📚................♡✿
Radika memperhatikan serius lembar biodata yang tergelatak rapi didepannya. Tangan kanannya memegang pulpen hitam, mengetuk-ngetuknya dengan tempo lambat ke meja.
"Kau pintar. Tapi, kau harus belajar lebih keras lagi jika kau benar-benar ingin masuk universitas yang kau inginkan."
"Apa ada kemungkinan gagal, ssaem?" tanya Licia teramat lirih hati-hati.
"Kecil kemungkinan, mengingat kau selalu meraih ranking kelas. Tetapi, lebih bagus lagi kalau kau bisa menjadi yang pertama." Radika meletakkan pulpennya beristirahat dulu, kedua tangannya di atas meja dan ia mengaitkan jemarinya menatap Licia serius. "Kau mulai lebih lambat dari yang lain. Belajarlah lebih giat lagi, maksimalkan apa yang kau inginkan."
"Apa itu berarti aku harus mengalahkan Naina?”
Radika tersenyum tipis. "Bukan mengalahkan. Lebih tepatnya, belajarlah darinya. Dari cara ia belajar, atau apapun itu. Naina memang cerdas, selalu unggul dari apapun. Maka dari itu, kau temannya, kau bisa belajar bersama dengannya. Dengan begitu, mungkin kau bisa lebih naik lagi rankingnya."
Licia mengangguk pelan. "Aku mengerti. Terimakasih penjelasannya, Ssaem." Licia melampirkan senyum manisnya pada gurunya yang sangat tampan itu, kemudian berdiri. Dan pergi dari ruang Bimbingan Konseling.
Licia menutup pintu. Kemudian, ia terdiam sebentar. Lalu, menarik nafasnya dengan tarikan cepat, dan dihembuskan nafasnya dengan pelan perlahan. Dengan anggukan sekali, ia melangkah pergi.
📚................♡✿
Dalam ruang kecil dengan atap yang terbuka, Naina berhasil bernafas lega. Dirinya telah terbebas dari Akira. Tidak ada kegilaan lagi yang membuat dirinya sendiri kelimpungan menghadapinya. Sudah aman. Namun, ia lupa lagi dengan satu hal. "Ah, sial aku tidak bawa ponsel." frustasi Naina lagi.
"Noona please jangan mengumpat, itu tidak cocok untukmu."
"Ah, Jarrel ada dimana-mana. Baiklah, aku tidak akan mengumpat Jarrel Denanjaya." tertawa kecil menghibur diri sendiri yang sedang kepalang pusing.
Ternyata, kini Naina tengah menerima bisikan kalimat permohonan dari Jarrel agar dirinya jangan mengumpat. Seperti sebuah peringatan. Terngiang-ngiang ditelinga bagaimana Jarrel mengatakannya serius tetapi dengan aksen imutnya yang tak pernah ketinggalan. Lucu sekali.
"Jadi, sekarang bagaimana nasib dirimu, Naina?? Kenapa kau diam saja disini, kau bisa ke kelas untuk mengganti rok-mu yang terkena darah dengan celana olahraga mu. Lakukan, kenapa kau malah diam saja."
Kebiasaan sejak dulu. Naina suka sekali berbicara dengan dirinya sendiri. Seperti sekarang, ia hanya menggunakan cermin kecil tergenggam erat ditangan kanannya, menghadap wajah dirinya. Lalu, mulailah dengan aksi tanya jawab yang terprogram oleh Naina sendiri.
"Tapi, aku terlalu takut, dan malu." gumamnya pada diri sendiri.
"Kau takut? Dan, apa? Malu? Ya, lihatlah. Kau sudah diberikan penutup rok dengan sempurna. Jaket hitam dari Akira. Kau bisa berjalan dengan leluasa, roknya tak akan terlihat ada darahnya oleh orang lain." jawab Naina lagi pada pertanyaan dari dirinya sendiri.
Gila ya, kalau seperti ini. Naina memang anak baik-baik, terlalu polos katanya. Tetapi, jika sudah dihadapkan dengan situasi mengobrol sendiri, mungkin Naina orang terdepan dengan kegilaan super aneh. Memberi pertanyaan sendiri, lalu dijawab juga oleh dirinya sendiri.
"Yak! Apa kau buta?!" Jari telunjuknya menunjuk tajam pada cermin miliknya.
Naina sedang membutakan dirinya sendiri? Wajah yang berada di cermin itu yang ditunjuk-tunjukkan dengan kesalnya, adalah dirinya sendiri. Naina Ashaliya. Benar anehnya. Kalau begini, tidak ada bedanya dengan gilanya akal Akira.
"Memang benar ada jaketnya Akira. Tapi, kau tidak berfikir terlalu jauh? Aku tidak membawa pembalut. Apa kalau aku sudah berganti dengan celana olahraga, darahnya akan berhenti mendadak sampai pelajaran selesai, kau berfikir begitu?" Naina diam beberapa detik, lelah juga berbicara panjang lebar. "Sangat mustahil. Yang terjadi adalah lantai kelas akan terpenuhi oleh darah kental ku yang mengalir. Kalau seperti itu, apa aku masih juga dikatakan buta untuk bersikap takut dan malu?" Mengacak-acakan rambutnya frustasi. Naina menggila sendiri.
Katanya, menurut pribadi Naina. Berbicara dengan diri sendiri itu memiliki sensasi berbeda. Itu menyenangkan.
Apa kalian juga seperti Naina? Memiliki kebiasaan berbicara sendiri? Katanya itu juga bisa mengusir kesepian. Jika tidak punya teman cerita, kau bisa berbicara dengan dirimu. Dirimu sendirilah tempat kau bercerita, maka dengan begitu perasaanmu menjadi lebih baik, karena jawaban dirimu yang terbaik.
"Naina.”
Sebentar, apa rungu-nya bermasalah? Naina seperti mendengar orang memanggil namanya. Kalau tadi ia terngiang ucapan Jarrel. Apa sekarang ia juga sedang terngiang-iang ketika Akira memanggil namanya? Tapi, apa sebab dan akibatnya?
"Kau dimana."
Tidak, jika hanya halusinasi pastilah hanya satu kata terucap dengan kosa kata sama persis. Tetapi, sekarang? Kalimat kedua berbeda dari pertama. Menunjuk kepada Akira yang bertanya dimana keberadaan Naina. Kalau begini, sudah dipastikan Akira berada nyata disekitar Naina.
"Nomor tujuh."
Terlalu santai menanggapi, atau terlalu membiarkan alasan Akura disini? Naina malah terfokus tentang Akira yang tengah mencari keberadaannya. Maka begitu, Naina hanya punya satu jawaban pasti yang tak mungkin berbohong. Keberadaannya berada di dalam toilet nomor tujuh. Paling ujung.
Telinganya menangkap jelas jawaban atas pertanyaan yang ia inginkan. Akira langsung mencari toilet yang ada nomor tujuhnya tertempel didepan pintu. Akira dapat. Berhasil dengan cepat, karena toilet pun memang hanya ada tujuh ruang. Akira berdiri didepan toilet yang ditempati Naina saat ini.
"Naina.”
Apa kini hobi Akira adalah memanggil nama Naina? Sudah ke berapa kalinya dalam waktu berdekatan, Akira memanggil nama Naina dengan atau tanpa alasan pasti. Tetapi, entah kenapa Naina pikir, ketika Akira memanggil namanya, itu berarti ada alasan penting yang tersemat didalamnya.
"Ada apa?"
"Kau didalam?"
"Tidak. Sedang menyapu halaman sekolah."
Akira sukses terkekeh. Kalau sedang begitu, Akira merasa Naina tengah kerasukan jiwanya Akira. Jawaban menyeleneh, tapi lucu. Dan, kenyataan besarnya, itu adalah jawaban benar mutlak. Akira jadi malu sendiri, kenapa ia harus bertanya ketika ia jelas tahu jawaban pastinya.
"Akira kau pasti tahu ini toilet wanita, kan? Kenapa kau kesini? Jika ada yang melihatnya, kau bisa mendapat hukuman. Nanti citra baikmu bisa hilang seketika, kau pasti akan mendapat banyak komentar buruk." cecar Naina gelagapan.
"Untuk menemui dirimu."
Terlampau cepat dijawab. Tetapi, singkat juga kalimatnya. Dan, sialnya jawaban Akira itu benar memiliki segudang penasaran teramat tinggi untuk digapai dengan pikiran logis. Naina semakin bingung. Mendadak diam, alasan jenis apa yang mendasari Akira sampai memasrahkan diri menemuinya di toilet?
"Untuk apa?" tanya Naina penasaran.
"Keluarlah dulu." jawab singkat Akira.
"Kalau tidak mau?"
"Aku yang akan masuk."
Penuturan Akira berhasil membuat jantung Naina mendadak berdetak dengan cepat dari batas normal. Tidak mungkin kan Akira akan berbuat hal senonoh padanya di dalam toilet? Jika Akira santai berbicara, berarti yang disini hanya ada mereka berdua saja. Apa itu jadi alasan terkuat Akira??
"Pergi." satu kata mengartikan kejelasan sempurna. Mengusir Akira dengan nada sedikit keras.
"Aku akan pergi, tapi kau harus keluar dulu." Akira masih bersikukuh.
Hembusan nafas pelan berusaha percaya dengan Akira. Menuruti permintaannya untuk keluar bertemu dengannya, setelah itu akan terjawab apakah Akira memang benar ada niat jahat, atau memang ada alasan penting yang baik bertemu dengan Naina.
"Oke, baik. Aku akan keluar."
Naina ragu. Memaksimalkan fisik serta mentalnya untuk bersiap siaga jika Akira berbuat hal tidak diinginkan yang terlampau negatif. Tangannya gemetar memegang kenop pintu. Tetapi, berhasil membukanya pada akhirnya. Menatap Akira dari ujung kaki hingga kepala. Masih tampan ternyata. Hehe.
Naina menatap Akira sambil mengangkat sebelah alisnya. "Jadi?"
''Untukmu."
Akira mengeluarkan sesuatu yang sudah terlalu lama ia sembunyikan dibalik punggungnya. Menggenggam erat sekotak barang berbentuk persegi panjang. Menyerahkan dengan amat lugu, tenang dengan gerakan santai tanpa ada perasaan ragu pun malu memberikannya.
Pun jauh dari mimik Akira yang kelewat tenang itu. Sebaliknya, Naina memberikan mimik terburuknya. Merasa sangat aneh, tak menyangka Akira seberani itu, gilanya sudah berada di langit ke tujuh. Tanpa tahu itu tindakan paling tidak wajar.
“Kira... Kau gila?"
Kira. Bolehkah Akira tersenyum manis berseri suka ketika Naina memanggilnya seperti itu?? Orang tuanya pun jarang sekali, bisa dihitung jari memanggil dirinya dengan sebutan 'Kira’ Jadi, panggilan itu terasa spesial baginya. Karena siapapun tidak ada—belum ada yang memanggilnya Kira. Akira kaget. Diam mematung. Tetapi, juga menyukainya dalam satu waktu bersamaan. Namun, mengerti paham situasi sekarang. Akira terpaksa tak senyum. Datar terlukis.
Kepala Naina seperti mau pecah. Dirinya tak pernah menawarkan—meminta untuk dibelikan dengan segudang hadiah sebagai imbalan agar persetujuan terlaksana hebat. Pun tak pernah mengemis juga. Apa wajah memelasnya tadi melahirkan rasa kasihan Akira padanya? Tapi tidak sampai begini juga.
Memang benar, berkali-kali Naina mengibarkan kata gila untuk sikap Akira padanya. Tapi, kata itu hanya terpantri dalam hatinya saja. Belum pernah mengatakan gamblang diluar bibir. Naina patut mencerna omongan baik agar tak ada yang merasa sakit perasaannya. Dan, kini ia baru saja melanggarnya. Tetapi, Naina entah kenapa tak sedikitpun muncul rasa menyesal, merasa bersalah besar pun memarahi si bibir dengan mencubitnya sakit. Tidak ada sepersen pun. Naina merasa itu patut dilakukan untuk kelakuan Akira yang jelas gila.
Akira mengendikkan bahunya santai. "Mungkin."
"Aku tidak meminta kau untuk membelikan itu, kan? Sungguh." kata Naina kelimpungan sendiri. Penekanan kuat ia layangkan saat mengucapkan kata 'itu'. Itu untuk pembalut. Sangat berhati-hati, sebab terlalu malu jika diucapkan begitu gamblang.
"Iya, memang." sahut Akira cepat.
"Lalu kenapa kau membelinya?" tanya Naina masih terheran-heran.
"Karena kau membutuhkannya."
Mendengar penjelasannya, cukup masuk akal untuk diterima sesaat. Akira keterlaluan. Sangat sekali bahkan. Meruntuhkan harga dirinya paling rendah, pun sama halnya dengan Naina sendiri begitu. Merasa malu terkikis hebat. Tetapi, dalam kesalahan melangkahnya ada pembenaran yang harus diakui disini.
Tangannya terulur ke depan, memberi kesempatan tidak langsung untuk Naina mengambil terima barang yang sudah basi dipandang terus menerus tanpa kejelasan pasti dipakainya atau tidak.
"Aku terima."
Naina mengambil barang itu dari tangan Akira. Digenggamnya dengan pasti. Naina setuju alasan Akira tadi. Dirinya memang sangat membutuhkan pembalut ini. Tapi, yang menjadi masalah disini adalah orang yang membelikannya. Sumpah, Naina malu sekali. Habis ini, semoga tidak bertemu Akira lagi.
Tanpa menunggu jawaban Akira, Naina berbalik badan lalu masuk ke toilet. Menutup pintu rapat-rapat.
"Kira, kau sudah pergi, kan?"
Alasan terkuat pertanyaan muncul adalah Naina tak mendengar sedikitpun langkah kaki Akira berjalan pergi keluar. Sejak tadi diam sempurna. Bahkan, semakin aneh saja, karena hanya mereka berdua saja yang ada didalam sini. Apa semua orang tidak ada yang ingin ke toilet? Kebetulannya terlalu, hingga jadi aneh.
"Masih disini."
"Ada tiga sisi peluang besar untukmu. Pertama, kenop pintu yang sedikit berlubang di bagian tengahnya. Kedua, bawah pintu yang terbuka. Ketiga, dinding yang tak menyentuh pada atap langit. Jadi, kau ada di peluang nomor berapa, Kira??"
Jangan salahkan jika kini Naina berfikiran kemana-mana. Kejanggalan tak ada sekalipun orang--kecuali mereka berdua. Dan, keberadaan Akira yang setia didalam sini. Bukankah sangat jelas ada sesuatu yang ia inginkan lebih? Didalam toilet, berdua. Hasrat lelakinya pasti sedang membabi buta sekarang.
Akira sukses terkekeh kecil. "Aku model papan atas, bukan penguntit rendahan."
Naina menghela nafas lelah. "Iya-iya, jadi alasan dirimu tetap disini untuk apa?"
Akira melangkahkan kakinya sedikit mendekat ke pintu. "Aku hanya mau bilang. Nanti hati-hati memakainya ya, soalnya itu bersayap. Aku takut kau benar akan terbang, lalu menabrak dan merobohkan atap langit. Kasihan." katanya dengan suara berat khasnya, tenang dalam menjelaskan apa yang ia khawatirkan.
Bersayap? Astaga, maksudnya Akira tengah membicarakan tentang pembalut yang ia beli itu yang bersayap? Ada sayapnya. Dan, ia pikir itu benar-benar bisa membawanya terbang tinggi ke atas langit. Ya Tuhan demi apapun Naina melambaikan tangan guna menyerah pasrah dengan seisi keanehan Akira.
Akira itu terlalu polos. Tidak mengerti lagi bagaimana jalan pikirnya begitu terasa sederhana atau terlalu sederhana, hingga semua unek-unek anehnya terpulas apik dari bibirnya. Setenang itu. Naina hanya bisa menghela nafas sabar. Mau marah, tapi tak bisa. Malah ia tertawa kecil karena lucu. Jadi gemas sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments