Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain

Esok harinya, ST. Paul Hospital...

"BUNGA APAAN ITU?"

'ASTAGA!'

Vas ditangan Eliana hampir saja terlempar, jantungnya seperti mau copot, sampai - sampai tangannya sedikit bergetar. Shock!

Baru saja dia hendak meletakkan bunga supaya ruangan itu nampak lebih semarak.

'Good job, Eliana. Kamu berhasil tidak berteriak.'

Eliana memuji dirinya sendiri yang berhasil menahan refleks-nya untuk tidak melempar vas yang ada ditangannya. Mulai hari ini, dia bertugas untuk menggantikan suster kepala untuk menangani pasien VVIP yang katanya super rewel dan emosian.

Sejak mengetahui kalau pasien yang dihadapinya adalah pemarah dan orang kaya yang semena - mena, Eliana benar - benar menyiapkan hati dan mentalnya. Tapi tetap saja dia terkejut menghadapi pria kaya ini.

"Selamat pagi, Tuan Peterson. Anda sudah bangun?" sapa Eliana sopan sambil membungkukkan tubuhnya.

"AKU PALING TAK SUKA BUNGA. BAWA KELUAR!"

"Maafkan perbuatan saya tadi. Perkenalkan saya Eliana, yang akan merawat Tuan mulai hari ini."

"Huh! Eliana? Nama yang manis, sayang tak sesuai dengan orangnya."

'What?'

Hampir saja Eliana membelalakkan matanya, blak - blakan sekali pria di hadapannya. Tapi dia bisa apa? Akhirnya Eliana hanya mengangguk dan tersenyum manis.

Pasien di hadapannya sudah berusia diatas tujuh puluh tahun, alisnya tebal dengan garis rahang yang tegas. Meski alisnya sudah mulai memutih, lelaki ini masih terlihat tampan di usianya yang sudah menginjak masa pensiun. Sayangnya, sorot mata pria itu sedingin es.

Lain di hati, lain di mulut. Lebih lain lagi penampakan Eliana di mata Tuan Peterson.

"Jangan cengengesan! Urus saja bunga itu. CEPAT!" geram pria itu saat melihat Eliana tersenyum manis.

"I... iya. Permisi, Tuan." cicit Eliana, setengah berlari membawa bunga itu ke ruang perawat yang hanya terpisah oleh dinding kaca yang tebal dengan ruang tidur pasien.

Kamar pasien VVIP di St. Paul sangat luas, fasilitasnya setara dengan hotel bintang lima. Setiap ruangan dilengkapi dengan ruang perawat untuk menyimpan segala keperluan pasien dan perawat, ruang tamu yang nyaman, dapur bersih, coffee bar dan kamar mandi bathtub serta shower.

"Rumah sakit apaan ini. Orang yang sebelumnya judes, gemuk, dan berkacamata." gerutuan pria itu masih sempat terdengar dari balik punggung Eliana saat dia berjalan menuju ruang perawat.

'Hehehe... pasti suster kepala.' celetuk Eliana dalam hati, sambil menahan senyum.

"YANG SEKARANG DUNGU DAN GILA. SUKA SENYUM - SENYUM SENDIRI! kata pria lagi.

Suaranya kali ini lebih keras dan agak berteriak. Sepertinya dia sengaja supaya Eliana mendengar, karena suster cantik itu sudah menghilang di balik tembok kaca ruang perawat.

'HE...! Dungu dan gila? Enak saja.'

Eliana memutar bola matanya, bibirnya mencebik.

Ya ampun! Eliana mengerti sekarang. Pantas saja suster kepala tak mau mengurusnya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana wajah suster kepala yang di maki - maki oleh orang ini.

'Inhale... exhale... !' perintah Eliana pada dirinya sendiri.

'Kamu tak boleh marah. Serve him with your heart, Okay? Pasien itu tak tahu apa yang dia lakukan. Smile, Eliana.'

(Layanilah dia dengan hati.)

Eliana berdiri di depan cermin ruangan itu, tangan satunya berkacak pinggang dan satunya menunjuk - nunjuk bayangannya sendiri seperti orang sedang menasehati.

"HEI, AKU HAUS!'

"YES, SIR!"

Eliana melonjak, hingga tak sengaja berteriak.

Dalam satu langkah besar dia sudah sampai di counter dapur mini di dekatnya. Bagus! Sepoci teh hangat dan sebuah cangkir yang tadi disiapkannya masih ada disana.

'Syukurlah, kamu tipe orang yang penuh persiapan, Eliana.' puji Eliana pada dirinya sendiri.

Bergegas disambarnya nampan berisi poci teh dan cangkir. Setengah berlari menuju ke Tuan Peterson dan kembali mengulas senyum saat berdiri di hadapan pasien uniknya.

"Apa yang kamu bawa?" tanya Tuan Peterson tanpa melihat ke arah Eliana. Matanya menerawang ke jendela kamar yang menampilkan taman bunga St. Paul yang menenangkan hati.

"Satu poci teh herbal hangat, Tuan. Bagus untuk kesehatan." jawab Eliana dengan suara lembut. Senyum tak lepas dari wajahnya, bahkan tak sedikit pun nampak rasa kesal di dalam ekspresi Eliana.

Tuan Peterson melihat Eliana dengan sudut matanya, sinis. "Aku tadi bilang lapar, kenapa kamu membawa minum?"

DIENG!

"Maaf."

Hanya itu yang bisa diucapkan Eliana, kakinya bergerak secepat yang dia bisa supaya bisa segera kembali menemui Tuan yang banyak mau itu.

"Silahkan kuenya, Tuan."

"Kok kue? Kamu mau diabetesku naik?" dengusnya. Dia menoleh dan melotot. "Seharusnya kamu membawakanku buah!"

Eliana langsung pergi dan kembali lagi dengan membawa satu keranjang penuh berisi semua buah yang ditemukannya di kulkas. Harapannya semoga ada salah satu diantara buah itu yang disukai oleh tuan semena - mena ini.

"Daripada buah, bawa saja GLUTEN-FREE CAKE! Itu lebih mengenyangkan."

OH!

MY!

GOD!

***

Celingak... Celinguk...

Tolah... toleh....

Eliana mencari - cari sosok Tony yang biasanya sudah stand by di depan pintu bus setiap kali dirinya pulang kerja.

Tak ada.

'Hmm... '

Sekali lagi Eliana mengedarkan pandangannya, siapa tahu Toni ada disisi lain halte. Atau mungkin saja Toni terlambat datang.

Bus beranjak pergi, hanya tersisa satu dua orang yang ada disana. Tidak ada Toni.

Huuufff....

Padahal Eliana sudah tak sabar ingin bercerita pada Toni soal pasien menyebalkannya tadi. Betul - betul bawel, sampai dirinya kewalahan. Biasanya Toni selalu sanggup menghiburnya, setidaknya dia pendengar yang baik. Sudahlah, dia juga lelah dan ingin segera mandi lalu beristirahat.

Begitu sampai di apartment, Eliana berjalan pelan - pelan menuju pintu unitnya. Wanita itu tersenyum - senyum sendiri di depan pintu, kemudian mengendap - endap memegang pintu dan memutarnya perlahan. Sangat pelan... , tak mau menimbulkan bunyi apa pun.

Siap...

One!

Two!

"DOOOoo... or... "

Sepi? Kosong...

'Hmm... '

"Toni?" panggil Eliana.

Namun ruangan sepi dan remang - remang, tak ada bau masakan seperti biasa. Meja makan bersih, Toni pun tak ada.

Ah, perasaan yang sama kembali menyergap Eliana. Rasa kehilangan saat Toni tak ada.

KLEK!

Eliana melepaskan pegangannya, pintu pun tertutup otomatis. Dia merosot di lantai, rasanya sepi pulang tanpa ada yang menyambutnya.

Wanita itu duduk sambil menundukkan kepala. Kelebatan - kelebatan wajah Toni, senyum jahilnya, dan tawanya yang membahana. Kondisi Toni sudah pulih, hanya ingatannya saja yang belum kembali.

Hmmm... tapi Toni sudah berjanji akan tinggal bersamanya sampai ingatannya pulih.

Oh, tidak! Belum tentu Toni menghilang kan? Waktu itu dia juga tidak mau bunuh diri, Eliana saja yang terlalu over thinking.

'Ya ampun, aku tak bisa menganggap Toni sebagai orang lain.' keluh Eliana dalam hati.

Bergegas Eliana keluar dari unitnya dan menyusuri jalanan di sekitar apartment.

"Shhh... lepaskan aku!"

Eliana mendengar suara seorang wanita dari sebuah bangunan kosong.

"Hey, aku ini kekasihmu. Jangan sok jual mahal."

"Lepas!" suara itu terdengar lagi.

Eliana menoleh kearah suara yang familiar di telinganya. Tampak sesosok wanita muda yang dikenalnya. Langkahnya langsung berbelok ke arah sepasang wanita dan pria yang sepertinya sedang memadu kasih.

Oh, tapi si pria nampaknya sedang mengintimidasi.

"Suster Julie?" sapa Eliana. Lalu memandang tajam pada pria breng- sek di hadapannya. "Apa yang terjadi?" tanyanya.

Suster Julie melepaskan genggaman pria tadi dan menghampiri Eliana.

"Eliana? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah rumahmu di daerah selatan?"

"Oh... ehm... , aku sedang ada urusan di sekitar sini." jawab Eliana terbata, takut salah bicara.

Suster Julie memicingkan matanya.

"O'ya?" tanyanya tak percaya. Aku kemarin lewat di dekat rumahmu dan kudengar dari tetanggamu kalau kamu pindah ke kota lain bersama seorang pria."

Bersambung ya....

Terpopuler

Comments

Nanda Lelo

Nanda Lelo

jiaaah,, si Julie malah wawancarain Eliana,,

2022-11-02

1

hary as syifa

hary as syifa

hahahahaha ngakak 🤣 kena deh Eliana 🤣

2022-10-18

1

Mamahe 3E

Mamahe 3E

jgn2 tuan menyebalkan itu bpknya toni ya🤪

2022-10-18

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!