📚................♡✿
Cyra menyeruput mie sampai terdengar bunyi yang begitu menggoda, seperti food vlogger. Lalu ia meletakkan sumpitnya agak kasar di atas meja. "Tahu tidak, masa kemarin Dareen tiba-tiba mengajak menikah. Sumpah aneh sekali."
Jiya yang ada di sebelahnya, menoleh ke arah Cyra. "Seriusan?" Dan dibalas anggukkan oleh Cyra.
"Padahal Dareen seperti sudah bosan denganmu, aneh sekali malah mengajak menikah." ucap Licia asal sekali.
"Bibir tong sampah kalau bicara seenak jidat saja." cibir Cyra penuh kekesalan.
"Sialan kau!" umpat Licia.
"Jangan-jangan Dareen itu...." Cyra, Licia, Jiya, Harsa dan Naina menatap serius serempak pada Jarrel. Mereka sungguh penasaran.
"Jangan-jangan Dareen...." kata Jarrel mengulangi kalimat yang sama.
"Kenapa, Dareen kenapa." desak Cyra.
"Jangan-jangan Dareen hamil!!"
Mendengar apa yang Jarrel katakan, Cyra langsung memukul kepala Jarrel dengan sendok yang baru saja akan ia masukkan ke dalam mangkuk mie kenyalnya itu. "Gila!! Apa kau sudah lupa Dareen itu berjenis kelamin laki-laki."
"Masih ingat jelas, kemarin juga sempat mandi bersama."
"Wow, luar biasa. Kalian berdua bercinta di kamar mandi?" Cyra mengerang sambil mengunyah beberapa sayuran hijau yang terdapat di dalam mie kenyalnya.
Licia melototi Cyra. "Pikiranmu itu mesum sekali. Tidak habis pikir."
"Hehehe. Bercanda." Cyra menyengir tidak tahu malu.
"Dareen pria, tidak bisa hamil. Tapi Cyra wanita, bisa hamil. Berarti kau yang hamil, Cyra." kata Harsa ikut bersuara setelah beberapa menit hanya diam saja.
"Yak!! Harsa, aku masih subur. Menstruasinya juga masih lancar. Jangan mengada-ngada kalau bicara." protes telak Cyra. Harsa jarang bersuara, tetapi sekalinya bergabung dalam pembahasan, kalimatnya tidak sesuai nalar kewarasan.
"Cuma menebak saja, jangan marah." jawab Harsa.
"Berarti Dareen memang serius denganmu. Kau—berhentilah melirik laki-laki bujang tampan." kata Jiya.
"Cih, omongannya. Laki-laki bujang tampan, aneh sekali." kata Jarrel, ia melirik Jiya dengan tatapan jijik.
"Suka-suka aku dong, kok sewot sih." balas Jiya dengan nada menyebalkannya.
"Loh? Kau tersindir. Padahal bukan untukmu." Jarrel bersiul santai.
"Terus untuk siapa. Jelas kalimat mu saja bilang 'Laki-laki bujang tampan', itu kan perkataan ku tadi." dengus Jiya.
"Suka-suka aku dong, kok sewot sih." Jarrel dengan suara yang mengalun persis seperti saat Jiya berucap tadi.
Jiya memutar bola matanya. "Aneh."
"Dari pada kau, gila." balas Jarrel.
“Sumpah aneh sekali."
"Sumpah gila sekali."
"Sakit jiwa."
"Iya, kau itu memang sakit jiwa."
"Kau yang sakit jiwa, Jarrel Denanjaya." Jiya berkata dengan penekanan kuat.
"Kau itu yang sakit jiwanya kelewatan batas, Jiya Skyla Paris." Jarrel masih tidak mau mengalah.
"Kau!!" seru Jiya.
"Iya, kau."
"Kau, Jarrel Denanjaya.”
"Iya, kau... Jiya Skyla Paris.”
Cyra berdiri, kedua tangannya langsung di gertakan ke atas meja. "Stop!! Aku, iya aku yang sakit jiwa. Oke, aku yang sakit jiwa. Kalian yang waras, aku yang sakit jiwa. Jadi, berhentilah bicara, berisik!" Dan, Jiya pun Jarrel kompak diam seketika. Lalu Cyra kembali duduk.
"Pertengkaran rumah tangga tidak usah di bawa-bawa ke sekolah. Bikin pusing." cibir sebal Licia.
"Apanya yang rumah tangga. Adanya rumah sakit jiwa. Rumah sakit jiwa untuk menampung orang gila seperti Jiya." kata Jarrel menatap Jiya dengan begitu benci.
"Sumpah, Rel. Kenapa selalu aku. Berapa kali lagi kau akan mengatai diriku gila, berapa kali lagi aku harus berteriak padamu kalau iya aku gila, oke aku gila sampai kau puas dan berhenti. Sampai kapan, Rel. Sampai kapan!!"
Jiya berbicara dengan nada lumayan keras, dengan situasi sekeliling sedang ramai siswa-siswi tengah menyantap makanan masing-masing. Kepekaan mendengar suara gaduh membuat mereka berhenti dari aktifitasnya kemudian serius memandangi Jiya yang tengah meluapkan amarahnya.
Naina menggenggam tangan Jiya lembut. "Tenangkan dirimu, bicara pelan-pelan saja, lihat semua orang menatap kearah mu."
Jiya mengedarkan pandangannya ke semua penjuru. Lalu, menghela nafas. "Lihat, semua gara-gara dirimu. Mereka jadi menatap sinis padaku." protes Jiya untuk pria di depannya. Jarrel.
"Kenapa kau jadi menyalahkan diriku. Kau sendiri yang memulainya." Jarrel menjelaskan, lengan menyilang di dadanya.
Jiya tertawa getir. "Amnesia. Jelas-jelas kau duluan yang memulai keributan."
"Kalau ingin ribut berdua saja sana di hutan. Jangan disini saat ada kami, buat malu saja heran." ucap Licia.
"Kau juga Jiya, tahu Jarrel seperti apa, kan? Tidak mau mengalah anaknya, seharusnya kau bisa menurunkan ego mu. Tidak usah diladeni, diamkan saja." Sekarang Cyra yang bersuara.
"Oke, jadi aku yang salah yah disini. Baik-baik, aku pergi. Bye." Jiya berdiri, kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan mereka semua yang ada di kantin.
Suasana hatinya sedang tidak baik. Jika terus mempertahankan pendirian bertengkar dengan Jarrel maka akan semakin mempermalukan dirinya. Jadi, Jiya mengambil keputusan untuk pergi dari kantin, meninggalkan mereka dengan terpaksa.
"Apa aku salah bicara?" kata Cyra menatap mereka semua.
"Pemilihan katamu kurang tepat." jawab Naina dengan sangat jujur.
Hanya beberapa detik dari hilangnya Jiya dari balik pintu kantin, Jarrel pun juga menyerah mengakhiri pertengkaran, lawan bicara berdebat pergi, apa yang harus ia lakukan. Ikut menghilang, pilihan tepat. Untuk saat ini, keberadaannya tetap disini akan menjadi perbincangan, jadi ia pergi juga.
"Kau juga pergi, Yak! Jarrel." teriak Cyra. "Astaga, mereka seperti anak kecil saja." kata Cyra begitu frustasi.
Naina menyenggol sikut Harsa pelan. "Kau pasti tahu apa yang terjadi diantara mereka, bukan?"
Naina melempar pertanyaan serius memilih menunjuk ke Harsa karena Naina yakin Jarrel sudah menceritakannya pada Harsa, apa yang tengah terjadi sebenarnya. Pria akan jauh lebih enak menceritakan kegundahan masalahnya dengan sesama pria, pembicaraan nyaman. Tidak semua, tapi rata-rata begitu.
Harsa menatap mereka semua yang terlihat begitu penasaran. Menebak-nebak apa yang terjadi. "Tidak tahu pasti, tapi Jarrel bilang kalau kemarin ia hampir saja mati karena Jiya.”
Cyra tersedak. "Mati?! Jadi Jiya membunuh Jarrel??”
Licia menyentil dahi Cyra. "Hampir saja. Jarrel masih hidup dengan baik, kau pasti bisa melihatnya tadi."
"Hei, mana mungkin Jiya membunuh Jarrel. Apa alasannya, jangan mengarang cerita." Naina dengan tidak percayanya.
"Sepertinya memang penjelasan Harsa tidak didengarkan dengan baik. Apa gunanya punya dua telinga." kata Cyra menyindir pada Naina.
Harsa tidak ingin menjadi salah paham lagi, tercipta keributan baru, jadi ia berusaha memberi yang tidak menimbulkan persepsi salah kaprah. "Begini, aku juga tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Aku hanya dengar dari Jarrel-nya, hanya dari salah satu pihak, pun aku juga tidak ada saat mereka menciptakan masalah. Jadi aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi."
"Ya sudah, intinya sekarang kita jangan berfikiran yang tidak-tidak dulu, nanti kalau mereka sudah lebih tenang, kita bisa tanyakan langsung pada mereka." kata Naina yang dibalas anggukan setuju dari Cyra, Licia dan Harsa.
Harsa menatap Naina dengan sendu. "Naina, aku minta maaf ya."
Naina menoleh kaget. "Kenapa?"
"Itu, tentang nomormu. Maaf ya." cicitnya dengan suara lirih yang seakan begitu bersalah. Harsa tidak seharusnya melangkah jauh sampai memberi yang menjadi privasi orang lain.
Naina terkekeh kecil. "Kau tidak sedang melucu, tapi ekspresi mu benar-benar membuatku tertawa. Astaga, Harda. Iya, santai saja, tidak apa-apa kok."
Cyra melirik Harsa dan Naina bergantian dengan tatapan yang ketara sekali menuntut kejelasan. "Ada apa ini. Naina dan Harsa, jangan menyimpan rahasia, katakan disini."
"Itu aku kema—" Harsa menelan ludahnya. Menghentikan ucapannya. Tidak dilanjutkan lagi sampai akhir, sebab Naina menggelengkan kepala, dengan artian dirinya tidak boleh meneruskannya.
Cyra memicingkan matanya pada Naina. "Yak! Naina, kenapa kau membuat Harsa tidak melanjutkan kalimatnya. Oke, oke kau benar-benar tidak ingin memberitahu kita apapun. Kau hanya akan menyimpan rahasianya hanya pada Harsa. Baiklah, nikmati rahasia kalian dengan baik."
"Tidak, bukan begitu, Cyra." Naina kelimpungan sendiri. Tidak tahu harus berbuat apa. Serba salah.
"Kalau begitu katakan saja, memang apa susahnya sih." sarkas Licia.
Harsa merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya ia tidak usah memulai memancing yang membuat Cyra dan Licia menjadi penasaran dan mendesak untuk diberitahu. Sekarang suasananya sudah semakin runyam, tidak terkendali. Harsa tidak ingin berada diantara lilitan kesalahpahaman yang tidak sama sekali menguntungkan tali pertemanannya.
"Masalah Jarrel dan Jiya sudah buat kepala pusing, jangan menambah pening lagi karena kesalahpahaman sepele. Biar ku jelaskan, jadi kemarin aku memberikan nomor telefon Naina pada Akira. Hanya itu saja, jadi tidak usah bertengkar." Entah kenapa, setelah menjelaskan yang sebenarnya, Harsa menjadi lega.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak ingin kita tahu. Apa masalahnya, alasan kau menutupi ini semua katakan." seru Cyra.
Naina menghembuskan nafasnya. Kepalanya tersentak dan menatap Cyra datar. "Hanya kupikir, itu bukan sesuatu yang besar untuk diceritakan."
"Halah, mencari alasan saja." Cyra menyenggol lengan Naina dengan gerakan jahilnya. "Sepertinya kau sudah bertemu dengan jodohmu, Na.”
"Apa maksudmu." jawab Naina malas.
"Ya itu, Akira. Sepertinya ya dia menyukaimu. Jadi bagaimana, perasaanmu padanya. Kau menyukainya tidak, jodoh sudah mendekat, langsung saja di percepat resmikan hubungan. Kalau bisa langsung menikah saja, aku dukung deh." Cerca Cyra. Biasa sekali asal bicara. Semau bibirnya saja.
Naina menatap Harsa. “Kau sudah tahu alasan kenapa aku tidak ingin memberitahunya."
Harsa mengangguk pelan. "Sudah, dan aku menyesal." Menghela nafas penuh rasa bersalah.
Membicarakan kisah cinta temannya sangat menarik. Cyra semakin bersemangat. "Wah, Naina Ashaliya. Jadi kau sudah berkirim pesan dengan Akira sejak tadi malam yah, kalian membicarakan apa saja? Apa yang kalian obrolkan, sampai pukul berapa, pasti sampai pagi dan kau lupa tidak tidur. Bukan, tapi lupa tidak belajar. Benar kan?" cerocos Cyra tidak mau berhenti.
Naina menggelengkan kepalanya sebagai penyangkalan. "Tidak. Aku belajar dan tidur dengan baik."
"Ah, kau berbohong padaku. Jadi, apa tadi malam Akira sudah menyatakan perasaannya padamu? Lalu kau jawab apa, kau juga menyukainya, kan? Atau, jangan-jangan kalian sudah jadian, tapi diam-diam. Awas saja di sembunyikan dariku, nanti aku rebut Akira jangan cemburu, karena kau saja tidak mempublikasikan hubungan kalian. Apa malah sudah dilamar? Sudah menikah? Kemarin ditembak jadi kekasih, habis itu dilamar, lalu langsung dinikahkan. Wah, mengagumkan sekali kisah cintamu." Cyra masih setia mengoceh, alur ceritanya semakin tidak jelas. Salah kaprah.
Satu tangannya tengah memotong daging menjadi kecil-kecil. Lalu, ia masukkan ke dalam mulutnya. Menguyah dengan lembut, menikmati dengan santai. Benar sudah tertelan masuk ke perut, Naina bersuara. "Kalau sedang makan tidak boleh sambil bicara."
Menyebabkan Cyra mendengus. "Jadi, rupanya sejak tadi kau berbicara dalam hati yah, pantas tidak terdengar."
Naina terkekeh kecil. Sementara, Licia diam-diam menatap Harsa. Tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan perkataan, cukup membingungkan. Yang jelas Licia menatap Harsa cukup lama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments