06. 9-TEEN part 6 : hidupnya

📚................♡✿

Terlentang dengan santai, lampu kamar dimatikan, menatap langit-langit kamar yang sangat cantik dengan kerlip warna-warni dari bintang-bintang yang menyeluruh. Suasana tenang, sunyi selalu membuat perasaan Naina menjadi lebih baik. Tersenyum manis, hari ini ia telah berani mengambil langkah berat.

Tok

Tok

Tok

Ketenangan hanya sesingkat itu ia nikmati. Naina bergegas membereskan tempat tidurnya yang sedikit berantakan, lalu menyalakan kembali lampu kamarnya. Kemudian, ia duduk di kursi, mengambil setumpuk buku menempati meja belajarnya, lalu ia membuka satu buku mapel IPS, membaca tentang sejarah.

"Tidak dikunci." suaranya agak keras agar terdengar sampai ke luar ruangan.

Erina Lin Ashaliya. Naina, membuka pintu lalu masuk langsung mendekati Naina yang tengah belajar. "Kenapa tadi lampunya mati, apa kau sudah tidur?"

Naina berhenti membaca. Menggelengkan kepala pada ibunya. "Tidak, tadi lampunya tiba-tiba mati begitu saja, mungkin korslet." Bohongnya agak berat di hati.

Tangan kanannya bertumpu pada meja, sedangkan tangan kirinya berkecak pinggang. "Kau tahu seberapa susahnya ibu mencari tutor yang terbaik untukmu? Kau tahu seberapa mahalnya biaya untuk les privatmu itu. Kau tahu tidak."

Naina menghela nafas lelah. "Ini pasti soal bolos ku tadi siang." batinnya berkata.

Beranjak dari kursinya kayu, Naina berdiri di depan ibunya. "Aku tahu."

"Kalau tahu kenapa kau bertingkah semaumu sendiri. Jangan pikir ibu tidak tahu kalau tadi kau bolos hagwon." Nadanya mulai meninggi.

"Hanya sekali saja, besok-besok tidak lagi." suaranya mengecil. "Lagipula selama ini aku tidak pernah bolos, hari ini yang pertama." berucap dengan berani mengakui yang menjadi bebannya selama ini, tetapi kedua tangannya berbanding terbalik dari bibirnya, begitu lemah sampai meremas baju yang menjuntai ke bawah. Takut. Naina melangkah salah.

Erina berdecak remeh. "Hanya sekali untuk hari ini, tapi besok pasti jadi berkali-kali. Sekali bolos akan jadi ketagihan bolos lagi, kau pasti tahu itu."

"Aku hanya ingin bersenang-senang dengan teman-temanku." Terangnya dengan kejujuran segenap hati.

"Tidak ada namanya bersenang-senang. Kau sudah kelas dua belas, apa kau lupa itu? Kelas dua belas hanya ada belajar dan belajar. Pikirkan nilai mu. Masuk universitas itu sulit, tidak segampang kau bolos hari ini." Nadanya iya biasa saja, tapi kenapa Naina selalu merasa bahwa setiap yang keluar dari bibir ibunya itu begitu menyentak hati. Menyindirnya menusuk relung hati sekali.

Naina masih ingin mencoba, berusaha membuat ibunya melunak sedikit. Naina hanya ingin mengutarakan apa yang hatinya ini rasakan. "Aku akan masuk universitas swasta saja dengan teman-temanku yang lain."

Erina bercekak pinggang angkuh. "Jangan buat ibu marah. Kau tahu ibu dosen di Unversitas Negeri, dan kau bilang apa tadi? Ingin masuk universitas swasta saja?" Mendesis muak. "Kau ingin membuat reputasi ibumu hancur, hah?! Apa kau pikir boleh masuk di sembarang universitas di Seoul seperti teman-temanmu itu?" katanya lagi sambil menghela nafas frustasi. "Naina, kau itu berbeda dari mereka. Jangan samakan hidupmu dengan anak-anak itu. Level kita berbeda dari mereka. Pikirkan baik-baik, jangan sampai membuat reputasi ibu hancur hanya karena tingkah mu yang seenaknya itu. Kau mengerti?"

Naina menunduk dengan teramat lelah. "Ya, aku mengerti."

Ibunya membungkuk sedikit, membawa wajahnya untuk lebih dekat pada wajah anaknya. "Berjanji untuk apa?"

"Aku berjanji tidak akan bolos lagi." ucap Naina dengan berat hati. Terpaksa.

"Dan?"

"Dan akan belajar lebih keras lagi."

Ibunya langsung mengusap pucuk kepala Naina lembut. "Bagus." kemudian tersenyum begitu senang, “lanjutkan lagi belajarnya sampai jam dua." perintahnya.

"Iya, ibu." lirihnya lemah sekali. Dan ibunya pergi begitu saja dari kamarnya.

Lagi dan lagi, Naina kalah. Mengalah lebih tepatnya. Tidak memiliki kemampuan untuk menolak yang sudah ditetapkan dalam hidupnya. Dunia baru yang baru akan mulai ia kunjungi, telah dihempaskan jauh sampai ke batas yang tidak bisa lagi ia jangkau. Sangat sulit. Susah. Bersenang-senangnya tidak ada lagi. Belajar dan belajar yang masih ada dan akan selalu ada di setiap detik perjalanan hidupnya. Sampai pada titik dimana ibunya membebaskan dirinya untuk memilih dengan caranya sendiri.

Hembusan nafasnya terdengar begitu lemah, sebab sudah begitu lelah dengan semua penderitaan yang ia jalani. "Ini yang ku maksud dengan kalimat 'Aku berbeda dari mereka' Aku lelah. Teramat lelah." air matanya perlahan mulai jatuh mengalir ke pipinya. Menangis di tengah malam dengan seorang diri.

📚................♡✿

Radika Sanjaya, adalah guru BK, Bimbingan Konseling. Kepribadiannya yang ramah, peduli dengan masalah siswa-siswinya, dibalik tampilannya yang santai namun tetap bijaksana, karena itu ia sangat disukai oleh semua orang. Pria berusia tiga puluh tahun itu berjalan memasuki kelas 3-1. Siap mengajar.

Mendaratkan bokongnya pada kursi kayu. "Bagaimana liburnya? Menyenangkan?" Pertanyaan basa basi saja.

"Kurang puas liburannya."

"Liburnya kurang lama, Ssaem... Jadi tidak bisa menikmati santai di rumah."

"Menyenangkan bagaimana kalau dikasih libur cuma dua minggu, mana berasa liburannya."

Radika hanya senyum-senyum saja. Sudah tahu akan jawaban mereka, pasti jelas protes. Padahal dua minggu itu lama, tapi selalu saja merasa kurang, selalu ingin lebih dan lebih. Tidak heran. Pribadinya itu lalu berjalan ke depan.

"Sekarang kalian sudah kelas dua belas. Di tingkat terakhir sekolah, dan ujian sudah didepan mata, jadi belajarlah lebih giat lagi. Mengerti?" katanya dengan suara lembut.

Tiga puluh tujuh siswa berirama selaras membunyikan alunan nada bertempo rendah, malasnya terlihat, dengan tambahan mimik wajah serupa menekuk asli, berdehem serendah mungkin nyaris tak ada suara keluar.

"Sekarang, tulis biodata lengkap kalian. Universitas dan jurusan wajib diisi, nanti saya periksa satu persatu dan memanggil kalian untuk berkonsultasi." ucapnya sembari membagikan lembaran kertas putih ke empat meja paling depan. Setelahnya mereka sendiri yang membagikan ke belakang sampai semua menerima.

Cyra menatap selembar kertas yang sangat tidak disukai. Tidak berniat sama sekali untuk bersemangat mengisinya. "Ah, aku bingung. Yang dua itu tidak akan aku isi, biarkan saja kosong."

"Dua itu wajib diisi, kau lupa?" ucap Licia pada Cyra, teman sebangkunya.

Naina melihat kertas milik Cyra. Menatap kata universitas dan jurusan yang masih belum diisi sama sekali. Hanya diam memperhatikan saja. Tidak berucap.

"Terus aku harus isi apa coba?" Cyra merasa buntu tidak bisa berfikir.

Licia mencoba bersabar. Bersuara selembut mungkin. "Sesuai keinginanmu. Hatimu bicara apa, itu yang kau tulis."

"Hatiku tidak bisa bicara."

Licia kesal sekali. "Yelena Cyra pabo." (*bodoh*)

"Kau yang bodoh, mana ada hati bisa bicara." Cyra merasa dirinya pintar, jawabannya benar, kenapa dibodohi. Memang Licia-lah yang bodoh.

"Sekolah saja aku terpaksa, mana pernah memikirkan ingin melanjutkan kemana, ada-ada saja pertanyaannya." Membuang nafas remeh. "Setelah lulus, aku akan langsung bekerja, tidak ingin kuliah. Kerja dapat uang, kuliah hanya membuang waktu percuma pun jadi mengeluarkan banyak uang lagi." Lalu meletakkan kertas itu di pojok atas meja. "Biarkan saja kosong, aku tidak peduli. Lebih baik tidur." Kepalanya menumpu di atas kedua tangan yang terlipat lemah dimeja. Kedua matanya langsung menutup dalam sekejap.

Tangannya meremas gemas melihat kelakuan Cyra. Licia jadi berfikir, bagaimana dirinya bisa berteman dengan makhluk aneh seperti Cyra. Benar-benar tipikal manusia yang tidak tahu cara menjalani hidup. Meremehkan segalanya. Termasuk dunia yang harusnya dipentingkan untuk dirinya sendiri juga.

Sementara Naina menghadap ke depan lagi. "Sesuai keinginanku? Jadi, aku harus mengikuti kata hatiku? Dengan keinginanku sendiri?" ucapnya dalam hati.

Singkatnya kepastian tepat berganti dengan cepat menjadi sebuah pemikiran salah kaprah. Dalam pikiran dalamnya bergelimang setia penuturan tentang jawaban pertanyaan itu. Lagi-lagi Naina kalah dengan dirinya sendiri, mengalah pasrah pada keputusan mutlak yang sudah ditetapkan dalam kategori wajib.

Kecemasan lebih besar, itulah mengapa Naina tidak berani mengambil langkah sekecil apapun. Ketakutan melanggar sebuah peraturan paten mengiringi setiap titik garis pikirannya.

Naina menggeleng samar, kemudian langsung mencoret jawabannya. Ini salah besar. Tidak seharusnya ia isi seperti itu.

Setelah itu ia mengangguk kecil. "Ini baru benar, Naina.” Diakhiri dengan senyum palsu. Harus diterima dengan baik.

Akira mencoret jawaban milik Naina. Tiba-tiba saja tanpa meminta izin dahulu kepada pemilik lembar ini.

Naina menatap Akira mengintrogasi. Matanya membulat kaget. "Kenapa kau mencoretnya?" katanya ada ruang gugup dalam dirinya.

"Kenapa kau mencoretnya?" Akira malah bertanya balik dengan dingin.

"I-itu karena salah."

"Itu jawabanku."

Apa-apaan ini. Akira aneh. Naina harus menuntut kejelasan. "Kenapa salah? Itu adalah jawabanku. Bukankah hanya aku yang bisa memberikan alasan salah dan benarnya? Kau tidak seharusnya mencoretnya tanpa izin."

"Maka kau juga tidak seharusnya menuliskan jawaban tidak masuk akal pada biodata mu." agaknya aneh ya, Akira berkata tenang sekali, tanpa sekalipun ada perasaan bersalah atau apapun itu. Naina jadi kesal sendiri.

"Itu masuk akal untukku." nadanya mulai meninggi. Berharap Naina bisa mengontrol diri. Tidak bablas marah.

Namun Akira mengabaikan gagasan Naina. Satu tangannya terangkat ke atas.

Radika yang melihat bagaimana Akira terlihat meminta bantuan secara tidak langsung dengan pergerakan tangannya itu langsung merespon dengan cepat. "Kenapa Akira?"

Akira menurunkan tangannya kembali ke bawah. "Ingin meminta satu kertas lagi. Boleh, Ssaem?"

Radika mengerutkan keningnya sedikit bingung. "Bukankah kau sudah menerimanya?"

"Kertasku robek." Dijawabnya cepat bahkan tanpa lama dipikir. Seperti sudah tersusun di dalam kepala besarnya itu.

"Robek? Itu masih rapi, bahkan semua pertanyaan sudah berhasil ia jawab. Kenapa meminta satu kertas lagi? Kenapa Akira bohong?" cerocos Naina dalam hatinya. Bertanya-tanya heran sendiri.

Tanpa perlu dipikirkan dengan lama, Radika pun memperbolehkan, pun lembarannya masih tersisa banyak. "Ya sudah ambilah."

Akira berdiri, berjalan ke depan menghampiri Radika ssaem yang sedang duduk tetapi kedua matanya terlihat serius membaca buku. Akira mengambil satu kertas kemudian kembali ke tempat duduknya lagi. Duduk dengan nyaman, dengan gerakan cepat ia mengambil kertas Naina lalu merobeknya pelan tapi pasti.

"Ya!!" Teriak seru. Lalu menunduk malu selepas semua teman-temannya memandanginya tidak suka. "Kenapa dirobek?"

"Karena terlanjur bilang kertasnya robek." jawabnya santai sambil tangannya sibuk mengumpulkan kertas robekan ke dalam laci meja. Tempat sampah paling cepat dan dekat. Malas berjalan keluar.

"Kenapa tidak merobek kertas mu saja."

"Jawabanku sudah benar semua."

"Aku juga, tapi kau malah merobeknya."

"Punyamu salah."

"Mananya yang salah."

Pertama kalinya Naina berdialog panjang dengan Akira, namun ia tidak merasa senang untuk hal itu. Karena kenyataan yang ia dapat, percakapan dengannya hanya memberikan segumpal api panas menyeruak didalam rongga dadanya. Jawaban Akira sangat mengesalkan.

"Cita-cita, universitas dan jurusan." Akira memberi penjelasan lagi.

Naina semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini bisa dimengerti baik-baik, terlalu melebar kemana-mana dengan keanehan yang melebihi batas wajar. "Aku menulisnya dengan benar."

"Bagiku salah." singkat, padat dan tidak jelas. Itulah Akira Pramudya

Naina makin-makin kesal jadinya, Akira terlalu jauh dalam ikut campur masalah orang lain. "Itu jawabanku."

Akira meletakkan kertas kosong di meja Naina, depan persis. "Tulis kembali sesuai kata hatimu."

Naina diam. Ada apa dengan Akira dan Licia?? Kenapa mereka berdua memberi sebaris kalimat yang sama persis. Tadi Cyra yang diberi saran oleh Licia dengan Naina yang menatapnya tidak paham, sekarang dirinyalah yang diberi saran begitu oleh Akira semakin tidak mengerti saja.

Mungkin ekspresi kebingungan dalam diamnya Naina itu sampai pada titik dimana Akira menangkap dengan jelas. Maka, ia berkata, “jawaban pertama sebelum kau mencoretnya adalah yang benar. Dan untuk yang cita-cita itu yang paling kacau, salah sekali."

Naina menghela nafas sebentar sebelum memulai sebuah perbedaan pendapat yang diyakini akan menguras banyak emosi tinggi. "Setiap orang punya pemikiran yang berbeda."

"Bahagiakan dirimu dahulu sebelum ingin membuat orang lain bahagia." ucapnya terlalu santai. Disisi lain, Naina mematung sekejap. Menatap Akira serius.

"Aku tidak menyalahkan jawabanmu, tapi akankah lebih baik jika cita-cita itu diisi untuk profesi yang ingin kau capai sebagai bentuk kesuksesan dirimu, bukan tentang seberapa keinginanmu membuat orang lain bahagia."

Tidak memiliki apapun kata yang ingin ia lontarkan, terlalu takjub, tidak, mungkin karena kalimatnya itu sudah paten. Tidak bisa lagi ditanggapi dengan kata-kata yang malah akan membuatnya tidak ada artinya lagi. Pada akhirnya Naina mengangkat satu tangannya ke atas.

Radika ssaem yang tengah memandangi satu per satu siswanya yang sedang serius mengerjakan tugas, langsung menyadari apa yang Naina lakukan. "Ada apa?"

"Apa boleh dibawa pulang, Ssaem? Aku ingin mengisinya di rumah." sembari mengangkat pun menunjukan lembar tugasnya pada Radika Sanjaya.

Radika mengangguk setuju. "Sangat boleh." Menjema sebentar. "Kalian boleh membawanya pulang, tapi besok harus dibawa. Hari terakhirnya besok, dikumpulkan paling lambat saat istirahat kedua, dan letakkan di ruang BK. Paham?" Kemudian anggukan seluruh siswa memahami gagasan Radika Sanjaya.

Episodes
1 01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2 02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3 03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4 04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5 05. 9-TEEN part 5 : animo
6 06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7 07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8 08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9 09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10 10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11 11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12 12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13 13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14 14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15 15. 9-TEEN part 15 : aneh
16 16. 9-TEEN part 16 : berdua
17 17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18 18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19 19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20 20. 9-TEEN part 20 : runyam
21 21. 9-TEEN part 21 : kembali
22 22. 9-TEEN part 22 : berharap
23 23. 9-TEEN part 23 : akhir
24 24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25 25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26 26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27 27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28 28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29 29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30 30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31 31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32 32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33 33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34 34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35 35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36 36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37 37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38 38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39 39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40 40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41 41. 9-TEEN : part 41 : keluarga
Episodes

Updated 41 Episodes

1
01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2
02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3
03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4
04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5
05. 9-TEEN part 5 : animo
6
06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7
07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8
08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9
09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10
10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11
11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12
12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13
13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14
14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15
15. 9-TEEN part 15 : aneh
16
16. 9-TEEN part 16 : berdua
17
17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18
18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19
19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20
20. 9-TEEN part 20 : runyam
21
21. 9-TEEN part 21 : kembali
22
22. 9-TEEN part 22 : berharap
23
23. 9-TEEN part 23 : akhir
24
24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25
25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26
26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27
27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28
28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29
29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30
30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31
31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32
32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33
33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34
34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35
35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36
36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37
37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38
38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39
39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40
40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41
41. 9-TEEN : part 41 : keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!