📚................♡✿
Bagai pangeran yang baru saja turun dari istana di langitnya, ia singgah ke bumi untuk mencari sebuah kisah hidup berbeda. Dengan karisma yang sempurna, ia berhasil menyihir semua orang tunduk serius padanya. Tak ada satupun orang yang tak menatap ke arahnya.
Berjalan dengan pelan namun tetap indah di pandang, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya dengan gaya cool, pandangan mata yang tajam serius menatap ke depan, auranya terpancar dengan tegas, tegap penuh kewibawaan, serta ketidakwarasannya ia begitu lihai menghancurkan relung hati dengan mengacak-acakan rambut hitam tebalnya itu dengan santai di hadapan para kaum hawa yang melihatnya.
Halaman luas jadi sempit ketika pemuda itu benar-benar nyata masuk ke dalam tempat penuh dengan pelajar yang sedang menuntut ilmu. Mereka enggan melewatkan sepersen momen untuk berkerumun memandangi yang tampan rupawan itu pun dengan kamera ponsel yang tak lupa mereka keluarkan dengan sigap mengambil daya fokus ke arahnya.
Menjadi sebuah kejadian tak masuk akal, ingin berfikir logis namun masih jadi aneh. Tak dapat di pungkiri sekiranya mereka masih belum percaya seratus persen dengan adanya pemuda itu yang masuk tiba-tiba di tengah jam istirahat sekolah, dengan lebih diluar nalar ia memakai seragam sekolah SMA Hanguk.
"Astaga, dia tampan sekali."
"Bukankah dia model tampan Akira Pramudya?"
"Benar, dia Akira Pramudya, si anime hidup itu.”
"Astaga, apa dia manusia?"
"Lihat, dia tampan sekali. Aku jadi ingin menjadi kekasihnya."
"Ya Tuhan, sekolah kita akan viral sebentar lagi. Masuk berita televisi, berbagai media sosial pasti sedang ramai membicarakan Akira yang sudah pasti langsung jadi trending topik twitter. Akhirnya, sekolahku jadi terkenal dan populer."
"Pasti habis ini akan banyak wartawan yang datang kesini. Oke, sekarang aku harus bersiap-siap diri untuk selalu tampil cantik di setiap detiknya. Oh, astaga ... Aku akan jadi orang yang sibuk sekali."
Begitulah segelintir orang berparas cantik menyodorkan kepuasannya tentang apa yang mereka lihat saat ini. Perwujudannya yang teramat sempurna, menjadi masuk akal bila semua orang memuji-mujinya dengan kalimat berlebihan.
"Ini pasti arti dari mimpiku semalam." ucap Cyra berada di salah satu baris kaum hawa yang tengah berjejer rapi di pinggir jalan.
Jiya menoleh ke samping kanan. "Memangnya kau bermimpi apa?" Nadanya terdengar sangat tidak ingin merespon, tapi bibirnya seakan ingin berucap.
Cyra tersenyum. “Bertemu pangeran." Semangatnya berapi-api ketika menceritakannya.
Dengan malas Jiya merespon kembali. "Dan Akira Pramudya itu pangerannya." Dagunya menunjuk pada si tampan yang tengah berjalan menuju koridor sekolah.
Cyra kembali bersulut riang, gembira bukan main tentang mimpinya tadi malam yang seolah terjadi hari ini. "Ya, kau benar. Dan aku itu ...."
"Dan kau upik abu nya Akira Pramudya." ucap Licia memotong ucapan Cyra.
Tentu saja ia tak terima dengan perkataan yang di lontarkan Licia. Cyra marah. "Ya! Licia! Kau ini benar-benar. Aku ini putri mahkota, pasangan pangeran itu." Cyra menghentakkan kakinya begitu keras ke lantai. "Enak saja kau bilang upik abu."
"Baik, putri mahkota."
Untuk memaksimalkan apa yang ia inginkan, Cyra menghela nafas panjangnya. Lalu, kedua tangannya bergerak menutupi kedua samping bibirnya. "3 B1. Masuk kelas itu, aku akan menunggumu tampan." Cyra berteriak keras sembari kakinya berjinjit, meloncat-loncat bagaikan ia sedang berada di sebuah kelab yang ramai orang dan harus berjuang diri agar suaranya terdengar jelas, tidak kalah dengan suara-suara orang lain. Padahal, suasananya berbeda jauh, yang terjadi sekarang ia sedang meneriaki orang yang tengah berjalan santai di depannya, tidak ada suara bising menganggu, tubuhnya pun sama rata dengannya, agaknya aneh dengan cara ia melampiaskan kegirangannya itu.
Jari telunjuknya mendorong dahi Cyra ke belakang. "Ingat Dareen-mu itu." Jiya menatap sebal.
Cyra menepuk pundak Jiya dengan ramah. "Tenang, aku ingat kok. Tapi dia kan tidak tahu, jadi tak apa kalau aku ingin Akira." Alisnya terangkat naik, kemudian tersenyum licik.
Jiya melongo kaget. Tidak percaya dengan semua yang dikatakan Cyra barusan. Terlalu gila. "Dasar, playgirl."
"Iya, playgirl kelas kakap." Licia membeo.
📚...............♡✿
Naina berdiri tegap, satu tangannya memeluk dua buku tebal yang baru saja ia ambil dari perpustakaan, berniat untuk membacanya di rumah nanti. Kini, Naina tersenyum ramah pada wanita yang tengah duduk di depannya. "Halo, bu Yoona. Bagaimana kabarnya?"
Wanita yang memiliki nama Yoona itu tengah membolak-balikkan catatan nilai. "Baik." Kemudian, ia menutup buku catatan itu dan menaikkan pandangannya untuk bertatap muka dengan Naina. "Kau sendiri bagai ...." Ia kaget, lalu menatap Naina dari atas sampai bawah dengan gelengan kepala berkali-kali heran. "Kenapa kau jadi sekurus ini?" Sembari kedua tangannya sibuk memegangi tubuh Naina sampai goyang beberapa kali karena terlalu kencang.
"Sekarang diet itu penting, bu guru." Nainatersenyum kikuk.
Kini, Yoona tertawa kecil. "Ada-ada saja kau ini." Jari telunjuknya terangkat ke atas, berada di depan wajah Naina. “Tapi ingat, jangan berlebihan. Kesehatanmu itu yang paling penting."
Naina mengangguk disertai senyum tipis. "Baik, aku akan mengingatnya.”
"Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu.” Naina membungkukkan badannya sopan. Lalu, ia berjalan keluar dari ruangan itu.
Akrab dengan guru itu penting. Tak masalah jika banyak orang yang mengatakan itu hanya sebuah pencari perhatian belakang. Mungkin, mereka memang tidak cukup pandai bersosialisasi dengan para guru. Jadi, pilihan terbaik hanya memberi sebuah kritikan pedas.
Jadikan guru itu sebagai orang tua keduamu. Teman dekat untuk mengobrol keluh kesah tentang hidup. Bukan sebagai musuh yang harus kau benci dengan berlebih.
Melangkahkan kaki dengan langkah pasti, menghitung setiap langkahnya pada setiap satu kotak lantai yang dilaluinya menjadi salah satu kebiasaan Naina Ashaliya. Ia suka menghitung langkah kakinya sendiri ketika berjalan. Tidak butuh alasan di setiap apa yang kita lakukan, bukan? Setiap manusia memiliki kebiasaan yang aneh-aneh. Dan itu wajar dimiliki.
Karena terlalu tenggelam dalam menghitung langkah kakinya, Naina tak sengaja menabrak orang di depannya.
Bruk bruk
Dua buku tebal yang berada di pelukan Naina pun jatuh, mengenai kaki orang itu.
"Argh...." Ia meringis kesakitan. Lalu, menendang buku-buku itu jauh dari kakinya.
Dengan cepat, Naina langsung mengambil dua buku miliknya yang tengah tertidur di atas lantai bersih itu. Naina menatap pemuda itu sebentar, kemudian menunduk dan berkata, “maaf, aku tak sengaja." Lalu, ia diam. Menunggu responnya.
Pandangannya tertuju pada nam tag yang terletak di sebelah kanan.
Naina Ashaliya
Pemuda itu mengangguk samar, lalu kembali menatap Naina dengan serius.
Naina semakin merasa serba salah, mungkinkah dia sedang menatapnya begitu lama supaya bisa mengingat wajahnya agar nanti bisa di laporkan atas perbuatan tak sengaja menabraknya? Tapi, apa itu tidak berlebihan. Maksudnya, menabrak seseorang itu kan hal yang wajar. Agaknya cukup aneh bila mana pria itu ingin berbuat balas dendam padanya suatu saat nanti tentang kejadian barusan.
Cukup berfikir yang tidak-tidak. Naina menunduk sekali lagi. Ia bersuara pelan, “maaf sekali lagi." Kemudian, ia pergi.
Ketika Naina sudah benar-benar menghilang. Pemuda itu menoleh sedikit wajahnya ke samping. Dengan datarnya ia berkata lirih. "Aneh."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments