Bel panjang berbunyi. Sorakan kegembiraan terdengar menyeluruh kelas.
"Yey, pulang cepat." berjoget-joget riang. "Betapa senangnya kalau tiap hari seperti ini terus. Aku pasti jadi tidak ada perasaan terpaksa pergi sekolah kalau pulangnya selalu awal begini." sudah dipulangkan lebih dari waktu biasanya, masih saja berkomentar. Itulah Cyra.
Sambil merapikan buku-buku yang masih berserakan di meja, Jiya ikut bersuara, “hanya hari ini saja. Besok sudah tidak ada lagi pulang lebih awal. Kita sudah kelas dua belas."
Cyra menghela nafas begitu lelah, “ah, iya kau benar. Kelas dua belas pulangnya pasti sampai sore hari. Melelahkan sekali."
Licia memberi keterangan lebih jelas. "Malam. Ingat sampai malam, ada banyak tambahan pelajaran."
Cyra berdecak. "Menyebalkan sekali."
Naina terkekeh kecil. "Neraka akan menyambut kita sebentar lagi."
"Kalau begitu hari ini menikmati surga dulu. Yuk, kita pergi karaoke." ajak Cyra pada mereka bertiga.
Licia menatap aneh pada Cyra. "Karaoke itu ya neraka dasar bodoh."
Cyra tidak terima. Menatap Licia tidak suka. "Sembarangan! Tidak usah menyebut berkaraoke itu neraka kalau kau saja sering ke sana."
"Terpaksa. Hanya keterpaksaan saja, karena kau selalu menyuruhku pergi ke sana." jawab Licia.
"Oke, berarti nanti tidak usah ikut ya. Awas saja kalau ikut." ancam Cyra.
"Kau memaksaku lagi, oke aku ikut." jelas-jelas Cyra mengancam supaya tidak boleh ikut, tetapi Licia malah menganggapnya sebagai pemaksaan untuk dirinya ikut ke tempat karaoke. Wah, benar-benar melenceng seenaknya.
Cyra sungguh ingin melemparkan Licia ke dalam lembah hitam. Menyusahkan sekali jalan pikirannya. "Dasar bodoh." Dan Licia cemberut masam.
Meskipun sedari tadi Jiya sibuk merapikan perabotan barangnya, tetapi ia sendiri dengan seksama mendengarkan mereka berbicara. Dirasa harus mengeluarkan perkataan. Jiya berhenti sejenak. "Tapi ke House beauty dulu ya, aku mau beli lipstik sebentar." Lalu menutup tasnya rapat-rapat setelah semua barangnya sudah dimasukkan ke dalam.
Jiya mengeluarkan lipstiknya, lalu dioleskan ke bibirnya. Naina yang melihat itu jadi melarang. "Itu masih. Jangan membuang-buang uang untuk hal yang tidak terlalu penting, sayang uangnya."
Bibirnya di tap-tap agar warna merah dari lipstiknya tercampur merata. "Masalahnya lipstik itu penting bagiku." Menyodorkan lipstiknya pada Naina. "Tinggal hari ini saja, pasti besok sudah habis."
Naina tahu kok, melihat jelas juga. Lipstik Jiya tinggal secuil, benar hanya sampai hari ini saja sepertinya, tetapi tetap pendiriannya melarang, “ya sudah berarti mulai besok tidak usah lagi pakai lipstik."
Licia berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau ingin melihat mayat hidup yah?"
Naina mengangkat kedua alisnya bingung. "Jiya tidak pakai lipstik nanti seperti mayat hidup. Pucat sekali." jelas Licia dengan percaya diri.
"Ah, itu." Naina tertawa kecil teringat dulu ia sempat melihat Jiya kehabisan lipstik tetapi lupa tidak beli, semua orang ramai membicarakan bagaimana kondisi Jiya memprihatinkan. Sempat ada yang mengira Jiya mengidap penyakit parah. Padahal hanya tidak pakai lipstik, “ya sudah kalau begitu beli saja. Wajahmu menakutkan kalau tidak pakai lipstik."
Naina menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan, berusaha memberanikan diri sendiri. "Tapi maaf, aku tidak ikut."
