Hari ini seluruh rumah sakit, lebih tepatnya ruang perawat dan dokter, dipenuhi desas desus tentang pria amnesia di kamar nomer nol. Tapi semuanya tak ada yang menceritakan hal - hal baik mengenai pria itu.
"Aku dengar pasien itu berasal dari Green Land."
"Katanya meloncat dari sebuah mobil yang meledak."
"Kabarnya di dalam mobil yang ditumpanginya ada narkoba."
"Iiih, kok bisa ada di rumah sakit ini?"
"Dia sempat menyebut-nyebut Green Land dalam igauannya."
"Di Green Land dia tak dirawat dengan baik."
"Yah, tapi siapa juga yang mau merawat narapidana?"
Sepanjang hari itu pula, Eliana berusaha menulikan telinganya. Apa boleh buat, tak ada apa pun yang bisa dilakukan oleh Eliana untuk menepis kabar miring tentang pasien amnesia itu. Yang bisa dia lakukan hanyalah merawatnya dengan baik.
***
Bau kamar yang pengap dan berjamur menyergap masuk ke indera penciuman Eliana saat pertama kali dia masuk ke kamar nomer nol. Pelan - pelan dia melangkahkan kakinya ke dalam.
Pemandangan yang menyesakkan hadir di hadapannya. Sebuah tempat tidur disudut ruangan, sprei yang menguning dan jendela yang tak bisa dibuka. Lampu yang menyala pun bukanlah lampu putih terang seperti yang digunakan di kamar yang lain.
Pria itu terbaring, wajahnya sudah tak sepucat saat tadi pertama kali dia datang. Tapi tetap saja dimata Eliana, pria itu terlihat seperti barang yang digeletakkan begitu saja. Tersia - sia.
Eliana menghela napas. Ternyata ada kamar seburuk ini di sebuah rumah sakit sebesar dan terkenal seperti St Paul, tempatnya bekerja.
Melihat selang infus yang belum juga terpasang, Eliana menyadari kalau pasien ini dibiarkan begitu saja oleh mereka.
"Hmm... Tuan, siapa pun kamu, aku akan memastikan dirimu terawat dengan baik." bisiknya lembut di dekat telinga pasien itu.
Kemudian Eliana membalikkan tubuhnya dan segera pergi ke ruang obat, ruang perlengkapan, dan juga dapur rumah sakit.
Tak lama, dengan senyum sumringah Eliana membawa sprei yang baru dicuci, selimut yang masih baru dan pakaian pasien. Dia meletakkan semuanya di trolley bersama dengan obat cair, vitamin, buah -buahan, air putih dan jus. Tak lupa pula dia meletakkan handuk dan baskom berisi air hangat di trolley bagian paling bawah. Setidaknya, kebutuhan dasar pria itu terpenuhi.
KREK!
"Permisi, Tuan!" ucap Eliana pelan.Berdasarkan perhitungannya, efek bius seharusnya sudah habis dan pasien itu seharusnya sudah siuman.
Benar saja.
Pria itu sedang duduk di atas tempat tidur dan saat ini menoleh kepadanya dengan tatapan penuh tanya.
"Selamat siang, Tuan. Apa yang anda rasakan saat ini?" Eliana menyapanya dengan ramah, dan memberikan senyum terbaiknya.
Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat seorang wanita muda berseragam perawat masuk ke ruangan tempatnya terbaring.
Dia tak terkejut karena menyadari kalau dirinya ada di rumah sakit. Dia menyadari kalau sudah beberapa kali dioper dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.
Namun yang mengejutkannya adalah senyum tulus dan tatapan lembut wanita cantik di hadapannya, perlakuan yang tak pernah didapatnya belakangan ini.
"Sampah!"
"Kotor sekali dia."
"Melihatnya saja tak sudi, jangan suruh aku merawatnya."
"Kirim dia ke St Paul, mereka punya fasilitas untuk orang tak jelas seperti dia."
"Sebaiknya jangan berurusan dengan orang yang tak jelas."
Suara itu berputar - putar ditelinganya seiring dengan gerakan Eliana yang berjalan perlahan mendekat sambil mendorong trolleynya. Senyum tak lepas dari wajah wanita muda itu.
"Siapa kamu?" Tanyanya dingin.
"O'ya. Namaku Eliana." kata Eliana.
Tanpa ragu, dia memperkenalkan diri dan tangannya terulur mengajak pria itu bersalaman.
Pria itu tertegun, matanya menatap ragu telapak tangan dihadapannya. Putih dan bersih. Diliriknya telapak tangannya sendiri yang kotor dan hitam, kuku - kukunya pun sudah panjang dan tak beraturan.
"Kamu tak jijik padaku?" tanya pria itu heran.
Setelah beberapa hari terakhir ini, di saat semua orang terkesan jijik padanya, seorang wanita muda dengan ramah mengajaknya bersalaman.
"Ahahaha... jijik sih jijik, Tuan. Tapi kan bisa cuci tangan. Habis Tuan kotor sekali." kata Eliana sambil tertawa.
Anehnya tawa itu tak terdengar menghina di telinganya. Tawa Eliana terasa renyah dan merdu di telinga pria amnesia itu. Pria itu melengos, diam-diam dia malu dan risih dengan dirinya sendiri. Dia tak berani menyambut uluran tangan Eliana.
"Kelihatannya aku tak disukai di rumah sakit ini." kata pria itu terus terang.
"Ha? Siapa bilang? Semua pasien diperlakukan sama disini." ucap Eliana sambil mengelap meja kayu yang berdebu dan meletakkan juice, air dan buah disana.
"Jangan berpikir yang macam - macam." lanjut Eliana kemudian.
"Menurutku, kamu terlalu baik padaku." lirih pria itu. Kepalanya menunduk.
"Tuan... "
"Kamu tau kan? Kalau aku sudah berkali - kali dipindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya karena aku tak punya identitas dan keluarga."
"Tuan, kalau badan sehat pasti ingatan Tuan akan segera pulih. Sebaiknya Tuan fokus untuk sembuh dulu." sahut Eliana.
Suara Eliana terdengar menggebu - gebu, ada terselip harapan supaya pria dihadapannya juga ikut bersemangat.
"Suster, sebaiknya jangan dekat - dekat pasien yang dibuang oleh rumah sakit." Pria itu diam sesaat. "Walau pun aku mati di kamar ini, jangan pedulikan aku."
Trenyuh, itulah perasaan Eliana saat menangkap sinyal putus asa yang tersirat dari kata - kata yang diucapkannya. Hatinya seperti diremas oleh tangan kasat mata.
"Tuan, apa kamu ingin tau siapa namamu?"
Eh?
"Namaku?"
"Ya." Eliana mengangguk mantap.
Tangannya merogoh ke kantong seragamnya, dan mengeluarkan sepotong kertas kumal. Seperti sebuah sobekan berupa kertas dengan tulisan emas dan background putih tulang atau mungkin juga cream. Lagi - lagi warnanya tak jelas karena kotor.
"Lihat! Namamu Thony."
"Ha?" Wajah pria itu nampak tak mengerti, menatap sobekan kertas itu.
"Well, aku menemukan potongan kertas ini di ranselmu. Sepertinya ini potongan pemberitahuan atau entahlah." Eliana mengangkat bahunya.
"Disitu tertulis Thony, jadi aku akan memanggilmu Toni. Deal?" ucap Eliana lagi.
Wajahnya penuh kemenangan seakan berhasil menemukan sebuah penemuan hebat yang berguna untuk hajat hidup orang banyak.
"Terserahlah." jawab Toni sambil memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum tipis yang hampir terukir. Setidaknya, hari ini dia cukup terhibur dengan kedatangan perawat cantik nan ceria ini.
"Jadi?" tanya Eliana kemudian.
HA? Toni menoleh dengan pandangan bertanya. Eliana mengangkat kedua alisnya dan tersenyum lebar.
"Jadi mulai sekarang, Toni dan Eliana berteman. Bagaimana menurutmu?" Mata Eliana terlihat berbinar, tangannya kembali terulur.
Tak bisa tidak, ada yang meleleh di hati Toni. Pertahanannya roboh, sudut bibirnya melengkung keatas. Tangan dekilnya terulur menyambut salam sayang dari Eliana, hangatnya menelusup hingga ke lubuk hati Toni.
You and me are friends. That sounds good, Eliana.
Bersambung ya....
Note :
Tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun, saya menyatakan kalau nama tempat dan kota semua murni karangan Author ya.
Kejadian yang terjadi murni imajinasi demi menghadirkan cerita yang menarik.
Contoh :
St. Paul (rumah sakit)
Rock town (kota)
Green land (kota)
Lake wood (kota)
Thank you
EYN
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sagara Banyu
nggak sengaja nemu saat antri nunggu 2 jam di loket farmasi selama 2 jam 😅
keren....lanjuuuut 👍
2023-07-22
1
Nanda Lelo
jijik??? itu salah satu kata yg tak bisa n tak boleh d miliki perawat ,, 🙄
2022-11-02
2
Mamahe 3E
lnjuutt lagiii
2022-09-29
1