Nyaris jarum pendek menginjak angka sembilan, jarum panjang diangka dua belas. Naina semakin takut. Malam secepat ini terlewati. Berada di lantai tiga, dengan luasnya gedung membuat suka tersesat. Hanya berdua disini. Bersama Akira. Di dalam gedung sekolahan. Entah sampai kapan akan terkurung.
"Kau takut?" tanya Akira berhati-hati.
Mereka mulai berjalan keluar dari ruang kelas. Melangkah sedikit demi sedikit. Lampu-lampu dalam ruang kelas sudah dimatikan, tetapi masih ada cahaya dari lampu yang berada di halaman sekolah, namun begitu tetap susah untuk mencari jalan keluar. Dan mereka berdua takkan menyerah. Sedari tadi Naina mengekor dibelakang Akira. Bersembunyi karena takut.
"Sekali, sungguhan." jawab Naina dengan suara rendah, pelan sekali, ia benar takut.
Akira memperlambat langkah kakinya. Menjadi berada di samping Naina. “Takut apa?"
"Hantu, apalagi." Naina mengangkat bahu.
"Hantu itu tidak ada. Jangan percaya anggapan itu."
Naina mendongak ke atas. "Kau tidak percaya kalau kita hidup bersama dengan hantu-hantu yang tak terlihat.”
Kepala Akira menggeleng. "Tidak."
Matanya melebar. Tidak percaya. Kaget dengan jawaban Akira. "Benarkah? Lalu kau percaya adanya apa."
Akira sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Naina. Naina jadi gugup sendiri. Sebelum berucap, Akira sempatkan untuk tersenyum tipis. "Aku percaya kalau alien ada. Ingin sekali bertemu dengannya." Lugasnya dengan santai, kemudian kembali menjauhkan diri, menatap yang ada di depan. Serius berjalan kembali.
Naina menghela nafas. "Iya, karena dirimu sendiri alien sebenarnya. Kau ingin bertemu dengan dirimu sendiri." gumam Naina yang masih terdengar oleh Akira, tetapi ia abaikan sengaja.
Akira sedikit mempercepat langkahnya tiba-tiba, lalu berbalik badan dengan cepat. "Naina... Nainaaa.”
Dengan memasang wajah penuh terkejut, kedua matanya melotot, mulutnya terbuka lebar, tubuhnya memaku sekejap karena hal yang ia lihat begitu membuatnya tak bisa berbicara apa-apa.
"Ada apa, Kira.”
"Di belakangmu."
'Di belakangmu' sebaris kata yang mampu meruntuhkan semua ketenangan dalam diri Naina. Pribadinya itu mulai berfikir ke mana-mana. Perasaan takut bersarang hebat dalam benak tubuhnya. Wajahnya sudah pucat bukan main lagi.
"Kira, apa. Jangan bercanda." kata Naina dengan gemetar membungkus tubuh kecilnya. Keringat dingin mulai berhamburan jatuh.
Satu tangannya menjulur—menunjuk ke depan, belakang tubuh Naina. Indra penglihatannya seakan meringkuk takut, mulai lemah menatapnya, sesekali memejamkan guna menenangkan ketakutan setelah melihat yang di depan itu dari mata kepalanya sendiri—melihat langsung. "Ada itu."
"Itu apa, Akira. Tolong katakan yang jelas!" pekik Naina dengan lancang.
"Ha—haaa—"
"Ha—haaa??"
Dua huruf melemahkan seluruhnya. Naina menyimpulkan dengan gamblang kalau huruf selanjutnya pasti N, T, dan U. Maka, ketika digabung akan menghasilkan kata 'hantu'. Sudah-sudah, Naina menyerah. Ketakutannya adalah melihat hantu. Dan, kini ia akan menghadapinya di depan matanya sendiri.
"Kira….” ucap Naina dengan suara begitu lemah. Kedua tangannya memegang tangan Akira. Meremas guna melampiaskan ketakutan yang berada pada radius tinggi. Meminta memohon untuk membantu menolongnya, berharap Akira melindungi dirinya yang bisa saja akan segera dipeluk oleh hantu dari belakang. Naina ingin Akira mengusir hantunya.
"Ha...." Akira berhenti sejemang. Lalu menghembuskan nafas pelannya. "Tidak ada apa-apa ternyata."
Sesantai itu terucap. Lugunya yang teramat tenang memberi seberkas kenyataan baik-baik saja. Wajah yang penuh ketakutan pun keterkejutan meluntur hilang. Terganti memasang kelegaan damai, membumbui senyum tipis mengartikan jika tadi hanyalah gebrakan lelucon kuno untuk sekedar menakut-nakuti Naina.
Naina melemas telak. Tubuhnya merosot kebawah, berjongkok dengan kaki gemetar, menunduk penuh tatapan kosong, memeluk dirinya sendiri dalam kecemasan luar biasa. Apa Akira setega ini padanya? Apa sebuah ketakutan pada hantu menjadi guyonan untuk Akira? Naina menangis. Terisak sedikit.
"Naina.” Akira berjongkok, suaranya lembut dengan sangat hati-hati ia tersemat rasa khawatir. "Kau menangis?" Akira mencoba memiringkan kepalanya, dibawah kan untuk bisa melihat bagaimana wajah Naina yang kini tidak terlihat sedikitpun.
Naina mengabaikannya, tetapi kini ia melepaskan kakinya dari kurungannya sendiri, masih jongkok. Hanya saja kini ia menunduk. Terdiam. Tidak bicara apapun.
Akira memang mengakui sengaja menakuti Naina. Tetapi, sumpah demi skandal idol yang tertangkap basah oleh dispatch, Akira tak menyangka akan separah ini akibat lelucon kunonya itu. Dia kira hanya sekedar takut biasa, ternyata sampai menangis terisak-isak.
Apa Akira melewati batas?
"Maaf." lirihnya dengan tulus.
Naina akhirnya mengangkat kepalanya. "Itu keterlaluan." ucap Naina dengan suara yang terdengar kecewa, melemas.
Akira menghembuskan nafasnya halus sambil melihati Naina. Ia mengangguk samar. "Iya, aku mengakui memang aku salah. Maaf."
Akira mengambil sapu tangan miliknya yang berada di dalam saku celananya. Tangannya terulur ke depan. "Ini, untukmu."
Najna memalingkan wajahnya ke samping. Menghapus sisa-sisa air mata yang masih terdefinisikan bersarang tinggal di pipinya, dengan gerakan cepat semua menghilang sempurna. Kemudian, ia kembali menghadap ke arah Akira.
“Tidak perlu, aku tidak menangis."
Apakah yang terisak miris tadi adalah suara yang berasal dari hantu penunggu sekolah ini?
Akira sedikit tersenyum, mengangguk saja. "Iya iya. Tapi ini untuk keringatmu, gunakan ini untuk mengelapnya."
Terkekeh samar berhasil keluar dari bibir Naina. "Lelucon lagi?"
"Tapi, yang ini bisa diterima dengan baik, kan?" Akira memainkan jahil alisnya.
Naina menerima sapu tangan yang diberikan oleh Akira untuknya. "Untuk kali ini saja aku terima." Lalu mengelap kedua matanya, bulu matanya terasa masih ada air yang menempel.
"Ayo, pergi." ajak Akira, lalu berdiri. Dan Naina mengangguk pun ikut berdiri juga.
Dengan begitu, mereka kembali bersama. Berjalan dengan perasaan satu sama lain baik-baik saja. Naina memaafkan dengan bersikap dewasa. Tak perlu dimarahi sampai tak mau berbicara sepatah katapun, itu berlebihan. Naina mengerti, Akira hanya ingin memastikan ketakutan dirinya sampai mana, itu saja.
📚................♡✿
Dengan segala pertarungan pikiran, kecerdasan mengambil alih secepat kilat. Mengerti sangat situasi sedang membutuhkan keagungan otak dengan derajat tinggi hingga mencapai langit ke tujuh. Memaksimalkan satu per satu rencana sampai pada akhir berhasil. Menguras tenaga, pikiran pun perasaan.
Beruntung, semesta sedang berpihak padanya. Hanya dengan mengajukan pertanyaan simpel yang konyol, namun ternyata bisa berhasil menggiring Mila pergi dari rumahnya, tanpa kecurigaan besar pun sampai mengusir dengan cara tidak sopan.
"Rumah tante Ryu lagi di renovasi, jadi arisan bulanan diadakan disini. Sebelum tanteku pulang, aku disuruh bersih-bersih dulu. Kau mau membantuku?" tanya Jiya duduk bersila di tepi ranjang.
Mila menelan ludah samar. Lalu menepuk jidatnya dengan tiba-tiba. "Astaga, aku baru ingat. Tadi aku janji akan pulang sebelum jam sembilan. Pasti ibuku akan memarahiku kalau sampai terlambatnya parah sekali." Mila beranjak dari kursinya, memasukkan DVD-nya ke dalam tas biru sedang. Lalu bersiap untuk pergi. "Aku pulang dulu ya, Ji. Maaf tidak bisa membantumu. Dah, sampai jumpa."
Jiya tersenyum. "Iya, hati-hati dijalan."
Nafas lega mengudara memenuhi ruangan. Jiya merasa senang cerdasnya akal bisa digunakan saat-saat mendesak. Tidak ada arisan keluarga. Semuanya hanya bohongan saja. Tahu tidak baik, tetapi Jiya pernah mendengar ungkapan begini 'tidak apa berbohong demi kebaikan' Dan itu yang ia lakukan sekarang.
Jiya masih ingat ada Jarrel di dalam lemari baju, ia segera menghampirinya.
"Jarrel, kau belum mati?" tanyanya pelan-pelan.
Dari dalam lemari, Jarrel sudah lemas. Hampir akan pingsan. Dari keputusasaannya sekarang, ia mendengar suara dari pelaku keji yang membuat dirinya terkurung di lemari.
"Setengah mati!" seru Jarrel.
Jiya terkekeh kecil. Lantas membuka pintu lemarinya. "Ayo, keluar. Betah sekali sih menetap di dalam lemari."
Jarrel menatap Jiya tajam. "Kau menguncinya, bodoh." Lalu ia keluar. Akhirnya Jarrel bisa menghirup udara segar kembali. Rasanya seperti ia habis keluar dari balik jeruji besi—penjara, dan kini telah bebas. Dan bisa menikmati hidupnya kembali dengan baik.
"Pulang sana, Rel. Sudah jam sembilan lebih."
Iya, Jarrel sudah bebas, seharusnya pergi jauh-jauh dari sini. Tetapi perlu di garis bawahi dengan tebal. Jarrel bebas dari kurungan lemari, tetapi belum bebas dari lingkupnya Jiya. Masih ada yang harus dibereskan. Ini belum kelar.
"Aku baru saja terkurung di dalam lemari. Kau mengurungku lama sekali. Dan, sekarang… Kau mengusirku? Gila sekali dirimu, Jiya."
"Bukan mengusir."
"Tapi?"
"Mempersilahkan dirimu untuk pulang ke rumah."
"Sama saja!" pekik Jarrel.
"Jadi, kau ingin menginap di rumahku? Begitu yang kau inginkan." kata Jiyamendekatkan wajahnya ke wajah Jarrel, ada seringai kecil ia keluarkan.
Jarrel membuang muka. "Itu keinginanmu, tapi jangan harap bisa terwujud." Jarrel menatap tajam pada Jiya. "Aku ingin minta penjelasan masuk akal darimu." Masih dengan nada seruan.
"Tentang?"
"Besok aku kirim kau ke rumah jiwa, Ji. Benar-benar sudah gila!" Desis Jarrel.
Satu tangannya mengusap punggung Jarrel lembut. "Tenang, Rel. Jangan marah-marah melulu ih. Sini, duduk dulu, duduk." Jiya menarik tangan Jarrel membawa tubuh semampai-nya hingga berada di depan tepi ranjang. Lalu, kedua tangannya memegang bahu Jarrel mendorongnya sampai Jarrel duduk menempel di atas ranjang miliknya. "Aku ambilkan minum untukmu ya, sepertinya kau kehausan sekali."
"Tidak usah berpura-pura baik untuk meluluhkan hatiku biar tidak marah padamu." cibir Jarrel sebal. "Tenggorokanku sudah kering, kalau sampai tidak bisa berbicara, kau akan aku salahkan ya, Ji. Awas saja."
Jiya memutar bola matanya jengah. "Ya ya ya ya." ledeknya. Ia berjalan menuju meja belajar, mengambil segelas air putih. "Nih, minum dulu." Menyodorkan gelasnya pada Jarrel.Kembali ia duduk di sebelah Jarrel persis dekat-dekat.
Jarrel langsung mengambil gelas dari tangan Jiya, meneguknya sampai habis dalam satu kali tegukan. Setelah itu, memberikan gelas yang sudah kosong itu ke Jiya. Pun Jiya langsung menerimanya, ia meletakkannya di nakas.
"Cepat jelaskan padaku alasan kau mengurungku di dalam lemari, Jiya skyla paris." kata Jarrel, nadanya memaksa penuh telak. Kemarahan telah muncul lagi.
Satu kakinya diangkat, lalu ia taruh di atas kaki lain. Disilangkan. Sementara kedua tangannya masing-masing berada di samping, lurus, tubuhnya menopang pada kedua tangannya itu. "Seperti yang kau dengar di dalam lemari, Jarrel Denanjaya.”
"Jadi?!" Jarrel berdiri. "Jadi, hanya karena ada Mila. Cuma karena Mila kemari kau sampai mengurungku didalam lemari. Katakan, Ji. Apa itu benar."
Jiya mendongak ke atas. "Betul sekali."
"Kau benar-benar sudah gila."
Jiya memutar bola matanya main-main. "Astaga, iya-iya, aku gila. Oke, aku sangat gila. Jadi, bisakah kau berhenti mengatai diriku gila lagi? Aku lelah mendengarnya."
"Lalu apa, Ji. Katakan apa, kenapa alasannya." kata Jarrel, ia masih menuntut penjelasan masuk akal darinya.
"Mila itu teramat menyukai dirimu." jawab Jiya mulai jujur dengan fakta yang ada.
"Iya, lalu apa masalahnya denganmu sampai kau mengurungku di—“ Jarrel berhenti dengan kedua telapak tangan menghadap ke depan. "Sebentar ... apa karena kau cemburu denganku? Kau tidak ingin Mila bertemu denganku, karena nanti melukai hatimu. Jadi itu alasannya, tapi ini keterlaluan, sungguh. Kau mengutamakan perasaanmu tapi mengorbankan pernafasan ku. Aku bisa saja mati di sana. Kau pasti tahu itu." Jarrel mengoceh panjang lebar yang makin ngelantur kemana-mana. Semakin tidak jelas.
Jiya berdiri. Tak tahan mendengar ocehan Jarrel yang terlalu mengada-ngada, mengambil akhir cerita dengan semaunya sendiri. Yang diomongkan itu tidak benar. Jiya ingin memperjelas biar Jarrel tak berbesar hati sekali.
"Kenapa sih kau suka sekali membuat skenario runyam, jangan selalu ambil jalan cerita dengan akhir berdasarkan pemikiranmu sendiri." Jiya menghela nafas sabarnya. "Itu salah. Sederhananya begini. Aku tidak cemburu sama sekali. Kau paham?"
"Lalu apa." seru Jarrel.
Jiya mendekap kedua tangannya di depan dada. "Mila itu suka sekali dengan kita berdua. Aku dan kau, selalu suka kalau kita bersama, karena itu aku menyuruhmu bersembunyi, kalau sampai tertangkap basah pasti kita akan mati di tangan Mila saat itu juga."
Jarrel menyipitkan matanya. "Masa begitu. Kau pasti bohong."
"Aku juga tidak percaya. Jadi, sulit juga membuatmu percaya. Tapi apa yang aku katakan ini benar-benar jujur apa adanya."
"Panjang sekali ceritamu. Singkatnya begini, kan. Kau itu suka denganku. Bukan Mila yang suka dengan kita berdua, tapi kau yang suka padaku, tapi mengatasnamakan Mila sebagai alasannya." kata Jarrel membantah semua yang dikatakan Jiya. "Aku sudah paham sekali denganmu, Ji."
Jiya menghela nafas panjang. "Ternyata kau yang gila, Rel.”
"Aku pergi." tanpa pikir panjang, Jarrel langsung berjalan pergi meninggalkan Jiya.
"Bilang saja kau yang suka denganku. Dasar, gigi kelinci." Teriaknya agar Jarrel dengar meski sudah keluar kamar. Dan benar saja Jarrel kembali lagi, tetapi tidak berbicara, ia menatap tajam pada Jiya kemudian menutup pintu kamar Jiya dengan keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments