📚................♡✿
Jarrel berdiri di samping meja Naina. Menepuk pundak Naina pelan. "Ayo, makan." ajaknya dengan antusias.
Naina mendongak ke atas, menatap Jarrel. “Kau duluan saja, Rel.”
"Yang lain sudah di kantin, kenapa tidak ikut?" tanya Jarrel heran. Lalu galaxy indahnya menangkap sosok yang cukup dingin sebelumnya, “ah, ingin berduaan dengan Akira yah?" goda Jarrel.
Dikelasnya hanya tinggal Jarrel, Naina dan Akira. Yang lain sudah melarikan diri pada ruangan besar yang teramat banyak menyajikan makanan gratis. Iya ke kantin, mana lagi? Jam istirahat kedua.
Melirik Akira sebentar, lalu kembali menghadap Jarrel. "Tidak, hanya...."
"Diet?" tebak Jarrel asal, tetapi terjawab benar dengan Naina yang menganggukkan kepala pelan.
"Ku bilang jangan diet lagi. Noona-kan sudah kurus kenapa harus diet lagi sih? Akunya kan tidak suka perempuan yang hanya ada tulangnya saja. Maunya ada dagingnya, biar enak dipeluknya. Empuk. Tapi, ya jangan terlalu gemuk juga. Tapi, kalau yang gemuk noona aku tidak masalah sepertinya hehehe."
Jangan kaget, ya. Kalian harus beradaptasi dengan Jarrel yang imut manis gemasnya kelewatan. Aduh, Jarrel itu bayi. Iya, bayi yang kelewat besar. Kalau sudah mengoceh begini, jadi malah lucu, ketawa sendiri melihat bagaimana ia berusaha menasehati, tunggu. Tapi, ini lebih terdengar sedang menggoda.
Naina tidak kaget. Sudah terbiasa. Kalau Jarrel sudah mengoceh, Naina hanya bisa senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala saking bingungnya harus memberi mimik apa. Umurnya iya sama, sembilan belas tahun. Hanya selisih satu bulan saja. Tapi, ya anehnya kenapa bisa Jarrel itu persis bayi. Bayi berusia tiga tahun.
Naina menepuk paha Jungkook pelan. "Jangan keras-keras, nanti ada yang tahu bagaimana. Aku tidak mau."
"Hanya kita. Telinga Akira sedang tersumpal headset, mana bisa dengar coba." mendengar pernyataan Jarrel ekor matanya melirik Akira lalu Naina bernafas dengan lega. Dia tidak dengar.
Indra pendengarnya berpedoman hanya pada persegi pintarnya. Mungkin tengah serius mencari musik genre apa yang cocok ia dengarkan pada jam istirahat singkat ini. Rungunya tersumpal rapat dengan headset putih suci yang kecil itu. Ah, untung saja. Naina merasa lega.
"Berarti aku ini spesial yah. Ah, aku jadi tersipu malu nih. Jangan begitu dong Naina.” sambil kedua lengannya bergerak dengan aksen yang di imut-imut kan.
Hah? Apa ini? Demi baju-baju kotor di mesin cuci yang belum sempat Naina cuci bersih, sungguh pribadinya itu sudah tidak sanggup lagi. Menyerah telak pada semesta. Manusia yang Engkau ciptakan ini terlalu bikin lemas tubuh. Meleleh terjun drastis. Ah, maunya diapakan Jarrel ini. Aduh, aduh.
"Apanya, Jarrel. Apanya sih."
"Hanya aku yang tahu ini, kan?"
"Diet?"
"Iya, iya kan itu."
"Iya."
"Tuh, kan akunya istimewa."
Naina langsung menampar pantat Jarrel. “Kau yang kurang ajar. Kalau tidak menelfon jam sepuluh malam waktu itu pasti juga tidak akan tahu."
"Aku hanya menelfon saja, apa salahnya?"
"Itu kesalahannya. Kalau kau tidak bertanya aku sudah makan belum, pasti aku tidak akan menjawab belum makan."
"Salah siapa jawabnya belum makan? Hayo, kan kau sendiri yang jawab belum makan, ya sudah akunya kan jadi bertanya lagi penasaran. Wlee." diakhiri dengan menjulurkan lidahnya mengejek.
"Kau mendesak ku, sialan. Mengoceh terus bukan main, aku yang jadi pusing kepala." Dengan spontan ia memegangi kepalanya, teringat kembali bagaimana Jarrel waktu itu, memaksa bertanya sudah makan belum, Naina yang tidak bisa berbohong pun jadi jujur terpaksa.
Jarrel tertawa. "Noona, please jangan mengumpat. Itu tidak cocok untukmu."
Tiba-tiba keduanya menoleh was-was pada pribadi unik itu. Akira menaruh persegi pintarnya ke atas meja, dengan sedikit menyeruak suara bruk. Lantas, menaruh intensitas hebat dari Naina pun Jarrel. Apa Akira mendengar perbincangannya?
Aduh, memang ya jangan terlalu menyimpulkan jawaban terlalu cepat begini. Dilihat saja pelan-pelan, jadinya tidak ada perasaan takut terlampau besar. Tapi, Naina lega. Jarrel juga. Ternyata, Akira benar tidak mendengar apapun, ia tadi hanya menaruh ponselnya saja. Setelahnya, berlanjut tidur kembali.
"Sudah, sana pergi. Keburu bel masuk, nanti kau tidak bisa makan siang." ucap Naina menyuruh Jarrel ke kantin.
"Tidak mau membantuku? Ini sedang susah jalan, kantinnya jauh loh. Nanti yang ada belum sampai kantin sudah bel masuk duluan." gerutunya pelan.
"Aku ke kantin."
Diamnya Naina dan Jarrel membuahkan hasil tidak terduga. Akira paham sekali, mimiknya itu tengah bingung luar biasa. Jadi, karena Akira cerdas pun baik hati, ia dengan santai menjelaskan kalimatnya lagi lebih panjang, padahal ya menurut Akira sudah sangat jelas untuk dimengerti kok.
Ini Akira sedang memberitahu dirinya akan ke kantin atau tengah mengajak Jarrel secara tidak langsung untuk ke kantin bersamanya? Wah, benar-benar singkatnya merumitkan otak kiri Naina. Jarrel jadi mendadak menyeimbangkan pikiran dewasanya untuk memahami segala kejanggalan kalimat Akira.
"Aku mau ke kantin, ikut—“ Menjeda cukup lama. "Denganku saja sekalian."
Itu Akira tidak pernah mempelajari cara berbicara dengan panduan penggunaan letak tanda baca yang benar, yah? Jedanya itu loh tidak tepat sekali, memberi penasaran rungu yang menanti kalimat selanjutnya berbicara apa. Memang, sudah jelas sekali Akira itu unik, aneh dan sialnya tampan.
Tiba-tiba saja begitu? Wah, Naina sampai melongo terheran-heran. Tadinya, kan sedang tidur. Sekarang mengajak Jarrel ke kantin. Loh, ini Akira sebenarnya mendengarkan musik tidak sih? Kalau iya kenapa tiba-tiba dengan waktu yang cocok se-kebetulan ini? Tidak dengar, kan? Naina mulai takut.
Jarrel menyipitkan matanya guna menelaah apa yang barusan terjadi. Ambigu sekali. "Itu Akira kenapa? Ada kelainan kelamin atau apa sih."
"Hah??"
"Aneh sekali."
"Kelainan sikap dia." lirih Naina nyaris tak terdengar.
Jarrel terkekeh kecil. "Oh." Jarrel membuka mulut dengan lebar. "Maksudmu itu unik dan aneh kan?"
Naina mengangguk pelan. "Benar." Dan keduanya langsung tertawa bersama.
Naina dan Jarrel berani membicarakan Akira segamblang itu tanpa takut yang dibicarakan mendengarnya, ya karena Akira sudah hilang dari ruang kelas ini. Terheran-heran kan kalian? Naina juga. Jarrel apalagi. Sudah mengajak tapi malah ditinggal begitu saja.
Apa untungnya mengajak Jarrel ke kantin kalau ditinggalkan seperti orangan sawah tidak terurus kasihan. Akira tahu kalau Jarrel sedang susah sekali berjalan. Tapi, dirinya malah sudah jalan duluan ke kantin tanpa menunggunya. Aneh sekali. Jarrel mau pecah kepalanya.
📚................♡✿
Naina beranjak dari tempat tidurnya. Ingin keluar kamar, berniat untuk makan sebentar sebelum memulai belajar menguras otak sampai nanti tengah malam. Tetapi, urung sejenak ketika ponselnya berbunyi nyaring beberapa kali. Pasti Jarrel menelfon meminta untuk jangan diet lagi, disuruh makan malam.
Tebakannya salah. Bukan Jarrel. Naina jadi merasa tidak enak sudah membuat tuduhan tidak mendasar. Lantas, ia mengambil ponselnya, digenggamnya erat pun diletakkan ditelinga kanannya. "Ada apa?"
"Bagaimana Cyra? Masih marah denganku yah?" tanya kekasih temannya dengan nada berhati-hati, Iya Dareen Madhava.
"Sepertinya." jawab Naina seadanya.
"Aku harus bagaimana lagi, Naina." nadanya sedikit merengek.
"Dia pacarmu. Harusnya kau lebih mengerti bagaimana cara membuatnya baik lagi." jawab Naina dengan jelas.
"Aku menelfon saja tidak diangkat, aku chat tidak dibalas sama sekali."
"Kerumahnya saja kalau begitu."
"Motorku sedang dibawa kakakku, mobilnya sedang di bengkel. Aku sedang malas naik bus." jawab Dareen santai.
"Dasar, tidak ada usahanya sama sekali." Naina sedikit berdecak kesal. "Kau sudah meminta maaf padanya?"
"Belum." jawab Dareen singkat.
Lama-lama pegal juga berdiri terus, Naina segera duduk di kursi depan meja riasnya. "Kalau begitu minta maaflah. Kau harus memulainya kalau ingin akhir yang baik."
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak dia saja?"
Naina menghela nafas. "Kau salah, Dareen."
"Dimana salahnya? Aku hanya menemani Bisma sebentar ke warnet."
"Tapi kau telat, kan?"
"T—tap—"
"Apa salahnya minta maaf dulu sih?!"
Oke, Naina mulai meninggikan suaranya. Kesal dengan Dareen. Diberitahu baik-baik tidak paham, harus dengan gertakan sedikit agar mengerti. Naina tidak suka melihat mereka berdua bertengkar terus-menerus. Apalagi kalau ia tahu akar masalahnya.
"Salahmu yang pertama adalah kau tidak mengabari Cyra kalau kau ingin menemani Bisma dulu sebentar. Yang kedua, kau jelas telat Dareen. Apa kau tidak merasa telat janji bertemu?"
"Aku tahu. Tapi itu kan—" Lagi lagi ucapan Dareen terputus sebab Naina selalu menyerobot dengan cepat tanpa ampun.
"Kau tidak tahu sesakit apa rasanya tidak diberitahu hal sesepele itu? Kau tahu? Menunggu itu lelah. Mau hanya sebentar atau lama, tetap saja. Menunggu masih akan selalu jadi hal yang melelahkan dan kau perlu tahu, menyakitkan hati sekali." Naina diam sejenak. "Sebentar apapun perginya, tetap mengirim kabar dulu, jadi perasaan menunggu tidak begitu sakit."
Sungguh, rasanya dada Dareen seperti habis ditembak dengan peluru mematikan ketika mendengar ucapan Naina.
Memang benar, Dareen tidak pernah bisa menepati waktu yang telah ditentukan matang-matang bersama. Terlalu menyepelekan waktu, begitu santai dengan apa yang seharusnya diperhatikan teramat sangat, sebab jika terabaikan sedikit saja keruntuhan menimpa banyak.
Sebenarnya, Dareen tidak mengingkari janji dengan sengaja, selama ini ia selalu menemui Cyra setelah membuat kesempatan bertemu bersama. Masalahnya adalah Dareen selalu telat. Melewati beberapa menit dari yang ketepatannya. Mengundur tenang, percaya Cyra akan baik-baik saja selama ia memiliki penjelasan logis. Namun, justru Dareen sendirilah yang tak memahami bagaimana sebenarnya Cyra tidak baik-baik saja. Dareen merasa kecewa pada dirinya sendiri. Begitu menggampangkan situasi.
Dareen menghela nafas lelah. Merasa sangat bersalah. "Ah, kau benar sekali." Lantas ia tersenyum tipis, meski Naina tidak melihatnya juga. "Naina memang yang terbaik. Terbaik dari segalanya."
Terbaik, ya? Terbaik dari segalanya, katanya? Ah, tapi kenapa Naina keberatan sekali. Tidak bisa menerima pujian itu.
Naina menggelengkan kepala menolak penuh. "Tidak, jangan begitu."
"Sungguhan. Kau memang terbaik." kata Dareen dengan nada kagum. "Terimakasih ya. Apa yang kau katakan barusan telah memberiku sesuatu yang baru. Aku sama sekali tak terfikir seperti itu. Kau benar-benar teman terbaik. Aku senang mengenalmu, dan aku bangga Cyra bertemu teman sebaik dirimu, Naina.”
Naina terkekeh kecil mendengar jawaban Dareen yang begitu puitis, menurutnya. Naina tahu betul Dareen bukan tipikal pria yang jago merangkai kata dengan kalimat yang indah-indah. "Hei, apa ini Dareen Madhava? Benar-benar mengagumkan bisa membuatku tersentuh sekali."
Dareen mendengus kecil. "Yak! Aku bicara serius ini Naina.”
Untuk kedua kalinya, Naina terkekeh lucu lagi. "Haha, iya-iya jangan marah."
"Ya sudah aku tutup ya. Bye."
Hening. Naina melamun lagi. Ia semakin merasa bodoh pada dirinya sendiri. Kenapa ia seperti ini? Kenapa?!
Pujian tadi tidak berdampak menyenangkan merasa bangga pada dirinya. Tetapi, justru menyiksanya.
Naina selalu berhasil membuat orang lain merasa baikan setelah pertengkaran hebat, memiliki jalan keluar supaya masalah terselesaikan. Tetapi, kenapa tidak baginya sendiri? Naina jelas terkurung dalam aturan tak masuk akal dari ibunya, tapi kenapa ia tidak bisa keluar dari masalahnya sendiri?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments