19. 9-TEEN part 19 : hanya saja

📚................♡✿

Sejarah singkat yang membekas untuk waktu yang lama bagi Naina. Pertama kalinya kebablasan tidur hingga menjelang sore, sialnya berujung terkurung di dalam gedung sekolah hingga petang tiba. Beruntung, ada Akira yang menemaninya. Memberi solusi tenang, sampai bisa keluar dengan selamat.

Pulang-pulang, Naina segera mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, melunturkan segala kobaran api yang masih memanas akibat ketakutan luar biasa karena terjebak lama di gedung sekolah. Sensasi lembut buah pir menyeruak, melekat pada permukaan kulit putihnya itu. Aroma wangi yang menyegarkan. Mandinya terselesaikan dengan segar menenangkan, telah memakai piyama juga. Kini, pribadinya itu mendaratkan bokongnya pada kursi kayu, bersiap untuk belajar hingga tengah malam. Ada PR pun tidaknya Naina tetap akan menyandingkan setumpuk buku guna dipelajari dengan maksimal. Rutinitas selalu untuknya.

Belum sepenuhnya lembaran halaman terbalik dengan sempurna, notifikasi dari persegi pintarnya berbunyi beberapa kali. Maka, bukunya menjadi ditutup rapat-rapat, lebih tertarik untuk membuka ponselnya.

Memang ya, ponselnya itu menjerat sangat-sangat. Mengalahkan keagungan kastanya buku pelajaran.

Naina mengelus lembut layar ponselnya, saat sudah terbuka, ia menarik bagian atas hingga ke bawah, oh ternyata ada pesan pertemanan. Saat membuka foto profilnya, matanya membulat tiba-tiba, di sana terpampang foto Akira. Jantungnya mendadak berdebar. Tampan.

[ Akira Pramudya ]

🐯

"Astaga." Naina terkejut, sampai-sampai ponselnya terlempar ke bawah. Beruntung, jatuhnya ke meja dan masih baik-baik saja. Memungutnya kembali pada genggaman tangannya. Membaca pesan dari Akira. Hanya mengirimi gambar emoticon yang membuat bingung Naina. Sungguh, apa ini, tidak paham.

[ Akira Pramudya ]

🙏✉🐯📱

Akira mengirimi pesan lagi, tapi sama seperti sebelumnya. Bukan dengan kalimat, tetapi emoticon. Lantas Naina membalasnya.

[ Naina Ashaliya ]

🙄

[ Akira Pramudya ]

😂😂😂

[ Naina Ashaliya ]

😪😪

[ Akira Pramudya ]

Tolong simpan Akir dalam ponselmu

^^^            [ Naina Ashaliya ]     ^^^

...                                                             Apa?...

[ Akira Pramudya ]

Emoticon yang ku kirim tadi artinya tertulis itu

[ Naina Ashaliya ]

Ah, nomornya

[ Akira Pramudya ]

Bukan, tapi hatiku

[ Naina Ashaliya ]

Sudah ku simpan

[ Akira Pramudya ]

Hatiku? Dalam hatimu?

Naina terkekeh kecil setelah membaca pesan dari Akira. Ia membalas lagi.

[ Naina Ashaliya ]

Nomor ponselmu, Akira

[ Akira Pramudya ]

Begitu yah

[ Naina Ashaliya ]

Siapa yang memberitahu nomorku?

Iya, Naina sungguh penasaran soal itu sejak awal. Karena, sejujurnya ia tidak suka kalau nomornya disebar tanpa orang itu meminta izin dulu padanya. Nomor itu kan privasi orang, jadi jangan seenak jidatnya disebarluaskan. Tapi, mungkin kali ini termaafkan, karena yang meminta itu Akira. Si tampan.

[ Akira Pramudya ]

Harsa

[ Naina Ashaliya ]

Kenapa meminta?

[ Akira Pramudya ]

Keinginan. Tidak boleh?🙄🙄

[ Naina Ashaliya ]

Boleh

[ Akira Pramudya ]

Sedang apa?

Tinggal berapa mili saja jarinya akan menyentuh kata 'kirim'. Namun, harus terhenti karena suara ibunya yang memanggil-manggil dari balik pintu kamarnya. Naina langsung meletakkan ponselnya di meja, lalu melangkah menuju pintu, ibunya ini tak bisa diabaikan, meski sebentar, tetap akan marah.

Naina membuka pintu kamarnya. "Iya, ibu… Ada apa?"

"Sudah mulai belajar." kata ibunya terus terang.

"Sudah, sedang mempelajari sejarah tentang kerajaan Joseon."

Mungkin sedikit ragu untuk mempercayai, jadi ibunya melangkah sedikit maju, mengintip ke dalam pada sisi meja belajarnya. Senyum terlukis ketika melihat banyaknya buku berserak di segala penjuru persegi luas itu.

"Kamis besok ke panti asuhan, jangan sampai lupa, ingat baik-baik." ucap ibunya mengingatkan. "Ibu sudah menghubungi reporter Via untuk mewawancarai mu selasa besok." sambungnya lagi.

Sudah terbaca kehadirannya mengunjungi kamar Naina. Jelas pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan. Ibunya akan menemui Naina hanya ada dua perihal dianggap paling penting, pertama pasti tentang pembelajaran, entah itu nilai, les, yang kedua pasti terkait penggalangan dana. Naina lelah harus terus menuruti kemauan ibunya. Apalagi tentang donasi ini. Naina sudah muak. "Kenapa selalu diwawancarai dulu, aku tidak suka, itu terlihat seperti ingin pamer saja, Eomma."

"Maksudmu kau ingin tidak ada yang tahu kalau kau, tidak ... Keluarga kita berdonasi ke panti asuhan? Sebagian harta kita, uang kita dibagikan banyak kepada mereka dengan hasil kerja keras keluarga. Kau tahu bukan? Dan apa kau ingin semuanya ini tidak ada yang mengetahuinya?" tanya Erin tenang, tetapi jelas mengintimidasi.

Naina mengangguk pelan. "Bukankah seperti itu akan jauh lebih baik?"

Erina tersenyum angkuh. "Akan jauh lebih baik kalau semua orang tahu. Apa gunanya beramal kalau tidak ada yang tahu satupun."

Naina terdiam beberapa saat—berfikir. "Ada Tuhan. Cukup Tuhan saja yang tahu bagaimana kebaikan kita di Dunia. Orang-orang tak perlu dikasih tahu, cara menangkap kebaikan orang itu berbeda-beda, nanti akan ada kesalahpahaman tertangkap, jelas banyak yang berfikir kita itu hanya pamer pun sombong. Jadi, lebih baik ditutup rapat-rapat saja."

Raut wajah Erina Lin lantas berubah. Agak geram. Bagaimana penuturan Naina begitu ingin dikasih pemahaman dari sudut pandang dirinya. Sisi dari dirinya berbeda dari pemikiran Naina itu.

"Kebaikan itu harus ditularkan, agar mereka bisa termotivasi untuk melakukannya juga. Kenapa juga harus memperdulikan perkataan mereka. Hiduplah dengan terserah sesuai keinginanmu sendiri."

"Iya, dan aku ingin—"

"Kau jadi semakin cerewet saja. Sudah sana lanjutkan belajarnya." ucapnya dengan senonoh, memotong ketika Naina sedang berbicara. Tidak sekalipun mendengarkan sampai akhir bagaimana sudut pandang dari sisi Naina sendiri memiliki begitu banyak kata yang ingin disampaikan agar tidak jadi masalah. Tetapi ibunya sudah pergi dari hadapannya. Menghilang begitu saja.

Naina suka melakukannya. Teramat sangat malahan. Bertemu dengan anak-anak manis yang banyak bikin dirinya terhibur karena tingkahnya yang selalu lucu. Berdonasi untuk panti asuhan sebuah anugerah tersendiri baginya. Tetapi, di sayangkan ketika berdonasi selalu meminta untuk diliput media. Naina

terganggu dengan itu. Tidak nyaman.

📚................♡✿

Ada dua jalan di halaman sekolah. Pertama, melintasi jalan setapak lurus langsung sampai pada koridor sekolah. Kedua, melewati tangga dulu, kalau dihitung tak salah ada sekitar tiga belas pijakan panjang sama rata. Naina memilih opsi kedua pagi ini. Sedang ingin menaiki tangga di tengah taman pepohonan hijau.

"Naina.” panggil seseorang yang sudah berada di samping dirinya.

"Setan!"

Ya Tuhan, masih pagi buta drama komedi horor sudah tayang saja di kehidupan nyata Naina. Nyaris terjungkal ke belakang kalau saja tak cepat mencari pijakan tepat—keseimbangan tubuh kembali. Terperanjat bukan main lagi, si alien memang sukanya mengangetkan. Membuat Naina jadi berbicara melantur.

"Mana ... mana setannya." Akira melirik kanan kiri dengan serius.

"Kau."

"Aku." Jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri dengan ragu-ragu.

Menggelengkan kepalanya. "Ah, bukan. Aku salah menyebut. Kau itu kan alien. Aku lupa."

Menyungging bibir sudut kanannya. "Kenapa tidak dibalas?"

Naina melirik Akira. “Apanya?" Kembali menatap ke depan. Mereka tetap berjalan. Tidak berhenti hanya karena saling mengobrol. "Ah, yang tadi. Iya Akira.” ucapnya dengan ramah.

"Bukan tentang sapaan, tetapi pertanyaan tadi malam dariku untukmu." beber Akira dengan lugas.

Naina membuka mulutnya. Teringat semalam ia tidak sempat membalas pesan Akira. Lupa. "Oh itu, aku belajar."

"Belajar apa?"

"Tentang sejarah kerajaan Joseon."

"Yahh ... Aku kira sedang belajar untuk mencintaiku." suaranya menjadi berat, khas Akira Pramudya sekali.

Naina terkekeh kecil. "Kau sedang menggombal?”

"Tidak, hanya memastikan saja." kata Akira dengan nada yang di buat biasa saja. Padahal sempat ada percikan kecewa.

"Jangan belajar untuk mencintai seseorang, tetapi belajar untuk dicintai orang, iya tentu saja seseorang yang disayanginya."

Akira berhenti. Dan, Naina mau tidak mau juga berhenti, penasaran alasan Akira mendadak berhenti di tengah jalan menuju koridor.

"Dan kau berhasil."

"Untuk?"

"Dicintai orang. Itu aku. Mencintaimu."

Tiba-tiba seperti dunia berhenti. Mendadak Naina jadi membeku kutu. Dan, kedua matanya membesar polos, menatap Taehyung lamat-lamat penuh pertanyaan—meminta sebuah jawaban jelas.

Sepertinya raut wajah Naina terekam jelas bagaimana ia tampak bingung, lantas Akira menepuk pundak Naina. "Bercanda." katanya sambil tertawa kecil.

"A—apa?"

"Kau menganggapnya serius tadi? Aku cuma bercanda."

Hiburan sederhana bagi pribadi bersenyum kotak manis itu. Wah, demi apa Akira girangnya bukan main, niatnya hanya ingin sekedar membual omong kosong menyangkutkan pertanyaan simpel menjadi gombalan klasik. Tidak dikira Naina merespon dengan keseriusan. Ekspresinya itu loh, bikin Akira gemas.

Matanya yang menatap polos berganti menjadi menatap ganas. Melotot sebentar lalu merendahkan pandangan kebawah. Mimik wajah berubah kecut. Kemudian, tanpa sepatah kata pun Naina pergi meninggalkan Akira.

"Hei, Naina tunggu." seru Akira langsung berlari mengejar Naina.

"Kau marah padaku?" tanyanya saat sudah berada di sebelah Naina lagi.

Namun Naina mengabaikannya. Ia tetap berjalan tanpa perduli Akira mengoceh di sebelahnya. Dan, Akira tidak menyerah, terus berusaha bertanya sampai dijawab dengan jelas.

"Kau sungguh marah padaku? Naina… Kau benar-benar marah yah."

Lama-lama didiamkan malah menganggu telinganya. Belum lagi lirikan orang-orang yang melihat bagaimana kini model papan atas yang menyandang predikat pria tertampan nomor satu di Dunia itu tengah mengoceh panjang lebar pada dirinya. Yang pasti melirik dengan tatapan sinis. Naina terganggu, jadi ia berhenti sejenak dari berjalan kaki.

"Tidak marah, Akira.”

"Seriusan tidak."

"Iya."

"Sungguh?"

"Iya."

Dan Akira tersenyum tipis. Mereka berdua kembali berjalan bersama menuju kelas dengan keheningan. Akira sudah berhenti dari mengoceh. Naina lega.

Episodes
1 01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2 02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3 03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4 04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5 05. 9-TEEN part 5 : animo
6 06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7 07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8 08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9 09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10 10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11 11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12 12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13 13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14 14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15 15. 9-TEEN part 15 : aneh
16 16. 9-TEEN part 16 : berdua
17 17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18 18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19 19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20 20. 9-TEEN part 20 : runyam
21 21. 9-TEEN part 21 : kembali
22 22. 9-TEEN part 22 : berharap
23 23. 9-TEEN part 23 : akhir
24 24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25 25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26 26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27 27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28 28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29 29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30 30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31 31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32 32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33 33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34 34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35 35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36 36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37 37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38 38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39 39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40 40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41 41. 9-TEEN : part 41 : keluarga
Episodes

Updated 41 Episodes

1
01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2
02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3
03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4
04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5
05. 9-TEEN part 5 : animo
6
06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7
07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8
08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9
09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10
10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11
11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12
12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13
13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14
14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15
15. 9-TEEN part 15 : aneh
16
16. 9-TEEN part 16 : berdua
17
17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18
18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19
19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20
20. 9-TEEN part 20 : runyam
21
21. 9-TEEN part 21 : kembali
22
22. 9-TEEN part 22 : berharap
23
23. 9-TEEN part 23 : akhir
24
24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25
25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26
26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27
27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28
28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29
29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30
30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31
31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32
32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33
33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34
34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35
35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36
36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37
37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38
38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39
39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40
40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41
41. 9-TEEN : part 41 : keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!