melihat bagaimana cara untuk menanam sayuran. Parman tersenyum penuh kemenangan, dia yakin kalau kali ini dia akan berhasil.

"Kamu teh jahat pisan Parman, kasihan Kang Rian tidak salah apa-apa. Padahal Kang Rian teh selalu baik sama kamu," seru Dadan.

"Diam kamu teh Dadan, kalau sampai ada yang tahu masalah ini, awas kamu!" sentak Parman.

Dadan memang sempat melihat Parman pergu ke toko waktu di kota dan Dadan tahu Parman membeli obat apa.

Perkebunan milik Pak Rusdi sangatlah besar dan Pak Rusdi pun mempunyai banyak karyawan untuk mengurus perkebunannya.

***

Beberapa minggu kemudian....

Rian mengamati perkebunan itu dan ternyata bibit sayuran yang dia tanam sama sekali tidak tumbuh.

"Kenapa ini? Apa yang salah ya?" batin Rian.

"Kang Rian...Kang Rian!" teriak Odik.

"Iya, ada apa Odik?"

"Kang, sayuran kita semuanya mati dan tidak tumbuh-tumbuh bahkan bibitnya pun membusuk."

"Apa kamu dan yang lainnya sudah memberi obat saat menanam bibit itu?" tanya Rian.

"Sudah Kang, tapi tidak tahu kenapa tidak tumbuh-tumbuh malahan pada busuk Kang."

"Aduh bagaimana ini?" seru Rian panik.

"Sudah pasti ini gagal Kang, dan Pak Rusdi pasti marah besar karena kita akan mengalami kerugian yang sangat besar. Dan kami juga akan kena dampaknya karena kalau perkebunan merugi, kami juga pasti tidak akan dapat gaji dulu. Bagaimana ini Kang? Kami kan orang yang sangat membutuhkan, kalau sampai tidak gajian, bagaimana dengan keluarga di rumah," keluh Odik.

"Kamu jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya biar nanti aku yang bicara kepada Ayah Rusdi."

Odik pun pergi meninggalkan Rian, sedangkan Rian merasa bingung apa yang harus dia lakukan.

.

.

.

Ayo guys, semangat vote dan giftnya💪💪

Terpopuler

Comments

DSN5

DSN5

Pasti Parman yg bakalan dipecat inimah

2022-11-25

2

☠☀💦Adnda🌽💫

☠☀💦Adnda🌽💫

parman gelo .. nya 🤭🤭

2022-11-08

1

kayla azzahra

kayla azzahra

parman jahat banget pke cara licik...
mudah"an ada yg bilang sama ayahnya mika biar kapok parman....

next kak, semangat.... 🥳🥳🥳🥳🥳

2022-11-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!