Days later...
"Hai.... "
"Toni, lagi - lagi kamu menungguku." tegur Eliana saat mendapati Toni sudah berdiri di pintu keluar bus yang baru saja dinaikinya. Beberapa hari ini, Toni selalu stand by setiap kali Eliana pulang kerja. Dia tak pernah absen menjemput perawat cantik kesayangannya.
Toni mengangguk dan tersenyum, tangannya mengambil alih barang bawaan dari tangan Eliana.
"Kamu membeli jeruk? Banyak sekali?"
"Hm-hm. Ada yang menawarkan jeruk murah dan penjualnya sudah tua. Karena kasihan jadi aku beli saja semuanya."
Toni tertawa pelan. Seminggu bersama Eliana, membuatnya tahu satu hal. Eliana adalah tipe orang yang mudah kasihan terhadap orang lain. Pernah suatu kali, Eliana memborong kue dari seorang anak kecil yang menjajakan dagangannya dan memberikannya begitu saja pada seorang ibu tua di pinggir jalan.
Toni benar - benar kagum pada wanita yang sedang berjalan di sampingnya, dia bukan orang yang berlebihan secara materi namun hatinya benar - benar kaya.
"Kamu tak perlu menjemputku seperti ini. Kamu bisa mengerjakan yang lainnya dari pada menjemputku." ucap Eliana sambil melangkah menuju kembali ke apartment.
"Tak apa. Lagipula aku pengangguran." jawab Toni. Matanya menerawang jauh dan kelihatan sedih.
Astaga! Sepertinya Eliana salah ngomong, dia hanya tak ingin merepotkan Toni.
"Ehm... maksudku lebih baik kamu beristirahat supaya ingatanmu cepat pulih, Toni." ralat Eliana cepat - cepat. Dia tak mau melihat Toni tersinggung atau pun bersedih.
"Jadi apa saja yang kamu lakukan hari ini Eliana?" Toni mengalihkan pembicaraan, dia tahu Eliana tak bermaksud buruk.
"Tak ada yang istimewa. Aku sibuk mengurus pasien seperti biasa."
"Ada cerita apalagi soal suster kepala?" tanya Toni sambil terkekeh, matanya bersinar jenaka.
Eliana tertawa sambil menutup mulutnya. "Hey, kenapa kamu menanyakannya? Apa kamu merindukan dia?" ledek Eliana.
Dia mengerti kalau Toni bermaksud menghiburnya sepulang dari kerja. Hampir setiap hari Eliana mengeluh bagaimana suster kepala kian hari kian menjadi - jadi. Dia selalu menegur keras bukan saja perawat yang menjadi anak buahnya tapi juga beberapa pasien kadang - kadang 'rewel'. Tak ada satu pun yang benar dimata suster kepala.
"Rindu marahnya?" Toni terbahak. "Kalau sudah ada perawat cantik dan sabar di sisiku, buat apa aku merindukan suster yang judes seperti dia?" balas Toni dengan santainya.
"Manis sekali mulutmu, Toni. Aku curiga, jangan - jangan pekerjaanmu sebenarnya adalah seorang salesman." gerutu Eliana sambil terus berjalan. Beberapa meter lagi mereka sampai di apartment.
"Welcome home, Eliana. Kamu bisa mandi, sementara aku siapkan makanan untukmu." kata Toni saat mereka sudah sampai di apartment.
Eliana mengucapkan terima kasih dan membuka pintu kamarnya untuk mengambil perlengkapan mandinya. Astaga! Matanya langsung terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam kamarnya.
Kamarnya begitu bersih dan harum, sprei sudah diganti yang baru. Lalu apa itu? Sebuah cermin berukuran tak terlalu besar terpasang di dinding, lengkap dengan rak kayu mini dan kotak kecil menyerupai bangku di bawahnya. Sederhana namun manis.
Perlahan Eliana mendekati 'furniture barunya'. Dari baunya, dia tahu kalau catnya masih baru. Diatas kotak itu ada busa tak terlalu tebal tapi sepertinya akan nyaman kalau duduk diatasnya. Sebuah bangku dari kotak kayu, salah satu sisi bangku itu bisa dibuka untuk menyimpan barang - barang kecil. Multifungsi.
Kalau dilihat - lihat, kedua benda ini lebih menyerupai meja rias yang di design minimalis. Cantik dan halus buatannya.
'Toni.... '
Eliana membalikkan badannya dengan cepat.
BUGH!
HADUH!
"Kenapa kamu berdiri disitu Toni?" tanya Eliana sambil mengusap hidungnya yang sedikit sakit karena menabrak dada Toni yang keras.
"Sorry, are you okay? Aku cuma mau memberitahu kalau air hangatnya sudah siap di kamar mandi." ucap Toni dengan wajah kuatir, jempolnya menunjuk kearah belakang punggungnya. Di apartment ini memang hanya ada satu kamar mandi, yaitu di dekat dapur.
"Apa yang kamu lakukan hari ini Toni?" Eliana malah balik bertanya. Dagunya menunjuk ke arah meja riasnya.
"Uhm... maaf, aku menggunakan sisa uang belanja darimu untuk membeli cermin dan bangku."ucap Toni. Suaranya pelan seperti seorang anak yang sedang mengaku dosa pada mamanya. Tersirat rasa inferior di dalam ucapannya.
Ugh, Eliana tak suka melihat Toni yang seperti itu. Lagipula, Eliana tahu bukan orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain.
"Tadi aku melihat tukang loak lewat dan membawa cermin dan bangku itu. Aku tak tega melihatmu terus - terusan menggunakan cermin di compact powder setiap kali berdandan."
"Barang sebagus ini beli di tukang loak?"
"Aku memperbaikinya. Barangnya sedikit rusak, kayunya pun kasar. Aku takut kamu terluka jadi aku memperbaikinya dengan menghaluskan kayunya dan mengecat ulang." Toni bercerita tentang furniture sekaligus kesibukannya hari ini. Wajahnya telihat menyesal, merasa bersalah karena menghamburkan uang Eliana.
"Jadi seharian ini kamu membersihkan apartment dan bertukang?" Eliana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Dia percaya Toni bisa membersihkan rumah dan memasak, tapi tak percaya Toni bisa memperbaiki barang. Permukaan kayunya begitu halus, sepertinya diproses dengan teknik yang bagus.
"Maaf, aku akan mencari kerja dan mengganti semua uangmu." sahut Toni. Suaranya tegas, saat itu juga dia memutuskan untuk mencari pekerjaan.
"Bukan begitu, Toni." suara Eliana terdengar lembut. Dia mengusap lengan Toni sekilas, tak mau membuat Toni merasa tak nyaman.
"Aku hanya tak tahu kalau kamu bisa memperbaiki barang - barang." lanjut Eliana lagi. Matanya yang lembut menatap Toni, tak ada kemarahan atau emosi di dalamnya.
Toni menghembuskan napas dan mengedikkan bahunya. "Ide itu muncul begitu saja, dan aku melakukannya secara otomatis."
Eliana memasang senyum terbaiknya. "Hey, jangan begitu. Aku menyukainya. Terima kasih untuk usahamu menyenangkan aku." Tangannya menepuk bahu Toni.
"Kalau kau merasa bersalah, lebih baik kamu masak makanan enak untukku. Bagaimana?" Eliana mengedipkan sebelah matanya, mencoba bercanda untuk mencairkan suasana. Kemudian wanita itu berjalan menuju ke kamar mandi.
"Makanan sudah siap Eliana." sapa Toni
Eliana menghampirinya setelah selesai mandi, wanita itu nampak santai dengan pakaian rumahnya, celana selutut dan kaos oversized tapi tak menghilangkan kesan manis.
"Bisa - bisa aku gemuk kalau begini terus." komentar Eliana, air liurnya menetes. Masakan Toni sangat enak, tak mungkin cukup kalau makan dengan porsi kecil.
"Tak apa. Makin berisi seorang wanita, dia akan semakin menarik." jawab Toni dengan santainya.
Dia duduk di sebelah Eliana.
"Buah ini bagus untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Makan yang banyak. Pekerjaanmu berhubungan dengan orang sakit, jadi jagalah kesehatan." ucap Toni lembut, sambil menggeser piring berisi jeruk - jeruk yang sudah dikupas.
'Oh, Toni... '
Eliana menoleh dengan mata berkaca - kaca, dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"What's up Eliana?"
Tak pernah sebelumnya ada orang yang memperlakukannya seperti Toni. Pria itu mengurusnya dengan baik, mulai dari makanan, air mandi, meja rias, membersihkan rumah termasuk membuang sampah, menjemputnya setiap pulang kerja dan entah apa lagi. Eliana tak bisa mengingatnya lagi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Eliana saat melihat Toni duduk di sebelahnya dan menarik piring jeruknya.
"Makanlah, aku siapkan jeruknya." jawabnya sambil mengeluarkan biji jeruk satu per satu.
'Oh, My God.'
It touched Eliana deep down in her heart.
(Menyentuh Eliana hingga ke dalam hatinya.)
"Kamu itu pria yang baik. Wanita yang menjadi istrimu pasti akan berbahagia, Toni."
Eliana menatap Toni dengan pandangan penuh kasih bercampur haru, mulutnya menyungging senyum sebagai tanda terima kasih terbaiknya untuk Toni.
Toni melengos, menyembunyikan pipinya yang merona.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ricis
Ini sih bukan sang perawat yg merawat pasien, tapi pasiennya yg mengasuh sang perawat 😀
2022-11-03
1
Nanda Lelo
perhatian bgt
2022-11-02
1
olive
Toni manis banget 😘
2022-10-26
1