Licia menghela nafas, kemudian menatap Naina dengan wajah kesal. "Kau pergi hagwon lagi?" dibalas anggukan lirih oleh Naina.
Jiya dengan suara lemah lembutnya. "Apa tidak ada liburnya? Ini kan masih hari pertama masuk sekolah."
Naina jadi semakin merasa tidak enak hati, mereka ingin melakukan sesuatu selalu berempat, pergi dengan keterikatan yang indah karena persahabatan yang begitu erat, tetapi Naina sering absen. Tidak bisa ikut bersenang-senang. Iya, sebab dirinya memiliki segudang jadwal. "Hari ini masuk pertama untuk hagwon."
"Astaga, apa kau tidak lelah?" Jiya bertanya sedikit khawatir seorang teman.
Benar-benar lelah.
Naina menggeleng samar, kemudian memalsukan senyumnya dengan baik.
"Kau itu sudah pintar, kenapa juga harus hagwon segala sih, aku yang bodoh saja tidak ikut les-les begituan." cibir Cyra.
"Tidak ada manusia bodoh, yang ada hanya malas."
Cyra semakin kesal saja mendengar respon Naina. "Aku sedang menceramahi mu, kau tidak usah ikut-ikutan." Naina hanya diam saja, merasa bersalah.
Licia tertawa hambar. "Pantas saja kau selalu jadi nomor satu. Sistem belajarnya keras sekali."
"Bolos sekali saja pasti tidak masalah kok." usulan terakhir Cyra memberi kesempatan Naina untuk bergabung bersama-sama.
"Masalah saat ibuku tahu aku bolos." lirihnya dengan pandangan ke bawah, menunduk sebab tidak bisa menatap teman-temannya. Merasa sudah mengkhianati perasaan mereka.
Licia berdiri, tidak bisa menahan lagi. "Ayo pergi, Naina tidak ingin dengan kita. Membosankan sekali." langsung berjalan pergi dari ruang kelas. Diikuti dengan Cyra dibelakangnya mengekor Licia.
Jiya berdiri juga. Tetapi sebelum pergi ia memegang pundak Naina dulu. "Aku pergi dulu ya. Hati-hati pulangnya."
Naina mengulas senyum sembari mengangguk. "Kau juga. Selamat bersenang-senang."
Melihat kepergian mereka bertiga dengan perasaan kesal, sungguh membuat Naina jadi merasa bersalah. Bersalah untuk dirinya yang selalu tidak pernah ikut pergi bersama mereka, dan bersalah karena selalu memilih untuk pergi hagwon. Sejujurnya, Naina juga ingin pergi dengan mereka, bersenang-senang menikmati hidup selayaknya. Tetapi, perbedaan prinsip hidupnya jauh sekali, kehidupannya sama sekali tidak sebanding dengan teman-temannya. Naina berbeda, dan ia membenci itu.
Menjelajahi jauh perasaannya, pun akan menemukan rasa iri sering kali mengelabuhi pikirannya. Naina juga merasakan iri. Rasa iri berkecamuk di rongga dadanya. Iri dengan mereka yang bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, tanpa merasakan beban berat dengan ketakutan luar biasa.
Wah, sekarang ia harus mengeluarkan jurus berlari secepat kilat. Tidak boleh tertangkap basah sedang berdiri dibalik pintu tebal ini. Bisa gawat. Heh, tidak! Akira tidak sedang menguping. Dia itu model papan atas, bukan penguping kelas rendah. Hanya saja, dirinya terjebak tidak sengaja berada pada lingkup serba salah. Tujuan utama dia kembali menuju ruang kelas adalah untuk mengambil earphone miliknya yang tertinggal di laci meja, berniat untuk mengambilnya. Tetapi ternyata keadaan tidak menyambut ramah pada pribadi dengan senyum kotak itu. Ada empat siswi yang tengah berbincang serius, saling melempar pertanyaan dengan raut wajah kesal, pasrah pun memelas juga. Akira pikir, hadirnya di tengah-tengah mereka akan menimbulkan kecanggungan pun menjadi salah kaprah. Jadi, Akira hanya menunggu di balik pintu sampai mereka pergi. Namun, kembali pada logika yang masuk akal. Jika ia tetap berdiri dengan kesendirian yang memprihatinkan, agaknya cukup aneh. Mereka akan berfikir dirinya dengan sengaja menguping pembicaraan yang tidak menyenangkan itu, mencampuri urusan orang lain dan pasti akan dimaki-maki luar biasa, bahkan mungkin juga akan dipukuli karena tindakannya yang tidak tahu malu. Tidak-tidak. Akira tidak ingin harga dirinya terinjak-injak hanya karena berdiam diri di balik pintu. Maka, yang harus ia lakukan adalah lari. Bersembunyi di tempat yang tidak terlihat. Beres. Aman.
📚................♡✿
Daun-daun kering berserakan memenuhi jalanan, sepi menyayat hati, pandangannya setia menatap ke bawah, kegusaran tengah dirasakannya. Langkah kakinya terasa berat melaju, sesekali sepatunya merombak-abik daun-daun yang sedang bersantai tenang di tanah. Gumpalan titik negatif mulai merasuki pikiran serta perasaannya. Dengan hembusan nafas lelah, Naina duduk di kursi memanjang di halte. Menunggu bus terakhir datang untuk menjemputnya pergi ke tempat hagwon.
Sementara, mobil hitam dengan plat B 7136 berkilau mewah itu berhenti di sebrang halte.
Dua menit melintas, tepat pukul dua belas lebih tiga puluh menit, alat transportasi darat itu berjalan sedang menuju tempat pemberhentian. Bus berhenti tepat di depan halte.
Pribadi cantik itu menatap bus lamat-lamat. Tidak ada pergerakan. Hanya di pandangi dalam diam. Pada akhirnya, bus melaju pergi kembali, sementara Naina masih bersemayam tenang di tempat duduknya.
Selepas kepergian bus menjauh dari pandangannya, Naina menutupi wajahnya dengan kedua tangan, kekacauan dapat terlihat memadati seisi pikirannya. Lalu menghela nafas pasrah.
"Kenapa tidak pergi?" ucapnya terheran-heran dibalik pintu kaca mobil.
"Oh, baik Tuan. Maaf saya tidak mendengarnya tadi." Pak Bayu, supir pribadi keluarga Pramudya membalas dengan gugup. Langsung menyalakan kendaraannya. Bersiap pergi.
Buru-buru menghentikan yang jelas salah tertangkap pada pria berusia 40 tahun itu. "Tetap disini. Aku sedang tidak berbicara dengan Anda."
"Ah, begitu." Pak Bayu mengangguk malu.
Naina berjalan lambat menyusuri trotoar menuju tempat dimana satu jam yang lalu menjadi titik awal perasaan bersalah berkecamuk di dalam perasaannya.
"Ikuti gadis itu." perintah Akira dengan tegas.
Pak Bayu diam sebentar, merasa ada yang tidak beres, untuk apa Akira ini menyuruh mengikuti kemana gadis berambut panjang itu pergi, tidak ada manfaatnya sama sekali. Tetapi, sekejap ia buang pemikiran mengada-ada itu. Astaga, apa sekarang ia berhak memiliki waktu berfikiran buruk pada majikannya sendiri? Yang harus ia lakukan hanya menuruti perintah saja. "Baik, Tuan." Langsung mengikuti dari seberang jalan pelan-pelan, sebelum diamuk lalu pekerjannya akan terlelap hancur.
Naina mengatur nafasnya begitu tiba di depan pelataran luas yang sepi. Mendongak ke atas. Menatap deretan huruf yang tertata rapi membentuk sebuah kalimat yang menggoda keinginan hati untuk masuk ke dalam. Dengan masih sedikit ada keraguan, Naina membuka ponselnya. Memanggil pada salah satu sahabatnya.
"Jemput aku." ucap Naina terus terang ketika panggilannya telah di terima.
"Jemput? jemput dimana." Jiya tampak bingung setengah mati.
Naina berpindah tempat. Terik matahari membuat dirinya tidak kuat berdiri tanpa ada perlindungan dari atas kepala. Jadi, ia berdiri di sebelah pintu masuk. Yang atasnya tertutupi genteng. "Tempat dimana kau singgahi saat ini."
"Hah?!" Bukan. Itu bukan suara Jiya. Teriakannya membuat telinga Naina sampai berdengung, dipastikan Cyra tersangka utamanya, “jangan ngaco." katanya lagi dari seberang sana.
"Tidak usah mengada-ngada. Aku tidak akan percaya. Yang benar saja kau disini." Nadanya jelas tidak begitu suka dengan apa yang Naina katakan. Bukan berarti ia tidak menginginkan keberadaan Naina ditempat yang sejam lalu ia bilang neraka, hanya saja tidak ingin dibohongi sampai sejauh ini. Buang-buang waktu Licia.
Naina menghela nafas, berapa kali lagi harus dijelaskan agar percaya. "Keluar dan kalian akan tahu sendiri jawabannya." Tegasnya, berharap mereka percaya kali ini. Panggilan telefon berakhir cepat.
"Naina!" teriak mereka bersama saat berdiri tepat di depan Naina berada.
"Kau benar-benar disini?" ucap Licia kaget.
"Iya, untuk bergabung dengan kalian." Diakhiri dengan senyum tipis.
"Bagaimana dengan hagwon-mu?" tanya Jiya berhati-hati. Wajar saja ditanyai begitu, sebab Naina janji mengikuti les dari pada berkumpul dengan mereka.
"Lupakan saja sebentar." singkatnya.
"Ibumu?" Lagi dan lagi. Jiya mengarahkan pertanyaan yang sensitif. Tidak tahu jika Naina sedang berperang pada dua hal itu.
Naina memutar bola matanya muak. "Aku bilang lupakan soal itu, aku ingin bersenang-senang dengan kalian."
Cyra langsung merangkul Naina dengan senang hati, “nah begini aku suka."
Jika berbicara bagaimana bisa terjadi. Naina sendiri tidak tahu. Semua tidak terkendali, tidak berada pada pegangannya, tidak sejalan dengan yang seharusnya dipilihnya. Runyam. Naina bingung menempatkan dua sisi dalam satu waktu bersamaan, sama pentingnya, tetapi harus memilih satu yang paling diinginkan. Dan Naina jelas menginginkan kepuasaan diri sendiri dengan cara berdamai pada teman-temannya. Ikut bersama mereka menghabiskan separuh hari di dalam ruangan kecil yang kedap suara itu. Keputusannya sudah bulat, tidak ada keberatan hati lagi. Naina ingin kali ini pilihannya jatuh pada kebahagiaan teman-teman kesayangannya itu.
Yang setia sekali memandangi sampai berjam-jam di dalam mobil, kini menghembuskan nafasnya pelan. Menarik tudung hoodie ke atas, menutupi kepala pun dengan dua sisi wajahnya yang tampan itu. "Ayo, pergi."
Pak Bayu melirik sebentar dari kaca kecil yang berada di atas. Lalu menatap depan kembali. "Tidak berniat untuk menemuinya dulu, Tuan?" tanyanya sopan dengan sangat berhati-hati.
"Aku tidak kenal dia, kenapa juga harus ku temui." dinginnya pribadi tampan tersebut.
Mendengar jawaban ketus tidak sukanya diikut campuri masalah pribadi, Pak Bayu mendadak menelan ludah kasar. Ada dua yang tengah bersarang pada kepala besarnya itu. Pertama, tentunya perasaan tidak enak hati, sedikit menyesali kenapa harus memberi pertanyaan yang tidak mendasar seperti itu, sebenarnya ya mendasar sekali, tetapi lebih kepada bukan ranah dirinya peduli seperti apa jalan yang harus diambil untuk gadis yang sudah menghilang dari pintu kaca itu. Kedua, bagaimana pikiran anak muda sekarang terlalu misterius dan aneh. Tidak bisa dipahami lagi fungsi jalan otaknya. Jika tidak kenal, kenapa ditunggu lama sampai tidak berkedip sebab terlalu serius memperhatikan gerak-geriknya? Pasti ada maksud terselubungnya. Apa?! Tidak-tidak. Tuan mudanya ini baik kok, tidak mungkin akan menculik gadis cantik yang kini menjadi sasaran kedua netra indahnya itu. Berharapnya begitu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments