...Pikiran yang tenang membawa kekuatan batin dan kepercayaan diri...
...Apa yang membuatmu berbeda atau aneh, itulah kekuatanmu...
__________________
Lapu-lapu
Lapu-lapu duduk di atas pedang mereka, melayang menjadikan pedang-pedang tempaan itu sebagai kursi mereka. Dibawah adalah tempat mereka bekerja logam panas yang meleleh itu melepuh, asap dari kepulan itu terbang ke atas suasana disini bagai Neraka saja rasanya panas juga mencekam.
Clingggg
Beberapa kapsul sihir muncul bersamaan ada dua kapsul besar yang datang masing-masing membawa beberapa ksatria sihir didalamnya. Mereka akan dilepas disini dibawah tanah, tempat Lapu-lapu bekerja membuat pedang.
Namun sebelum mereka kemari, Axcel membersihkan seluruh tempaan pedang disana. Sehingga hanya menyisakan lahan kosong dengan beberapa logam panas yang ditinggalkan disana. Dari dalam kaca kapsul, Riley memperhatikan tempat itu begitupun dengan yang lainnya, jarak mereka dengan permukaan cukup tinggi, bahkan sangat, jika sihir terbang tak ada mungkin lompat dari sini adalah bunuh diri.
"Gersang sekali tempat ini?" Lirih Debora, Rey yang berada disampingnya memperhatikan itu, memang benar ini sangat mengerikan bagaikan gambaran neraka.
"Lapu-lapu bekerja ditempat sepanas ini?" Ujar Rey tak percaya.
"Ya mereka penempa pedang hebat memang. Di bulan dingin, mereka lebih memilih tinggal dibawah tanah tinggal berdampingan bersama bara-bara api." Jelas Mikhail sepertinya akan ada dua Profesor dalam pertemanan Rey, rupanya Mikhail pun juga seorang penyihir yang serba tau sama seperti Debora.
"Lapu-lapu ini sebangsa Elf kah?" Tanya Rey penasaran.
"Bukan mereka, entahlah dibuku manapun belum pernah ku baca tentang asal muasal mereka. Yang aku tau mereka adalah penduduk bulan tinggal berdampingan dengan Elf." Jelas Mikhail, Rey mengangguk mendengar itu ilmunya bertambah lagi kali ini.
Sebuah cahaya hijau muncul dihadapan kapsul itu, terlihat Axcel berdiri melayang disana. Axcel tersenyum senang ke arah dua kapsul sihir dihadapannya itu, tak lama sebuah tepukan tangan Axcel berikan untuk mereka, tepukan itu di iringi oleh para Lapu-lapu ikut serta memeriahkan suasana.
"Wah selamat kalian sudah berada ditahap tiga, sebentar lagi setelah seluruh tahap terselesaikan. Maka kalian akan diletakan sesuai nilai kalian, jadi berusahalah semampu kalian dan sebaik-baiknya." Jelas Axcel pada mereka.
"Tetap semangat, The next wizard!" Ucap Axcel penuh dengan semangat.
Seluruh calon ksatria didalam kapsul bersorak meriah mungkin mereka lega berada diakhir tahap seleksi namun jantung mereka juga berdebar mengingat keputusan akhir bisa berubah kapan saja, fokus mereka hanya satu kali ini lakukan yang terbaik.
Axcel membentangkan tangannya lalu terpejam wajah itu selalu tersenyum, sumringah seakan tak mengenal apa itu kesedihan. Beberapa rapalan mantra mulai ia rapalkan, sebuah cahaya memanjang membentuk sebuah kubah menutupi langit-langit menjadi putih. Ketika Axcel membuka matanya bagian atas ruangan ini berubah menjadi putih, para calon ksatria sihir dibuat takjub akan hal itu binar mata mereka mematri langit-langit itu tak berkedip.
"Baiklah bisa kita mulai sekarang?" Tanya Axcel.
"Bisa!!!" Jawab kedua belah manusia didalam kapsul itu penuh semangat.
Axcel mengangguk mendengar semangat yang meriah itu, tak jauh dari sana sepasang mata milik Harith masih memperhatikan mereka.
"Peserta Battle pertama Debora Defanny melawan Riley Akaza!" Ucap Axcel kedua nama yang dipanggil itu saling menatap saat ini.
Kubu berbeda pemegang abjad sihir berbeda mereka adalah sepasang teman dekat namun hari ini di panggil untuk maju, dan saling melawan.
"Aku tidak tau apakah aku bisa menahan diriku?" Ujar Riley diiringi dengan pintu kapsul yang terbuka, sedangkan Debora disampingnya hanya tersenyum mendengar itu.
"Untuk adu mekanik memang tidak ada yang mampu mengalahkan Riley! Aku hanya penyihir strategi, mungkin aku akan banyak diam dan menghindarimu saja."Jelas Debora.
"Errium!" Ucap Debora sulur cahaya bercampur angin datang melilitnya seketika membawanya maju sesuai keinginannya.
"Batrium!" Ucap Riley merapal bersamaan dengan Debora, beberapa dedaunan mulai mengelilingi tubuhnya membawanya terbang sesuai keinginannya.
Mereka berdua saling berhadapan saat ini Axcel berada di tengah mereka siap memberikan aba-aba untuk menyerang. Rey dari balik kaca kapsul memperhatikan kedua temannya itu dalam hatinya Rey bertanya-tanya siapakah yang akan unggul kali ini. Tak sengaja netra Rey melihat ekspresi wajah Mikhail yang tersenyum penuh arti sambil menatap kedua temannya itu dari balik kaca kapsul.
"Kau tersenyum untuk apa?" Tanya Rey disampingnya heran.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan kemungkinan mengenai siapakah yang unggul nanti." Ujar Mikhail, Rey menaikkan satu alisnya melipat tangannya di dada lalu kembali memperhatikan mereka.
"Debora unggul dalam pertahanan pemikirannya cerdas. Ditambah ia adalah ahli strategi dan pembaca pergerakan, sepertinya sulit bagi Riley mengalahkan Debora saat ini." Ujar Rey.
"Tidak Rey, jika kau lihat kemampuan dan kualitas mana milik Debora adalah yang terlemah. Jika Riley berpikir untuk menyerang gadis itu secara beruntun maka Debora akan mengeluarkan seluruh mananya untuk melindunginya dari Riley bukan? Jika keadaan terus seperti itu maka Riley lah pemenangnya nanti." Jelas Mikhail penuh dengan perhitungan Rey dibuat takjub akan pemikiran temannya itu.
Kembali netranya terfokus pada dua orang yang masih bertarung itu. Aba-aba dari Axcel beberapa detik yang lalu baru saja dimulai, sulur-sulur cahaya itu berusaha menangkis seluruh burung gagak yang Riley luncurkan pada Debora. Dibantu dengan alat pemanahnya, Riley mulai membidik celah-celah kesempatan untuk mengenai Debora, ketika celah itu cukup bagus Riley melepas anak panahnya cepat laku menghindar dari tempatnya.
Debora membaca tiap pergerakan Riley dengan analisanya. Debora memperhitungkan kemanakah Riley akan lari setelah serangan ini. Yakin akan hal itu Debora merapalkan mantra teleportasi.
"Leviousa!" Ucap Debora seketika itu juga ia berada dibelakang Riley. Mantra ini membutuhkan banyak mana dari pemakainya hanya petinggi sihir saja yang mampu menggunakannya berulang kali tanpa kehabisan mana dan lelah.
Itulah mengapa Debora memperhitungkan segala gerakan Riley sebab ia ingin menggunakan pelumpuhan satu serangan namun pasti menangnya.
Riley membelalakkan matanya ketika melihat kehadiran Debora dibelakangnya.
"Embius!" Ucap Debora mengarahkan telapak tangannya ke arah Riley yang masih lengah dan terkejut atas kehadirannya.
Dorongan dari sulur cahaya itu menjatuhkan Riley kebawah, Rey memekik ketika melihat Riley yang jatuh kebawah. Namun sebuah jaring cahaya datang menangkap tubuh Riley, bersamaan dengan itu Axcel menghentikan Battle mereka, sembari bertepuk tangan dan mendekat.
"Wahhh luar biasa sekali kau gunakan teknik untuk mengakali serangan Riley! Hebat Debora!" Puji Axcel pemenang dari sesi pertama ini tentu saja Debora, mereka yang berhasil menjatuhkan lawan mereka kebawah adalah pemenangnya itulah aturannya.
Riley menghela nafas mendengar apa yang dikatakan Axcel, sementara netranya melirik ke arah Rey saat ini yang juga sedang menatapnya. Riley mengacungkan kedua jempolnya menandakan bahwa ia masih bugar masih baik dan mampu. Melihat itu Rey juga mengacungkan kedua jempol nya menyemangati temannya itu dari kejauhan.
Debora dan Riley sama-sama bangkit mereka masuk kembali kedalam kapsul sihir, suara riuh dari Lapu-lapu menandakan bahwa mereka terhibur sekali akan aksi mereka.
"Kau tetap keren tadi Riley!" Puji Rey, namun Riley hanya menggelengkan kepalanya.
"Baron Putih, kau jangan mengecewakan gelar dan ramalanmu. Tunjukkan yang terbaik dan jangan kalah! Kau gagal di sesi kedua jika kau kalah saat ini maka kau akan ditendang dari Rensuar." Seperti sebuah ancaman itu membuat Rey kalut rasanya, dalam hatinya ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia mampu, ia pasti bisa.
"Aku mampu, aku bisa!" Ucap Rey semangat Riley tertawa mendengar itu.
"Kau tak perlu berteriak! Kau yakinkan dirimu dari dalam hati saja itu sudah cukup Rey!" Ujar Riley.
"Itu untuk menambah semangat!" Jawab Rey dengan suara lantangnya, Riley tertawa mendengar itu ia mengacak-acak surai putih Rey.
"Baron Putih, kami yakin kau bisa!" Ucap Mikhail menatap Rey, mengarahkan kepalan tangannya ke arah Rey menyodorkannya.
"Tentu saja, Rey yang terkuat untuk hal semacam ini." Ucap Rey membanggakan dirinya penuh rasa percaya diri seraya membalas kepalan tangan itu.
Kelakuan konyol dalam dirinya memang sangat dominan namun itulah yang menjadikan Rey lebih ekspresif dalam segala halnya sekalipun hati dan jiwanya hancur, sekalipun penyesalan menyelimuti relung hatinya namun ia tetap merengkuh seluruh ketidakmampuan juga kelemahannya itu segenap hatinya, membawanya berjalan bersamanya mencoba memperbaiki apa yang kurang dalam dirinya. Rensuar mungkin akan menjadi saksi bisu dimana kakinya sebagai ksatria sihir nanti akan disanjung dengan nama sesuai ramalan Baron Putih Legendaris.
...Hal-hal baik butuh waktu, hal-hal buruk tidak...
...Dia yang menaklukkan dirinya adalah prajurit terkuat...
...Kerapuhan adalah kekuatan...
...Satu-satunya cara, adalah belajar berjuang...
__________
Ensiklopedia :
Bintang neutron adalah inti bintang yang telah runtuh dari sebuah bintang super raksasa masif, yang memiliki massa total antara 10 hingga 25 massa matahari, namun massanya bisa lebih jika bintang tersebut kaya akan logam.
Selama ledakan, terjadilah proses di mana elektron saling bergabung membentuk neutron dan neutrino. Namun, ketika ledakan berhenti, neutrino menghilang dan hanya menyisakan neutron saja. Itulah sebabnya, bintang sisa yang terbentuk dari supernova disebut bintang neutron.
Sebagai gambaran, satu sendok teh materi bintang neutron itu beratnya bisa 10 juta ton.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
@Risa Virgo Always Beautiful
Axcel kamu menghafal beberapa macam mantra
2023-02-17
0
@◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞ⒻͬⒺͧⒷᷤⒷͧⓎͪ🥑⃟🎻
Tunjukkan kemampuan Ray bawah Kam bisa mengalahkan semu musuh "mu dan km tetap bertahan
2023-02-02
1
B⃟c𝓝𝓐𝓝𝓐 19♧
Mendengar penjelasaanya bener bener takjub ..Lapu Lapu dapat bekerja dengan maksimal untuk membuat pedang...
2023-01-31
0