Memang dianggapnya pria dingin, serius pun seperti tak punya rasa simpati pada orang lain. Tapi, benarnya pribadinya itu memiliki rasa kasihan teramat jika melihat seseorang tengah dirundung sakit dan dirinya berada tepat disisinya. Susah pergi kalau belum dibantu dulu. Jadi Akira membantu Naina. Menata ulang pikiran, apa yakin ia akan membantunya sementara yang membutuhkan bantuan tak meminta untuk dibantu sama sekali? Akira sempat dilanda bingung karuan. Tapi, secepat itu ia menemukan jawabannya. Kalau bisa menolong cepat, kenapa harus menunggu lama sampai dimintai dulu? Membuang waktu.
Akira pergi, berjalan agak cepat menuju minimarket depan sekolah. Lampu merah menyala tenang, mengantarkan dirinya pada langkah kaki menyebrangi zebra cross. Mendorong pintu kaca, membukanya seperempatnya, kemudian masuk dengan perasaan campur aduk ketara sekali.
Akira seperti akan mati tetapi tidak juga akan mati. Ambigu sekali. Terasa seperti menyelami dunia baru yang lain, tetapi mengguncang keselamatan dirinya karena sedikit berbahaya. Pun pribadinya itu langsung mencari dimana barang itu berada. Ketemu. Di rak paling terakhir, bagian kedua. Masih bisa dijangkau.
"Ya Tuhan kenapa banyak sekali."
Frustasi Akira di depan para pembalut wanita yang berjejer rapi dengan corak berbeda-beda setiap bungkusnya. Akira bingung akan mengambil yang mana, bukankah sama saja seluruhnya? Atau ada yang membedakannya? Lalu, apa. Akira tak tahu menahu soal pembalut. Seriusan, tidak bohong.
Matanya melebar, mulutnya menganga, berharap tidak ada lalat yang menggoda untuk masuk ke dalam mulut besar itu.
"Hah?! Apa iya aku harus mengukur punyanya Naina dulu begitu?" tanyanya pada diri sendiri. Bingung.
Melipat kedua tangan di depan dada, sedikit membungkuk untuk menyetarakan pandangan pada intensitas penuh pembalut bermacam-macam itu. Mimiknya jadi berubah konyol, aneh pun lucu saat memandangi pembalut seksama.
"Empat puluh centimeter, tiga puluh lima centimeter. Apa?! Enam puluh centimeter. Hah?! Seriusan ini?! tiga ratus lima puluh cen—centimeter? Ah, mili meter. Bodoh sekali. Astaga, terus-terus Naina sukanya yang panjangnya berapa?"
Keberadaannya di depan rak pembalut pun mengundang wanita muda itu mendekati Akira. “Ada yang bisa saya bantu?" katanya dengan sangat ramah.
Akira terperanjat kaget, ia menoleh ke samping kiri. "Ah, oh ... emm ... yaah." Kikuknya Akira lantaran bingung harus merespon tenang seperti apa kalau kenyataannya dirinya sendiri sedang di lamun keresahan. Nada gugupnya terdengar sekali pasti. Ya sudahlah, memang tidak bisa berbohong juga.
Pegawai minimarket itu pun tak bisa menyembunyikan tawanya. Tertawa kecil mendengar gagapnya pria didepannya. Pasti pria itu sedang berada diantara dua dunia. Dunia mimpi yang teramat pahit dan dunia nyata yang ternyata memanglah dirinya sedang menempati pilunya kehidupan. Disuruh membeli pembalut. "Untuk kekasihnya yah?"
"Hanya teman." jawab Akira sekenanya.
Wanita yang sekitar dua puluh tiga tahun itu hanya tersenyum tipis. "Biasanya pakainya yang bersayap atau yang biasa saja?"
Jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri. "A-aku ... Aku tak memakainya. Aku pria."
Ingin tertawa sekeras mungkin. Tetapi, harus melayani pembeli dengan sebaik mungkin. Kalau tertawa terus nanti yang ada terlihat seperti merendahkan, lalu bisa saja marah dan pergi begitu saja. Pembeli adalah raja. Sikap manusia berbeda-beda. Tetap tenang menanggapi jawaban konyol pria di depannya. "Kekasihmu. Maksudku kekasihmu. Ah, teman ya. Temanmu itu biasanya pakai yang mana?"
"Aku tidak tahu. Tetapi, mungkin yang bersayap saja." jawabnya dengan datar.
"Baik, akan saya ambilkan. Bisa di tunggu di kasir." Tersenyum ramah, kemudian pergi menuju ruang kasirnya.
Satu bungkus pembalut telah rampung dikemas ke dalam kantong plastik hitam. Biasanya memang putih transparan, tetapi tahu yang membeli pria, inisiatif merespon cepat agar tak menjadi bahan malu banyak orang. Terlebih yang membeli ini tampan rupawan. Aneh dipandang nantinya. Menjadi bahan tawa.
"Apa nanti benar bisa terbang karena itu bersayap?" bisik Akira pelan-pelan, takut ada orang yang mendengarnya.
Apa-apaan ini. Pegawai itu sungguh pusing tiga ratus enam puluh derajat hingga berdenyut pelik seisi kepala. Seumur-umur, ia tak pernah menemui pembeli sekonyol ini. Dan, yakin seratus persen pria itu terlalu suka menyimpulkan apa yang terlihat menjadi sebuah kenyataan benar. Unik sekali.
Wanita cantik itu menggeleng pelan. "Tidak. Tentu saja tidak." ucapnya menahan gelak tawanya.
"Aaa, begitu. Terimakasih."
📚................♡✿
Tak berdampingan tempat tinggal, sekolah pun berbeda jalur sedikit jauh. Terlampau sulit bertemu karena jarak menghalangi susah. Tetapi, hebatnya komunikasi terjalin erat. Dengan itu, bersama mengerat jari kelingking berucap janji sederhana untuk saling bertemu saat waktu memadai saling dibuktikan.
"Bagaimana. Kau menyukainya?" tanya Mila sambil menyeruput ice americano.
Jiya mengendurkan tubuhnya. Menghela nafas. "Terlalu ramai, aku jadi cepat lelah." memanyunkan bibirnya.
Mila terkekeh kecil. "Itu namanya kau sedang mendapat keberuntungan hebat."
Jiya hanya mengangguk saja, setuju tidak setuju, sedang tidak ingin melanjutkan yang menjadi puncak kelelahannya hari ini. "Aku dapat ide cemerlang. Mau dengar tidak?"
Mila sampai menghentikan kegiatan makannya. Langsung serius ke pertanyaan Jiya yang menarik perhatian. "Berhubungan dengan uang? Jelas mau, cepat beritahu." buru-buru sebab kepo.
Benar-benar dua sejoli ini sangat gila uang. Menyangkut uang, mereka maju nomor satu, apapun itu rintangannya. Asalkan ia dapat, pun dengan cara baik. Karena hanya dengan memiliki uang banyak, mereka mampu menemukan kebahagiaan tersendiri, bertemu lebih mudah dengan seseorang yang ia idolakan.
Jiya menyempatkan untuk menelan dulu pancake yang sedang dikunyah didalam mulutnya. "Tapi aku tidak begitu yakin sih." Dia berhenti sejenak. "Aku kepikiran untuk membuka online shop. Bagaimana menurutmu, Mil?"
"Oke, sebentar beri waktu aku berfikir."
Menyender nempel pada punggung kursi. Tangan kiri menekuk, diletakan di atas paha, sedangkan tangan kanan menjulang ke atas sampai jari telunjuk berhenti tepat diperbatasan antara bibir atas dengan bawah, dan ibu jari berada dibawah dagu. Sesekali malah bablas menggigiti kuku panjangnya.
Gerak-gerik pemberian mimik dengan segala persembahan terlalu berlebih, Jiya menyesal memberitahu Mila tentang pemikiran bisnisnya itu. Dibuat seakan ia adalah orang yang diandalkan penuh jawabannya. Terlihat seperti bos besar yang tengah menimbang-nimbang ide dari bawahannya itu. Serius sekali.
"Bagus."
Tentu saja kesal. Menyebalkan sekali. Jawabannya singkat dengan pemilihan kata amat sederhana. Tetapi memikirkannya teramat lama. Berlagak serius bukan main, yang menunggu sabar setengah mati. Namun yang didapat secarik kata yang bisa sekali dijawab cepat tanpa harus dipikir lama nyaris satu jam. Jiya memutar bola matanya malas.
"Aku berniat untuk membuka orderan segala macam barang yang berbau Kpop. Sepertinya akan laku keras, pasti banyak yang berminat untuk membeli."
"Menurutku, buka orderan khusus merchandise BTS saja dulu." ucapnya kali ini terlihat serius. "Jiya, kau harus berfikir lebih matang lagi. Ini adalah awal usahamu, pertama kalinya bagimu. Jangan gegabah ingin ambil semua. Resiko sangat besar." Mila menghembuskan nafasnya pelan-pelan. "Kerjakan sesuai passion mu. Kebahagiaanmu berada ditempat mana. Itulah yang harus kau ambil."
Jiya merasa ingin bertepuk tangan hebat untuk Mila. Kesalnya sudah hilang, merasa kini begitu senang. Tatapan tajam Jiya berubah menjadi berbinar-binar. Mila memang begitu ya, sukanya membuat perkara kesal dulu, setelahnya menyenangkan hati karena dewasanya pikirannya itu.
"Wah, Mila. Sejak kapan kau menjadi dewasa seperti ini?"
"Sejak aku tahu kalau Jarrel itu jodohnya Jiya.” goda Mila.
"Ah, menyesal bertanya." dengus Jiya.
Mila tertawa. Senang sekali menjahili Jiya. “Aku jadi partner-mu ya, aku ingin jadi bagian dari suksesnya usahamu."
Jiya tersenyum tipis. "Memang begitu. Aku menceritakannya padamu karena aku ingin kau ikut denganku. Aku butuh kau, kita sama-sama oke." Diakhiri dengan kedipan mata kirinya yang manis.
"Mari kita sukses bersama." seru Mila.
"Iya, ayo tunjukkan kalau mereka salah menilai kita. Kita itu bisa, lebih-lebih dari yang mereka pikirkan."
"Kau benar, aku setuju."
Senyuman pengakuan rasa gembira, yakinnya usaha akan lancar, memberi hasil mengejutkan bagi orang-orang yang suka merendahkan Jiya pun sama dengan Mila juga. Ingin menunjukkan bahwa penilaian mereka terhadap Jiya pun Mila itu salah. Jiya tidak ingin terus-terusan di bully.
📚................♡✿
Hunian yang tak pernah ingin ditinggali. Selalu ingin pergi, hingga tersasar di suatu tempat terpencil. Tak mempunyai apapun yang dimiliki, hanya dirinyalah teman kesendiriannya. Tetapi, Licia akan menikmatinya dengan senang hati. Kesepian yang tenang, suasana segar terhirup, pun pikiran damai. Tengah terselimuti kepenatan luar biasa. Pulang ke rumah adalah penantian berharga. Langkah kaki bergerak cepat, keinginan bermanja-manja di atas tempat tidur dengan alunan musik menemaninya sudah tak sabar Licia lakukan. Ah, bayangannya sudah indah sekali. Hingga dobrakan meja memecah khayalannya.
Licia berhenti kaget mendengar suara memekik itu. Menoleh ke samping kiri, hingga ia mengerti kematian akan segera menjemputnya. Ibunya berdiri dari kursi kayu itu, berjalan mendekat dengan tatapan tajam tergambar jelas di matanya. Apalagi ditambah dress panjang hitam yang ia kenakan semakin membuat aura mencekam terlihat begitu nyata. Licia tahu betul alur yang akan segera ia jalani saat ini.
Sampai ditempat langsung melayangkan sebuah kegilaan. Jari telunjuknya mendorong-dorong kuat kepala Licia hingga sedikit terpental ke belakang. Dan, ia lakukan sampai beberapa kali. Hingga, dorongan kelimanya, Licia menggenggam tangan ibunya lalu menyingkirkan dengan paksa. "Cukup, sakit sekali, Eomma."
"Beraninya kau menghentikanku!" Bentak Sera Catherine—ibu Licia.
"Aku lelah, ingin ke kamar." ucap Licia dengan suaranya serendah mungkin.
Licia melangkah maju, pergi paksa dari kurungan gila ibunya. Baru dua langkah ia pijak dengan pelan, tak disangka tangan kanannya diseret cepat oleh ibunya. Membuat tubuhnya menghadap lagi ke arah ibunya. Licia memang tidak bisa pergi begitu saja, harus menghadapi ibunya mau tidak mau.
"Apa kau sudah gila!!" Teriaknya lagi dengan segala kemarahan yang sudah mendarah daging. Tidak kuasa ditahan.
"Kau yang gila, Eomma." batin Licia.
"Apa kau semakin bodoh setiap harinya? Ranking mu bahkan sekarang tidak berada didalam urutan lima besar. Apa gunanya ibu menyekolahkan-mu kalau kau tidak menjadi pintar." Sera menyilangkan lengannya. "Kau bahkan sudah lima kali lebih bolos hagwon. Ranking semakin menurun, ulangan harian selalu dapat sembilan. Apa kau benar-benar amnesia tentang itu? Ya!! Licia tolong sadarlah."
Licia menekan keinginan untuk memutar matanya. "Iya sadar. Sadar kok."
Ibunya menatapnya dengan sinis. "Apa kau sedang bermain-main dengan ibu?"
Licia tertawa getir. "Apa aku tampak seperti bermain-main?"
"Kau berteman dekat dengan Naina sudah hampir tiga tahun, ibu kira kau akan secerdas dia. Lebih-lebih cerdas darinya, tapi malah kau tidak lebih bodoh darinya. Gunakan otakmu dengan baik, jangan terlalu bodoh jadi anak. Manfaatkanlah situasi sebaik mungkin, ajak belajar bersama atau kau bisa lihat cara belajarnya dia seperti apa. " Terlintas seperti nasehat, tetapi yang paling terlihat bagaimana ibunya merendahkan, membanding-bandingkan, mengejeknya.
"Apa sulit menjadi yang pertama? Apa kau memang selalu ingin menjadi yang kedua selamanya?" imbuh ibunya lagi. Kali ini nadanya lembut, namun tetap menusuk.
Kepalan tangan mengerat kuat. Jika bukan ibunya, pasti Licia sudah memukulnya habis-habisan sampai babak belur. Rungu-nya bosan, meledak hebat mendengar suara ibunya yang selalu saja mengaitkan apapun dengan Naina. Licia tidak suka dibanding-bandingkan. Apalagi dengan temannya sendiri. Tetapi, ibunya teramat senang membandingkan dirinya dengan Naina. Menyebalkan sekali.
"Astaga, kenapa badanku bau sekali sih, menjijikan. Eomma, aku mandi dulu. Dah." Diakhir kalimat Licia melambai manis dengan teramat santai, nyaris tak ada sepersen pun rasa takut menyelimutinya. Sedang dibentak habis-habisan, tetapi pribadinya itu mengabaikan sengaja dengan pergi ke kamar memberi alasan ingin mandi. Ia membiarkan bibir ibunya mencomel sampai lelah sendiri.
"Kurang ajar!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments