📚................♡✿
Ramyeon telah matang. Jiya mengambil kain untuk menghindari panasnya panci saat membawanya. Dengan hati-hati Jiya membawa panci berisi ramyeon ke atas meja makan. Menyiapkan dua mangkuk sedang, dua pasang sumpit serta mengambil kimchi yang telah ia buat sebelum memasak ramyeon tadi.
"Rel, apa kau telah menjadi patung?" tanya Jiya saat melihat Jarrel duduk terdiam di kursi.
Lantas Jarrel menatap Jiya tidak suka. "Apa maksudmu."
Jiya duduk. Berhadapan dengan Jarrel. Sejak tadi Jarrel sudah duduk dan sama-sekali tak berbicara apapun, membantu Jiya memasak ramyeon pun tidak, hanya memandangi dirinya yang sedang memasak saja. Tamu yang tidak sopan.
"Seseorang membutuhkan bantuan, sama sekali tidak kau bantu." cibirnya penuh sebal.
"Dari yang kulihat, seseorang itu mampu sendiri. Sudah diselesaikan semuanya. Apa masih butuh bantuan? Sepertinya tidak." jawab Jarrel menyandarkan tubuhnya di kursi kayu.
"Memang mampu, tapi seharusnya kau peka. Sadar diri untuk membantu. Tamu macam apa begitu." decak Jiya.
"Tamu adalah raja, Ji." balas Jarrel.
"Tuan rumah adalah ratunya, Rel.”
"Salah. Kau adalah pelayan untuk orang yang bertamu ke rumahmu." Jarrel menyahut lagi.
"Kalau begitu kau juga pengawal untuk orang yang kau singgahi. Membantu pelayan untuk menyiapkan makanan untuk raja dan ratu." jawab Jiya tidak mau kalah.
Jarrel menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Tidak-tidak. Mana ada begitu. Tamu adalah raja, tidak bisa menjadi pengawal. Apalagi harus membantu, sama sekali salah. Selalu, raja itu hanya diam memperhatikan dan menunggu sajian sempurna untuknya."
"Terserah. Memang tidak tahu diri." Jiya mendengus, bersedekap dada.
"Lah, ngambek Ji?"
"Tidak." jawab Jiya, jengkel.
"Ya sudah aku mau makan saja." kata Jarrel, menarik mangkuknya lebih dekat dengannya.
Kepalanya sedikit dimiringkan, ia jatuhkan ke tangan yang menekuk di atas meja. "Tapi, seriusan. Kau kemari hanya untuk menumpang makan saja?”
Jarrel benar-benar tertawa dengan itu. "Kau lupa, aku anak sultan yah."
Jiya memutar bola matanya. "Lalu, tujuanmu sebenarnya itu apa."
Jiya mengambil beberapa mie ke dalam mangkuk. Lalu, membawa sedikit mie dalam sumpitnya, dimasukkan ke dalam mulutnya. Jika sudah, Jiya langsung mengambil kimchi, menyumpitnya lalu dimasukan ke dalam mulut juga. Mie dan kimchi bersatu dalam mulutnya. Mengunyah lamat-lamat. Nikmat sekali.
Satu tangannya memegang sumpit. Sementara, satu tangannya lagi memegang tutup panci. Mengambil mie dari panci, lalu meletakkannya sebentar—tiga detik saja. Setelah itu, menyeruputnya cepat-cepat, hingga membuat suara seruputan yang sangat menggoda lidah untuk mencicipinya banyak-banyak. Setelah itu, baru Jarrel bersuara.
"Mengambil buku, apalagi?"
"Hanya itu?" tanya Jiya.
"Kau ingin minta lebih dari hanya sekedar mengambil buku, begitu?" kata Jarrel menyeringai jahil.
Benar Jarrel. Perkataan Jiya terdengar sekali dirinya ingin minta lebih dari alasan Jarrel kemari. Seperti tidak suka kalau kesini hanya untuk mengambil buku saja, kalau benar begitu berarti Jiya juga menunggu kedatangan Jarrel kemari untuk bertemu dengannya?
"Tidak. Hanya aneh saja, jauh-jauh kemari cuma ingin ambil buku. Nanti bensin-mu cepat habis." balas Jiya dengan alibinya.
Ooh... jadi Jiya memperhatikan sangat bensinnya. Bukan karena ada maksud lain—meminta lebih dari itu yang indah-indah. Tapi, hanya sekedar peduli pada bensin Jarrel saja.
Jarrel tertawa kecil. Lucu yah, tapi aneh juga. Ingat, Jarrel pernah bilang kalau cara berfikir-nya Jiya agak melenceng dari kenormalan wajar. Ini misalnya, mementingkan bensin dari pada Jarrel-nya, padahal ia sangat lelah habis menyetir mobil berkilo-kilo meter sendirian—si supir sedang cuti.
"Tenang saja. Kalau habis tinggal beli saja, gampang. Anak sultan."
"Hii, dasar tukang sombong." Jiya mencibir.
"Hahaha. Bercanda." Jarrel tertawa lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih berbaris rapi.
"Lebar sekali ketawanya ya." Ledeknya.
Mengobrol sambil makan ramyeon. Walaupun begitu, keduanya mematuhi aturan baik kok. Mengobrolnya kalau makanan sudah tertelan habis ke saluran menuju perut. Satu dua kali saja lupa, masih mengunyah banyak-banyak ramyeon tetapi sambil mengobrol juga. Obrolan selesai pun makanan habis. Mengesankan.
"Aku ambil bukunya ya, ada di kamarmu, kan?" tanya Jarrel, kemudian berdiri.
Tangannya sibuk. Mangkuknya ia taruh ke dalam panci kosong, semua yang kotor dijadikan dalam satu tempat. "Iya. Di atas meja rias, ambil semuanya saja. Sudah ku pisahkan untukmu."
Jarrel masih berdiri. Kedua tangannya di atas meja, sedikit membungkuk. Kali ini, gairahnya tergugah. Seru. "Serius? Wah, ternyata benar-benar menyiapkan seluruhnya, yah? Mulai dari ramyeon lalu buku. Tahu aku akan kesini, menunggu kehadiranku, jadi sambutan pun harus sempurna. Terimakasih Jiya.” Jarrel tersenyum manis.
Jiya memutar bola matanya jengah. "Terserah kau saja deh, aku sudah lelah berdebat terus denganmu."
Jarrel menunjuk-nunjuk Jiya dengan jari telunjuknya terarah fokus. "Itu—itu! Aku sama. Lelah sekali kalau kau sedang ingin aku merayu-mu, tapi aku tidak tahu. Lalu kau memarahiku, menyalahkanku."
Jarrel diabaikan. Jiya berdiri, mengambil piring-piring kotor dan meletakkannya di wastafel. Memakai sarung tangan dan mulai mencuci piring. Disisi lain Jarrel geram—ingin marah. Tapi, tidak dilampiaskan juga akhirnya. Membiarkan seperti ini. Kemudian, Jarrel pergi—menuju kamar Jiya.
📚................♡✿
Setelah jam pelajaran berakhir total. Naina tidur lagi, melanjutkan tidur yang sempat terganggu karena teman-temannya datang lebih cepat ke kelas—saat istirahat kedua tadi. Naina belum puas, masih mengantuk. Jadi, ia menumpu kepalanya lagi pada kedua tangan yang terlipat rapi di atas meja. Naina menyadari betul. Tidak ada mimpi indah sama sekali, seperti hanya sekedar matanya tertutup saja. Namun, ketika bangun langit telah berganti warna. Pun lampu kelas mati, tidak terang lagi, tapi sudah gelap gulita. Kenyataan yang mengagetkan. Tetapi, kagetnya ia karena tidak menyangka tidur sampai petang—itu bukanlah akhir. Ada kenyataan teramat kaget yang Naina tidak menyangka itu terjadi. Ketika membuka mata, pandangan depan adalah Akira yang tengah tertidur di sebelahnya—satu meja—terpisah kursi.
Naina menatap Akira. Sedang tidur pun masih saja tampan. Ketenangan diwajahnya sangat mempesona. Nyaman dipandang untuk waktu yang lama. Bagaimana ya mendeskripsikannya, intinya Akira lebih-lebih tampan lagi kalau sedang tertidur.
"Sudah bangun?"
Akira membuka mata—menatap Naina. Berucap dengan nada lirih—masih lemas, habis tidur. Yang ditanya sedang mati-matian mengontrol reaksi keterkejutan. Sungguh, Naina malu sekali. Sedang menatap serius Akira, yang ditatap terbangun. Melihat semuanya. Tolong, Naina ingin menghilang saat ini juga.
Untuk menenangkan diri, Naina membuang muka—menatap objek lain—bukan Akira lagi. Buru-buru ia duduk dengan tegap. Merapikan rambut yang sedikit berantakan. Naina kembali tenang. Mencoba memberi respon atas pertanyaan Akira barusan.
"Eoh, ya." Ternyata tidak segampang itu. Lidahnya masih terlilit malu. Keraguan berucap menjadi faktor gagapnya kata keluar dari bibir Naina.
Dalam hati, Akira berucap kalau Naina manis. Lucu. Manis dan lucu diwaktu bersamaan. Lalu, Akira mengikuti Ahyun—duduk kembali dengan tegap. Mengalihkan wajah ke samping kanan, mengelap area mulut—takut ada air liurnya. Kalau benar adanya, Akira malu sekali. Tapi, untungnya tidak ada.
"Kau belum pulang?"
"Sudah, ini mau mandi. Kau jangan mengintip ya." jawab Akira dengan santai.
Apa Naina salah menggiring pertanyaan? Iya, mungkin begitu. Sudah tahu Akira berada dikelas, berarti ia belum pulang. Kenapa malah ditanyakan? Dan Akira juga kenapa harus dijawab dengan kalimat gilanya. Melenceng dari masuk akal. Malah menggoda jadi berkeliaran ke mana-mana pikiran Naina.
"Kenapa?" tanya Naina.
"Tentu saja tidak boleh. Dosa. Tapi, kalau ingin melihat, akan ku persilahkan dengan senang hati." kata Akira menggoyangkan alisnya jahil.
Naina mengerutkan keningnya. "Kira, kau sedang berbicara apa?"
"Kau—tanya kenapa. Tentang mengintip saat aku sedang mandi, kan?"
Begitu saja, setenang pun sedatar mimik wajah memberi ulasan gagasan tanpa mengulas kegundahan dalam dirinya terhadap penuturan barusan. Malah, menatap yang di depan dengan tatapan anak balita—polos.
Naina sukses terkekeh. Awalnya, kaget. Namun, ia sadar kalau Akira memang begitu. Sekarang, ia sudah mengerti jelas bagaimana kepribadian dalam diri Akira yang semakin hari semakin jelas kelihatan anehnya. Dan sekarang Naina semakin hari semakin terbiasa, mungkin juga menerima senang hati.
"Kau itu terlalu polos atau terlalu gila."
Akira mengangkat bahu. "Terlalu polos, mungkin?"
"Ah, dan aku yang terlalu gila meladeni kepolosannya dirimu itu." kata Naina.
Akira sukses melampirkan selarik tawa lirih hingga membentuk sekotak persegi berlabuh mendarat di bibir pualam miliknya. Akira jadi merasa sedikit rasa bersalah, iya akan dirinya yang terlalu tidak tahu diri meracuni pikiran polos gadis semampai manis ini, pasti tertular sudah anehnya.
"Dan aku terlalu bodoh membuatmu menjadi gila seperti ini."
Naina mengangguk. "Iya, memang seperti itu. Kau harus mengembalikan diriku yang semula kembali. Utuh dengan bersihnya yang suci."
Tawa meledak menguasai ruangan ini. Beruntung, tidak kedap suara. Kalau iya, tidak menjamin lagi bahwa Naina mati karena terlalu terusik parah telinganya terpancar sengit suara tawa Akira. Hei, sepuitis itukah dalam pribadi gadis itu? Bersihnya yang suci. Terlalu ektrim dibawa dalam perbincangan ini.
Beruntung sekali memang hidupnya. Akira berteman dekat dengan Kak Nam. Jadi, kalimat puitis semenarik mutiara itu bisa di mengerti jelas maksudnya oleh Akira. Ternyata, tidak sia-sia juga dirinya menghabiskan hampir lima belas jam—dua kali seminggu untuk mengantongi bahasa orang cerdas.
"Akan kucoba. Tapi tidak menjamin berhasil sempurna."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments