Terbiasa bergelimang pernak-pernik seluas tujuh kali empat meter mengelilingi pusaran dinding tanpa celah berlubang—kosong sedikitpun—penuh memadati seisi. Mengintari indra penglihatan di sepanjang membuka mata. Mengerikan. Memaksa dilihat, padahal sama sekali tidak berniat dalam hatinya.
Jarrel sudah akrab dengan pemandangan berlimpah poster bergambar tujuh lelaki tampan rupawan. Jarrel akui, BTS itu tampan-tampan. Tetapi, masih tampan teramat jelas dirinya sendiri. Mencintai diri sendiri itu penting. Jadi, jangan salahkan Jarrel begitu tinggi percaya diri dengan tampangnya.
"Annyeong. Jarrel Denanjaya. Oh, mari kita benarkan dengan… Annyeong Jeon Jungkook.”
Ketika menyimpuhkan kaki tepat berada pada ruangan berlapis poster. Jarrel memberi sebaris salam ramah tamah pada standing sebesar tubuh dirinya, berdiri semampai dengan senyuman manis membalut pipinya. Jarrel membungkuk sedikit sopan sambil mengulas senyum tipis.
Mari kita perjelas disini sebelum Jarrel akan di cap sebagai manusia tidak tahu diri. Jarrel tahu kok nama asli idol yang Jiya sukai itu Jeon Jungkook, tetapi ini entah menjadi sesuatu yang kebetulan teramat sial menimpa atau malah menjadi kesenangan atas kesamaan yang dimilikinya. Selain memiliki panggilan seperti kookie, bunny. Rupanya Jungkook memiliki nama asli lain, ya itu Jerral Denanjaya. Nama asli yang diberikan oleh orang tua pun keluarga dari Jungkook sendiri, tetapi memang setelah debut menjadi anggota BTS harus diganti nama menjadi Jungkook. Seperti itulah ceritanya.
"Yang katanya lebih tampan dariku."
Pribadinya itu melangkah satu langkah ke depan. Ujung sepatu telah menempel dengan ujung sepatu milik standing Jarrel Denanjaya. Sudut bibir Jarrel tertarik tipis. Mendekatkan wajahnya ke depan, jari telunjuknya mendarat di tengah-tengah wajah Jarrel asli dengan wajah Jarrel palsu—standing foto.
"Tapi, ya ingat hanya katanya. Jadi, tak usah berbangga diri berlebih. Aku ini yang jelas lebih tampan darimu. Hanya saja, Kau tahu?" Lalu satu tangannya mendarat di atas pundak standing tersebut. Jarrel berbisik pelan berucap sesuatu pada standing yang seperti patung—diam tak dapat bergerak pun berbicara. "Kadang mata Jiya suka bermasalah. Rabun begitu. Karena itu, jangan percaya pujiannya." kata Jarrel tersenyum tipis. Menepuk pundak sebanyak dua kali pada standing JK—nama panggungnya, katanya.
Bersimpati sedikit sopan pun memberi ulasan makna baik agar tak menyombong tinggi karena pujian 'lebih tampan' yang ia dapatkan dari Jiya. Sepatu hitam tebalnya ia junjung melangkah hingga sampai pada batas meja berhenti. Jarrel tak menyangka, benar sudah di siapkan rapi. Ia mengambil bukunya.
📚................♡✿
Take my hand no, you are the euphoria yeah yeah yeah. Bersenandung merdu melantunkan salah satu lagu favoritnya. Bernyanyi dengan suara alakadarnya, tak merdu pun indah di dengar, tetapi Jiya tetap menikmatinya. Jiya juga tetap serius berkutat dengan piring-piring kotor. Mencuci hingga bersih.
Tidak ada suara aslinya—Jeon Jungkook. Sengaja memang, Jiya sedang ingin bernyanyi sendiri tanpa berdampingan dengan suara Jungkook. Tidak sedang sok berlagak pamer melebihi suara emas Jungkook. Hei, bahkan baru buka mulut saja, false nya minta ampun. Suara Jungkook itu surga. Indah. Namun, senandung riangnya terpecah tiba-tiba setelah ia mendengar sekilas suara seseorang memanggil-manggil namanya. Sebentar. Dihentikan semua dulu aktifitasnya. Jiya berbalik badan, berjalan keluar mengikuti kemana suara itu berasal.
"OMO!! Mati-mati. Ah, tidak-tidak!"
Terkejut bukan main lagi. Kelabakan tiada batas. Baru sampai ruang tengah, Jiya menangkap jelas siapa tamu yang datang meneriaki namanya sedari tadi. Oke, Mila ada di depan rumahnya. Jiya ingat ada Jarrel di dalam kamarnya. Buru-buru ia berlari menuju kamar, memberitahu Jarrel cepat-cepat.
"Jarrel... Duh, denan denan.” ucapnya tergesa-gesa.
"Eoh."
"Cepat bersembunyi." Desak Jiya.
Jarrel berbalik badan. Tadi sedang membaca buku yang ada di atas meja rias Jiya, tapi dengan berdiri. "Kenapa?"
"Tidak usah banyak bicara, cepat sembunyi saja sekarang."
"Iya, kenapa dulu. Ah, mau main petak umpet yah? Denganku. Tapi ya harus suit dulu dong, masa langsung aku yang disuruh bersembunyi. Kan belum tahu yang menang dan kalah siapa, sudah diputuskan saja hasilnya. Tidak adil itu namanya." ocehan Jarrel tidak suka.
Jiya melotot tajam. "Berisik! Satu kali lagi bicara, ku buat kau jadi sate kelinci. Aku tidak main-main kali ini, mau menurut atau tidak."
Jarrel menunduk takut. "Menurut "
Jiya senang. "Anak Pintar."
"Tapi akunya sembunyi dimana ini." Jarrel merengek bingung.
"Sini."
Tanpa ragu Jiya memegang pergelangan tangan Jarrel menariknya cepat pada tujuan persembunyian yang terpampang nyata dipojok kamar. Jarrel serius menurut kali ini, mengalah tanpa perlawanan pun berbicara lagi. Jarrel benar-benar takut kalau betul-betul dijadikan sate kelinci. Mengerikan.
"Masuk." perintah Jiya tegas.
Matanya terbelalak lebar. "Hah?! Seriusan. Jahat sekali. Kau gila."
"Sebentar saja, tidak akan mati kok." jawab Jiya begitu tenang.
"Kalau mati bagaimana!" seru Jarrel.
"Aku akan menghadiri pemakaman-mu." kata Jiya dengan wajah datarnya.
"Yak!!" pekik Jarrel.
"Bagus, silahkan masuk pangeran Jarrel." Jiya membuka pintu lemari. Satu tangannya menjamu mempersilahkan dengan ramah pun hormat pada sang pangeran Jarrel untuk masuk ke dalam dengan menerima setuju. Senyuman terlukis manis dibibir Jiya. Supaya Jarrel meluluh.
Apa-apaan! Jarrel memekik keras, melayangkan amarah menolak mentah-mentah. Tetapi, Jiya malah menganggap kata 'Yak' itu menjadi sebuah persetujuan menerima dengan senang terpaksa. Jarrel menghela nafas muak. Namun, pada akhirnya tetap menurut mengalah—menerima masuk ke dalam lemari yang tidak ada ventilasi udara---pengap.
Pribadinya itu menutup pintu lemari rapat-rapat. Begitu saja meninggalkan Jarrel dengan tragis. Buru-buru berlari menuju pintu depan. Menemui Mila yang pasti sudah menyumpah serapah dirinya karena terlalu lama membukakan pintu.
"Kau habis dikejar orang gila?" tanya Mila terheran-heran melihat keadaan Jiya.
"Hah?!"
"Nafas mu terengah-engah sekali."
Jiyamengatur nafas selama beberapa detik sebelum menatap Mila dengan kegugupan luar biasa. "Ah, ini ... itu aku sedang melakukan yoga. Biar sehat pun bentuk tubuh terjaga ideal."
Mila menaikkan alisnya bingung. "Sambil cuci piring?"
Jiya menurunkan pandangannya ke bawah, baru menyadari kalau dirinya masih memakai sarung tangan dengan keadaan ada busa menempel setia di sana. Merasa bodoh. Bodoh sekali. Mana ada melakukan yoga sambil cuci piring. Iya, hanya Jiya saja yang melakukannya.
"T-tidak. Selesai yoga, baru aku cuci piring." kata Jiya, tergagap.
"Kau aneh. Sedang berbohong denganku yah, kali ini tentang apa." jawab Mila, mencolek lengan Jiya menggoda.
Ternyata kemampuan berbohong berada pada angka nol. Tidak pandai bersandiwara akting seperti aktris ternama. Sudah menyelusuri jauh kepelosok paling dalam di organ kepalanya, berkeliling mencari akal cemerlang agar Mila tak curiga sedikitpun, tetapi malah gagal total.
"T-tidak kok, sama sekali tidak." jawab Jiya masih gugup juga.
"Semakin jelas. Oke, aku masuk ya."
Meminta izin tetapi tanpa menunggu respon dibolehkan dari Jiya, Mila masuk saja dengan langkah pelan, pandangannya menelisik seluruh sudut ruang, satu persatu ia tatap dengan intensitas zoom. Mila sedikit curiga dengan tingkah Jiya yang sedikit aneh tadi.
Jiya hanya bisa menghela nafas. "Ada keperluan apa?"
Mila terus berjalan dengan pelan, tetapi juga menanggapi pertanyaan Jiya. "Pinjam DVD memories BTS yang 2020. Aku ingin menontonnya."
"Punyamu belum datang?" tanyanya dari belakang Mila. Jiya mengekor mengikuti langkah kaki Mila, situasinya seperti Mila yang tuan rumah disini dan Jiya lah yang bertamu. Kebalikan. Dasar si tamu.
"Tidak beli." jawab Mila singkat.
"Tumben sekali."
Mila menoleh ke belakang. "Hemat uang."
Jiya tertawa. Lantas, menyetarakan langkah kakinya dengan Mila. Kini, ia berjalan di samping Mila persis.
"Jangan hemat-hemat kalau soal beli merchandise BTS."
Mila terkekeh kecil. "Memang ya kau ini."
Tiba-tiba sudah memegang kenop pintu kamar Jiya saja. Selangkah lagi terbuka ketika di dorong. Namun, Jiya dengan cepat memutus tindakan Mila. Menghentikannya untuk masuk. "Hei, jangan." seru Jiya. "Kau mau apa, Mil."
"DVD-nya ada di kamarmu kan?"
"I-iya." lirih Jiya menunduk kacau.
Berada dalam lorong ketepatan benar. Menghindar dengan alasan lain, tetapi akan menimbulkan kecurigaan semakin besar. Benar ada di kamar, kalau berbohong berkata tidak ada. Lalu, Jiya akan mengambil DVD nya kemana?
"Kau ini kenapa sih." ucapnya, lalu Mila membuka pintu lebar-lebar. Masuk ke dalam kamar Jiya.
Jiya mengusap wajahnya acak. Pikirannya kemana-mana. Tidak dapat dikontrol lagi. Semua ketakutan mendadak hinggap dengan menyertai gemetar dingin menyelimuti tubuhnya. Dalam hatinya, Jiya meramalkan berbagai kalimat berharap.
"Jarrel, semoga kau bisa bekerjasama dengan baik. Please, jangan buat kegaduhan. Kita bisa mati tragis."
Jiya menelan ludah gusarnya, membuang nafas dengan kasar. Setelah itu, ia menghilangkan semua kegugupannya. Bersikap biasa saja dengan maksimal. "Kau duduk saja dulu, aku yang akan mencarinya." Jiya berjalan menuju rak penyimpanan koleksi merch BTS. Lupa belum melepas sarung tangannya, lalu ia membukanya, kemudian diletakan dimeja.
"Oke." kemudian Mila duduk di kursi meja rias. Membuka ponselnya.
"Sialan." lirihnya di depan rak, meskipun begitu Mila masih bisa mendengar jelas.
Mila menurunkan ponselnya, lalu menatap Jiya yang tengah duduk bersila di lantai. Rautnya terlihat sedikit kacau. "Kau mengumpat, Ji? Kenapa?"
"Aku lupa menaruhnya." gumam Jiya dengan suara ada decakan kesalnya.
Mila malah tertawa cekikikan. "Tidak heran, kau selalu seperti itu. Pelupa adalah hobi andalanmu. Sini biar ku bantu cari."
Jiy menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Kau duduk saja, tamu adalah ratu."
Mila tersenyum tipis, mengangguk. "Oke, oke aku bermain game saja kalau begitu."
Di dalam lemari baju Jiya.
Memori satu jam lalu masih tersimpan di dalam kepalanya. Ingat sekali bagaimana Jiya yang mengomeli Jarrel karena diam saja—tak membantu sama sekali, dibilang tamu tak tahu diri. Tapi, kini dengan Mila, malah menolak mentah-mentah ketika bahkan ingin dibantu. Tamu adalah ratu, katanya. Cuih.
"Awas saja ya kau, Jiya Skyla." Jarrel begitu kesal langsung memukul lemari.
Suara dari aplikasi game miliknya tidak sampai melebihi batas. Masih di bawah rata-rata, tidak terlalu besar di dengar nada lagunya. Dan, telinga Mila peka. Meskipun serius bermain game, tetapi suara dari lain akan tetap bisa ia dengar jelas. Kali ini, suaranya agak aneh, masih di dalam kamar Jiya, tapi seperti suara dalam ruangan. Tentu saja bukan Jiya.
"Kau mendengar suara pukulan, Ji??”
Jiya masih berkutat dengan pencarian DVD yang Mila inginkan. Lalu, ia mendongakkan kepalanya ke atas. "Apa?"
"Entah, tapi terdengar jelas tadi suaranya."
Jiya terkekeh kecil. Padahal sama sekali tidak ada yang menjadi bahan lawakan. Mila sedang serius, tapi Jiya menganggap lucuan. "Oh, biasa kookoo sedang berebut banana uyu dengan chimmy." Jiya mengambil dua boneka yang kebetulan ada di rak, depan dirinya.
"Loh, sekarang berubah? Chimmy suka banana uyu, Ji." kata Mila, ia berhenti sejenak dari aktifitasnya bermain game.
"Pelampiasan saja. Biasanya kalau mandu-nya direbut tata, chimmy akan merebut banana uyu milik kookoo." balas Jiya, kembali meletakkan dua boneka kesayangannya di tegakkan berjejer rapi di dalam rak putih polos miliknya.
"Kasihan sekali." kata Mila, nadanya terpancar rasa prihatin.
Kening Jiya mengerut. Bingung. "Siapa?"
"Kau. Suka menghalu."
"Mainan kita, Mil. Kita berdua, kau juga." cibir Jiya dengan jawaban fakta.
"Kalau aku hanya mengoleksi saja ya, tidak sampai mainan-mainan boneka sampai diperlakukan seperti manusia hidup." gerutu Mila memecahkan persepsi yang dirasa benar oleh Jiya, tetapi tentu tidak.
"Indah tahu. Aku seperti punya anak kalau mengurusi tiga bayi si kembar yang tak sama itu." Dengan senyum senangnya.
Sedang dikurung dalam kegelapan pengap, terkunci bodoh dengan terpaksa tetapi tak melawan. Pribadinya itu nyaris tenggelam dalam pikiran kosong yang menggerogoti kepalanya. Bisa-bisanya ia menuruti keinginan bersembunyi disini. Sementara tak tahu alasan jelas dibalik ini semua. Hidupnya sudah diambang kematian. Keringat mengucur membasahi seluruh tubuh, kadang terlalu banyak jadi ia mengelap keringatnya dengan baju yang tersampir di sebelahnya. Tenang, Jiya tak akan tahu.
Jarrel sudah menurut, malah di sepelekan. Jiya berhalu riang, sementara Jarrel tersiksa berat.
"Terus saja menghalu sampai aku mati! Sialan memang." dengus Jarrel kesal. "Astaga, jaga ucapanmu, Rel." lalu ia menampar bibirnya sendiri. Sadar terlalu melewati batasan baiknya. Mengumpat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments