Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu

BLAM!

Eliana menutup pintu unit apartment tepat di depan hidung ibu Rebecca. Biarlah kali ini saja dia bersikap kasar terhadap orang lain.

Eliana benar - benar kesal, betapa sulitnya membuat orang - orang mengerti.

"Apanya sih yang kelihatan jahat dalam diri Toni?" tanya Eliana pada dirinya sendiri. Dia berjalan mondar mandir sambil mengomel.

"Seenaknya saja mereka mengusir kami, aku sudah membayarnya lunas untuk bulan ini." dengus Eliana.

Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya, kemudian menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, berbaring terlentang memandang langit - langit.

"Aku tak tahu jam berapa Toni pulang hari ini. Seharusnya dia membeli ponsel dari pada membeli jam tangan."

"ARGGHH!!! Bagaimana menceritakan padanya tentang apartement ini?" gerutu Eliana lagi dengan frustasi. Ingin rasanya dia menjambak rambutnya sendiri, ruwet dan mumet.

Hmmm... apa yang akan terjadi biarkan terjadi nanti. Ada yang lebih penting, dia harus membereskan barang - barang mereka sekarang dan mencari tempat tinggal baru untuk nanti malam dan seterusnya. Eliana segera berdiri dan mengambil kopernya dari tempat penyimpanan.

BUK BUK BUK!

Ting tong ting tong ting tong...

Apalagi ini? Bunyi gedoran pintu dan bel beruntun memekakkan telinga Eliana.

"Pasti orang - orang itu. Mereka begitu tak sabar sekali ingin melihat kami pergi dari sini." omel Eliana sambil menyeret kopernya. Kemudian membuka koper dan memasukkan beberapa barang ke dalamnya.

BUK BUK BUK!

TIIIING TONG TING TONG

Eliana menghela napas kasar, sambil berkacak pinggang. Luar biasa kesal! Apa tak cukup mereka mengusir kami? Ingin berkemas saja rasanya dipersulit. Eliana kembali bersungut - sungut sambil meneruskan kegiatan packing-nya.

Syukurlah, akhirnya suara gedoran di pintu terhenti, Eliana menghembuskan napas lega. Nampaknya mereka sudah pergi, semoga saja mereka bosan mengganggunya.

Ow! Eliana salah. Rupanya beberapa orang masih ada di depan pintu unitnya. Eliana mendengar percakapan mereka dari dalam.

"Eliana ada di dalam, dia baru saja bertengkar denganku." suara Ibu Rebecca terdengar.

"Kasihan sekali, Toni."

"Mau bagaimana lagi? Itu kan konsekuensi dari perbuatannya."

"Hey, tidakkah kamu beritahu adiknya?"

"Eliana bukan adiknya. Dulu mereka adalah perawat dan pasien di St. Paul."

"Hey, jangan banyak cakap. Cepat beritahu Eliana sebelum mereka membawa Toni pergi. Biar bagaimana pun mereka sudah seperti saudara."

DEG!

Jantung Eliana seperti digedor, siapa yang membawa Toni pergi? Eliana menajamkan pendengarannya, berjalan mendekat ke pintu.

"Kamu kan tadi lihat sendiri kalau kami sudah mengetuk pintunya. Tapi, wanita itu tak mau membukakan pintu untuk kita." sahut seseorang.

"Biar aku saja!" sahut seorang pria dengan nada tak sabar.

"ELIANA, KELUARLAH! Kakakmu dibawa oleh polisi!"

Astaga!

Polisi? Mata Eliana terbelalak lebar, wajahnya memucat, jantungnya serasa berhenti saat itu juga.

BRAK!

Refleks Eliana membuka pintu dengan cepat, hingga menimbulkan suara yang cukup keras.

"Ada apa dengan Toni?" tanyanya pada semua orang yang ada di hadapannya.

Orang - orang bertukar pandang, saling menyikut. menyuruh yang lainnya bicara.

"Tadi ada segerombolan pria datang dan membawa Toni pergi. Kami semua dilarang mendekat."

"Gerombolan apa? Siapa?" tanya Eliana panik.

"Kami tak tahu, bisa saja mereka polisi yang memakai jas hitam dan membawa mobil." jawab seorang pria.

"Dimana mereka?" Eliana mencengkeram lengan pria itu dan mengguncangnya.

"Tadi di belakang gedung ini... --"

Tanpa menunggu pria itu menyelesaikan kalimatnya, Eliana sudah berbalik arah dan berlari sekuat yang dia mampu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai tempat dimana Toni berada secepat mungkin.

'Ada apa ini, Toni? Ada apa? Katakan padaku apa yang terjadi.'

Dada Eliana seakan mau meledak, napasnya hampir habis karena berlari. Tapi rasa takut kalau Toni akan menghilang lebih besar dari segalanya. Dia harus segera menemui Toni.

Beberapa kali merasakan perasaan seperti ini, tapi rasanya kali ini terasa berbeda. Terasa lebih mencekam dan dalam. Tidak, Eliana tak mau berpisah dengan cara begini. Bukan begini caranya.

Ah, sial! Kenapa orang - orang ini ramai bergerombol di depan lobby apartment mereka. Senang sekali mereka menonton orang lain kesulitan, apakah penangkapan Toni ini adalah sesuatu yang menarik untuk dibicarakan?

"PERMISI!" teriak Eliana.

Dia menerobos gerombolan orang yang berdiri di pintu lobby.

"Dia melakukan apa?"

"Aku pikir para pria itu adalah polisi."

"Sepertinya mafia. Gangsterkah?"

"Pria yang dibawa itu penghuni lantai atas."

"Benar, dia pernah bekerja sebagai barista."

"Kopi buatannya enak sekali."

"Namanya Toni, baik dan ramah. Kenapa mereka membawanya?"

"Nampaknya mereka satu kawanan."

"Itulah, jangan sekali - kali berurusan dengan gank mafia. Atau... ---" seorang pria menggerakkan jarinya ke kanan kiri seperti gerakan memotong.

Haiz!!! Orang - orang ini malah asyik bergossip. Eliana tak mempedulikannya lagi, dia mendorong orang - orang yang sempat membuat langkahnya terhenti. Menyeruak diantaranya dan kembali berlari.

"Eliana!"

"Irma!" pekik Eliana sedikit lega. Setidaknya ada orang yang dikenalnya saat ini.

"Eliana, Eliana." Gadis itu menepuk lengan Elianan sambil menunjuk ke suatu arah. "Toni dibawa orang - orang itu."

Eliana menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Irma.

BRRRMMM....

Terlambat! Saat Eliana menoleh, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam sekali kedipan, mobil itu sudah menghilang di tikungan.

Kaki Eliana serasa kehilangan tempatnya berpijak, entah kenapa terasa ada yang hilang dari hatinya.

'Toni akan kembali kan? Dia bukan pergi untuk seterusnya?'

'Gerombolan itu temannya bukan? Kalau iya, pasti dia akan aman.

'Beberapa kali kamu berpikir Toni menghilang, tapi kenyataannya tidak kan?'

'This... too. Yeah... this too shall pas, Eliana'

Suara - suara bergema di dalam hati Eliana, perlahan mengembalikan hati dan pikirannya kepada kenyataan. Ini bukan apa - apa, Eliana menenangkan dirinya sendiri. Jangan overthinking!

"Apa yang terjadi Irma?" tanya Eliana dengan wajah sedikit ling lung.

"Aku tak tahu dengan jelas. Tadi aku kebetulan lewat, mereka bilang ada seorang laki - laki berkejaran dengan para pria berjas hitam. Laki - laki itu awalnya hendak masuk ke gedung apartment tapi dia berbalik arah dan kabur kesini."

Eliana menatap Irma tak percaya, dikejar dan kabur adalah dua kata yang tak bisa masuk di logikanya. Harus ada alasan untuk sebuah adegan kejar - kejaran dan kabur.

"Entah bagaimana, tahu - tahu para pria itu membawa Toni masuk ke mobil."

"Apa Toni melawan? Dipukul?"

"Hmmm... aku tak melihat mereka melakukan kekerasan pada Toni. Tapi, iya. Mereka membawa Toni pergi."

"Kamu yakin itu Toni?"

"Hey, bagaimana mungkin tak yakin? Aku bahkan merekam videonya." Irma menunjukkan ponselnya pada Eliana.

Eliana semakin terbengong - bengong melihat adegan di video itu. Tapi Irma benar, tak ada senjata api dan pemukulan. Siapa mereka? Apa hubungannya dengan Toni?

"Apa menurutmu mereka polisi?"

"Itulah yang menjadi spekulasi kami, Eliana. Kamu bisa bertanya pada orang - orang yang menonton."

"Aku harus bagaimana, Irma?"

Bersambung ya...

Terpopuler

Comments

Ricis

Ricis

apakah mereka orang² suruhan dari masa lalunya Toni 🤔

2022-11-04

1

Nanda Lelo

Nanda Lelo

lanjut,, penasaran bgt

2022-11-03

1

kenzie

kenzie

lanjut semngaat

2022-10-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!