Cyra bergegas lari ke ruang kelasnya. Menghampiri Naina yang sudah berangkat lebih awal darinya, ia sedang duduk, mengobrol dengan Jiya dan Licia. Dengan nafas yang masih terengah-engah Cyra langsung menghamburkan pelukan ke tubuh Naina secara tiba-tiba tanpa permisi dulu.
"Nainaaa.” Masih memeluk, makin dieratkan lagi.
"Wae, wae, wae?" Naina menyingkirkan Cyra, mendorongnya agar tidak ada pelukan lagi. Masih pagi, sudah dipeluk kencang-kencang, Naina jadi sesak sendiri. Tidak nyaman. "Ada apa dengan dirimu? Kenapa tiba-tiba memelukku?" (*wae \= kenapa*)
Cyra segera duduk di kursi depan meja Naina. Wajahnya menumpu pada kedua tangan yang bersedia sebagai topangan. "Katakan kau ingin apa dariku?"
Pertanyaan Cyra membuat Naina mengerutkan dahinya. "Kenapa tiba-tiba seperti ini, katakan ada apa. Kau membuatku takut."
"Katakan dulu kau ingin apa." ucap Cyra masih kukuh dengan teka-teki yang diciptakannya sendiri membuat bingung.
"Aku tidak ingin apapun." jawab Naina singkat dengan jujur apa adanya.
Cyra kembali menumpu dagunya dengan kedua tangannya. Yang kali ini, diberi bumbu-bumbu kegemasan. Memulai aksen imut dilebih-lebihkan. "Katakan saja kau ingin apa. Tteokbokki, odeng, jajangmyeon, hamburger, pizza, atau apa? Kuberikan apapun untukmu hari ini."
"Hah??"
"Kau sudah menyelamatkan Dunia. Kau berhak mendapatkan hadiah dariku."
Kalimat yang terlontar Cyra barusan menggelitik perut. Cacing-cacing didalam sana serasa ingin keluar untuk memuntahkan segala ketidak-enakan yang dirasakannya. Mungkin, Cyra bersanding dengan Akira cocok. Sama-sama suka menggunakan kosa kata langka, terkesan aneh. Naina, Jiya dan Licia tertawa keras. Ya Tuhan, masih pagi sudah mendapat hal lucu yang sangat patut mengundang gelak tawa hadir di bibir.
Licia mengangguk. "Aku mengerti."
"Kau sudah berhasil menyelamatkan dunia kisah cinta Pangeran Dareen dengan Putri Cyra.”
Ini juga, Jiya ikut-ikutan penggunaan kalimatnya dilebih-lebihkan. Naina cukup memaklumi. Wajar Jiya begitu. Tontonan setiap harinya saja drama korea.
Naina membuka mulutnya sudah paham. "Aaa... jadi kau sudah baikan lagi dengan Dareen?" tebaknya.
"Ya, tentu saja. Itu kan berkat dirimu." Cyra tersenyum senang. "Jadi kau ingin apa?" sambung Cyra lagi. Yang ditanya hanya bisa terdiam.
"Emm."
"Emm." Cyra menirukan nadanya Naina.
Naina menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin apa-apa."
Cyra mengukir senyum tipis. "Aku tahu. Aku juga tak ada uang untuk mentraktir dirimu makan."
Tertawa lagi. Mereka berempat tertawa kompak. Cyra memang sudah hafal betul, tadi hanya sekedar tawaran basa-basi hinggap sekejap. Cyra sangat tahu kalau Naina pasti tidak akan meminta sesuatu darinya. Susah kalau menawarkan sesuatu ke Naina, orangnya memang terlalu baik. Dikasih gratis tidak mau. Akan ditolak.
📚................♡✿
Kantinnya luas, nyaman sekali untuk menikmati makanan dengan waktu minim. Mejanya panjang tetapi juga besar. Luas untuk menaruh banyak makanan dan minuman. Bisa menampung banyak orang juga. Seperti sekarang, dipadati enam orang. Empat perempuan dan Dua laki-laki. Mereka makan siang bersama.
"Tumben, kau ikut makan." tanya Licia heran menatap Naina di depannya.
"Iya, biasanya alasannya malas makan, atau ingin ke perpustakaan. Terakhir, alasan seringnya. Aku tidak makan, mau tidur dikelas saja." ucap Jiya disertai akhiran tertawa kecil. Jahil sedikit.
"Dan hari ini aku sedang ingin makan. Lapar sekali." jawab Naina sembari tangannya sibuk menuangkan air putih di dalam poci ke gelas kaca miliknya.
Cyra mengangguk paham. "Rel, ini perkumpulan cewek. Kenapa sih harus ikut duduk disini. Pergi sana, duduk dengan teman cowokmu yang lain." tangannya memberi sapuan mengusir ke arah Jarrel di sampingnya.
Jarrel terus mengunyah makanannya. Menikmati sekali. Enak. "Harsa yang mengajakku kemari." Jarrel memutar bola matanya. Tidak suka sekali kalau sedang serius makan diganggu tidak jelas.
Harsa melotot, langsung memukul lengan Jarrel. “Yak! Kau yang menyuruhku."
"Dasar, hobi mu memang suka sekali mengambinghitamkan orang, Rel.” protes Cyra. "Harsa yang sabar ya." nadanya pelan melembut, satu tangannya mengusap-usap punggung Harsa.
"Dih, kau sedang membicarakan dirimu sendiri ya Cyra?" desis Licia.
"Apa?"
"Berkaca lah dulu sebelum berbicara." kali ini Jiya yang bersuara. Mendengar itu Cyra diam, sebab tidak paham. Lantas, dengan baik hati, Jiya menjelaskan agar dimengerti. "Kau lupa, kau juga sering membuat Naina sebagai kambing hitam-mu. Melimpahkan kesalahan pada orang lain. Kau lupa dirimu begitu, Yelena Cyra??”
"Diam kau pengabdi oppa." hardik Cyra dengan suara cemprengnya. Jiya membuang muka, lalu cemberut sebal.
"Aku pergi dulu ya." pamit Naina tiba-tiba.
"Kenapa? Kau baik-baik saja?" tanya Jiya perhatian.
"Tidak apa kok, hanya perutku sedikit sakit saja." jawabnya sambil satu tangannya memegangi perutnya yang sakit.
"Nyeri tidak?" kali ini Licia yang bertanya.
Naina meringis tipis, kemudian bersuara dengan amat pelan. "Sedikit."
"Mungkin kau menstruasi." balas Licia dengan pemahamannya.
Naina tidak langsung menjawab. Ia mengingat-ingat kalender dinding yang biasanya ia lingkari merah sebagai penanda agar tidak lupa. "Tapi, perhitungannya minggu depan seharusnya."
"Tidak pasti, Naina. Aku juga kadang tidak tentu dengan tanggal pertama menstruasi." sanggah Jiya.
"Ah, ya ampun kalau benar begitu, aku sedang tidak bawa roti tawar hari ini." ucap Naina dengan nada yang frustasi.
"Mau aku belikan tidak? Didepan ada minimarket, pasti ada roti tawar. Aku belikan ya. Noona mau apa? Roti selai cokelat, stroberi, atau kacang?" cerocos Jarrel menawarkan diri, perlakuannya sudah seperti kekasih hati Naina saja.
Memanggilnya noona lagi, ya? Jarrel pelupa hebat.
Semuanya tertawa terbahak-bahak. Lawakannya polos sekali.
Harsa masih tertawa. Rasanya akan menangis sebentar lagi. "Jarrel apa kau memang bayi? Roti tawar itu artinya pembalut, perumpamaan perempuan."
Jarrel melotot lebar. "Astaga, apa iya begitu?!"
Naina mengangguk samar. Malu juga.
"Bagaimana aku tidak mengerti? Dan, Yak! Harsa bagaimana kau paham tentang istilah itu?!" protes Jarrel.
Harsa senyum malu-malu. Menggulung bibirnya rapat-rapat. "Dari pacarku."
"Berarti kau suka membelikan pembalut untuk pacarmu?" tanya Jarrel jadi penasaran.
"Rel, astaga tidak usah dibahas juga kenapa sih." Cyra berdecak kesal.
Harsa menggigit bibir bawahnya gusar. "Pernah. Terpaksa sekali."
Naina berdiri. "Sudah ya, aku pergi dulu. Tidak kuat lagi. Bye." langsung berlari secepat mungkin menuju toilet.
Semoga aku tidak menstruasi hari ini, itu adalah pikiran Naina selama berjalan menuju toilet. Langkah kakinya tiba-tiba terhenti ketika dirinya mendengar suara familiar terdengar oleh telinganya.
"Naina.”
Panggil suara dari belakang. Naina berhenti melangkah lalu menoleh. Ah, rupanya Akira. Ini pertama kalinya Akira memanggil nama Naina.
Akira melangkah pelan mendekati Naina. Akira secara mendadak, perlahan melepaskan jaket hitamnya yang membungkus torso gagahnya yang teramat sempurna itu. Menyisakan kemeja putih polos. Akira membawa jaket hitamnya ke dalam tubuh Naina.
Ini apa? Nainamendadak terdiam. Diamnya itu bingung setengah mati. Akira ini sedang mengajak bermain apa kali ini? Tolong, tapi jangan sekarang. Naina sedang tidak ingin berfikir runyam, ia sudah tidak sabar ke toilet. Sakitnya ini semakin menyiksanya. Sungguh.
Naina hanya bisa menatap Akira tidak mengerti. Tanpa olahan kata terucap dari mulutnya. Sedang malas membuka mulut.
Akira sedikit membungkuk. Mendekatkan kepalanya, lalu bibirnya berbicara lirih didepan rungu Naina.
"Roknya berdarah."
Tuh, kan. Lagi dan lagi. Tidak tahu lagi kenapa Akira suka sekali membuat lawakan dengan Naina. Hah, lawakan? Iya, Naina pikir itu lucu. Sampai-sampai ia lupa sedang dikejar nyeri diperutnya. Melupakan kesakitan perut, malah tertawa. Tapi, dalam hati. Aneh, kalau ia tertawa didepan Akira.
Penempatan kalimatnya itu yang selalu buat Naina terpingkal tawa. Naina cerdas, jadi ia tahu sejujurnya apa yang sebenarnya Akira katakan. Tapi, bukankah lebih bagus kalau begini ; ‘Rokmu ada darahnya’ Terdengar lebih normal, bukan? Kalau seperti tadi, agaknya terlalu aneh pun menakutkan untuk didengar jadinya.
Naina masih menatap Akira dalam diam. Tidak tahu akan berbicara apa.
"Warnanya merah. Sepertinya kau mengalami keperempuanan-mu hari ini ."
Alih-alih memikirkan apa inti dari perkataan Akira. Naina malah terpusat pada kosa kata 'keperempuanan mu' yang Akira ucapkan. Naina benar-benar penasaran kepala Akira itu isinya apa saja sih, sampai bisa memiliki kosa kata seperti itu.
Sudah dibilang, Naina itu tandingan setara Akira. Cerdasnya Naina bisa mewakili keanehan Akira. Apa yang dikatakan Akira mengerti paham oleh Naina. Tapi, Naina memikirkan bagaimana mereka yang lain ketika Akira sudah mengeluarkan kosa kata langkanya? Apa mereka memahaminya?
Ya Tuhan, kalau sedang bersama Akira, urat malu Naina menghilang sudah. Harusnya ia malu teramat besar. Tetapi, Naina malah melempar balas perkataan alien itu. Alien? Ya bolehlah, istilah baru lagi untuk Akira super unik ini.
"Kental tidak? Ah, mahkotaku tidak tahu malu mengeluarkan cairannya saat ini. Benar-benar yah."
Tolong, siapapun. Jitak kepala Naina sekeras mungkin, agar pikiran gilanya terhempas jauh dari otaknya, jangan sampai kembali lagi. Kalian tahu kan, Naina itu teramat sopan menjaga ucapannya, polos tentu saja rasa malu berbicara menyeleneh bukan tipenya. Tetapi, sekarang? situasinya benar-benar mengejutkan semesta.
Dan, kini Naina baru sadar dari kehilangan kewarasannya. Mungkin tadi ia kemasukan jin jahat bertamu gila ke dalam tubuhnya. Sekejap hinggap tetapi meruntuhkan harga dirinya. Naina menepuk jidat, dengan artian kalian sudah tak perlu lagi menjitaknya, Naina sendirilah sudah menyadarinya.
Akira terkekeh mendengar penuturan gila yang jelas mengejutkan baginya. Maafkan, tapi Akira merasa kalimat itu sangat gila untuk ukuran siapa yang mengatakannya. Sejak pertama, dengan melihat wajahnya saja, Akira sudah tahu bahwa Naina perempuan polos, kalimat tadi tidak wajar untuknya.
"Maaf, aku belum mencicipinya. Jadi tidak tahu apa itu kental atau tidak."
Naina sedang terserang gila mendadak. Harusnya Akira tidak usah menggubrisnya lagi, tetapi malah merespon balik dengan kalimat lebih gila lagi. Kalau begini, apa Naina akan masuk terselimuti kegilaan lagi atau ia akan berusaha tidak tergoda buaian kegilaan Akira? Mari kita lihat bersama.
"Aku tidak ingin lebih gila lagi. Aku pergi. Terimakasih." Menunduk sopan, dalam hitungan detik meluncur lari cepat-cepat.
Mendengar Naina mengatakan pernyataan seperti itu, Akira sukses tertawa lirih hingga deretan gigi putih bersihnya nampak jelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments