Jam sepuluh pas, artinya adalah istirahat pertama. Di taman belakang sekolah. Tepat disebelah lapangan basket. Naina duduk sembari menatap siswa lain yang tengah bermain basket dengan gembira.
Rasa penasaran mulai menyeruak seluruh isi pikirannya. Perasaan untuk mengetahui segalanya tentangnya semakin besar. Maka, Naina mengambil persegi pintarnya dari saku baju. Mengeluarkannya lalu mengusap pelan membuka layar ponselnya. Naina kembali dengan pekerjaan yang sudah lama sekali ia tinggalkan. Untuk kali ini, berat hati jari lentiknya itu menuliskan sepatah kata yang memberikan jawaban jelas tepat untuk kepribadiannya yang sudah menunggu tak sabar.
"Wow." mulutnya menganga kaget. "Jadi dia benar sehebat itu?"
"APA?!"
"Pria tertampan nomor satu di Dunia?? Yang benar saja. Wah, hebat sekali." Masih menganga lebar sambil kepalanya menggeleng-geleng terus menerus. Terlalu terpukau pada makhluk indah didalam ponselnya.
Namanya manusia, sekali penasaran, akan menjadi penasaran berlarut-larut. Digali sampai jauh hingga dirinya sendiri bosan. Naina semakin ingin tahu tentang Akira Pramudya. Mencari tahu lagi, ditelusuri, berakhir pada pencariannya di Instagram.
"Sedang stalking diriku rupanya ya?"
Demi pocong palsu yang kurang ajarnya menggegerkan manusia dengan kehadirannya tiba-tiba, jantung Naina benar sakit dititik sekarat. Kehilangan sebagian nyawanya. Kalau begini Naina semakin jelas seperti seorang pencuri yang tengah tertangkap basah habis-habisan.
Terperanjat sedikit ke atas. Tetapi, baiknya telapak tangannya itu tetap memimpin dengan amat sempurna memegang erat persegi pintar yang memiliki arti penting bagi hidupnya. Harga dirinya jadi rendah ya kalau begini. Seribu kali Naina menyesali sudah mencari tahu segalanya tentang Akira di dalam internet, maupun akun sosial medianya. Terlalu fanatik jadinya. Seolah jiwa stalking meruntuhkan kepribadian Naina yang menjaga serius privasi orang lain.
Naina langsung membalikkan ponselnya. Ditaruh di atas paha yang keduanya menempel erat. "Maaf sudah lancang."
Akira mendaratkan bokongnya pada kursi panjang persis di samping Naina. "Kenapa kau selalu meminta maaf setiap kali bertemu denganku?"
"Ah, itu. Aku tidak menyadarinya, maaf—“ Segera menutup mulutnya kembali rapat.
"Hanya denganku, atau yang lain juga?" ucap Akira yang membuat Naina mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Jadi, sudah sampai mana tahu tentang diriku?" Akira mengabaikan kebingungan Naina dengan menanyakan hal lain. Tidak ingin menjadi canggung.
"Sampai foto dirimu yang sedang pamer berenang." bebernya jujur, polos sekali.
"Yang mana? Aku lupa."
"Ini." Naina menunjukkan foto Akira tanpa busana yang ada di instagram miliknya.
Akira tersenyum tipis sembari mengangguk-angguk. "Ah, itu. Tampan sekali ya diriku."
Pertama bertemu, Naina menganggap Akira pria dingin penuh keseriusan, serta jauh dari lingkaran kelucuan teramat. Menghindari bertatap muka dengannya, atau sekedar tidak mencuitkan sepatah katapun. Enggan berurusan dengan Akira, itu menakutkan. Seperti preman berkedok model yang kelewat tampan. Sejujurnya, Naina masih kesal jika mengingat bagaimana Akira merobek semena-mena kertas biodata miliknya. Geramnya bukan main tadi. Tetapi, lama kelamaan pikiran normal kembali bersimpuh didalam pikirannya. Dan, Naina menyadari kalau sebenarnya yang Akira lakukan itu baik untuknya.
Pun sekali lagi Akira mampu mengejutkan Naina dengan menunjukkan sisi lain kepribadiannya yang tak disangka-sangka ada didalam diri Akira Pramudya. Kini, Naina mulai biasa saja, bersikap santai. Ternyata Akira tidak sedingin es batu, tapi selembut es krim.
Naina berusaha menyembunyikan gelak tawanya, berakhir hanya dengan senyuman tipis. "Tampan itu relatif."
"Tapi aku ini mutlak."
Begini rasanya yah? Berbincang dengan pria yang punya sisi keunikan tersendiri. Akira itu unik. Naina mantap betul menancapkan gelaran panggilan itu untuk Akira. Meskipun, dirinya baru berdialog hanya sekitar dua, tiga sajak. Pun Naina jelas menyadari, Akira itu kelewat unik.
Naina mengangguk pelan. "Iya pria tertampan nomor satu di Dunia tahun 2017 dan 2020 serta pria terseksi tahun 2019." Bebernya dengan teramat rinci. Wah, Naina malah membawa dirinya sendiri terjun dari tebing tinggi. Ditutupi sebaik mungkin, tetapi malah dibeberkan detail seperti itu. Semakin malu lagi.
Akira terkekeh kecil. "Jadi aku ini memang tampan sekali yah? Sampai jadi yang tertampan di Dunia."
"Media berkata seperti itu." katanya dengan datar. Padahal mati-matian sedang menyembunyikan kegugupan sebab terlalu malu berbicara dengan Akira.
"Kalau dirimu berkata seperti apa?" Akira bertanya lagi masih kukuh.
Naina bingung. Akira mulai bersuara kembali. "Aku tampan tidak?"
"Semua pria itu tampan."
"Oke, jadi kesimpulannya aku ini tampan. Dan kau mengakui kebenaran itu tetapi terlalu malu mengungkapkannya."
Iya-iya. Seharusnya sejak awal Naina mengiyakan saja pertanyaan Akira, jadi tak sejauh ini pembahasannya. Akira ingin sekali diakui ketampanannya, padahal jelas sudah diakui sempurna oleh Dunia. Tapi, seperti keinginan diakui tampan oleh Naina besar sekali. Membingungkan. Pusing.
"Aku boleh bertanya tidak padamu?" Kalau dibiarkan berlarut dengan pembahasan tampan-tidak-tampannya Akira, pasti tidak ada ujungnya. Jadi, Naina memutar otak, mencari bahan lain untuk dibahas.
Akira memalingkan wajahnya ke arah Naina. “Tentu saja."
"Kenapa baru memutuskan untuk sekolah saat sudah kelas tiga? Mengejar materi kelas satu dan dua kan banyak, itu tidak mudah."
Menyenderkan badannya pada punggung kursi. Akira menghela nafas pelan. "Karena itu aku menyesalinya."
"Karena tuntutan pekerjaanmu?" tanya Naina ragu-ragu. Takut melewati batas.
Akira mengangguk pelan. "Impianku sejak dulu menjadi model. Jadi, saat aku berhasil diposisi keinginanku. Aku merasa hanya ingin terus mempertahankannya, tanpa memikirkan hal yang lain, tentu saja sesuatu yang lebih penting."
''Jadi, selama ini kau tidak sekolah? Tetapi, langsung bisa masuk kelas tiga SMA. Wah, aku terkejut." Satu tangannya spontan menutupi mulutnya, sebab sudah melongo lebar.
Akira tertawa kecil. Semakin ingin menyombongkan diri. "Keren sekali kan."
"Seriusan?!" Hanya itu yang bisa diucapkan Naina. Ia sungguh tidak percaya.
"Polos sekali." Akira hanya bisa tertawa ketika melihat bagaimana reaksi Naina. "Mana mungkin bisa seperti itu. Aku sekolah. Tapi, di rumah. Panggil guru pribadi."
"Aaa... seperti itu." Menggaruk-garukan kepalanya yang tak gatal sama sekali. "Tapi, kau memang keren. Jangan menyesali keputusanmu yang dulu. Karena apapun itu, semuanya adalah keputusan dari dirimu sendiri. Maka, dengan begitu, itu jalan benarnya."
Sesingkat itu pendekatannya. Satu waktu, kurang dari seratus kalimat saling terucap. Mampu mengubah persepsi dalam diri Naina pun dengan Akira sendiri. Akrabnya sesederhana itu ternyata.
📚................♡✿
Akira senang dirinya tidak seperti tokoh utama dalam drama korea yang selalu pasti memiliki keluarga yang tidak harmonis dikala suksesnya karir yang menerjang hebat. Akira punya keluarga yang sangat mendukung dirinya, terlepas apapun, percaya sepenuhnya. Dan, selalu ada untuknya. Meskipun, awalnya sempat tak dapat dukungan dari sang ayah, menolak penuh keinginan Akira menjadi model. Tetapi, kemudian ayahnya menerima setuju. Pun tak lepas berkat kepiawaian ibu Akira yang selalu memberikan penjelasan logis yang masuk akal dengan inti yang jelas baik positif bagi Akira. Dengan demikian, tak perlu lagi diperjelas bagaimana sayangnya ibu Akira pada Akira sendiri, pun sebaliknya teramat sangat. Jangan juga menjadi lupa, ada sosok ayah yang tak kalah sayang miliki Akira.
Terlepas seberapa sayangnya mereka. Pada dasarnya, pikiran tak enak pun seringkali hadir dibenaknya. Akira merasa tak sepantasnya ia menerima begitu banyak rasa sayang melebihi apapun. Tidak terdefinisi kejelasan dirinya, itulah kenapa ia kadang lebih baik tidak disini. Tapi, Akira tetap bersyukur.
Kalau pekerjaan sudah selesai, maka tinggal lah kebersamaan terjalin dengan sederhana. Hanya dengan duduk bersama diruang keluarga, ditemani dengan makanan ringan pun dengan minuman. Sudah cukup. Terciptalah perbincangan santai pun bermakna.
Valeta Pramudya—ibu Akira bersuara ditengah hening yang telah hinggap beberapa menit. "Bagaimana hari ini? Menyenangkan?" suaranya begitu lemah lembut dan hangat.
"Tidak terlalu buruk untukku, Eomma." kata Akira sambil menggigit donat. (*eomma \= ibu*)
"Syukurlah." Tersenyum senang. "Lalu dengan teman sebangku bagaimana? Apa dia baik?" tanyanya lagi penasaran.
"Terlalu baik malahan."
Meneguk teh pahitnya, lalu diletakkan kembali ke atas meja. Baru setelah itu menanggapi jawaban dari anak tampannya. "Dari apanya? Mentraktir makan, membantu mengerjakan tugas, atau apa?"
Akira menutup ponselnya setelah membaca pesan dari teman rekan modelnya. "Segalanya. Tapi, bukan denganku. Dengan yang lain." Dijeda sebentar sebab Akira sedang membuka yakult, dari mulutnya sendiri, mengigit bawah botol yakult dengan giginya. Menyulitkan diri sendiri. Padahal jelas dibuka dari atas lebih mudah. Tetapi Akira selalu menerapkan begini, kalau ada yang susah kenapa harus melalui yang gampang. Memang anak satu ini aneh sekali. Kedua orang tuanya hanya bisa tertawa melihat kelakuan Akira, sudah terbiasa. Setelah berhasil terbuka, ia langsung meminumnya beberapa tegukan agar tidak tumpah sebab masih banyak. "Mungkin belum." ucapnya santai.
Jika yang menjadi lawan bicaranya orang lain, pastilah ucapan Akira dianggap aneh, tak paham pasti. Tetapi, ini ibunya Akira. Jelas ia tahu betul bagaimana kebiasaan Akira menyambungkan kosa kata baru dalam kalimatnya menjadi terlampau singkat, tapi masih dimengerti jelas. "Pasti perempuan, yah?" Dan Akira hanya mengangguk samar.
"Pantas saja menyenangkan, teman sebangkunya saja perempuan." Nadanya terdengar sedang menggoda Akira.
Akira terdengar menarik nafas yang cukup dalam sebelum menjawab. "Tidak ada hubungannya dengan itu, Appa." (*appa \= ayah*)
"Siapa nama gadisnya?" tanya Wlliam Pramudya—ayah Akira Pramudya.
"Naina Ashaliya.” balas Akira lirih.
"Cantik." singkat William.
"Iya benar. Namanya terdengar begitu cantik. Pasti orangnya lebih cantik lagi, benar tidak, Akira?" goda Valeta menaikan kedua alisnya.
"Tidak." Lalu memiringkan kepalanya. "Jelek." kembali membuka persegi pintarnya, berniat bermain game lagi.
Kedua orang tua Akira tak segan tertawa lepas. Anaknya ini benar-benar lucu tetapi uniknya lebih mendominasi.
Akira memang begitu, kan? Tidak suka memperjelas dengan aksen detail terhadap kesetujuannya tentang apapun itu. Entah, karena tidak ingin dianggap ada perasaan lebih, atau rasa malu yang besar jika dibeberkan rinci. Intinya itu membenarkan, tapi ia suka membingungkan dengan kosa kata singkat pun dengan jeda suara yang cukup lama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments