02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari

Hari senin di awal bulan Januari. Dua minggu telah usai, menikmati waktu kosong entah untuk hal yang berguna maupun tidak, itu sudah berakhir dari hari ini. Bersenang-senang, bersantai-santai dengan perasaan tenang tak lagi ada. Kini, sudah saatnya menjalankan rutinitas yang melelahkan kembali. Otak akan terus memutar, pikiran akan bekerja giat, tubuh harus kuat, tidak boleh lemah meski akan menyita seluruh raganya dari pagi hingga menjelang sore.

Langit cerah namun tidak berawan, kalau cuacanya seperti ini jadi inginnya bersantai di rumah, dengan berbagai cemilan sebagai pelengkapnya, lalu tak lupa televisi dan ponsel harus menyala aktif. Membayangkan bisa melakukan hal itu sekarang, sangatlah mustahil. Bisa saja terjadi, tapi kecil kemungkinan. Mungkin, dengan mengingat ini hari pertama masuk sekolah lagi, bisa saja pulang lebih awal, kalau itu besar kemungkinan akan terjadi. Tapi, mau akan pulang lebih awal atau tidak pun Naina takkan bisa melakukan kegiatan yang di inginkan di rumah. Naina berbeda dengan yang lain.

Gerbang utama sekolah terpampang dengan teramat megahnya. Mewah tak terkalahkan. Menjunjung tinggi kasta pendidikan tingkat atas. Unsur artistik di buat sedemikian cantik, bangunannya menjulang ke atas seperti gedung-gedung perusahaan terkenal dunia. Halaman yang luas akan sampai ke koridor mampu menyita waktu sedikit lama, apalagi kalau harus menuju ruang kelas, sudah seperti sedang berjalan dari Jeju menuju Seoul, lamanya minta ampun.

Kira-kira dua puluh langkah kaki lagi dengan gerakan sedikit cepat akan bisa sampai di gerbang sekolah. Namun, kali ini hanya ada langkah kaki pelan dengan tempo lambat penuh yakin. Berjalan beriringan dalam diam. Ada dua jawaban dari pertanyaan itu. Pertama, diam karena tidak ada obrolan yang bisa menjadi topik pembicaraan seru, yang kedua hanya ingin diam saja. Dan, pikiran Naina tertuju pada jawaban nomor satu dan dua.

Diam itu mencekam, kata kerja yang menyebalkan bagi Naina. Menurutnya, diam itu sebuah ke-tidakharusan yang ada di dalam kosa kata kamus. Diam, sebuah kata yang menuntut seseorang untuk tidak berbicara sepatah kata pun, menjadi memendam keinginan untuk mengungkapkan cerita.

Naina tak suka dalam keadaan membosankan, jadi ia menarik bibir, membukanya dengan pelan, “sebentar." Hanya sebait kata, tapi mampu mengalihkan keseriusan dua gadis yang tengah berjalan bersamanya.

Naina berhenti, dan itu juga menjadi sengaja membuat mereka ikut berhenti berjalan.

Ekspresinya sama, terukir jelas meminta kejelasan dari sebuah kalimat yang baru saja Naina katakan untuk mereka. Mimik wajahnya mengalir sebuah rasa penasaran yang teramat besar. Seolah dari raut wajahnya itu sedang berkata. “Apa?"

"Cyra dimana? Aku baru sadar dia tidak bersama kita." kata Naina dengan nada santai, ekspresi datar tak berdosa.

Licia—gadis berambut panjang itu terdengar menghela nafas. "Astaga, ku kira tadi penting jadi aku berhenti, tapi malah hanya ingin bertanya keberadaan anak itu dimana, tahu begitu aku lanjut berjalan saja." Tapi, anehnya setelah berkata seperti itu, ia tetap masih diam ditempat, tidak bergerak melanjutkan perjalanannya seperti barusan ia katakan.

"Dasar, mengagetkan saja." timpal Jiya—gadis berambut panjang se-pantat. Sungguh, rambutnya panjang sekali sampai Naina kalah sendiri. Tidak pernah di potong pendek, sekalinya dipotong pun hanya satu jengkal jari saja. Dia suka sekali dengan rambut yang panjang.

Naina tersenyum tipis. “Maaf." Menjeda sebentar. "Kau tidak dengan Cyra seperti biasanya?" lanjutnya sembari menyenggol siku Licia yang berada di sisi kirinya.

Jadi, mereka bertiga bertemu dalam satu waktu baru saat pertigaan jalan menuju kawasan sekolah. Selebihnya, berjalan sendiri-sendiri. Tidak bersama. Dan, Licia rumahnya lumayan dekat dengan Cyra, dibanding Naina dan Jiya. Ia juga yang rumahnya melewati rumah Cyra, searah. Tidak seperti Naina dan Jiya yang beda arah dengan mereka berdua.

Licia menatap ke depan. "Tidak." Lalu, ia kembali menatap Naina, “tadi aku lupa tidak kerumahnya dulu."

Jiya mulai menginstruksi untuk berjalan kembali, seolah jadi ketua pemandunya, membuat Naina dan Licia sebagai siswi penurutnya. Mereka akhirnya mulai melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah yang sebentar lagi akan sampai.

Tidak seperti yang awal, diam penuh rasa bosan di ujung tanduk, untuk perjalanan kali ini diisi dengan topik obrolan yang sebenarnya tidak perlu dibahas serius, tapi ini lebih baik, formalitas menghilangkan kediaman. Dari pada tidak sama sekali berbicara, menjadikan Cyra sebagai topik pembahasan itu seru.

"Naina….” Jiya memanggil, dengan sigap Naina menoleh ke arahnya. "Kau tak perlu cemas memikirkan Cyra dimana, palingan juga anak itu masih tidur nyenyak di dalam dunia mimpi khayalannya." Kemudian, ia melirik jam yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. "Jam enam lebih dua puluh, yakin seratus persen anak itu sedang bermimpi hidup bahagia dengan Dareen kesayangannya itu." Dari penuturannya, Jiya seakan tahu betul kebiasaan Cyra sejak dulu yang masih belum berubah sampai saat ini.

Licia terkekeh. "Tapi kasihan, kehidupan nyatanya tidak bahagia dengan Dareen.” Sebetulnya kalimat itu sensitif, lebih tepat jika dengan raut wajah yang memelas betul, tapi Idira santai dengan cengengesan gembira.

Sembari merapikan poninya yang tersibak angin, Jiya kembali bersuara, “mau bahagia bagaimana kalau setiap bertemu pasti selalu bertengkar, entah karena kesalahan apa, pokoknya pasti ada saja yang jadi bahan pertengkaran." Ia menjeda sebentar. "Aku sampai lelah kalau dengar mereka sedang berdebat." Jiya memegangi kepalanya, bereaksi seakan ia begitu pusing, padahal tidak sama sekali.

"Tapi anehnya, mereka itu tidak pernah putus sekalipun bertengkar setiap hari. Aku benar-benar heran, biasanya kan salah satu pihak minta putus karena sudah tidak tahan bertengkar terus, ini yang terjadi baik-baik saja." Licia menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda ia tidak percaya dengan kisah cinta Cyra dan Dareen. Teman mereka.

"Itu karena mereka sudah nyaman dengan keadaan seperti itu. Maksudku, karena selalu bertengkar mereka jadi tahu bagaimana keluar dari permasalahannya dengan baik, tidak perlu dengan kalimat berpisah... mereka tetap mampu mempertahankannya sebab mereka sudah sering melalui banyak masalah dan selalu berakhir dengan baikan lagi." Ia hembuskan nafasnya pelan. "Orang-orang seperti mereka itu malah tidak suka kalau tidak ada masalah, pasti membosankan baginya. Kalau jalannya mulus terus, tidak pernah ada masalah, tidak pernah bertengkar itu terasa tidak ada menantangnya sama sekali dalam hubungannya."

Jiya bertepuk tangan sambil menggeleng-geleng kan kepalanya. "Wah, Naina. Kau memang pintar." Diakhir kalimat ia mengacungkan ibu jarinya di depan wajah Naina, membuat pribadi itu sedikit tersanjung, lantas tersenyum tipis.

Naina kira pembahasan ini sudah berakhir, tapi ternyata Jiya masih ingin berbicara, menuntaskan segalanya sampai akar. "Tapi yah, dari yang kutangkap, Dareen itu sebenarnya sudah seperti ingin putus dengan Cyra, hanya saja dia yang masih takut bilangnya. Ya, kalian tahu sendiri se-menakutkan apa Cyra kalau sudah marah."

Naina menahan tawa. "Dareen minta putus, Cyra langsung menendang selakangan Dareen sampai tidak bisa berjalan berminggu-minggu."

Kemudian, mereka bertiga tertawa begitu kencang. Lepas tak tersisa. Melupakan kalau waktu mulai berjalan cepat, mereka masih diam di tempat dengan tawa meledak hanya karena satu pembahasan.

Seolah ada suara petir menyambar ketika sedang bermain ponsel. Diam tak bergerak sama sekali. Tawa meledak langsung menghilang di telan bumi.

Mereka bertiga kaget bukan main. Teriakannya benar-benar membuat telinga menjadi sakit. Mereka tahu, pemilik suara ini siapa. Kemudian, mereka bertiga kompak berbalik badan, menyempurnakan intuisi dengan sebuah hasil yang benar seratus persen.

Gadis itu berlari menghampiri yang menjadi penyebab telinga panas karena sudah pasti sedang dibicarakan lama-lama. Ketiganya langsung menghembuskan nafas lelahnya bersama.

Benar, pemilik suara cempreng menggelegar itu berasal dari gadis berambut pendek bernama Yelena Cyra Lovisa.

Cyra sudah berada di hadapan mereka bertiga. Yang jelas wajahnya sudah tertangkap penuh amarah, kedua tangannya bertolak pinggang. Siap-siap detik selanjutnya Naina, Idira dan Jiya akan kena amuk darinya.

"Kalian benar-benar!!!" Seperti dugaan Naina. Cyra sudah memulai aksi marahnya. "Sumpah yah, gila. Aku ditinggal sendirian. Sahabat macam apa kalian hah?!!" Ia bersulut kesal.

Naina sudah melongo, akan mulai bersuara, tapi malah Cyra kembali berbicara lagi. Ia tutup mulut rapat-rapat.

Jari telunjuknya mengarah pada Licia. “Kau—" Lalu, ia menurunkan jari telunjuknya kembali kebawah. “kenapa tidak ke rumahku seperti biasanya. Aku menunggumu berjam-jam di teras rumah." Naina menyadari, Cyra baru saja menyebut Licia dengan bukan namanya, tapi dengan sebutan "kau" saja. Apa ia sebegitu kesalnya?

Licia menelan ludah samar. "Itu, aku lupa. Sorry. hehe." Diakhir kalimatnya ia masih sempat-sempatnya menyengir tenang.

Cyra tidak menjawab, ia diam. Tapi, kemudian ia menabok pantat Licia berkali-kali. Tentu saja, Licia meringis kesakitan. Naina yang berada di sebelah Licia was-was, takut nanti juga akan kena tamparannya. Jiya pun begitu yang terlihat dari kacamata Naina, ekspresi wajahnya seperti ia ingin lari tapi tak bisa.

Insting Naina benar lagi. Setelah puas menampar Licia, ia kembali melanjutkan misinya dengan sempurna. Pertama menabok Jiya, terhitung sampai empat kali. Dan keduanya, ia menampar pantat Naina, kanan dua kali, kiri dua kali, dan paha satu kali.

Ini seriusan, tamparannya keras. Luar biasa sakitnya. Pantat dan paha merasakan nyeri hebat.

Naina tertawa kecil, itu karena Cyra lucu. Sehabis menabok pantat kami bertiga. Ia terlihat mengibas-ibas-kan tangannya di udara, bergerak ke sana kemari, Naina yakin telapak tangannya sudah merah menyeluruh dengan kobaran sakit tak terbendung.

Ingat satu hal di dunia ini. Manusia itu suka dengan kejahatan yang dibalas dengan kejahatan. Suka sekali melakukan balas dendam dengan apa yang menurutnya itu tidak bisa di diamkan begitu saja. Seperti dalam pepatah "mata ganti mata, gigi ganti gigi''. Kalau sudah sakit sekali, balas dendam adalah cara terbaik sebagai pembalasannya.

Licia memaksimalkan apa yang akan ia lakukan. Jadi, kedua tangannya ia gesek-gesekan berbarengan, lalu ia tiup-tiup dengan keras. Setelah itu, tanpa memikirkan bagaimana Cyra akan marah, Licia langsung menampar pantat, paha Cyra berulang kali dengan sangat keras.

Melihat Licia berani mengambil langkah balas dendam, Jiya tak mau kalah, ia juga harus melangkah berani. Resiko Cyra akan marah itu urusan belakang, yang terpenting sekarang ia harus melakukannya dulu, membuat Cyra merasakan sakit seperti yang Jiya rasakan. Jiya menampar pantat Cyra berkali-kali.

Pembalasan dendam terlampau singkat itu berakhir. Singkat namun tak dapat disimpulkan juga dengan kurung waktu secepat itu tidak merasakan apa-apa. Sakitnya terasa sekali. Meski begitu, baik pihak yang tersakiti maupun yang disakiti sama-sama serasi berbaikan kembali.

Jika pembalasan dendam sudah berakhir, maka berganti menjadi persahabatan dimulai kembali dengan perasaan baik-baik saja tak ada masalah apapun.

"Kau tidak menabokku juga, hmm?" ucap Cyra pada Naina.

"Tidak, untuk apa. Aku memang sakit, tapi aku tidak ingin kau sakit." Naina menatap Cyra yang sedang merangkul pundaknya.

"Ah, Naina Ashaliya memang terbaik." Cyra semakin mempererat rangkulannya, kemudian ia tersenyum bangga pada Naina.

"Kau terlalu baik, Na.” ucap Jiyeon

Licia bersuara. "Aku kira setelah liburan kau menjadi berbeda, ternyata masih sama."

Naina bingung. Ia menyerngit tak paham. "Maksudmu?"

Licia menghela nafas lelah. "Baik itu bagus, tapi terlalu baik itu tidak bagus. Dan kau itu yang terlalu baik."

Naina diam, tidak menjawab lagi. Ia jadi teringat semuanya, tentang orang-orang yang selalu mengatakan kalimat itu padanya. Bukan kali ini saja, tapi sudah sering Naina mendengar kalimat seperti itu untuk dirinya.

Apa benar yang Licia katakan barusan,

Kalau terlalu baik itu tidak bagus.

Naina melamun. Ia jadi berfikir, apakah kepribadiannya yang terlalu baik itu memang harus ia hilangkan?

Jadi, sekarang Naina hanya harus baik saja jangan terlalu baik. Begitu kah?

Episodes
1 01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2 02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3 03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4 04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5 05. 9-TEEN part 5 : animo
6 06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7 07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8 08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9 09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10 10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11 11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12 12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13 13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14 14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15 15. 9-TEEN part 15 : aneh
16 16. 9-TEEN part 16 : berdua
17 17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18 18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19 19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20 20. 9-TEEN part 20 : runyam
21 21. 9-TEEN part 21 : kembali
22 22. 9-TEEN part 22 : berharap
23 23. 9-TEEN part 23 : akhir
24 24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25 25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26 26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27 27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28 28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29 29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30 30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31 31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32 32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33 33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34 34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35 35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36 36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37 37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38 38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39 39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40 40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41 41. 9-TEEN : part 41 : keluarga
Episodes

Updated 41 Episodes

1
01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2
02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3
03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4
04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5
05. 9-TEEN part 5 : animo
6
06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7
07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8
08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9
09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10
10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11
11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12
12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13
13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14
14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15
15. 9-TEEN part 15 : aneh
16
16. 9-TEEN part 16 : berdua
17
17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18
18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19
19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20
20. 9-TEEN part 20 : runyam
21
21. 9-TEEN part 21 : kembali
22
22. 9-TEEN part 22 : berharap
23
23. 9-TEEN part 23 : akhir
24
24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25
25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26
26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27
27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28
28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29
29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30
30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31
31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32
32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33
33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34
34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35
35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36
36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37
37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38
38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39
39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40
40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41
41. 9-TEEN : part 41 : keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!