12. 9-TEEN part 12 : pertemanan

Menyendiri tenang, sepi menenangkan. Rerumputan hijau banyak tertanam rapi dengan elok asri. Penangkaran tempat duduk tersusun tepat. Berpijak kokoh di atas plester putih tebal pun kuat. Pepohonan berjejer beberapa langkah dari belakang kursi panjang. Menyegarkan pandangan. Begini menyenangkan. Melingkar bulat seperti bola. Didalam terdapat lampu bulat juga tetapi lebih kecil dari yang luar. Menyala bersinar ketika malam. Pasti indah. Siang begini tidak menyala, tapi masih indah juga kok. Sekolah serba ada. Dihalaman paling belakang, ada taman luas. Bisa untuk melepas penat. Nyaman sekali.

"Kenapa?"

Jiya Skyla Paris, tak terlalu suka dikelas. Menyenangkan memang bergabung berbincang dengan teman sekelas, tapi terkadang beberapa dari mereka mengganggu telinganya, berbicara menusuk hati. Dengan begitu, pilihan paling tepat, kabur dengan elegan, menepi pada taman belakang sekolah.

Menyendiri lebih baik.

"Ada tempat untukmu, kau mau tidak?"

Itu Chua Mila. Teman Jiya, tetapi beda sekolah. Meskipun begitu, komunikasi tetap lancar. Jarak tak selamanya menjadi akar hancurnya jalinan setia. Bisa tetap terjaga baik, kalau pintar menjaga kekompakan berkirim kabar. Seperti sekarang ini, Jiya tengah berbincang dengan Mila melalui sambungan panggilan telefon.

"Dimana?" tanya Jiya.

"Pertigaan kedua kalau dari sekolahmu. Depan butik Paradise."

Daun telinganya serasa bergoyang riang mendengar kabar baik, ketika ponselnya itu bersuara dengan nada jelas tersampaikan. Pun begitu, tak ada alasan lain untuk menolak informasi emas itu. Tapi, Jiy- teramat berfikir jauh. Tidak cukup hanya itu saja, ia harus tahu tentang nominalnya. Yang paling penting.

"Lumayan tidak bayarannya?"

Suara Mila dari seberang sana menyeruak masuk rungu Jiya hingga paling dalam. Tawa terlahir begitu Jiya bertanya mengenai harga. Iya, Jiya memang selalu mengutamakan jumlah uangnya. Kalau besar, maka ia mati-matian akan ambil. Tapi jika kecil, harus ekstra dipikir dulu matang-matang.

"Tidak terlalu besar sih, tapi ya cukup kok menurutku." kata Mila, meletakkan sumpitnya di piringnya begitu ia selesai makan siang di kantin sekolahnya.

Jiya mendesah. Tidak tertarik sama sekali. "Hm, aku tidak ambil kalau begitu."

Mila menghela nafas, matanya langsung melebar. "Heol?! Aku kira kau akan ambil berapapun. Sebulan lagi loh, seriusan nih tidak akan diambil. Menyesal nanti."

Jiya menghela nafas. Iya yah, katanya berfikirnya jauh sekali. Tapi, kenapa harus mempermasalahkan dengan jumlah uang? Begini, tegasnya biar jelas. Perlu uang dalam jumlah banyak, tetapi menolak saat diberi peluang mendapat uang. Aneh kalau seperti itu. Baiklah, bodoh sebentar tak apa.

Jiya mendengus. "Dasar kau, iya aku ambil." lalu kekehan kompak begitu saja selepas jawaban Jiya keluar barusan.

"Mila-ya, gomawo hmm." ucap Jiyeon begitu lirih, malu-malu juga. (*gomawo \= terimakasih*)

Mila tertawa renyah. "Haha... Oke tidak masalah." Ia menyingkirkan rambutnya yang menutupi telinganya. "Hei, Jiya, besok malam jangan lupa jam delapan standby weverse." Serunya mengingatkan.

Jiya tersenyum tipis. "Aku selalu ingat ya, sudah ku pasang alarm juga."

"Terbaik memang. Oh ya Ji—."

Pemotongan hakiki begitu merusak momen sakral dari perbincangan seru Jiyadan Mila. Jiya menunggu jawaban Mila terlengkap. Tetapi, malah diseruduk sembrono dari lengkungan nada cempreng menggelegar nyaring melumpuhkan perasaan senang.

"Jiya skyla paris…”

Mila tertawa di seberang sana. "Oke-oke, cintamu sudah datang. Aku tutup dulu."

Jiya berdecak tidak suka. "Cinta apanya. Tidak usah mengada-ngada kal—."

Kalimatnya pun belum kelar betul, tetapi sudah main diputuskan saja. Terputus sepihak. Kalau begini sia-sia saja menjawab kalau tidak didengarkan sampai akhir, padahal Jiya baru akan mengeluarkan pendapat tentang keberatan anggapan Mila yang selalu menamai Jarr itu cintanya Jiyeon. Di jitak berkali-kali. Dijelaskan sampai bibir dower. Menyalangkan sampai posisi begitu antagonis. Jiya sudah melakukannya sampai ia terpaksa menyerah. Harus dengan apa lagi upayanya agar Mila berhenti mengganggunya dengan selalu mengaitkan Jarrel sebagai cintanya Jiya. Mereka itu cuma teman.

Dari ratusan teman Jiya, hanya Mila saja yang terlalu fanatik terhadap kisah romansa Jiya dan Jarrel, padahal kenyataan yang ada hanya ada kisah pertemanan. Tidak lebih dari itu. Katanya, karena nama depannya sama-sama diawali dengan huruf ''J", jadi itu sebuah takdir jodohnya. Aneh sekali bukan?

"Kedatanganku mengganggu sekali yah."

Jarrel telah menyadari kesalahannya. Berarti itu sebuah pernyataan, tapi kenapa malah terdengar seperti pertanyaan? Dan lagi, nadanya begitu lemah gemulai berimbas menyebalkan. Jiya memicing ngeri, bola matanya lurus ke atas, menatap nyalang pada Jarrel yang sedang berdiri didepannya.

"Pikir sendiri."

Jarrel hanya mengulas senyum tipis. Judesnya Jiya tidak menakutkan bagi Jarrel. Lalu, ia mendaratkan bokongnya pada kursi tepat disebelah Jiya duduk sekarang. "Dari pacarnya?"

"Iya."

Singkat, padat dan jelas. Begitulah sisi lain dari Jiya. Kalau bicara tentang wajah, pastilah terdukung penuh ekspresi dinginnya. Tapi, kalau bicara tentang hati, adanya hanya kehangatan yang lembut. Sudah mengenal lama Jiya, terlihatnya pasti anak yang lucu, seru diajak bicara pun bercanda. Tapi, hebatnya Jiya memang terletak pada sikapnya. Bisa mengelabuhi musuh menyebalkan dengan menunjukan garangnya mimik pun ucapan. Bisa pula mengubah spontan menjadi kelewat seru bila lawan bicaranya menyenangkan.

"Ah, tapi aku tidak percaya tuh. Mana mungkin kau punya pacar." Jarrel berkata dengan nada mengejek.

Jiya mendorong dahi Jarrel keras dengan jari telunjuknya. "Kenapa tanya tolol." Membuang nafas kasarnya.

Jarrel malah terkekeh kecil. "Sudah-sudah mode galaknya berakhir. Sekarang tinggal aktifkan mode menyenangkannya. Yang manis dong."

Jiya membuang muka. Menyamping sebentar, lalu tersenyum tipis akan ucapan Jarrel barusan. Sangat lucu baginya. Kemudian, kembali menghadap Jarrel lagi, iya tentunya dengan raut wajah datar pun masih setia mengalungkan dingin di segala sisinya.

"Kenapa kemari, Jarrel." ucap Jiya setelah berperang pada kelucuan Jarrel Denanjaya.

"Kenapa disini, Jiya.”

Bertanya baik-baik malah terbalas bukan jawaban atas pertanyaannya, mendapat serangan balik dengan ungkapan tanya persis. Apa Jiya harus mengganti peran lagi menjadi dingin pada Jarrel? Sudah terpasang mode menyenangkan malah memancing menjengkelkan. Ia menghela nafas sabar.

"Mencari udara segar."

"Aaa, kalau begitu sama denganku." jawab Jarrel acuh tak acuh.

Sabar Jiya, sabar. Manusia memang banyak sekali tingkahnya. Selalu membuat lawan bicaranya menjerit dalam keheningan, karena jika dikeluarkan lelah sendiri. "Ya ya ya. Terserahmu saja deh."

"Jiyaaa.” panggil Jarrel lagi.

Jiya melirik dari ekor matanya. Malas bertatapan yang membuatnya naik darah sedari tadi. "Apa." dingin Jiya.

Jarrel menegakkan badannya. Menoleh ke Jiya. “Aku mau pinjam buku catatan pelajaran semuanya. Kau pasti tahu aku sudah tertinggal beberapa hari."

Jiya memutar bola matanya main-main. "Tidak minta Naina? Biasanya ke dia."

Jarrel mengerucutkan bibirnya sebal. "Naina sibuk dengan anak baru itu, sulit menemuinya. Jangan tanya kenapa tidak dengan Licia atau Cyra, aku malas dengan mereka berdua."

Mengangguk paham. “Licia judes, Cyra cerewet." jelas Jiya mendeskripsikan bagaimana sifat kedua temannya itu.

Jarrel menghela napas, menyisir rambut yang telah jatuh di dahinya dan mendorongnya ke belakang dengan sisa rambut hitamnya. "Benar sekali. Karena itu aku minta bantuan, hanya tinggal kau yang tersisa."

"Sisaan yah? Terdengar menyedihkan sekali aku ini." kata Jiya, wajahnya berubah menjadi ekspresi sedih.

Jarrel menghela nafas panjang. Memikirkan kalimat yang tepat untuk disampaikan pada Jiya, agar temannya ini tidak salah tangkap ucapannya. "Jangan cepat salah paham begitu. Kau yang tersisa tetapi kau yang paling dicari karena selalu ada. Dan menyenangkanmu, membuatku senang menemuimu."

"Aku juga judes seperti Licia.” balas Jiya cepat.

Jarrel menggeleng tidak setuju. "Tidak, kau berbeda. Dingin-mu itu malah membuatku ingin menghangati dirimu."

"Hangati aku dengan pelukanmu cepat." kata Jiya merengek seperti anak kecil.

"Mau sekali ya aku peluk." goda Jarrel.

"Iya-iya, aku mau, Jarrel.”

"Oke, aku akan me—."

"Tapi tipu." Jiya menjulurkan lidahnya ke depan hingga keluar penuh mengejek berlebih pada Jarrel.

"Aku tahu." jawab Jarrel jelas paham.

Jawaban Jarrel sukses membuat Jiya menelan ludah malu. Diam sebentar. Tetapi, tak mau merasa kalah, Jiya pun berlagak dirinya seperti juga tahu Jarrel akan merespon seperti itu. Jadi, sebisa mungkin menjaga tatanan ekspresi. Hingga akhirnya, pun Jiya tertawa cengengesan. Anggap saja lucu.

Cukup. Apa ini semacam sinetron remaja yang selalu ingin mendapat pengakuan cinta dari pasangannya? Dianggap istimewa melebihi martabak manis penuh rasa spesial. Tetapi ketika sudah menerima keistimewaannya malah merasa canggung dan entah kenapa bilang kalimat picisan itu hanya tipuan belakang saja.

Membingungkan sekali. Sampai-sampai suara jangkrik di taman pun berbunyi nyaring merasa aneh, tidak lucu tetapi mereka berdua tertawa senang. Hanya Jiya dan Jarrel yang tahu, yang pastinya kelakuan picisan mereka itu yang membuat Mila semakin mendukung cintanya mereka, kalau ia melihatnya.

Jarrel menetralkan kembali. Suara seraknya masih sedikit terasa setelah tertawa tadi. "Nanti aku ke rumahmu ya."

Jiya menoleh, memiringkan kepalanya. "Untuk apa?"

"Mengambil buku catatannya." balas Jarrel dengan jujur.

"Jangan nanti, Rel. Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Aku mau pergi, ada urusan." Sebenarnya itu adalah kalimat tamat Jiya. Tidak ada ucapan selanjutnya lagi, namun urung ketika Jarrel sudah membuka mulutnya. Ia kembali bersuara, “dan kau tidak perlu ikut, paham?"

Jiya tahu betul kalau Jarrel selalu ingin mengikuti kemana perginya dirinya pun yang lain kalau tahu itu urusan penting, tidak mempersilahkan pergi sendiri, pokoknya Jarrel harus ikut. Rasa penasarannya melebihi perempuan yang suka men-stalking mantannya. Karenanya, Jiya cepat merespon lagi.

Dan, Jarrel pasrah mengalah. Diam mempersilahkan Jiya pergi sendiri tanpa Jarrel ikut bersamanya.

Episodes
1 01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2 02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3 03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4 04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5 05. 9-TEEN part 5 : animo
6 06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7 07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8 08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9 09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10 10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11 11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12 12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13 13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14 14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15 15. 9-TEEN part 15 : aneh
16 16. 9-TEEN part 16 : berdua
17 17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18 18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19 19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20 20. 9-TEEN part 20 : runyam
21 21. 9-TEEN part 21 : kembali
22 22. 9-TEEN part 22 : berharap
23 23. 9-TEEN part 23 : akhir
24 24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25 25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26 26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27 27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28 28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29 29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30 30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31 31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32 32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33 33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34 34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35 35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36 36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37 37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38 38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39 39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40 40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41 41. 9-TEEN : part 41 : keluarga
Episodes

Updated 41 Episodes

1
01. 9-TEEN part 1 : awal bertemu
2
02. 9-TEEN part 2 : pertama di januari
3
03. 9-TEEN part 3 : kedatangannya
4
04. 9-TEEN part 4 : tinggal
5
05. 9-TEEN part 5 : animo
6
06. 9-TEEN part 6 : hidupnya
7
07. 9-TEEN part 7 : kedekatan
8
08. 9-TEEN part 8 : seperti inilah
9
09. 9-TEEN part 9 : hanya saja
10
10. 9-TEEN part 10 : kelewat unik
11
11. 9-TEEN part 11 : tak terduga
12
12. 9-TEEN part 12 : pertemanan
13
13. 9-TEEN part 13 : langkah besar
14
14. 9-TEEN part 14 : tindakannya
15
15. 9-TEEN part 15 : aneh
16
16. 9-TEEN part 16 : berdua
17
17. 9-TEEN part 17 : satu ruangan
18
18. 9-TEEN part 18 : terlampau
19
19. 9-TEEN part 19 : hanya saja
20
20. 9-TEEN part 20 : runyam
21
21. 9-TEEN part 21 : kembali
22
22. 9-TEEN part 22 : berharap
23
23. 9-TEEN part 23 : akhir
24
24. 9-TEEN part 24 : kekaguman
25
25. 9-TEEN part 25 : khawatirnya teman
26
26. 9-TEEN part 26 : tentang bertukar pesan
27
27. 9-TEEN part 27 : sebuah kata maaf
28
28. 9-TEEN part 28 : melihat situasi
29
29. 9-TEEN part 29 : kegilaan
30
30. 9-TEEN part 30 : dua yang tidak pernah akur
31
31. 9-TEEN part 31 : terkuak
32
32. 9-TEEN part 32 : yang terlihat
33
33. 9-TEEN part 33 : membingungkan
34
34. 9-TEEN part 34 : pembahasan
35
35. 9-TEEN part 35 : kehidupan
36
36. 9-TEEN part 36 : sentuhan
37
37. 9-TEEN part 37 : keluarga
38
38. 9-TEEN part 38 : berkunjung
39
39. 9-TEEN part 39 : kejadian
40
40. 9-TEEN : part 40 : memulai
41
41. 9-TEEN : part 41 : keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!