...Keindahan persaudaraan tidak hanya karena ikatan darah...
...Ketika kamu merasa energimu selalu bertambah ketika bersamanya, itulah persaudaraan sejati...
_________
Rembulan malam ini cukup syahdu, taburan bintang kerlap-kerlip diangkasa, hembusan angin malam ini sejuk tidak terlalu berlebihan. Rey dan Justice berjalan kembali ke markas Rensuar, cukup sepi malam ini hanya ada beberapa Musketeers berlalu lalang entah mereka sedang berjaga ataukah mereka ada kelas malam ini. Lihatlah rasanya Rensuar seperti sebuah universitas bukan, namun pembedanya disini mempelajari Sihir dan Pedang ilmu pertarungan.
Kali ini mereka hanya berdua, setelah rentetan jadwal kegiatan hari ini, mereka lalui dengan baik, Riley menunjukkan pada mereka jadwal giliran berbelanja untuk mengisi stok bulanan mereka di markas. Ya, hari ini adalah giliran Rey dan Justice berbelanja.
"Ah damai sekali malam ini sungguh!" Ucap Rey matanya berbinar menatap langit-langit syahdu itu.
"Disini damai tetapi diluar benteng Rensuar kacau." Jawab Justice sesekali menatap langit malam, sambil mengingat apa yang sudah terjadi diluar benteng ini, kacau populasi manusia hanya tinggal 20%, belahan bumi yang mereka tinggali hanya sekitar 15% dari permukaan bumi.
"Kekacauan ini kapan ya berakhirnya?" Tanya Rey lagi padanya, Justice tersenyum miris mendengar itu memang rasanya mereka sama sekali tak menemukan sisi terang untuk akhir bahagia.
Justice teringat akan satu hal dimana dahulu sebelum kekacauan ini muncul para manusia beramai-ramai mengatakan seorang indigo adalah anak kutukan, mata mereka dianggap sebagai penyakit. Jika memang keyakinan mereka mengatakan seperti itu tolong, biarlah kenyataan itu menjadi milik mereka pribadi jangan dipaparkan mereka pun tak ingin dilahirkan semacam itu.
"Dengar Rey, kebanyakan dari kita kemari apa karena memang ingin membalas dendam atau karena tuntutan masyarakat?" Kali ini Justice kembali melempar pertanyaan pada Rey. Apa yang Justice ucapkan cukup membuat Rey bingung juga heran.
"Apa maksudmu itu, kau berbicara tidak jelas malam ini?" Maki Rey, Justice menggelengkan kepalanya sembari tersenyum mendengar itu memang perlu kesabaran ekstra untuk sekedar mengobrol bersama Rey, mungkin karena minimnya IQ yang Rey miliki.
"Suamiku memang tidak peka ya!" Ujar Justice, Rey membulatkan matanya mendengar ungkapan itu. Benar apa yang dikatakan Justice padanya kalimat itu menjijikan sekali jika diucapkan.
"Hahaha... mengapa kau menatapku semacam itu hah? Bagaimana rasanya, kalimat itu hangat dan nyaman bukan?" Canda Justice padanya, Rey menatap jijik ke arahnya rasanya hampir mual ia dibuatnya.
"Bagian mana yang hangat dan nyaman hah?" Tanya Rey dingin padanya. Justice mengacuhkan pertanyaan itu kali ini, ia menunduk memikirkan sesuatu, sesuatu beberapa tahun lalu, sesuatu yang terpaksa membawanya kemari.
"Kemampuan sihir hanya mampu digunakan para Indigo bukan? Selama dunia baik-baik saja anak-anak seperti kita di cap sebagai anak kutukan, mata kita dianggap sebuah penyakit. Namun hari ini apa Rey, umpatan mereka pada kita tidak benar adanya." Jelas Justice, Rey meresapi apa yang dikatakan rekannya ini. Sepertinya hal buruk pernah menimpanya sehingga menjadikannya semacam ini.
"Selama aku bernafas yang kupelajari adalah, tetaplah bangkit sekalipun jeruji dunia ini menusukmu begitu dalam." Ujar Rey, kalimat itu seakan menggetarkan hati Justice. Rupanya sosok konyol disampingnya ini mampu merapal kata yang bijak sekali.
Rey memang istimewa tekad juga semangatnya terkadang ikut membawa mereka terbakar melalui segalanya bersama, sosok kawan yang baik berani menjadi sebuah tameng untuk kawannya.
"Sepertinya duniamu lebih kejam daripadaku ya Rey!" Ujar Justice kali ini, Rey hanya tersenyum mendengar itu.
"Aku hidup sebatang kara dalam naungan panti asuhan, disana aku mengenal seorang gadis kecil yang umurnya berbeda lima tahun denganku. Gadis itu sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, Syena namanya." Jelas Rey sambil menerka-nerka kenangan masa lalunya bersama Syena. Sungguh seandainya hari itu Rey mampu menggunakan seluruh kekuatan Baron dalam dirinya adiknya nasibnya tidak akan menderita.
"Lantas kemanakah saudaramu itu Rey!" Sejenak Rey mendengar itu sesak didadanya kembali, kekecewaan dalam dirinya membungkus hatinya kembali menyalahkan segala yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Kemalangan menimpa kami ketika aku ingin memberinya hadiah ulang tahun. Hari itu kami terjebak di toko roti dengan belasan iblis yang mengepung kami. Beruntungnya aku memilki Baron dalam tubuhku itulah yang menyebabkan diriku masih bernafas sampai saat ini."Jelas Rey, Justice iba mendengar kisah hidup Rey.
"Jadi apakah Syena...." Ucapan Justice terpotong ketika Rey menatapnya.
"Syena tidak mati, dia masih hidup! Baron sendirilah yang memberitahuku tentang Syena yang tidak akan dibunuh, karena memiliki pecahan partikel Baron dalam tubuhnya." Jelas Rey, tersirat dalam mata itu sebuah penyangkalan, juga keyakinan yang teramat dalam.
Seperti menyimpan banyak kekecewaan, Justice tau itu, ia diam kali ini tak mengatakan apapun.
"Jadilah manusia hebat. Yang dihina tak tumbang, dan yang dipuji tak terbang. Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih orang yang amatiran. Kita disini untuk menjadi manusia kuat, kit disini karena tekad jadi teruslah melangkah! Jangan jadi manusia yang amatir!" Ujar Rey lagi.
Justice tertawa mendengar itu, lihatlah lintasan petuah itu muncul lagi dari balik lisan Rey sungguh malam ini segala ucapannya membuat Justice sadar, bahwa sekalipun bagaimanapun kacaunya dunia, rasa syukur juga menikmati itu harus selalu ada dalam diri manusia.
"Kenapa kau tertawa hah?" Tanya Rey heran sambil menoleh kesamping. Justice menggelengkan kepalanya seraya masih tertawa.
"Otak sedangkal ini rupanya bijak juga ya!" Ucapan yang terkesan mengesalkan sungguh rasanya Rey ingin sekali menghajarnya sekarang.
"Lama-lama kutampar juga kau nanti Justice!" Geram Rey, seandainya tangannya tak memangku barang belanjaan mungkin adu mekanik malam ini bisa saja terjadi antara dirinya dan Justice.
"Aku hanya bercanda Rey!" Ucap Justice seraya tertawa, Rey membuang nafasnya kasa mendengar tawa itu matanya kembali menatap taburan bintang dilangit, dengan penuh harapan ia berdoa.
"Semoga Tuhan selalu menjagamu Syena." Batin Rey, dibawah rembulan malam itu hatinya mendoakan sosok satu-satunya keluarga yang ia miliki, hatinya tak sabar untuk segera bertemu Syena kembali.
_________
Disisi lain Noella tercengang melihat satu kehadiran gelap dihadapan matanya, sosok itu hitam sekujur tubuhnya hitam bentuk fisiknya tinggi besar namun ramping, sosok itu sedang membelakanginya. Malam ini tepat didalam ruang penyimpanan prestasi sihir sosok itu sedang mencari sesuatu, entah apa yang dicarinya disana. Harith sedang berada diatas leonin itu sedang sibuk membahas perkara Silver Alaska bersama dengan para Musketeersnya.
Noella berancang-ancang menyerang sosok itu ketika tubuhnya hendak berbalik ke arahnya. Matanya membulat ketika melihat wujud menyeramkan itu, bagaimana sosok iblis mampu masuk kedalam istana Kaisar Putih bukankah penjagaan Rensuar ini ketat lantas mengapa sosok seram ini tak terdeteksi. Ketika Noella hendak menyerangnya sosok itu seketika menghilang, bingung dengan hal itu Noella mengedarkan pandangannya ke segala arah namun netranya tak menangkap siapapun disana hanya ruangan remang yang kosong, seakan hanya dirinya saja yang berada disana.
Ketika Noella menghela nafas lega merasa sosok itu sudah tak ada, aura kehadiran itu seketika muncul dari balik tubuhnya, ketika kuku-kuku tajam itu akan mengoyak dirinya sebuah mantra dari depan Noella menghentikannya.
"Axxio!!!" Teriak Harith merapalkan mantranya ke arah sosok itu.
Bommmmmm
Suara ledakan itu melempar sosok itu keluar, Jendela belakang Noella pecah begitu saja karena mantra itu. Noella terengah-engah was-was rasanya hampir saja tadi ia terluka dan mati jika Harith tak datang kemari. Harith menghampiri Noella yang masih terkejut itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Harith panik namun Noella hanya mengangguk mencoba menenangkan perasaannya yang kalut. Harith mengepalkan tangannya ia takut, bukan takut akan iblis itu namun takut jika sesuatu terjadi pada Noellanya.
Ketika Harith beranjak darisana mencoba memeriksa apakah Iblis itu mati atau tidak ia dikejutkan dengan satu serangan mantra mendadak dari arah samping, beruntungnya Harith sempat mengelak dari itu.
Harith melihat sosok itu dengan cengiran menyeramkannya sebelum menghilang, melihat itu Harith mencoba mendeteksinya dengan kemampuannya namun nihil sosok itu tak terdeteksi apapun kehadirannya seakan ilusi, namun sosok itu nyata adanya dan mengancam.
"Sesuatu macam apakah itu Harith? Mengapa kehadirannya tak terdeteksi oleh Musketeers kita?" Tanya Noella seraya menghampirinya, Harith masih merenungkan apa yang baru saja terjadi.
"Noella, Iblis semakin mendekati kemajuan! Menunggu akan membuat mereka semakin kuat, ketika fajar tiba nanti aku akan memberikan misi untuk mereka berlima, bagaimanapun caranya kita harus mempersingkat waktu." Jelas Harith berlalu dari hadapan Noella.
Ancaman itu berbahaya rasanya, jika Iblis datang kemari mencari tau sesuatu atau membawa pulang sesuatu informasi benteng Rensuar akan bocor ditangan Iblis seratus juta jiwa.
...Lebih baik bersiap perang daripada berharap bahwa musuh tidak pernah datang...
...Gagalkan kekuatan musuh, paksa dia untuk menampilkan wajah asli mereka...
______________
Ensiklopedia :
Mengapa Alam Semesta Berwarna Gelap?
Sebab luar angkasa memiliki partikel yang sangat sedikit, hampir tidak ada apa pun di ruang antara bintang dan planet yang dapat menyebarkan cahaya ke mata kita. Itulah mengapa kita melihat luar angkasa berwarna gelap bahkan hitam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
@◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞ⒻͬⒺͧⒷᷤⒷͧⓎͪ🥑⃟🎻
tak perlu sedarah Ki hrs puya ijab
2023-02-18
0
✪⃟𝔄ʀ ησƒяιтα 🅾︎🅵︎🅵 ⍣⃝కꫝ🎸
kalau sosok iblis udah mulai gak terdeteksi mereka harus semakin kuat menyerang para musuh
2023-02-18
1
✪⃟𝔄ʀ ησƒяιтα 🅾︎🅵︎🅵 ⍣⃝కꫝ🎸
hahahaha justice suami mu berbeda makanya gak peka 🤣🤣
2023-02-18
0