Kecelakaan

💜

💜

💜

💜

💜

Sepeninggal Bian dan kedua orangtuanya, Ririn sangat marah kepada Yudi dan Yulia.

“Mama sama Papa kenapa menyetujui perjodohan itu? Ririn sudah punya pacar Pa, dan kalian juga tahu kalau Ririn sudah pacaran lama dengan Bima,” seru Ririn dengan emosinya.

“Sayang, kamu tidak dengar tadi, kamu menikah dengan Bian, Papa bisa bekerja lagi di perusahaan bahkan kita semua bisa tinggal di rumah kita yang dulu,” sahut Yudi.

“Tapi bagaimana dengan Bima, Pa? Ririn tidak mencintai Bian, yang Ririn cintai hanya Bima dan Ririn hanya akan menikah dengan Bima bukan Bian!” sentak Ririn.

Ririn pun pergi ke kamarnya untuk mengambil tas, kemudian Ririn pergi tanpa pamitan kepada kedua orangtuanya.

“Ririn, kamu mau ke mana?” teriak Yudi.

“Sudah Pa, biarkan saja mungkin Ririn akan menemui Bima,” sahut Yulia.

Ririn dan Bima pacaran sudah sejak masuk SMA dan sampai sekarang hubungan mereka baik-baik saja.

Sebenarnya dulu, Bima, Bian, dan Ririn adalah teman bermain karena rumah mereka memang bertetanggaan. Hanya saja bedanya, Bian dan Ririn anak orang kaya, sedangkan Bima hanya anak dari seorang karyawan kantor biasa dan Mamanya seorang guru.

Bian dan Bima sama-sama menyukai Ririn, tapi sayangnya Bian selalu menjadi yang terdepan karena Bian selalu memberikan apa yang Ririn mau, sehingga Bima sangat membenci Bian.

Hingga kelulusan SMP pun tiba, Bian menghilang tanpa kabar dan itu membuat Bima senang dan mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Ririn tanpa ada pengganggu lagi. Sampai mereka pun masuk ke SMA yang sama dan Bima pun memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Ririn.

Tidak disangka Ririn menerimanya karena sudah sejak lama, Ririn pun menyukai Bima. Ririn menyukai Bima karena Bima orangnya baik dan apa adanya, berbeda dengan Bian yang sombong dan pemaksa.

Saat ini Ririn sedang menunggu Bima di sebuah bangku taman, hingga tidak lama kemudian sebuah mobil pun berhenti di depan Ririn.

“Sayang.”

Ririn berdiri dan langsung memeluk Bima membuat Bima bingung.

“Kamu kenapa? Kok nangis?” tanya Bima cemas.

Ririn semakin sesegukan, hingga akhirnya Bima pun membawa Ririn duduk dan menenangkannya.

“Coba cerita sama aku, kamu kenapa?” tanya Bima kembali.

“Bian, Bim, Bian sudah kembali,” sahut Ririn.

“Bian, kenapa dia bisa kembali? Terus, apa yang sudah membuat kamu menangis seperti ini? Apa yang sudah dia lakukan sama kamu?”

“Barusan, Bian dan kedua orangtuanya datang ke kontrakan dan menawarkan pekerjaan untuk Papa, bahkan rumah aku dulu pun sudah mereka tebus dan memberikannya kepada kami, tapi---“

“Tapi apa?”

“Aku harus menikah dengan Bian.”

“Apa? Kurang ajar, kenapa dia selalu memaksakan kehendak dia, mentang-mentang dia anak orang kaya,” seru Bima dengan emosinya.

“Terus aku harus bagaimana, Bim? Aku tidak mau menikah dengan Bian, yang aku cintai hanya kamu,” seru Ririn dengan deraian airmata.

Bima pun menarik tubuh Ririn ke dalam dekapannya, Bima juga bingung apa yang harus dia lakukan. Padahal, selama ini Bima sudah mengumpulkan uang supaya tahun ini, dia bisa menikahi Ririn tapi tidak disangka orang yang sangat Bima benci sekarang muncul lagi bahkan akan merebut Ririn dari darinya.

“Kami yang tenang sayang, nanti aku cari jalan keluarnya,” seru Bima dengan mengusap kepala Ririn penuh cinta.

Bima adalah seorang chef yang lumayan terkenal, bahkan saat ini dia sudah mempunyai sebuah restoran walaupun restorannya bukan restoran besar.

 

***

 

Hari ini Ririn sedang di rias, karena pagi ini Ririn akan melaksanakan ijab kabul dengan Bian.

Ririn dan Bima sudah memikirkan matang-matang, Bima dengan terpaksa mengizinkan Ririn menikah dengan Bian dengan syarat, Ririn tidak boleh melakukan hubungan suami istri dengan Bian.

Bima memberikan satu kotak obat kepada Ririn, obat itu adalah untuk di berikan kepada Bian. Jika Bian meminum obat itu, Bian akan berhalusinasi berhubungan badan dengan Ririn jadi Ririn akan aman selama menikah dengan Bian.

Setelah di rias, Ririn pun keluar dari kamarnya dan dipapah untuk duduk di samping Bian. Bian tidak henti-hentinya menatap Ririn, wanita yang selama ini sangat dia cintai.

Bian pun dengan lancar dan tegas selesai mengucapkan ijab kabul, dan semua orang serentak mengucapkan Hamdallah.

Dari luar rumah, Bima tampak mengepalkan tangannya.

“Awas kamu Bian, dari dulu sampai sekarang kamu selalu menjadi pengganggu bagi hubunganku dan Ririn, sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mendapatkan hati Ririn karena Ririn hanya milikku seorang,” batin Bima.

Bima pun dengan emosi yang memuncak meninggalkan rumah Ririn, saat ini Ririn dan keluarganya memang sudah kembali ke rumahnya yang dulu.

Malam pun tiba...

Ririn mulai memasukan obat yang diberikan Bima ke dalam air minum, sedangkan Bian sedang berada di kamar mandi.

Di saat Ririn selesai memasukan obat itu, Ririn terkejut saat sebuah tangan memeluknya dari belakang.

“Ririn, aku sangat bahagia akhirnya aku bisa menikah denganmu. Aku sudah menantikan saat-saat seperti ini, dari dulu sampai sekarang hanya kamu wanita yang aku cintai,” seru Bian.

Ririn tersenyum ketus, walaupun Bian lebih segala-galanya dari Bima tapi tetap saja cinta Ririn hanya untuk Bima.

“Sayang, pasti kamu capek kan? Ini minum dulu,” seru Ririn dengan pura-pura baik.

“Terima kasih, sayang.”

Bian pun langsung meminumnya sampai tandas membuat Ririn tersenyum penuh kemenangan. Tidak membutuhkan waktu lama, Bian pun merasa ngantuk dan tertidur dengan pulasnya.

Ririn segera melepaskan semua pakaian Bian dan melepaskan pakaiannya sendiri, tujuannya supaya nanti pagi bangun Bian tidak curiga karena selama tidur nanti, Bian akan berhalusinasi dan tidak lupa, Ririn juga meneteskan cairan merah di sepreinya untuk menambah keyakinan Bian.

Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa sudah satu bulan Ririn dan Bian menjalani pernikahan penuh kebohongan itu.

“Sayang, malam ini aku ada kerjaan keluar kota, apa kamu mau ikut?” seru Bian.

“Enggak ah, buat apa ikut palingan aku hanya akan diam di hotel menunggu kamu kerja,” tolak Ririn.

Bian menghampiri Ririn dan memeluknya dari belakang. “Tapi aku pergi selama tiga hari loh, aku pasti akan rindu kepadamu.”

Ririn memutar bola matanya jengah. “Cuma tiga hari kok, bukannya tiga tahun jadi kamu tidak usah lebay segala,” sahut Ririn.

“Bukanya lebay sayang, tapi memang aku tidak bisa lama-lama jauh dari kamu, setiap hari juga aku selalu ingin pulang cepat dari kantor, dan sekarang aku harus berpisah denganmu tiga hari,” rengek Bian dengan manjanya.

Ririn pun melepaskan pelukannya dan membalikan tubuhnya menatap Bian.

“Mau pergi berapa lama pun, aku akan tetap menunggumu Bian, jadi kamu jangan khawatir,” dusta Ririn.

Bian pun langsung memeluk Ririn. “Aku sangat mencintaimu, Ririn.”

“Iya, aku juga mencintaimu,” sahut Ririn dengan malasnya.

Selama satu bulan lamanya, Ririn dengan tega mencekoki Bian dengan obat itu. Di saat Bian bekerja, Ririn akan bertemu dengan Bima secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bian.

Seperti saat ini, Ririn datang ke sebuah restoran untuk menemui Bima kekasihnya.

“Sayang!”

Ririn menoleh dan dengan cepat memeluk kekasihnya itu.

“Aku sangat merindukanmu, Bima.”

“Aku juga.”

Keduanya duduk berdampingan bahkan Ririn tampak memeluk lengan Bima dengan manjanya.

“Bim, malam ini Bian akan pergi keluar kota selama tiga hari.”

“Baguslah, berarti kita akan bebas bertemu.”

“Aku sudah tidak sanggup Bim, kalau harus terus-terusan bersandiwara seperti ini, rasanya aku ingin mengakhiri semuanya,” keluh Ririn.

“Tenang saja sayang, aku sudah membuat rencana supaya kamu terbebas dari orang sialan itu bahkan mungkin, malam ini adalah malam terakhir Bian bisa bernafas.”

“Maksud kamu apa, Bim? Jangan bilang kamu mau membunuh Bian?” tanya Ririn tidak percaya.

“Ini satu-satunya jalan supaya kamu terbebas dari dia, kalau dia dibiarkan hidup maka selamanya kamu akan bersama dia, apa kamu mau seperti itu?”

Ririn dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tapi aku takut kamu kenapa-napa Bim, aku gak mau kamu sampai dipenjara.”

“Tidak, kamu tenang saja karena aku sudah menyuruh orang untuk menyabotase mobil Bian supaya remnya blong, jadi kamu tidak usah khawatir karena aku tidak akan ketahuan.”

Ririn hanya terdiam, dia tidak setuju dengan ide gila Bima tapi dia juga tidak mau kalau harus terus-terusan tinggal bersama Bian.

Malam pun tiba...

Setelah berpamitan, Bian pun segera masuk ke dalam mobilnya dengan di temani sopir pribadinya.

Awalnya mobil berjalan dengan lancar, hingga beberapa jam kemudian, mobil Bian mulai melewati jalanan menurun. Sang sopir yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi merasa panik karena remnya blong.

“Ada apa, Pak?” tanya Bian.

“Maaf Tuan, rem mobilnya blong,” sahut Sopir panik.

“Apa?”

Mobil itu terus melaju dengan kecepatan tinggi, hingga di depan sana terlihat tikungan dan sang sopir tidak bisa mengendalikan mobilnya.

“Awaaaasss Pak!” teriak Bian.

Bruuuuaaakkk....

Mobil Bian menabrang pembatas jalan dan mobilnya berguling-guling jatuh ke jurang. Tubuh Bian terpental jauh, sedangkan sang sopir tewas di tempat dengan posisi terjepit di dalam mobil.

Terpopuler

Comments

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

jahat banget sih si Ririn nggak tahu terimakasih okelah dia emang nggak mencintai bian tapi bisa dong seharusnya berterus terang ma bian jangan menyakiti kayak gitu mencoba membunuh lagi😡

2022-12-08

1

DSN5

DSN5

Ada yaa manusia macem kayak Ririn ,jahatnya kayak iblis

2022-11-25

2

☠☀💦Adnda🌽💫

☠☀💦Adnda🌽💫

ko si Ririn jd istri yg durhaka.... Bima juga ngajarin yg nggak bener kasian bian... biar bagaimanapun dia suami kamu Ririn kenapa kamu jahat bngt y 🤔🤔

2022-11-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!