Rutinitas Dareen dan Cyra. Sore hari akan menempati taman untuk duduk berdua sambil bercerita sederhana pun dengan menikmati kedatangan sunset yang akan segera datang. Seperti berpiknik, duduk di atas alas kain berwarna coklat yang besar, ada dua minuman es bersoda dan tak lupa dua semangkuk ramen yang telah mereka beli di mini market. Romantis sekali.
Dareen bersuara memecah keheningan yang ada. "Sayang, kau tahu tidak bedanya pohon dengan dirimu?"
"Kalau pohon itu tumbuhan, aku ini manusia. Aku heran, apa kau sebodoh itu, sampai tidak bisa membedakan tumbuhan dengan diriku."
Dareen menghela nafas. "Sayang, please ya. Aku sedang ingin menggombal."
Cyra terkekeh kecil. "Astaga, jadi kau sedang menggombal begitu? Oke, oke. Maafkan aku." Lantas Cyra mendongak ke atas, agar bisa menatap pujaan hatinya. "Oke, aku tidak tahu. Memangnya apa bedanya?"
"Kalau tumbuhan itu semakin lama semakin tinggi batangnya, kalau Cyra itu semakin lama semakin cantik saja wajahnya."
Krik krik krik
Jangkrik dulu yang merespon. Karena Cyra diam jadi patung beberapa detik. Sebenarnya, jawaban jangkrik sudah mewakili perasaan Cyra. Terlalu zonk untuk ukuran ingin melelehkan hati pasangan, benar bukan? Walaupun begitu, Cyra tetap berbaik hati. Setidaknya, Dareen sudah berusaha ingin romantis.
Sengaja di dramatis suasana. Seperti sedang malu-malu kucing. Satu tangannya menutupi wajahnya yang kini tersipu malu—terpaksa. Seakan merah wajahnya seperti kepiting baru direbus, tak layak dilihat. Sementara, satu tangannya lagi memukul-mukul dada Dareen dengan gerakan imut. Biar Dareen senang.
"Ah, sayang bisa saja. Aku jadi tersipu malu."
Dan kepalsuan Cyra sukses membuat Dareen senang mampus setengah mati.
"Sayang, menikah yuk." ucap Dareen tiba-tiba saja.
T-tunggu dulu. Apa rungu Cyra tidak salah mendengar barusan? Dareen mengajak menikah? Seriusan?!!
Cyra berbalik badan. Menjadi duduk berhadapan dengan Dareen. Pernyataan Dareen mengarah pada hal serius, jadi Cyra harus ektra memperhatikan.
"Sekolah dulu habis itu baru menikah."
"Menikah dulu saja, habis itu baru sekolah. Kelihatannya seru, beda dari yang lain. Bagaimana sayang?" kata Dareen, dengan alisnya yang di naik turunkan jahil.
Sebelas dua belas dengan Akira. Tidak habis pikir, ternyata Dareen kembarannya Akira. Sama persis dalam hal anehnya. Apa mungkin karena Cyra sempat ingin memiliki Akira, jadi sekarang Dareen berusaha terlihat mirip dengannya? Hei, tapi Cyra tidak minta anehnya, mintanya ketampanannya.
"Ingin sekali menikah denganku yah??" Cyra menggoda Dareen.
"Iya, teramat ingin sekali." rengek Dareen.
Kenapa jadi terlihat romantisnya serius sekali. Padahal biasanya yang ada hanya bertemu lalu bertengkar, seperti anak kecil yang selalu merebutkan sesuatu sepele. Tetapi, sekarang Cyra membeku, melihat dengan pasti adanya keseriusan dibalik sorot pantulan bola mata Dareen ketika berbicara.
Kedua tangan Cyra terulur menakup wajah Dareen. "Aku tahu. Kita akan berakhir bersama. Aku janji untuk itu."
Dareen memegang kedua tangan Cyra yang berada dibawah dagunya. Dengan lembut penuh kasih sayang. Matanya menatap lamat-lamat Cyra. “Tidak berjanji pun kau memang berakhirnya denganku." Cyra hanya mengangguk pun tersenyum manis menanggapi balasan Dareen.
Dareen menyingkirkan tangan Cyra dari wajahnya. Lalu giliran dirinya yang menakup pipi Cyra, memiringkan wajahnya sedikit ke samping, tak disangka ciuman bibir berlabuh dengan cepat. Dareen melumat bibir Cyra lamat-lamat. Manis. Lembut. Suka sekali.
📚................♡✿
Sejak pertama bertemu memang sudah aneh. Hari ini, segalanya tentang Dareen membingungkan. Tidak bisa ditebak. Mengira-ngira kemana tujuan yang diinginkan, tidak ketemu. Masih kosong. Buntu. Dain terus menyipitkan mata guna menelisik kecurigaan.
"Kenapa membawaku ke rumahmu?" tanya Cyra setelah menutup pintu depan. Kini ia telah masuk ke rumah Dareen.
"Tidak ingin? Biasanya juga kemari." jawab Dareen sambil melepaskan jaket hitamnya dan melemparkannya ke sofa.
Cyra membawa bokong berharganya pada sofa empuk yang sudah menunggu untuk di duduki. "Iya, tapi biasanya kalau tidak pagi, siang, ya sore. Malam hari belum pernah sama sekali."
Dareen menghembuskan nafasnya. "Karena itu aku mengajakmu kemari."
"Tapi sekarang sudah malam sekali, Dareen. Aku harus pulang." kata Cyra lagi dengan kecemasan yang hadir.
"Tinggal sedikit lebih lama lagi ya, nanti pulangnya aku antar kok, tenang saja." jelas Dareen dengan nada serius kali ini.
"Masalahnya aku belum i—“
"Sudah." jawab Dareen buru-buru, sampai memotong ucapan Cyra yang belum kelar dengan baik.
"Apa?"
Dareen berjalan mendekati Cyra. Duduk disebelahnya. "Aku sudah menelfon ibumu, katanya tak apa, tapi jam sepuluh harus sudah di rumah."
Dain menaikkan alisnya dengan bingung. "Benarkah?"
"Iya, tidak percaya denganku?" kata Dareen dengan suara lelah. Dia membiarkan punggungnya menyentuh dinding kursi.
Cyra tersenyum tipis. "Percaya sayang." Ia menatap ke sekelilingnya. Sangat hening. Sunyi. Sepi. "Ibumu mana? Aku ingin bertemu, sudah lama tidak bertemu, rindu."
"Sedang pergi." jawab Dareen singkat.
Maka, Cyra langsung membawa kedua matanya menatap jam dinding yang berada di seberang dirinya. "Sudah mau jam sembilan belum pulang?"
"Biasa, kau tahu ibu-ibu kalau sudah berkumpul itu tidak tahu waktu. Rumpi manja sampai bibir monyong." Dareen mengoceh dengan fakta yang benar.
Cyra tertawa. Memukul paha Dareen. “Kau ini yah."
"Aku ambil minum dulu untukmu." kata Dareen, bangun dan berjalan menuju lorong dapur, karena ruang tamu dan dapur terhubung. Terpisahkan dinding saja. Konsep rumahnya memang seperti apartment. Simpel. Sederhana.
"Panggil ayahmu sekalian, aku ingin mengobrol dengannya." seru Cyra.
"Ayah masih bekerja." balas Dareen dengan teriakan, agar Cyra dengar jelas.
Cyra mengangguk-angguk saja. "Begitu ya, baiklah tak apa. Lain waktu bisa." Cyra mengedipkan matanya merasa ada yang terlewatkan dari kalimat Dareen artinya. "Eh ... berarti hanya—“
Dareen kembali ke ruang tamu, dengan satu tangannya menggenggam erat segelas air putih untuk Cyra. “Hanya kita berdua." Diakhiri dengan smirk nakal.
📚................♡✿
Baru saja Jarrel menghela nafas lega, akhirnya dua kakinya telah berhasil menginjak sempurna pada ruang tamu rumah Jiya. Jauhnya jarak terbayar dengan keberhasilan dibolehkan masuk ke rumah. Baru saja merasakan kelegaan, Jiya mendadak mengagetkan sampai Jarrel menjerit ketakutan.
"Jarrellll!!" teriak Jiya meledak.
"Kenapa, Jiya!" suara Jarrel ikut meninggi, sedikit berteriak sebab ketakutan akan Jiya yang tiba-tiba memanggil dirinya dengan keras, seperti dibelakang Jarrel ada makhluk seram siap menerkamnya.
"Sepatunya, sialan!" pekik Jiya.
Jarrel melongo bingung. "Hah??"
"Kenapa kau tidak melepas sepatumu di luar, kurang ajar. Aku baru saja mengepel lantai." Jiya mengoceh sebal.
Jarrel memiringkan kepalanya. "Bagaimana, Ji?" responnya masih belum paham. Bingung dengan ucapan Jiya.
Jiya gregetan sekali. Ia langsung memukul lengan Jarrel dengan spatula. "Sepatunya di lepas, Jarel. Taruh di rak sepatu depan. Aku baru saja selesai mengepel, lantainya jadi kotor lagi gara-gara dirimu."
Jadi, Jiya yang terlalu berlebih memanggil Jarrel dengan lantang tiba-tiba sampai membuat Jarrel tersedak kaget, atau Jarrel yang terlalu penakut hingga begitu saja sudah ketakutan hebat. Kedua itu bisa dianggap benar semua. Yang jelas disini, Jarrel masih buram pengertian—belum paham. "Sepatu?" ucapnya sambil melihat ke bawah. Sepatu hitam miliknya.
"Iya, sepatumu itu." Jiya tidak habis pikir dengan Jarrel Menumpang makan saja lagaknya selangit. Penampilan serba hitam, selalu dengan memakai sepatu hitam yang super tebal dan berat. Pikirnya akan ada paparazi yang akan memfoto penampilannya. Artis bukan, gayanya sok sekali. Kebiasaannya meniru yang dipakai idol tampan. Ya, betul. Meniru Jarrel Denanjaya, member BTS.
"Kau bawa tas ransel besar itu untuk mengantongi barang-barang berharga di rumahku yah? Mau maling. Sudah pakaian serba hitam, pakai masker dan topi. Perencanaan yang mengagumkan." kata Jiya, mulai berbicara melantur.
Jarrel tak segan menampar lengan Jiya sangat jengkel. "Sembarangan."
Jiya mendengus saja kali ini. Tapi, ia masih tetap melanjutkan yang sempat terpotong tadi. "Sepatumu, Rel.”
"Kenapa sih dengan sepatuku." gerutunya.
"Kau ingin mati tersedak spatula, hah?!" pekik Jiya dengan tatapan tajamnya.
"Buka mulutmu lebar-lebar, akan kumasukkan spatula ini ke dalam mulutmu itu." paksa Jiya, melangkah lebih dekat lagi dengan Jarrel.
Mata bulatnya yang seisi galaxy ada di dalam sana, membulat dengan sempurna. "Kau ingin membunuhku. Yang benar saja, gila sekali dirimu."
Jiyamengeram. "Bodoh."
"Jaga bicaramu." balas Jarrel.
Jiya menghembuskan nafas kasar. "Huh. Tahan Jiya, anggap saja dirimu sedang memerankan seorang ibu yang tengah menjelaskan perihal cara melepas sepatu dengan benar pada bayi baru lahir. Tidak akan pernah paham sekalipun." Tangannya mengelus halus dadanya yang sedang meronta gila. "Begini, Jarrel. Lepas sepatumu di luar, taruh di rak depan. Nanti kau masuk kedalam rumahku tanpa alas kaki, biar lantainya bersih, soalnya baru saja di pel dengan susah payah. Kau mengerti?" jelas Jiya dengan lembut.
Jarrel membuka mulutnya sangat lebar. "Ah, ya ya ya. Oke oke. Sekarang aku mengerti." ucapnya dengan santai, tanpa ada perasaan tidak enak hati.
Padahal sama sekali kepalanya tidak terkena benturan hebat, tetapi rasanya seperti ingin pecah saja, terbelah berantakan, kacau. Jiya pusing setengah mati. Memang dasar Jarrel selalu membuat Jiya kehilangan kewarasan. Mendadak Jiya merasa kasihan pada orang tua Jarrel pasti sangat sulit merawatnya dari lahir hingga sekarang.
Jiya berbalik badan, kemudian berjalan cepat sambil terus bibirnya tidak pernah berhenti menyumpah serapah Jarrel tidak habis pikir. Begitu juga dengan Jarrel, memilih cepat keluar rumah. Melepas sepatu kesayangannya.
Jiya tiba-tiba berbalik badan. "Yak! Jarrel Denanjaya!!" seru Jiya lagi.
Jarrel yang sudah berada di luar rumah. Berniat melepas sepatunya, mendadak kaget kembali. "Kenapa lagi."
"Kau mau kemana. Pulang? Makanannya bagaimana, tidak jadi? Nanti mati kelaparan di tengah jalan. Menyusahkan orang-orang."
Perkara menyuruh melepas sepatu saja mengagetkannya sampai jantung nyaris tak ingin berdetak lagi—sudah malas dikagetkan tiba-tiba. Tetapi, Jarrel langsung menurut keluar rumah, mencoba biasa saja. Dan, kini apa yang terjadi. Jiya amnesia? Mimiknya datar, polos bertanya. Jarrel pening sekali.
Yang pertama, Jiya yang harus menghela nafas lelah bersabar mati-matian sekeras mungkin. Tetapi, yang kedua, Jarrel yang harus menghela nafas kasar mencoba bertahan hidup lebih lama, meski seluruh tubuh terasa ingin mati saja. Tidak kuat lagi.
Jarrel membungkuk, melepaskan sepatunya, kemudian meletakkannya ke rak bertingkat tersebut. Setelah itu, barulah dirinya menyeret kedua kakinya masuk ke dalam rumah. "Katanya sepatu harus dilepas, biar lantai tidak kotor, soalnya baru saja selesai dibersihkan."
Jiya memutar bola matanya bermain. "Oh." Digulungnya bibir dengan rapat-rapat. Langsung berbalik badan. Tetapi, masih diam. Tidak berlari secepat kilat sebab malu. Jiya malah kembali menghadap ke arah Jarrel. "Sebentar."
Jarrel menghela nafas lelahnya. Kapan akan berakhir. "Ya Tuhan, apa lagi sih Ji."
Kedua netra sipitnya menatap yang di bawah. "Kakimu sudah tidak di perban lagi?" tanyanya terheran-heran.
"Selama ini kau kemana saja, padahal setahuku kita selalu bersama. Apa kau tidak memperhatikanku sama sekali?"
"Memperhatikan kok. Tapi mungkin tidak menyadarinya. Jadi kapan?" tanyanya lagi.
"Sama saja." Malasnya. "Hari kedua masuk sekolah juga sudah dilepas."
"Benarkah? Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya."
"Ya, karena kau terlalu serius memperhatikan wajah tampanku ini." katanya sambil mengedipkan satu matanya dengan gerakan menggoda.
Jiya dengan segala mimik menjijikkannya. Mulut terbuka dengan lidah yang keluar—menjulang ke bawah, seperti ingin muntah.
"Perbannya sudah dilepas tetapi kau masih berjalan dengan pincang-pincang. Seperti pesakitan parah, padahal sudah sembuh total."
Jarrel langsung tertawa terbahak-bahak. Kemudian, berjalan melewati Jiya tanpa sepatah kata, meninggalkannya di ruang tamu.
"Kau benar!!" teriaknya sekeras mungkin.
"Pantas saja aku tidak tahu. Dasar penipu." pekik Jiya yang dibalas tawa menggelegar lagi oleh Jarrel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments