Enam jam full dengan materi pembelajaran matematika. Terikat pada perhitungan, pikiran harus jalan dengan benar. Memaksa fokus demi kebenaran jawaban atas soal-soal susah yang diberikan. Melelahkan. Mata dan telinga harus serius tak boleh lengah sedikitpun. Menatap seksama, mendengarkan intens. Neraka berkobar panas. Hingga, surga datang menghampiri. Helaan nafas lelah terdengar hebat. Sumringah kembali hadir. Bunyian bel menyelamatkan seluruh anak kelas tiga-satu. Telah berakhir masa penjajahan matematika. Waktunya istirahat tenang, menyantap makanan di kantin. Senangnya.
"Gila, aku benar-benar sudah gila. Stres. Astaga, apa mereka kini menjadikan kita seperti robot? Bagaimana bisa pelajaran matematika yang paling aku benci malah sampai enam jam lebih durasi belajarnya. Mereka sudah tidak punya akal." Cyra mendesah frustasi.
"Apa yang kita benci selalu berada disisi kita lebih lama. Memuakkan." kata Licia menyuarakan juga yang memberi rasa sebal pada dirinya.
"Dulu, kupikir matematika yang paling aku benci. Tapi, sekarang. Semua pelajaran tidak ada yang kusukai satupun. Mereka memberi durasi pelajaran di setiap mapel sangat lama. Membuat bosan." Jiya mengoceh ketidaksukaannya. "Aku benar-benar ingin cepat lulus. Kemudian, akan bekerja dan mendapat uang banyak."
"Uang saja yang kau pikirkan." Jarrel berdecak pada Jiya.
"Kenapa, tidak suka?!" sinis Jiya
"Suka kok, suka sekali malahan." jawab Jarrel dengan nada menjadi lembut.
"Suka apanya?" tanya Jiya penasaran.
Jarrel menoleh bingung pada Jiya. Dia mengatakan jelas apa yang ia pikirkan. "Suka uangnya lah, memang apalagi? Bukankah kita sedang membicarakan tentang uang??"
"Seharusnya kau membalas dengan menyukaiku. Suka Jiya. Harusnya seperti itu. Tidak seru sekali. Membosankan jadi anak." gerutu Jiya.
Jarrel terkekeh kecil. "Ya sudah, ayo ulangi lagi dari awal."
"Sudah basi." dingin Jiya.
Cyra hanya bisa menghela nafas sabar. "Ya Tuhan situasi apalagi ini."
"Jiya, kau sepertinya benar-benar harus segera mencari pacar. Jika kau memilikinya, kau akan mendapat gombalan setiap saat sesuai yang kau inginkan. Jadi, Jungkook tidak selalu kena marah darimu." kini Harsa angkat bicara.
Jiya tersenyum manis. "Harsa, aku sudah punya pacar ya, jangan salah."
"Jinja?!" kata Harsa matanya melebar. (*benarkah?!*)
"Iya. Kenapa juga harus bohong." balas Jiya sekenanya.
"Anak mana?" tanya Harsa lagi.
"Anak Bighit."
Jarrel, Cyra dan Licia menghela nafas bersama karena lelah minta ampun. Telinganya memekik sempurna dengan jelas sebab tak ingin mendengar kalimat selanjutnya. Sampai sini saja mereka bertiga hafal kemana jawaban akan berlabuh, terlilit status hubungan dengan khayalan tinggi semata.
"Ah, aku tidak tahu. Siapa namanya?" Harsa dengan segala penasarannya.
"JR."
"Hah?!"
Jiya tertawa keras. Lucu sekali melihat ekspresi bingungnya Harsa. "Itu singkatannya. Versi lengkapnya tanya saja ke Jarrel, dia tahu sekali. Bukan begitu, Jarrel Denanjaya.”
Jarrel pura-pura melemas, membungkuk punggungnya sampai benar-benar bawah. Indra penglihatannya sulit membuka. Menghindar pasti tatapan Jiya yang kini pasti sedang dingin memaksa untuk direspon perintahnya. Ah, tunggu Jiya sedang tertawa tapi tetap dengan mengintimidasi nyalang.
"Kau tahu, Rel? Kau tahu Jiya sudah punya pacar, dan kau tahu siapa namanya? Beritahu aku." Harsa menekan dengan nada menuntut.
"Jarrel Denanjaya." jawab Jungkook malas.
Harsa terkekeh. "Haha, Rel. Please jangan terus mengklaim namamu sebagai pacarnya Jiya."
"Siapa juga sih. Aku serius menjawab, memang iya namanya Jarrel Denanjaya. Persis seperti namaku." kata Jarrel acuh tak acuh. Terpaksa meladeni.
"Benar begitu, Ji?" Harsa menatap Jiya meminta kejelasan.
"Iya, tapi hanya namanya saja. Yang lain beda jauh. Lebih tampan banyak-banyak Jarrel Denanjaya pacarku." jawab Jiya setelah menelan sebagian besar makanan, dia memasukannya ke dalam mulutnya beberapa detik yang lalu.
"Oke, awas saja kalau nanti kau berakhirnya bersamaku. Jarrel Denanjaya yang tampan, tapi tidak lebih tampan dari Jarrel Denanjaya pacarmu. Itu katamu, tapi aku tidak setuju. Karena menurutku, aku lebih tampan dari Jarrel. Jarrel yang ini berkali lipat lebih tampan dari pada Jarrel yang itu.” Jarrel mengoceh cepat tanpa ada jeda.
"Apa yang kau bicarakan sih, Rel.” Licia berkomentar.
Jarrel mengangkat bahu. "Entahlah, aku sendiri saja pusing. Tetapi, yang terpenting Jiya paham kalimatku tadi."
"Tidak, aku tidak paham tuh, sorry." Nadanya mengejek tenang.
"Mengeles saja. Kau itu serius paham. Awas saja nanti kalau berakhirnya denganku, Jiya Skyla Paris." kata Jarrel dengan nadanya memperingati.
"Tidak akan berkahir denganmu, Jarrel Denanjaya.” ketus Jiya. Yakin sekali atas jawabannya.
"Oke ka—."
"Eh, habis ini pelajaran apa? Aku mendadak lupa." Cyra dengan sengaja menyerobot Jarrel berbicara, iya Cyra sudah lelah berada di situasi banyak drama. Cukup dengan drama korea saja yang bikin pusing, dunia nyata jangan sampai, santai saja mengalir tanpa banyak skenario berlebih dimasukkan.
"Pelajaran fisika." jawab Licia.
Cyra yang sedang meneguk minumannya sampai tersedak. Setelah ia berhenti batuk. Cyra langsung berteriak tidak tahu malu. "Demi apa?! Baru saja pusing karena matematika. Setelah ini akan pusing kembali dengan Fisika. Kalau begini, aku bisa mati cepat."
"Hei, belum jelas akunya. Masih penasaran tentang pacarnya Jiya. Jadi, kau sudah berapa lama menjalin hubungannya? Sekali-kali bolehlah ajak pacarmu kesini. Aku ingin lihat seberapa tampannya pacarmu itu." Harsa bersuara, menumpahkan lagi rasa penasaran yang masih menggerogoti isi pikirannya.
Cyra memijit pelipisnya, merasa kepalanya berdenyut kencang. Tidak tahu lagi kenapa teman-temannya ini memiliki karakter diluar batas kewajaran. "Astaga, Harsa Ravindiar.”
"Yak! Harsa.” Licia ikut emosi.
"Harsa harsa…” kata Jarrel sambil kepalanya menggeleng lelah.
Harsa mengerutkan keningnya tidak paham. "Kenapa kalian meneriaki diriku."
Jiya terkekeh kecil. "Kau lucu, Harsa.”
Harsa jadi senyum-senyum malu. "Ah, terimakasih." menggulung bibirnya imut. "Eh, tapi lucu ku dimana yah? Perasaan sejak tadi aku sedang tidak melawak." gumam Harsa bingung lagi.
📚................♡✿
Jarang membaur bersama teman-temannya. Seringnya di kelas, dari pada ke kantin untuk makan. Tapi, Naina punya alasan jelas. Pribadinya itu memilih tidur dikelas. Hanya dengan menumpu kepalanya di atas meja, Naina merasa cukup. Belajar hingga nyaris pagi hari, itu yang membuatnya sering mengantuk.
Berjalan dengan kedua tangan dimasukkan sempurna ke dalam saku celana. Rambutnya lepek mengalun bawah, menutupi dahi paripurna, itu karena habis membasuh wajahnya—terkena air jadinya. Meskipun begitu, anehnya tampan dalam diri Akira Pramudya itu masih ada. Malahan lebih tampan lagi seperti ini. Tak heran, jika kelebihan tampannya itu membuat siapapun yang melihat akan terkagum-kagum memandanginya sampai benar Akira pergi hilang dari jangkauan mata mereka. Kembali ke kelas. Diambang pintu, Akira berhenti cukup lama. Kemudian, ia lanjut melangkah. Menghampiri pasti pada kursi duduknya.
Tetapi, Akira tidak ke tempat duduknya, melewatinya sengaja. Berjalan dengan pasti, lalu berhenti ketika bersemayam telah tertuju di depan mata. Akira menatap jendela, matahari menyinari terang hingga masuk ke dalam ruangan. Terasa menganggu pribadi yang tengah tertidur pulas di atas meja itu. Nalurinya mengalir deras ke dalam lubuk hati paling dalam. Serasa sedang dibawa ke alam bawah sadar. Melakukan sesuatu diluar dugaan. Satu tangannya terulur mendekat ke arah depan wajah Naina yang kini tengah tertidur pulas. Rupanya Akira tengah menutupi cahaya agar tak menganggu tidurnya Naina.
"Cantik."
Satu kata melambangkan beribu jawaban. Pribadinya itu entah sengaja pun tidaknya berkata demikian dengan serius menatap Naina. Yang pasti, Akira menarik kedua sudut bibirnya ke samping, terulas sedikit senyum dibibir seksinya itu. Tangannya tetap setia berpijak di depan persis wajah Naina.
📚................♡✿
Kalau yang pertama gagal, lebih spesifiknya tak diizinkan untuk bertamu ke rumahnya karena pergi untuk sesuatu yang penting. Maka kedua kalinya berinisiatif bertamu dalam tinggalnya, tak memberitahu untuk yang kali ini. Sengaja, memang. Hitung-hitung memberinya kejutan. Semoga saja suka.
"Jiyaaaaaa.”
Hening.
"Jiya skyla parissss.”
Bisa membayangkan pun memperkirakan pasti bagaimana bayi kelinci yang manis sedang memanggil-manggil nama Jiya beberapa kali. Sudahlah pasti teramat lucu sekali. Aksen nadanya melenggak-lenggok dengan mengayun lembut, memberikan sentuhan imut di setiap baris per katanya. Bercengkok seperti dangdut.
"Jiya skyla... Jiya… Jiyaaa… Jiyaaa.”
Ketiga kalinya sudah tetapi masih nihil hasilnya. Jarrel jadi kesal sendiri. Jarrel tahu sekali kalau Jiya pasti di rumah. Kalau hening seperti rumah hantu begini, Jarrel yakin Jiya sedang tidur pulas di kamarnya.
Jarrel berjanji ini akan menjadi yang terakhir. Keempat untuk penyelesaian semuanya. Kalau tidak berhasil, maka Jarrel akan pulang saja. Tangannya mengetuk-etuk pintu depan rumah Jiya. Diketuk sampai ada lima kali lebih. Tetapi, sama. Masih belum keluar juga pribadi Jiya itu.
"Jiya noona!!"
Wah, sepertinya memang harus berjanji dengan segenap hati tulus berserah diri dengan apa yang terjadi dulu. Memohon terakhir kalinya berhasil. Mati-matian memanggil dengan nada di manis-manis kan, imut seperti bayi. Tapi, tidak berhasil. Sekarang, berteriak sambil menambah kata ‘noona’ malah berhasil.
Membuka pintu dengan brutalnya karuan. Tepat digaris depan pintu, Jiya langsung menggetok kepala Jarrel dengan spatula yang berada ditangan kanannya. Tentu saja, bayi kecil meringis kesakitan. Tetapi, Jiya masa bodoh saja.
"YAK!!!"
"Kau ini kenapa. Sakit sekali tahu." Jarrel merengek mengadu kesakitan.
"Ya Tuhan, berapa kali lagi harus kubilang, jangan panggil aku noona. Umur kita sama, Rel.” Jiya menghela nafas, menatap Jarrel dengan mata lebar.
"Tapi kau lahir bulan Maret dan aku September. Lebih tua enam bulan, tidak sopan kalau hanya panggil dengan nama saja." rengek Jarrel.
"Masa bodoh."
"Aneh."
Hanya Jiya. Iya, hanya Jiya yang anehnya teramat sekali. Jarrel sempat beberapa kali pergi ke dukun peramal, meminta untuk mengetahui isi kepala Jiya—cara ia berfikir nya. Ternyata, memang super acak-acakan. Seperti, yang harusnya begini, tetapi Jiya begitu dengan pemahamannya sendiri. Hampir tiga tahun berteman dengan Jiya. Pribadinya itu memang agak aneh. Iya, Jarrel pikir mungkin efek dari Jiya yang menggilai K-Pop. Suka kelewatan jauh berfikirnya. Apalagi kalau sudah halu. Jarrel menyerah. Teramat tinggi berandai-andai nya membuat telinga malas mendengarkan. Enam bulan jarak usianya. Harusnya merasa dihormati itu suka, tetapi Jiya malah marah-marah kalau Jarrel memanggil Jiya dengan menambah kata noona diakhir kalimatnya. Memang benar umurnya sama, tapi tetap berbeda kalau bulan lahirnya berjarak jauh. Merasa tidak sopan. Meskipun mereka saling berteman.
"Kenapa kemari." judes Jiya.
"Lebih lembut lagi bisa tidak sih, Ji. Dingin sekali seperti siswa baru." gerutu Jarrel begitu saja. Jiya bisa menebak, pasti yang dimaksud adalah Akira.
"Jarrell mau apa kemari? Ingin meminta dibelikan es krim, yah? Tapi, aku sedang tidak punya uang. Kesini lagi kalau aku sudah sukses saja ya. Oke oke." Jiya menatapnya dengan mata anak anjing.
Lucu. Dipaksakan manis, tapi memang manis juga. Jarrwl tersenyum tipis saja. "Bukan, akunya ingin makan. Lapar."
Jiya berdecak. "Dasar, ayo masuk. Kebetulan aku sedang masak ramyeon."
Pun Jarrel menurut senang dibolehkan masuk ke rumah Jiya. Sebenarnya sih, Jarrel tidak ingin meminta makanan, ya bayangkan saja memang Jarrel se-miskin itu harus mati-matian ke rumah teman hanya untuk menumpang makan? Jarrel anak sultan mohon maaf. Jarrel sengaja saja bilang seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments