Bab 2 -- Namamu Toni

Hari ini seluruh rumah sakit, lebih tepatnya ruang perawat dan dokter, dipenuhi desas desus tentang pria amnesia di kamar nomer nol. Tapi semuanya tak ada yang menceritakan hal - hal baik mengenai pria itu.

"Aku dengar pasien itu berasal dari Green Land."

"Katanya meloncat dari sebuah mobil yang meledak."

"Kabarnya di dalam mobil yang ditumpanginya ada narkoba."

"Iiih, kok bisa ada di rumah sakit ini?"

"Dia sempat menyebut-nyebut Green Land dalam igauannya."

"Di Green Land dia tak dirawat dengan baik."

"Yah, tapi siapa juga yang mau merawat narapidana?"

Sepanjang hari itu pula, Eliana berusaha menulikan telinganya. Apa boleh buat, tak ada apa pun yang bisa dilakukan oleh Eliana untuk menepis kabar miring tentang pasien amnesia itu. Yang bisa dia lakukan hanyalah merawatnya dengan baik.

***

Bau kamar yang pengap dan berjamur menyergap masuk ke indera penciuman Eliana saat pertama kali dia masuk ke kamar nomer nol. Pelan - pelan dia melangkahkan kakinya ke dalam.

Pemandangan yang menyesakkan hadir di hadapannya. Sebuah tempat tidur disudut ruangan, sprei yang menguning dan jendela yang tak bisa dibuka. Lampu yang menyala pun bukanlah lampu putih terang seperti yang digunakan di kamar yang lain.

Pria itu terbaring, wajahnya sudah tak sepucat saat tadi pertama kali dia datang. Tapi tetap saja dimata Eliana, pria itu terlihat seperti barang yang digeletakkan begitu saja. Tersia - sia.

Eliana menghela napas. Ternyata ada kamar seburuk ini di sebuah rumah sakit sebesar dan terkenal seperti St Paul, tempatnya bekerja.

Melihat selang infus yang belum juga terpasang, Eliana menyadari kalau pasien ini dibiarkan begitu saja oleh mereka.

"Hmm... Tuan, siapa pun kamu, aku akan memastikan dirimu terawat dengan baik." bisiknya lembut di dekat telinga pasien itu.

Kemudian Eliana membalikkan tubuhnya dan segera pergi ke ruang obat, ruang perlengkapan, dan juga dapur rumah sakit.

Tak lama, dengan senyum sumringah Eliana membawa sprei yang baru dicuci, selimut yang masih baru dan pakaian pasien. Dia meletakkan semuanya di trolley bersama dengan obat cair, vitamin, buah -buahan, air putih dan jus. Tak lupa pula dia meletakkan handuk dan baskom berisi air hangat di trolley bagian paling bawah. Setidaknya, kebutuhan dasar pria itu terpenuhi.

KREK!

"Permisi, Tuan!" ucap Eliana pelan.Berdasarkan perhitungannya, efek bius seharusnya sudah habis dan pasien itu seharusnya sudah siuman.

Benar saja.

Pria itu sedang duduk di atas tempat tidur dan saat ini menoleh kepadanya dengan tatapan penuh tanya.

"Selamat siang, Tuan. Apa yang anda rasakan saat ini?" Eliana menyapanya dengan ramah, dan memberikan senyum terbaiknya.

Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat seorang wanita muda berseragam perawat masuk ke ruangan tempatnya terbaring.

Dia tak terkejut karena menyadari kalau dirinya ada di rumah sakit. Dia menyadari kalau sudah beberapa kali dioper dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Namun yang mengejutkannya adalah senyum tulus dan tatapan lembut wanita cantik di hadapannya, perlakuan yang tak pernah didapatnya belakangan ini.

"Sampah!"

"Kotor sekali dia."

"Melihatnya saja tak sudi, jangan suruh aku merawatnya."

"Kirim dia ke St Paul, mereka punya fasilitas untuk orang tak jelas seperti dia."

"Sebaiknya jangan berurusan dengan orang yang tak jelas."

Suara itu berputar - putar ditelinganya seiring dengan gerakan Eliana yang berjalan perlahan mendekat sambil mendorong trolleynya. Senyum tak lepas dari wajah wanita muda itu.

"Siapa kamu?" Tanyanya dingin.

"O'ya. Namaku Eliana." kata Eliana.

Tanpa ragu, dia memperkenalkan diri dan tangannya terulur mengajak pria itu bersalaman.

Pria itu tertegun, matanya menatap ragu telapak tangan dihadapannya. Putih dan bersih. Diliriknya telapak tangannya sendiri yang kotor dan hitam, kuku - kukunya pun sudah panjang dan tak beraturan.

"Kamu tak jijik padaku?" tanya pria itu heran.

Setelah beberapa hari terakhir ini, di saat semua orang terkesan jijik padanya, seorang wanita muda dengan ramah mengajaknya bersalaman.

"Ahahaha... jijik sih jijik, Tuan. Tapi kan bisa cuci tangan. Habis Tuan kotor sekali." kata Eliana sambil tertawa.

Anehnya tawa itu tak terdengar menghina di telinganya. Tawa Eliana terasa renyah dan merdu di telinga pria amnesia itu. Pria itu melengos, diam-diam dia malu dan risih dengan dirinya sendiri. Dia tak berani menyambut uluran tangan Eliana.

"Kelihatannya aku tak disukai di rumah sakit ini." kata pria itu terus terang.

"Ha? Siapa bilang? Semua pasien diperlakukan sama disini." ucap Eliana sambil mengelap meja kayu yang berdebu dan meletakkan juice, air dan buah disana.

"Jangan berpikir yang macam - macam." lanjut Eliana kemudian.

"Menurutku, kamu terlalu baik padaku." lirih pria itu. Kepalanya menunduk.

"Tuan... "

"Kamu tau kan? Kalau aku sudah berkali - kali dipindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya karena aku tak punya identitas dan keluarga."

"Tuan, kalau badan sehat pasti ingatan Tuan akan segera pulih. Sebaiknya Tuan fokus untuk sembuh dulu." sahut Eliana.

Suara Eliana terdengar menggebu - gebu, ada terselip harapan supaya pria dihadapannya juga ikut bersemangat.

"Suster, sebaiknya jangan dekat - dekat pasien yang dibuang oleh rumah sakit." Pria itu diam sesaat. "Walau pun aku mati di kamar ini, jangan pedulikan aku."

Trenyuh, itulah perasaan Eliana saat menangkap sinyal putus asa yang tersirat dari kata - kata yang diucapkannya. Hatinya seperti diremas oleh tangan kasat mata.

"Tuan, apa kamu ingin tau siapa namamu?"

Eh?

"Namaku?"

"Ya." Eliana mengangguk mantap.

Tangannya merogoh ke kantong seragamnya, dan mengeluarkan sepotong kertas kumal. Seperti sebuah sobekan berupa kertas dengan tulisan emas dan background putih tulang atau mungkin juga cream. Lagi - lagi warnanya tak jelas karena kotor.

"Lihat! Namamu Thony."

"Ha?" Wajah pria itu nampak tak mengerti, menatap sobekan kertas itu.

"Well, aku menemukan potongan kertas ini di ranselmu. Sepertinya ini potongan pemberitahuan atau entahlah." Eliana mengangkat bahunya.

"Disitu tertulis Thony, jadi aku akan memanggilmu Toni. Deal?" ucap Eliana lagi.

Wajahnya penuh kemenangan seakan berhasil menemukan sebuah penemuan hebat yang berguna untuk hajat hidup orang banyak.

"Terserahlah." jawab Toni sambil memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum tipis yang hampir terukir. Setidaknya, hari ini dia cukup terhibur dengan kedatangan perawat cantik nan ceria ini.

"Jadi?" tanya Eliana kemudian.

HA? Toni menoleh dengan pandangan bertanya. Eliana mengangkat kedua alisnya dan tersenyum lebar.

"Jadi mulai sekarang, Toni dan Eliana berteman. Bagaimana menurutmu?" Mata Eliana terlihat berbinar, tangannya kembali terulur.

Tak bisa tidak, ada yang meleleh di hati Toni. Pertahanannya roboh, sudut bibirnya melengkung keatas. Tangan dekilnya terulur menyambut salam sayang dari Eliana, hangatnya menelusup hingga ke lubuk hati Toni.

You and me are friends. That sounds good, Eliana.

Bersambung ya....

Note :

Tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun, saya menyatakan kalau nama tempat dan kota semua murni karangan Author ya.

Kejadian yang terjadi murni imajinasi demi menghadirkan cerita yang menarik.

Contoh :

St. Paul (rumah sakit)

Rock town (kota)

Green land (kota)

Lake wood (kota)

Thank you

EYN

Terpopuler

Comments

Sagara Banyu

Sagara Banyu

nggak sengaja nemu saat antri nunggu 2 jam di loket farmasi selama 2 jam 😅

keren....lanjuuuut 👍

2023-07-22

1

Nanda Lelo

Nanda Lelo

jijik??? itu salah satu kata yg tak bisa n tak boleh d miliki perawat ,, 🙄

2022-11-02

2

Mamahe 3E

Mamahe 3E

lnjuutt lagiii

2022-09-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!