BLAM!
Eliana menutup pintu unit apartment tepat di depan hidung ibu Rebecca. Biarlah kali ini saja dia bersikap kasar terhadap orang lain.
Eliana benar - benar kesal, betapa sulitnya membuat orang - orang mengerti.
"Apanya sih yang kelihatan jahat dalam diri Toni?" tanya Eliana pada dirinya sendiri. Dia berjalan mondar mandir sambil mengomel.
"Seenaknya saja mereka mengusir kami, aku sudah membayarnya lunas untuk bulan ini." dengus Eliana.
Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya, kemudian menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, berbaring terlentang memandang langit - langit.
"Aku tak tahu jam berapa Toni pulang hari ini. Seharusnya dia membeli ponsel dari pada membeli jam tangan."
"ARGGHH!!! Bagaimana menceritakan padanya tentang apartement ini?" gerutu Eliana lagi dengan frustasi. Ingin rasanya dia menjambak rambutnya sendiri, ruwet dan mumet.
Hmmm... apa yang akan terjadi biarkan terjadi nanti. Ada yang lebih penting, dia harus membereskan barang - barang mereka sekarang dan mencari tempat tinggal baru untuk nanti malam dan seterusnya. Eliana segera berdiri dan mengambil kopernya dari tempat penyimpanan.
BUK BUK BUK!
Ting tong ting tong ting tong...
Apalagi ini? Bunyi gedoran pintu dan bel beruntun memekakkan telinga Eliana.
"Pasti orang - orang itu. Mereka begitu tak sabar sekali ingin melihat kami pergi dari sini." omel Eliana sambil menyeret kopernya. Kemudian membuka koper dan memasukkan beberapa barang ke dalamnya.
BUK BUK BUK!
TIIIING TONG TING TONG
Eliana menghela napas kasar, sambil berkacak pinggang. Luar biasa kesal! Apa tak cukup mereka mengusir kami? Ingin berkemas saja rasanya dipersulit. Eliana kembali bersungut - sungut sambil meneruskan kegiatan packing-nya.
Syukurlah, akhirnya suara gedoran di pintu terhenti, Eliana menghembuskan napas lega. Nampaknya mereka sudah pergi, semoga saja mereka bosan mengganggunya.
Ow! Eliana salah. Rupanya beberapa orang masih ada di depan pintu unitnya. Eliana mendengar percakapan mereka dari dalam.
"Eliana ada di dalam, dia baru saja bertengkar denganku." suara Ibu Rebecca terdengar.
"Kasihan sekali, Toni."
"Mau bagaimana lagi? Itu kan konsekuensi dari perbuatannya."
"Hey, tidakkah kamu beritahu adiknya?"
"Eliana bukan adiknya. Dulu mereka adalah perawat dan pasien di St. Paul."
"Hey, jangan banyak cakap. Cepat beritahu Eliana sebelum mereka membawa Toni pergi. Biar bagaimana pun mereka sudah seperti saudara."
DEG!
Jantung Eliana seperti digedor, siapa yang membawa Toni pergi? Eliana menajamkan pendengarannya, berjalan mendekat ke pintu.
"Kamu kan tadi lihat sendiri kalau kami sudah mengetuk pintunya. Tapi, wanita itu tak mau membukakan pintu untuk kita." sahut seseorang.
"Biar aku saja!" sahut seorang pria dengan nada tak sabar.
"ELIANA, KELUARLAH! Kakakmu dibawa oleh polisi!"
Astaga!
Polisi? Mata Eliana terbelalak lebar, wajahnya memucat, jantungnya serasa berhenti saat itu juga.
BRAK!
Refleks Eliana membuka pintu dengan cepat, hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
"Ada apa dengan Toni?" tanyanya pada semua orang yang ada di hadapannya.
Orang - orang bertukar pandang, saling menyikut. menyuruh yang lainnya bicara.
"Tadi ada segerombolan pria datang dan membawa Toni pergi. Kami semua dilarang mendekat."
"Gerombolan apa? Siapa?" tanya Eliana panik.
"Kami tak tahu, bisa saja mereka polisi yang memakai jas hitam dan membawa mobil." jawab seorang pria.
"Dimana mereka?" Eliana mencengkeram lengan pria itu dan mengguncangnya.
"Tadi di belakang gedung ini... --"
Tanpa menunggu pria itu menyelesaikan kalimatnya, Eliana sudah berbalik arah dan berlari sekuat yang dia mampu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai tempat dimana Toni berada secepat mungkin.
'Ada apa ini, Toni? Ada apa? Katakan padaku apa yang terjadi.'
Dada Eliana seakan mau meledak, napasnya hampir habis karena berlari. Tapi rasa takut kalau Toni akan menghilang lebih besar dari segalanya. Dia harus segera menemui Toni.
Beberapa kali merasakan perasaan seperti ini, tapi rasanya kali ini terasa berbeda. Terasa lebih mencekam dan dalam. Tidak, Eliana tak mau berpisah dengan cara begini. Bukan begini caranya.
Ah, sial! Kenapa orang - orang ini ramai bergerombol di depan lobby apartment mereka. Senang sekali mereka menonton orang lain kesulitan, apakah penangkapan Toni ini adalah sesuatu yang menarik untuk dibicarakan?
"PERMISI!" teriak Eliana.
Dia menerobos gerombolan orang yang berdiri di pintu lobby.
"Dia melakukan apa?"
"Aku pikir para pria itu adalah polisi."
"Sepertinya mafia. Gangsterkah?"
"Pria yang dibawa itu penghuni lantai atas."
"Benar, dia pernah bekerja sebagai barista."
"Kopi buatannya enak sekali."
"Namanya Toni, baik dan ramah. Kenapa mereka membawanya?"
"Nampaknya mereka satu kawanan."
"Itulah, jangan sekali - kali berurusan dengan gank mafia. Atau... ---" seorang pria menggerakkan jarinya ke kanan kiri seperti gerakan memotong.
Haiz!!! Orang - orang ini malah asyik bergossip. Eliana tak mempedulikannya lagi, dia mendorong orang - orang yang sempat membuat langkahnya terhenti. Menyeruak diantaranya dan kembali berlari.
"Eliana!"
"Irma!" pekik Eliana sedikit lega. Setidaknya ada orang yang dikenalnya saat ini.
"Eliana, Eliana." Gadis itu menepuk lengan Elianan sambil menunjuk ke suatu arah. "Toni dibawa orang - orang itu."
Eliana menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Irma.
BRRRMMM....
Terlambat! Saat Eliana menoleh, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam sekali kedipan, mobil itu sudah menghilang di tikungan.
Kaki Eliana serasa kehilangan tempatnya berpijak, entah kenapa terasa ada yang hilang dari hatinya.
'Toni akan kembali kan? Dia bukan pergi untuk seterusnya?'
'Gerombolan itu temannya bukan? Kalau iya, pasti dia akan aman.
'Beberapa kali kamu berpikir Toni menghilang, tapi kenyataannya tidak kan?'
'This... too. Yeah... this too shall pas, Eliana'
Suara - suara bergema di dalam hati Eliana, perlahan mengembalikan hati dan pikirannya kepada kenyataan. Ini bukan apa - apa, Eliana menenangkan dirinya sendiri. Jangan overthinking!
"Apa yang terjadi Irma?" tanya Eliana dengan wajah sedikit ling lung.
"Aku tak tahu dengan jelas. Tadi aku kebetulan lewat, mereka bilang ada seorang laki - laki berkejaran dengan para pria berjas hitam. Laki - laki itu awalnya hendak masuk ke gedung apartment tapi dia berbalik arah dan kabur kesini."
Eliana menatap Irma tak percaya, dikejar dan kabur adalah dua kata yang tak bisa masuk di logikanya. Harus ada alasan untuk sebuah adegan kejar - kejaran dan kabur.
"Entah bagaimana, tahu - tahu para pria itu membawa Toni masuk ke mobil."
"Apa Toni melawan? Dipukul?"
"Hmmm... aku tak melihat mereka melakukan kekerasan pada Toni. Tapi, iya. Mereka membawa Toni pergi."
"Kamu yakin itu Toni?"
"Hey, bagaimana mungkin tak yakin? Aku bahkan merekam videonya." Irma menunjukkan ponselnya pada Eliana.
Eliana semakin terbengong - bengong melihat adegan di video itu. Tapi Irma benar, tak ada senjata api dan pemukulan. Siapa mereka? Apa hubungannya dengan Toni?
"Apa menurutmu mereka polisi?"
"Itulah yang menjadi spekulasi kami, Eliana. Kamu bisa bertanya pada orang - orang yang menonton."
"Aku harus bagaimana, Irma?"
Bersambung ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ricis
apakah mereka orang² suruhan dari masa lalunya Toni 🤔
2022-11-04
1
Nanda Lelo
lanjut,, penasaran bgt
2022-11-03
1
kenzie
lanjut semngaat
2022-10-31
1