Suasana kelas 3-1 sedikit kacau. Ramai tidak terbendung dengan suara menggelegar berkapasitas tinggi. Bel masuk memang sudah berbunyi, namun karena Yoona ssaem belum datang, mereka pun kompak untuk tidak saling diam, meluapkan segala kesenangannya pada aktifitasnya masing-masing. Ada yang tengah menari lagu dari BTS yang berjudul dynamite, lalu ada yang tengah melingkar rapat dengan serius bergosip tentang artis yang tengah viral, atau tentang masalah kehidupannya yang rumit, beberapa juga terlihat sedang membuat video tik tok, dan yang laki-laki tentu saja bermain game.
Lima menit kesenangan berparak dengan kekesalan. Sebagian kecewa dengan kehadiran Yoona ssaem yang terlampau cepat dari perkiraannya. Menghadirkan rasa malas berkecamuk jengkel memadati seisi pikiran mereka dengan serasi. (*ssaem \= guru*)
Seluruh anak laki-laki semakin malas, enggan memberikan mimik wajah senang atau bersemangat, lantaran kehadiran pemuda tampan yang tengah berdiri tegap di sebelah Yoona ssaem. Mereka pikir itu akan semakin membuang waktu percuma untuk ajang perkenalan, pun akhirnya pembelajaran jadi terbengkalai jauh.
Tetapi berbanding seratus delapan puluh derajat bagi siswi perempuan. Perasaan jengkel sebesar Museum Louvre kini menghilang sempurna, hanya ada kegirangan seperti sedang melihat di depan mata salah satu keajaiban dunia paling memukau alam semesta, semangatnya berkibar hebat di penjuru pikirannya.
Cyra menepuk pundak pelan. Lantas, Ahyun menoleh ke belakang. "Apa?"
"Kau tahu yang bersama Yoona ssaem itu siapa?" tanyanya pada Naina.
Naina berbalik menatapnya. Kemudian, kembali menghadap belakang. "Tidak, memangnya kau tahu?"
Cyra melongo tak percaya. Kedua maniknya melebar terkaget. "Astaga, kau benar-benar tidak tahu dia siapa?" diam menunggu respon Naina.
Naina menggeleng mantap. Dan Cyra menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, apa kau selama ini hidup di dalam hutan. Benar-benar tidak habis pikir denganmu." Cyra memberikan isyarat pada Naina untuk mendekat. "Sini, mendekat, aku beritahu."
Naina mendekat, Cyra membisikkan kata-kata dengan nada pelan. "Dia itu Akira Pramudya, model tampan yang populer sekali." Naina menanggapi dengan anggukan saja. Kembali menghadap ke depan, memberikan ruang untuk Bu Yoona berbicara.
Dengan jari-jari lentik mungil yang indahnya alami pun kuku-kuku panjang dilapisi kutek berwarna putih seperti aslinya, bedanya itu terlihat begitu mengkilap, berseri kalap-kelip mempercantik daerah tangannya. Yoona meletakkan dua buku paket bahasa Inggris di atas meja.
Yoona menatap seisi ruangan. "Semuanya, tolong perhatiannya sebentar." dua sudut bibir tertarik begitu manis, ramahnya terlihat jelas. "Hari ini dikelas kita kedatangan siswa baru, saya rasa kalian semua sudah tahu siapa dia, benar bukan?"
"Iya, aku tahu. Tahu sekali malahan."
"Aku kenal."
"Aku juga kenal. Tapi, bisakah dia tetap perkenalan, Ssaem?"
"Iya, aku tahu. Tapi aku ingin dengar suaranya. Tolong beri dia sesi perkenalan yang lama, Ssaem."
"Tidak pelajaran juga tak apa, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting dia harus perkenalan dulu. Oke, Ssaem."
"Ssaem, tolong beri waktu dia untuk perkenalan. Aku siap mendengarkannya."
"Ssaem, aku mohon berikan dia waktu untuk perkenalan. Kali ini please."
Naina merasakan ada serangan dari belakang, suara gemuruh berisik. Tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Naina menengok ke belakang, bibirnya sudah komat-kamit entah sedang membaca matra apa, kedua kakinya menendang-nendang kursi Naina, pantas saja duduknya tidak nyaman sedari tadi.
Tangan Cyra sudah mengepal kesal. Naina segera bertindak cepat. "Ku peringatkan padamu, jangan bicara apapun. Diam saja ditempat."
Cyra sudah susah mengontrol emosinya. "Tidak, Naina. Aku sudah tidak bisa menahannya." Naina hanya bisa menghela nafas pasrah.
Berdiri. Kemudian menggebrak meja begitu keras. Yang terjadi, semuanya diam lalu berpindah keseriusan memandangi tingkah Cyra yang aneh. "Tolong, bisa diam tidak. Kalian ingin dia perkenalan, tapi kalian sendiri malah bicara terus-menerus. Maunya apa?!!"
Sungguh tingkat percaya diri Cyra sangatlah tinggi, dan rasa malu pun menjadi rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Licia jadi merasa menyesal kenapa dirinya harus duduk sebangku dengan Cyra. Malu. Lalu, Licia menarik rok Cyra dengan kasar. "Apa kau tidak malu? Ada Yoona ssaem di depan. Sopan santunnya tolong diperlihatkan."
"Ssaem, Licia menarik-narik rok saya. Sungguh, roknya kan jadi turun ke bawah, mana lagi tidak pakai sabuk kan jadi cepat merosotnya." menatap sinis pada Licia.
Cyra membenarkan roknya ke atas lagi, padahal sama sekali tidak turun sedikitpun, kebohongan. "Kalau nanti rok nya turun salahkan Licia saja, Ssaem." melirik Licia menjengkelkan.
Licia menginjak kaki Cyra dengan teramat kerasnya. "Sialan." Dengan suara pelan, jadi tidak ada yang mendengarnya kecuali Cyra, Jiya yang berada di sampingnya dan Naina yang berada di depannya.
Jiya tertawa. “Aku pusing melihatnya, Na.”
Naina mengangguk setuju. "Aku juga."
Mereka berdua kemudian tertawa. Sementara, Cyra masih terpaku dengan pendiriannya, dan Licia semakin kesal.
Naina lupa kalau ada Bu Yoona tengah berdiri di depan sana, ia jadi merasa bersalah karena baru saja sibuk tertawa dengan asyik nya tanpa memikirkan etika sopan santun terhadap guru.
Naina menghadap ke depan, duduk dengan posisi benar lagi. Kedua tangannya melipat rapi di atas meja, mematuhi tata krama setelah barusan melanggarnya.
"Kalau rok-nya turun, nanti kau yang akan mendapat hukuman." menjeda sebentar. Karena hal itu juga memberikan serangan telak bagi Licia maupun Cyra yang menjadi sasarannya saat ini. "Karena kau tidak memakai sabuk, dengar Cyra?”
Licia bernafas lega, setidaknya ia tidak di salahkan karena perbuatannya barusan. "Kau dengar Cyra jelek." dengan nada berlenggak-lenggok semampai, sumringah sekali.
Cyra duduk dengan wajah berapi-api. "Sialan!" mengumpat dengan keras.
Naina terkejut, langsung menghadap ke belakang. "Cyra!!" mengeluarkan sepercik amarahnya.
"Keceplosan." jawab Cyra singkat.
Terkesan tenang bereaksi tapi kalau dilihat jauh ke dalam, Cyra tengah di rundung takut. Terucap menggampangkan tapi dibalik itu Cyra berkali lipat menyesal baru saja mengumpat di depan guru dan teman-temannya.
Seisi ruangan menatap Cyra terkejut, diam memperhatikan si biang kerok berkelut resah.
"Kalau tidak salah dengar, apa kau baru saja mengumpat, Yelena Cyra?" tanya Yoona pada gadis yang sedang menunduk.
Cyra langsung menyanggah pengungkapan itu. "Tidak, Ssaem. Mana mungkin aku mengumpat. Itu tadi suara anjing menggonggong dari dering ponselnya Naina."
Naina melotot. "Dasar anak ini. Aku jadi kambing hitamnya lagi!" ucapnya dalam hati begitu kesal.
"Jadi, sekarang suara anjing menggonggong itu 'sialan sialan' bukan 'guk guk' lagi yah??"
Kalau yang berkata kalimat itu guru lain mungkin akan berasumsi jelek terhadapnya, menjadi benci karena sikapnya yang terlalu blak-blakan dengan gaya bahasa tidak wajar sebagai contoh untuk siswa-siswinya. Namun, mereka malahan tertawa terbahak-bahak. Tiga tahun sudah Yoona menemani kelas 3-1. Jadi, mereka semua pun sudah tahu betul seperti apa kepribadiannya. Memanglah kalau dilihat dari segi parasnya, ia tertangkap jelas sosok yang pendiam, polos. Penampilannya juga terkesan anggun, tertata rapi dengan keindahan bentuk tubuh yang langsing. Agaknya aneh betul memang, tapi anggap saja itu pemanis dari depan. Kalau sudah tahu belakangnya seperti apa, beribu-ribu terkejut menyelimuti seluruh pikiran.
Ternyata, Yoona punya selera humor tidak biasa. Gaya bahasanya seperti anak muda zaman sekarang, terlalu blak-blakan tanpa bernegoisasi dulu mana yang harus terucap mana yang tetap diam di dalam hati. Sukanya bercanda dengan pengucapan yang sensitif tapi selalu sesantai itu. Tetapi mereka semua memahaminya, tidak perlu di ambil hati. Walaupun Yoona ssaem suka berkata dengan kalimat sedikit menyeleneh, ia tidak pernah sekalipun bermain tangan kalau mereka sedang susah diberitahu dengan baik. Ia tetap sabar, memberikan seulas kalimat mengundang ketaatan mereka padanya.
Cyra masih membeku ditempat. Diam seperti patung. Dengan begitu tiba-tiba suara berat mengalun dengan merdu mengudara. "Dan suara anjing menggonggong itu tidak lain suaramu sendiri, benar bukan Cyra?"
Naina bengong, penuturan lelaki itu sungguh mengejutkan baginya. Selama itu ia tetap diam, tapi sekali mengeluarkan suaranya dengan enteng ia merincikan kalimat menohok pada Cyra.
"Astaga, akhirnya aku bisa mendengarkan suaranya. Berat tapi seksi. Ah, menggoda sekali sih.” ucap gadis berambut panjang hitam yang duduk di depan Naina persis.
Naina membulat. "Sungguh, Yuna telah dibutakan oleh ketampanan Akira saja. Hanya fokus pada wajah serta suaranya, tidak sama sekali menyerap apa yang baru saja dia katakan." kembali berbicara dalam hati.
"Wah, Akira. Kau ini apa sih, bisa savage sekali begitu." katanya elirik pada Cyra. "Apa kau masih bisa bernafas dengan baik? kalau aku sudah pingsan saja, malu sekali." tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan yang Cyra alami saat ini.
Kalah telak sudah baginya. Kehancuran bersemayam lekat untuk hidupnya hari ini. Yang awalnya tak punya rasa malu sedikitpun, untuk saat ini Cyra merasakan kehebatan rasa malu mengelilingi sekujur tubuhnya.
"Kali ini kau beruntung, tidak ada hukuman untukmu. Tapi ingat, kendalikan lagi emosimu itu, di kontrol dengan baik." Yoona sedikit memberi saran pada Cyra soal emosionalnya yang dimiliki.
Cyra menunduk malu. "Ne, sonsaengnim."
"Kau baik-baik saja?" Dengan nada pelan, hanya ingin memastikan perasaannya saja. Cyra hanya mengangguk samar sambil berdeham. Naina menggulung bibir berusaha memahami. Balasannya singkat, tapi tak apa.
Yoona menepuk pundak Akira. “Kau persis sepertiku. Aku jadi semakin mengagumimu." Akira membungkuk sedikit, tersenyum manis. "Mau perkenalan diri singkat?"
Akira mengangguk pelan, lalu menatap seisi kelas. Dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi, Taehyung memberi senyum tipis yang justru manis sekali, sebelum bersuara. "Hello, guys." Ya Tuhan, Akira malu. Kenapa malah memberi sapaan dengan aksen inggris gaul. Sok gaya sekali, layaknya orang blasteran yang baru pindah ke Seoul di hari pertama, yang sedang pamer bisa berbahasa inggris lancar, padahal kalau tahu sendiri, Akira hanya tahu dasar-dasarnya saja, masih berusaha mati-matian belajar bahasa inggris dengan kak Nam, juga Akira itu seratus persen berdarah korea, asli Daegu, tidak ada campuran dari negara manapun. Yang lain dipastikan kompak terkekeh kecil, lucu sekali Akira itu—pikiran seluruh penghuni di kelas 3-1. Akira lalu melanjutkan lagi, kali ini dipastikan benar. "Annyeonghaseyo ... Aku Akira Pamudya dari Daegu tapi sudah lama menetap di Seoul. Kalian bisa panggil dengan Akira. Terimakasih." katanya lalu sedikit membungkuk sopan santun. Direspon baik oleh semuanya, mengangguk sembari memberi senyuman merekah mendengar perkenalan dari yang pernah mendapat gelar tertampan di Dunia.
Kemudian Yoona ssaem kembali menatap seisi ruangan. Tidak! Yoona ssaem hanya menatap pada Naina. Pantulan bola mata beningnya itu tertanam hanya pada wajah Naina. Perasaan gadis itu jadi tak karuan.
"Dia, Naina Ashaliya.” satu tangannya lurus mengarah pada Naina. "Ketua kelasnya. Kau bisa duduk dengannya. Kalau ada sesuatu yang tidak paham, tanyakan saja padanya."
Akira menurut saja, ia berjalan menyusuri jalan sempit yang lurus tak berbelok. Sudah di depan Naina. Pribadi itu duduk di kursi sebelah Naina persis. Dan, semua teman-teman menatap Naina dengan tatapan iri. Sementara, Naina sendiri tengah di rundung rasa takut.
"Bukankah dia yang di ruang guru tadi?" Naina baru menyadarinya, kalau ternyata Akira adalah orang yang ia tabrak saat di ruang guru. Dia adalah model terpopuler di Korea Selatan. Dan, itu berarti Naina sudah melukai kaki seorang artis besar karena kecerobohannya yang tidak berhati-hati dalam berjalan.
Naina jadi berfikir serius. Tentang Akira yang duduk dengannya hanya sebuah rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa. Untuk apa lagi, balas dendam pada Naina.
Bisa jadi kan? Akira membujuk Yoona ssaem supaya dirinya bisa masuk ke kelas 3-1, lalu meminta Yoona ssaem untuk mempersilahkan ia duduk dengan Naina. Dia artis papan atas, tentu saja Yoona tidak terbesit rasa curiga, betul sekali.
Setelah kakinya kejatuhan dua buku yang super tebal dan berat, kemungkinan membuat hidup Naina menderita itu bisa jadi terjadi. Mengingat pekerjaan Akira itu sebagai model. Terlihat sempurna itu nomor satu, kalau kakinya pincang pasti tidak akan berjalan dengan baik bekerjanya.
Mengurutkan rentetan yang masuk akal itu, Naina jadi semakin yakin kalau Akira benar-benar ingin balas dendam padanya.
Ah, tidak usah mengada-ngada. Itu tidak akan terjadi, tidak usah berfikir berlebihan.
Tapi, sungguh. Naina tidak mengada-ngada. Ini sering terjadi, ia telah menyaksikan sendiri saat dirinya membaca cerita di dalam aplikasi noveltoon.
Di sana, Naina sering mendapati alur cerita yang mirip seperti kejadiannya barusan. Pihak perempuan tidak sengaja menabrak pria yang tidak lain ia adalah artis papan atas. Pria itu tidak terima, ia merasa perempuan itu sengaja melakukan lelucon menabrak agar bisa menyentuh dirinya. Tubuh artis itu mahal, tidak sembarang orang bisa mudahnya menyentuh sesukanya, dan ia pikir itu tidak bisa di gampang kan begitu saja, lalu dengan keinginannya yang membabi buta, ia memutuskan untuk membuat si perempuan itu menderita.
"Astaga, bagaimana kalau itu terjadi padaku?"
Lamunan Naina tentang bagaimana ketakutannya mengenai keterlibatannya dengan Akira kini terpecah, berpecah lebur menjadi kepingan abu tidak penting, menghilang pergi karena datangnya suara mengusik pikiran, Yoona ssaem bersuara tiba-tiba di tengah Naina yang sedang melamun serius.
"Sekarang buka buku paketnya, buka halaman tujuh tentang simple past tense."
Naina mengeluarkan buku paket bahasa Inggris di dalam laci meja. Membuka halaman tujuh seperti yang diminta.
"Naina, berbagilah dengan Akira." ucapnya begitu ramah tamah.
Mengedip satu kali. Pandangannya menatap ke arah bawah. Ah, ya Naina mengerti. Kemudian menatap Im ssaem. "Ne, sonsaengnim." (*baik, bu guru*)
Perasaan negatif mendominasi pikirannya, melilit di setiap sisi sudut yang terpenting. Naina kalang kabut, tangannya keringat dingin, bibirnya pucat. Berusaha bersuara, tetapi bibirnya seperti di lem sempurna, menempel dengan kuat, ia jadi bingung.
Dengan berhati-hati ia menggeser buku paketnya ke kanan, di daerah kawasan meja Akira. "Ini." berusaha menatap Akira meski susah setengah mati. Yang berusaha ditatap malah merespon dengan ngeri. Akira menatap Ahyun dengan tajam.
Naina menelan ludahnya samar. "Aku tidak kuat, Akira menakutkan sekali. Tatapannya itu setajam silet." batinnya kembali bersuara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments