Kembalinya Ingatan Bian

Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya kedua orangtua Bian pun sampai di rumah sakit. Setelah bertanya kepada Suster, mereka pun dengan terburu-buru langsung menuju ruangan di mana Bian dirawat.

Papi Ganendra pun perlahan membuka pintu ruangan rawat Bian, terlihat seorang pria terbaring di atas ranjang pasien dengan kepala berbalut perban karena kepala Bian mengalami benturan.

Mami Maharani sampai menutup mulutnya saat melihat orang itu sangat mirip dengan Bian.

"Ya Allah, Bian anakku," seru Mami Maharani dengan deraian airmata.

"Apa dia benar Bian anak kita Mi?" tanya Papi Ganendra.

Mami Maharani perlahan memegang tangan Bian dan melihat t*i lalat yang ada di jari kelingking Bian.

"Lihat Pi, dia memang anak kita. Tanda ini membuktikan kalau ini benar-benar Bian, Ya Allah Bian kenapa sampai seperti ini," seru Mami Maharani.

"Dok, di mana kalian menemukan anak kami?" tanya Tuan Ganendra.

"Tadi siang ada kecelakaan beruntun Tuan, dan polisi membawa pasien kritis ke sini, awalnya saya bingung mau memberikan kabar ke mana karena tidak ada identitas sama sekali tapi teman saya kebetulan tahu dengan anak Tuan jadi kami mencoba menghubungi Tuan."

"Sebentar, kalau Bian mengalami kecelakaan tadi siang, berarti selama ini Bian masih hidup dong? Tapi Bian tinggal di mana? Kenapa dia tidak pulang ke rumah?" sahut Papi Ganendra.

"Sudahlah Pi, nanti kalau Bian sudah sembuh kita tanyakan langsung kepada Bian," seru Mami Maharani.

"Coba kamu hubungi Ririn, pasti dia akan senang sekali kalau tahu Bian masih hidup," seru Papi Ganendra.

"Pi, bagaimana kalau kita kasih kejutan saja buat Ririn? Minggu depan Ririn wisuda, mudah-mudahan Bian segera sadar dan bisa datang ke acara wisuda istrinya itu," usul Mami Maharani.

"Kamu yakin, mau menyembunyikan mengenai Bian?"

"Yakin Pi, Mami ingin buat kejutan buat Ririn, Mami yakin Ririn pasti akan terkejut banget."

"Ya sudah, terserah Mami saja."

Sementara itu, saat ini Ririn sedang berada dalam perjalanan pulang dari kampus dan seperti biasa, Ririn di jeput oleh Bima.

"Sayang, minggu depan kamu wisuda aku harap mulai sekarang kamu minta izin kepada mertuamu itu untuk menikah lagi, ini sudah satu tahun loh dan kamu sudah janji mau menikah denganku kalau kematian Bian sudah satu tahun," seru Bima.

"Iya sayang, nanti malam aku akan bicara sama Mami dan Papi. Lagi pula, tadi pagi Papi Ganendra sudah menyerahkan setengah sahamnya untukku."

"Kamu pintar sekali sayang, aku makin cinta sama kamu dan gak sabar ingin segera menikah denganmu."

Ririn tampak tersenyum kepada Bima, akhirnya kali ini dia benar-benar akan bebas dari Bian tanpa dia tahu kalau saat ini Bian masih hidup dan siap-siap akan memberikan kejutan untuk Ririn.

Lain halnya dengan Ririn dan Bima yang saat ini sedang bahagia, Mika baru saja sadar dari pingsannya.

"Bagaimana Ayah, apa polisi sudah menemukan keberadaan A Rian?" tanya Mika.

"Kamu tenang dulu Neng, jangan banyak pikiran, ingat kamu teh sedang hamil."

"Mika tidak akan bisa tenang kalau A Rian belum di temukan, Ayah."

"Iya, nanti polisi akan mencari di setiap rumah sakit kali aja Rian ada di salah satu rumah sakit di dekat-dekat sini."

"Terus sekarang bagaimana Yah? Masa iya, kita tidak ada saat acara kematian Parman, bagaimana pun juga, Parman adalah karyawan terlama kita dan dia karyawan yang banyak jasanya kepada kita," seru Mama Nuri.

"Neng, bagaimana kalau kita sekarang pulang dulu, nanti kalau urusan Parman selesai, kita kembali lagi ke sini," seru Ayah Rusdi.

"Tidak Yah, Mika akan tetap berada di sini mencari keberadaan A Rian, Mika tidak akan kembali sampai Mika bisa menemukan A Rian," sahut Mika dengan deraian airmata.

Kedua orangtua Mika saling pandang satu sama lain, mereka bingung harus melakukan apa. Mereka tahu kalau anaknya itu keras kepala dan mereka juga tahu kalau Mika tidak akan mau pulang sampai bisa menemukan Rian.

"Ya sudah, begini saja, malam ini Ayah pulang dulu ke kampung bersama Dadan nanti kalau Parman sudah di makamkan, Ayah kembali lagi ke sini."

"Begitu lebih bagus, tapi Mama tidak bisa ikut pulang karena Mama tidak mungkin harus meninggalkan Mika dalam kondisi seperti ini."

"Tidak apa-apa, Mama dan Mika di sini saja. Sekarang Ayah carikan dulu penginapan untuk kalian berdua biar malam ini kalian bisa tidur dengan nyenyak."

Malam pun tiba....

Mika sudah diperbolehkan pulang karena Mika memaksa ingin pulang, dan Ayah Rusdi pun sudah menemukan penginapan.

"Kalian di sini saja dulu, sekarang Ayah dan Dadan kembali ke kampung, nanti kalau urusannya sudah selesai, Ayah akan segera ke sini lagi."

"Iya, Ayah hati-hati ya."

Akhirnya Ayah Rusdi dan Dadan pun pulang ke kampung, sedangkan Mika dan Mama Nuri tinggal di Jakarta untuk sementara waktu sampai bisa menemukan Rian.

Bima mengantarkan Ririn pulang hanya sampai gerbang komplek saja, soalnya kalau sampai depan rumah sangat bahaya karena rumah Ganendra dipasang cctv di mana-mana.

"Hati-hati ya sayang," seru Ririn.

"Oke, kamu juga langsung tidur jangan bergadang."

"Iya."

Setelah mobil Bima pergi, Ririn pun mulai berjalan kaki menuju rumah Ganendra.

"Pak, buka gerbangnya!" teriak Ririn.

"Iya Nona."

Satpam rumah Ganendra pun langsung membukakan gerbang, Ririn tampak celingukan.

"Pak, kok mobil Papi gak ada? Apa Papi belum pulang?" tanya Ririn.

"Belum Nona."

"Tumben, ke mana si tua bangka itu? Biasanya jam segini dia sudah pulang," batin Ririn.

Ririn tidak mau ambil pusing, dia pun langsung masuk dan segera menuju kamarnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan ingin cepat-cepat istirahat.

Mami Maharani dan Papi Ganendra saat ini masih di rumah sakit, mereka ingin menjaga Bian.

***

Keesokan harinya....

Bian mulai membuka matanya, Bian terlihat memicingkan matanya karena merasa silau. Bian memperhatikan setiap sudut ruangan itu dan dia tahu kalau saat ini dia berada di rumah sakit.

Papi Ganendra baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan terkejut melihat Bian yang sudah siuman.

"Ya Allah Bian, kamu sudah sadar," seru Papi Ganendra dengan segera menghampiri Bian.

"Ya ampun Bian, anakku, akhirnya kamu sadar juga," seru Mami Maharani yang baru saja masuk habis membeli kopi dan sarapan.

Cukup lama Bian menatap kedua orangtuanya secara bergantian.

"Ma-mi, Pa-pi."

"Iya sayang, ini Mami sama Papi. Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga dan memang benar kalau kamu Bian anak kami yang sudah satu tahun menghilang," seru Mami Maharani dengan memeluk putranya itu.

Bian tampak tersenyum, dia merasa bingung kenapa saat ini dia berada di rumah sakit.

Terpopuler

Comments

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

pliss Jangan sampe lupain mika kamu bi dia lagi hamil anak kamu🙈

2022-12-10

1

DSN5

DSN5

Kapan Mika bakal nemuin Rian yaa

2022-11-26

2

Bunda Elsa Caca

Bunda Elsa Caca

ingatan Bian kembali, gimana nasib Mika

2022-11-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!