08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah

📚................♡✿

Berbeda dengan Naina. Segalanya berbeda. Tak ada obrolan basa-basi santai tetapi justru itu yang ingin Naina rasakan. Ayahnya selalu pulang malam nyaris sering tak pernah kembali ke rumah, sehebat itu mementingkan posisi pekerjaan melebihi keluarganya sendiri. Iya, Naina tidak bodoh. Jelas ia paham betul ayahnya bekerja keras nyaris seperti robot tak kenal diam pun lelah, itu juga untuk hidupnya yang layak seperti saat ini. Naina berterimakasih. Tapi, bolehkah meminta waktu untuk mengobrol bersama dengan ayahnya? Seperti dulu yang sering dilakukan. Sudah-sudah, kalau untuk ayahnya, Naina masih bisa memaklumi, pekerjaannya memang sibuk selalu. Tetapi, jika bicara tentang ibunya, bagaimana? Hampir tiap hari di rumah dengan ibunya. Tapi, kenapa tetap tidak bisa merasakan rasa kekeluargaan? Setengah hari tak pernah ada obrolan santai antara ibu dan anak. Tidak sedang men-dramatis situasi. Didengar seolah sangatlah memprihatinkan, tapi kalau jujur, memang jawabannya seperti itu. Iya, memang ibunya memberi pertanyaan amatlah sering. Tetapi, seringnya itu begitu membosankan rungu Naina. Benar-benar harus menghela nafas teramat dalam.

Naina bosan. Setiap ia pulang sekolah, ketika ibunya di rumah pastilah langsung dicecar dengan pertanyaan ; ‘Nilai ulangan-mu dapat berapa? 100 kan? Ada PR tidak? Kalau iya cepat di kerjakan langsung. Nanti jangan lupa hagwon, les piano juga. Belajar, jangan main ponsel terus-menerus.’ Memang itu pertanyaan bagus, penting juga sebagai seorang ibu tahu. Tapi, bukankah lebih bagus lagi kalau pertanyaannya seperti ini ; 'Hari ini ada cerita apa? Coba ceritakan, ibu ingin tahu apa saja yang anak ibu lakukan di sekolahnya.' Bukankah itu lebih terdengar peduli sekali terhadap anak kandungnya?

Naina benar-benar lelah. Sialnya lelahnya ini sedang menimpa rungu-nya. Kebosanan mengalir deras di lubang telinga merambat ke dalam dengan penuh paksaan hati.

"Tadi, ibu lihat ada kertas biodata. Itu apa? ibu hanya melihatnya sekilas tadi." katanya memulai pembicaraan serius.

Naina berhenti dari kegiatan makannya. Menatap ibunya gugup. Sebab kertas yang berisi biodata diatas meja belajarnya itu persis seperti kertas penuh coretan sebelum Akira merobeknya kemarin. Ahyun sempat bingung lagi, jadi salah jawab. “Itu, disuruh mengisi biodata lengkap. Dari Radika ssaem."

"Apa saja pertanyaannya?"

"Kan, benar-benar kepo maksimal ibuku. Kenapa tidak lihat sendiri saja sih. Eh, tapi jangan. Bisa gawat kalau tahu jawabanku penuh coretan begitu." gerutunya dalam hati. Setelah selesai dengan perdebatan dalam batinnya, Naina kembali merespon ucapan ibu. "Nama, hobi, cita-cita, universitas pilihan dan jurusan."

"Untuk universitas dan jurusan, kau isi apa?" tanya Erina, ia tengah memancing Naina sebenarnya.

"Sesuai ibu. SNU untuk universitas, dan piano untuk jurusan."

"Tapi, kenapa harus ada coretan menjijikan seperti itu. Kau sebelumnya isi apa?" tanya Erina dengan pelan namun sarat akan determinasi nan tegas.

"Ah, sial ternyata ibu sudah melihatnya. Dasar tukang bohong, katanya tadi cuma lihat sekilas saja, huh." kesalnya dalam hati. Lalu bersuara dengan pelan, “maaf" ucapnya menunduk takut.

"Awas saja kalau kau mengisinya dengan asal. Harus sesuai dengan perkataan ibu. Kau tidak lupa itu, bukan?"

"Iya, ingat jelas kok."

"Cita-cita ganti dengan menjadi pemain piano hebat." terangnya lagi sambil mengusap sekitar mulutnya dengan sapu tangan. Telah selesai makan.

Naina meneguk habis air putih di gelasnya sebelum menjawab. "Apa tidak boleh yang lain?"

"Memangnya kau mau isi dengan apa?" jawabnya sambil menatap Naina dengan tatapan menyelidik.

Huh, rasanya jantung Naina mau copot saja. Tatapan tajamnya menusuk sangat, terlebih nadanya terdengar begitu menakutkan. Ini, ibunya kan? kok, seperti gorila. Seramnya minta ampun. Setan, iya boleh juga. Tapi, ini setannya cantik. Tidak munafik, ibunya ini memang cantik sekali, sayang sikapnya terlalu dingin dan cuek.

"Sesuai kata hatiku. Menjadi penyanyi." jawab Naina dengan nada yang ia usahakan untuk terdengar santai.

Erina tertawa remeh. "Kau sekarang ingin mengikuti kata hatimu yang tidak jelas bisa memberi hidup sukses-mu? Sudah, jangan kebanyakan menggunakan hati. Gunakan saja pikiran logis mu, jadilah solois piano. Kedudukanmu akan dipandang jauh di atas langit, bukan di bawah tanah kotor."

"T—ta."

"Tidak ada penolakan."

Garis hidupnya memang sudah diatur rapi ditangan ibunya. Mau melawan, tapi takut. Ingin menolak, tak enak hati. Sudahlah, memang ini jalan hidup Naina. Selalu dan tetap akan selalu seperti ini. Menjadi anak kelewat bodoh yang begitu patuh terhadap aturan konyol ibunya. Bodoh yah? Iya, memang begitu. Naina sadar diri.

📚................♡✿

06.57 Di depan gerbang sekolah.

"Jam berapa sekarang, Ya!! Dareen Madhava!" teriak Cyra begitu marah. (*ya! \= hei*)

"Yang penting aku sudah disini, kan? Lagipula belum bel masuk juga." jawab pribadi berkulit putih tersebut.

Jari telunjuknya mendorong dahi Dareen ke belakang. "Enak saja bilang begitu. Kita janjian jam berapa?!"

Dareen sedikit terjungkal. "Aissh." Dareen sempat terdiam sesaat, “jam enam." jawabnya berusaha santai dan acuh di saat yang sama.

Cyra berkacak pinggang sebelum menjawab. "Sekarang jam berapa."

Dareen melirik jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. Ia hanya bisa menghela nafas pasrah. Menyadari telat bertemu. "Tadi itu aku menemani Bisma dulu sebentar."

Cyra menatap Dareen sambil mengangkat sebelah alisnya. "Ke warnet?"

"Hanya menemani saja kok."

Dareen dapat merasakan bagaimana jawaban sederhananya tadi mampu membangkitkan emosi Cyra. Manik yang hangat itu mulai berubah dingin, ada api yang akan meledak dengan ekspresi wajah yang sudah sangat mendukungnya.

Cyra mendengus sambil memutar bola matanya malas. "Iya, menemani Bisma bermain PS. Kau jadi lawannya dia." Membuang nafas begitu kasar. "Kau tahu aku sudah menunggumu lama sekali. Tapi kau malah asyik bermain game." Cyra merenggut dengan sebal.

"Aku hanya bermain sebentar, Bisma juga temanku." sanggah Dareen dengan alasan yang jujur, benar adanya seperti itu, tetapi kali ini memang menjadi sebuah kesalahan sebab Dareen sendiri salah melangkah dengan melebihi waktu yang jelas sudah ditetapkan bersama.

"Tapi kenapa kau tidak mengabari-ku sama sekali?" ucap Cyra memelankan suaranya, mencoba memberi kesempatan dari penjelasan Dareen. Padahal sejujurnya emosinya sedang mati-matian ditahan sebaik mungkin.

"Aku lupa." jawab Dareen enteng sekali.

Cyra mengerang pelan. Oh Tuhan, bagaimana tadi dirinya bersikap tenang, bertanya dengan lembut, tetapi yang didapat berbanding terbalik. Melunak dengan sabar, berimbas mengesalkan. Emosinya memuncak kembali. Bagaimana bisa wajah tampan itu kini datar tanpa ada seberkas perasaan bersalah atau minimal memelas sebab tahu salah. Malah membalas begitu santai tidak tahu malu.

"Iya, kau memang selalu melupakanku." pekik Cyra tersulut emosi tidak terkira.

"Astaga, kenapa kau mempermasalahkan hal sepele seperti ini sih." Dareen berdecak kecil. "Intinya kan aku sudah disini. Di depanmu. Denganmu."

"YA!!" pekik Cyra memicingkan matanya.

"Ya!! Kalian bertengkar lagi? Astaga." Naina menepuk jidat begitu sampai pada pemandangan dimana dua temannya ini berkelahi di pagi hari di depan gerbang sekolah. Memalukan sekali.

"Naina, marahi dia." Cyra menginjak-injakan kakinya acak. "Cepat marahi." gerutunya pelan.

"Sekarang kenapa lagi?" tanya lembut Naina menatap Dareen di sampingnya.

"Hanya telat sebentar, Naina.” lirih Dareen pelan, sedikit raut memelas.

"Kurang ajar! Kemari kau!!" teriak Cyra langsung menarik-narik baju Dareen brutal. Sudah tidak bisa menahan diri untuk bersikap santai lagi.

"Jangan berkelahi, Ya Tuhan." Naina berusaha melerai sebelum Cyra semakin membabi buta, pun dengan Dareen yang mulai akan kesal juga.

📚................♡✿

"Kau kenapa?" tanya Licia memecah keheningan yang melanda suram.

"Naina, jelaskan." Cyra mengerucutkan bibirnya cemberut sebal. Masih kesal.

''Biasa, pertengkaran rumah tangga." Naina menghela nafas. "Tarik-tarikan baju di gerbang depan. Aku sampai lelah memisahkannya."

"Kenapa tidak buka-bukaan baju sekalian saja sih, kan lebih seru." usul Jiya yang langsung menerima pukulan keras dari Cyra. "Ya kau sendiri kenapa juga bertengkar. Katanya rindu setengah mati, sudah bertemu malah berkelahi. Aneh." Cyra hanya bisa cemberut masam.

"Hei, noona-noona kesayanganku." teriak pribadi bergigi kelinci itu di depan pintu kelas. Melambaikan tangan dengan seru. (*noona \= kakak perempuan*)

"Jarrel!!" teriak Cyra histeris, langsung berlari menghampiri Jarrel. Pun ia membantu Jarrel berjalan masuk ke kelas.

"Wah, bunny-nya aku akhirnya datang juga." ucap Jiya yang dibalas senyuman manis oleh Jarrel Denanjaya

"Perbannya kurang banyak, Rel." ucap Cyra sambil tertawa kecil. Bercanda klasik.

Jarrel mendaratkan bokongnya di kursi depan meja Naina. Duduknya pelan-pelan sebab masih susah karena kakinya belum sembuh. "Iya, harusnya sampai menutupi dua kakiku yah."

"Sudah sembuh?" tanya Naina.

"Ya seperti ini." Jarrel menunjukkan kaki kirinya yang terselimuti kain perban.

Lima hari sebelum liburan menyaring berangkat, ada hal pahit yang harus dialami Jarrel. Ia jatuh dari tangga dirumahnya. Anaknya memang suka sekali menuruni tangga melompat tidak sabar, dua pijakan ia lewati langsung menuju tangga dibawahnya, gaya-gaya seperti itu kebiasaannya. Tetapi, apesnya tengah berpijar pada tubuh semampai-nya. Tidak seimbang, tergelincir hebat, lalu dengan cepat merosot jatuh sampai lantai terbawah. Harusnya masih memijak tiga tangga lagi, tapi kakinya tiba-tiba ambruk seketika. Langsung dibawa rumah sakit, syukurlah tidak parah. Hanya butuh istirahat beberapa hari.

"Harusnya jangan berangkat dulu, pasti itu masih sakit sekali, kan?" ucap Naina terlihat sedikit khawatir, meringis kecil sebab ngilu melihat kaki Jarrel terbungkus rapat oleh perban.

Jarrel memanyunkan bibirnya manja. "Habisnya rindu sekali Naina noona."

Naina terkekeh pelan. Ia rapikan helaian rambut berantakan yang menutupi Jarrel-nya. "Sedang sakit saja masih bisa menggombal ya."

''Hehe." Jarrel nyengir sampai sekitar mata ikut berkerut pun dengan gigi kelinci yang terlihat jelas begitu gemas.

"Jadi, kau tidak rindu denganku? Hanya dengan Naina saja begitu? Oke oke." gerutu Cyra dengan nada sedikit cemburu.

Jarrel tertawa kecil. "Rindu semuanya kok, noona-nya aku tersayang."

Cyra lantas mencubit lengan Jarrel geram. "Sudah ku peringatkan padamu, jangan panggil kita noona-mu, kita ini seumuran. Menyebalkan sekali."

"Iya umurnya sama, tapi kan aku yang paling muda." jawab Jarrel tetap dalam pendiriannya yang masuk akal.

"Tetap saja tidak suka dipanggil noona." balas Cyra tidak mau kalah.

"Mulai sekarang tidak ada noona-noona tersayang mu lagi." ucap Licia ikut menolak telak apa yang Jarrel mau.

Jiya yang sedang mengemil keripik kentang, berhenti sejenak. Ikut menyuarakan yang ia setujui. "Iya, panggil nama saja jauh lebih enak di dengarnya."

Jarrel melirik Naina. Meminta pendapat. "Bagaimana, noona?"

Naina mengendikan bahunya. "Terserah kau saja." Jarrel langsung tersenyum senang, tetapi Naina bersuara kembali. "Tapi, akan lebih baik panggil nama saja. Biar rasa pertemanan lebih terasa adanya."

Jarrel mengerucutkan bibirnya penuh sebal, tapi terlihat imut. "Oke,oke. Aku duduk denganmu ya, Na."

"Kau dengan Harsa saja ya, aku bersama Akira sekarang." jawab Naina pelan.

"Siapa? Siswa baru?" bisik Jarrel, yang dibalas anggukan oleh Naina.

"Kenalan coba, Rel.” ucap Cyra.

Jarrel santai saja, tidak masalah berkenalan. Siapa tahu akan menjadi akrab. "Hai, aku Jarrel Denanjaya. Kau bisa memanggilku Jarrel.” tangannya terulur kepada Akira.

“Akira Pramudya." tangannya terulur juga, menerima pun menggenggam sebentar.

Dinginnya Akira keluar lagi. Harap memaklumi ya, Jarrel. Akira dan Jarrel berjabat tangan. Tetapi hanya sampai hitungan ketiga saja, terlampau singkat. Itu karena Akira yang buru-buru menurunkan tangannya.

Episodes
1 01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2 02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3 03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4 04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5 05. 9-TEEN part 5 : animo
6 06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7 07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8 08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9 09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10 10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11 11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12 12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13 13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14 14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15 15. 9-TEEN part 15 : aneh
16 16. 9-TEEN part 16 : berdua
17 17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18 18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19 19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20 20. 9-TEEN part 20 : runyam
21 21. 9-TEEN part 21 : kembali
22 22. 9-TEEN part 22 : berharap
23 23. 9-TEEN part 23 : akhir
24 24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25 25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26 26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27 27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28 28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29 29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30 30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31 31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32 32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33 33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34 34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35 35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36 36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37 37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38 38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39 39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40 40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41 41. 9-TEEN : part 41 : keluarga
Episodes

Updated 41 Episodes

1
01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2
02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3
03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4
04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5
05. 9-TEEN part 5 : animo
6
06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7
07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8
08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9
09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10
10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11
11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12
12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13
13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14
14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15
15. 9-TEEN part 15 : aneh
16
16. 9-TEEN part 16 : berdua
17
17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18
18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19
19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20
20. 9-TEEN part 20 : runyam
21
21. 9-TEEN part 21 : kembali
22
22. 9-TEEN part 22 : berharap
23
23. 9-TEEN part 23 : akhir
24
24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25
25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26
26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27
27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28
28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29
29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30
30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31
31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32
32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33
33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34
34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35
35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36
36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37
37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38
38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39
39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40
40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41
41. 9-TEEN : part 41 : keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!