Esok harinya, ST. Paul Hospital...
"BUNGA APAAN ITU?"
'ASTAGA!'
Vas ditangan Eliana hampir saja terlempar, jantungnya seperti mau copot, sampai - sampai tangannya sedikit bergetar. Shock!
Baru saja dia hendak meletakkan bunga supaya ruangan itu nampak lebih semarak.
'Good job, Eliana. Kamu berhasil tidak berteriak.'
Eliana memuji dirinya sendiri yang berhasil menahan refleks-nya untuk tidak melempar vas yang ada ditangannya. Mulai hari ini, dia bertugas untuk menggantikan suster kepala untuk menangani pasien VVIP yang katanya super rewel dan emosian.
Sejak mengetahui kalau pasien yang dihadapinya adalah pemarah dan orang kaya yang semena - mena, Eliana benar - benar menyiapkan hati dan mentalnya. Tapi tetap saja dia terkejut menghadapi pria kaya ini.
"Selamat pagi, Tuan Peterson. Anda sudah bangun?" sapa Eliana sopan sambil membungkukkan tubuhnya.
"AKU PALING TAK SUKA BUNGA. BAWA KELUAR!"
"Maafkan perbuatan saya tadi. Perkenalkan saya Eliana, yang akan merawat Tuan mulai hari ini."
"Huh! Eliana? Nama yang manis, sayang tak sesuai dengan orangnya."
'What?'
Hampir saja Eliana membelalakkan matanya, blak - blakan sekali pria di hadapannya. Tapi dia bisa apa? Akhirnya Eliana hanya mengangguk dan tersenyum manis.
Pasien di hadapannya sudah berusia diatas tujuh puluh tahun, alisnya tebal dengan garis rahang yang tegas. Meski alisnya sudah mulai memutih, lelaki ini masih terlihat tampan di usianya yang sudah menginjak masa pensiun. Sayangnya, sorot mata pria itu sedingin es.
Lain di hati, lain di mulut. Lebih lain lagi penampakan Eliana di mata Tuan Peterson.
"Jangan cengengesan! Urus saja bunga itu. CEPAT!" geram pria itu saat melihat Eliana tersenyum manis.
"I... iya. Permisi, Tuan." cicit Eliana, setengah berlari membawa bunga itu ke ruang perawat yang hanya terpisah oleh dinding kaca yang tebal dengan ruang tidur pasien.
Kamar pasien VVIP di St. Paul sangat luas, fasilitasnya setara dengan hotel bintang lima. Setiap ruangan dilengkapi dengan ruang perawat untuk menyimpan segala keperluan pasien dan perawat, ruang tamu yang nyaman, dapur bersih, coffee bar dan kamar mandi bathtub serta shower.
"Rumah sakit apaan ini. Orang yang sebelumnya judes, gemuk, dan berkacamata." gerutuan pria itu masih sempat terdengar dari balik punggung Eliana saat dia berjalan menuju ruang perawat.
'Hehehe... pasti suster kepala.' celetuk Eliana dalam hati, sambil menahan senyum.
"YANG SEKARANG DUNGU DAN GILA. SUKA SENYUM - SENYUM SENDIRI! kata pria lagi.
Suaranya kali ini lebih keras dan agak berteriak. Sepertinya dia sengaja supaya Eliana mendengar, karena suster cantik itu sudah menghilang di balik tembok kaca ruang perawat.
'HE...! Dungu dan gila? Enak saja.'
Eliana memutar bola matanya, bibirnya mencebik.
Ya ampun! Eliana mengerti sekarang. Pantas saja suster kepala tak mau mengurusnya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana wajah suster kepala yang di maki - maki oleh orang ini.
'Inhale... exhale... !' perintah Eliana pada dirinya sendiri.
'Kamu tak boleh marah. Serve him with your heart, Okay? Pasien itu tak tahu apa yang dia lakukan. Smile, Eliana.'
(Layanilah dia dengan hati.)
Eliana berdiri di depan cermin ruangan itu, tangan satunya berkacak pinggang dan satunya menunjuk - nunjuk bayangannya sendiri seperti orang sedang menasehati.
"HEI, AKU HAUS!'
"YES, SIR!"
Eliana melonjak, hingga tak sengaja berteriak.
Dalam satu langkah besar dia sudah sampai di counter dapur mini di dekatnya. Bagus! Sepoci teh hangat dan sebuah cangkir yang tadi disiapkannya masih ada disana.
'Syukurlah, kamu tipe orang yang penuh persiapan, Eliana.' puji Eliana pada dirinya sendiri.
Bergegas disambarnya nampan berisi poci teh dan cangkir. Setengah berlari menuju ke Tuan Peterson dan kembali mengulas senyum saat berdiri di hadapan pasien uniknya.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Tuan Peterson tanpa melihat ke arah Eliana. Matanya menerawang ke jendela kamar yang menampilkan taman bunga St. Paul yang menenangkan hati.
"Satu poci teh herbal hangat, Tuan. Bagus untuk kesehatan." jawab Eliana dengan suara lembut. Senyum tak lepas dari wajahnya, bahkan tak sedikit pun nampak rasa kesal di dalam ekspresi Eliana.
Tuan Peterson melihat Eliana dengan sudut matanya, sinis. "Aku tadi bilang lapar, kenapa kamu membawa minum?"
DIENG!
"Maaf."
Hanya itu yang bisa diucapkan Eliana, kakinya bergerak secepat yang dia bisa supaya bisa segera kembali menemui Tuan yang banyak mau itu.
"Silahkan kuenya, Tuan."
"Kok kue? Kamu mau diabetesku naik?" dengusnya. Dia menoleh dan melotot. "Seharusnya kamu membawakanku buah!"
Eliana langsung pergi dan kembali lagi dengan membawa satu keranjang penuh berisi semua buah yang ditemukannya di kulkas. Harapannya semoga ada salah satu diantara buah itu yang disukai oleh tuan semena - mena ini.
"Daripada buah, bawa saja GLUTEN-FREE CAKE! Itu lebih mengenyangkan."
OH!
MY!
GOD!
***
Celingak... Celinguk...
Tolah... toleh....
Eliana mencari - cari sosok Tony yang biasanya sudah stand by di depan pintu bus setiap kali dirinya pulang kerja.
Tak ada.
'Hmm... '
Sekali lagi Eliana mengedarkan pandangannya, siapa tahu Toni ada disisi lain halte. Atau mungkin saja Toni terlambat datang.
Bus beranjak pergi, hanya tersisa satu dua orang yang ada disana. Tidak ada Toni.
Huuufff....
Padahal Eliana sudah tak sabar ingin bercerita pada Toni soal pasien menyebalkannya tadi. Betul - betul bawel, sampai dirinya kewalahan. Biasanya Toni selalu sanggup menghiburnya, setidaknya dia pendengar yang baik. Sudahlah, dia juga lelah dan ingin segera mandi lalu beristirahat.
Begitu sampai di apartment, Eliana berjalan pelan - pelan menuju pintu unitnya. Wanita itu tersenyum - senyum sendiri di depan pintu, kemudian mengendap - endap memegang pintu dan memutarnya perlahan. Sangat pelan... , tak mau menimbulkan bunyi apa pun.
Siap...
One!
Two!
"DOOOoo... or... "
Sepi? Kosong...
'Hmm... '
"Toni?" panggil Eliana.
Namun ruangan sepi dan remang - remang, tak ada bau masakan seperti biasa. Meja makan bersih, Toni pun tak ada.
Ah, perasaan yang sama kembali menyergap Eliana. Rasa kehilangan saat Toni tak ada.
KLEK!
Eliana melepaskan pegangannya, pintu pun tertutup otomatis. Dia merosot di lantai, rasanya sepi pulang tanpa ada yang menyambutnya.
Wanita itu duduk sambil menundukkan kepala. Kelebatan - kelebatan wajah Toni, senyum jahilnya, dan tawanya yang membahana. Kondisi Toni sudah pulih, hanya ingatannya saja yang belum kembali.
Hmmm... tapi Toni sudah berjanji akan tinggal bersamanya sampai ingatannya pulih.
Oh, tidak! Belum tentu Toni menghilang kan? Waktu itu dia juga tidak mau bunuh diri, Eliana saja yang terlalu over thinking.
'Ya ampun, aku tak bisa menganggap Toni sebagai orang lain.' keluh Eliana dalam hati.
Bergegas Eliana keluar dari unitnya dan menyusuri jalanan di sekitar apartment.
"Shhh... lepaskan aku!"
Eliana mendengar suara seorang wanita dari sebuah bangunan kosong.
"Hey, aku ini kekasihmu. Jangan sok jual mahal."
"Lepas!" suara itu terdengar lagi.
Eliana menoleh kearah suara yang familiar di telinganya. Tampak sesosok wanita muda yang dikenalnya. Langkahnya langsung berbelok ke arah sepasang wanita dan pria yang sepertinya sedang memadu kasih.
Oh, tapi si pria nampaknya sedang mengintimidasi.
"Suster Julie?" sapa Eliana. Lalu memandang tajam pada pria breng- sek di hadapannya. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Suster Julie melepaskan genggaman pria tadi dan menghampiri Eliana.
"Eliana? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah rumahmu di daerah selatan?"
"Oh... ehm... , aku sedang ada urusan di sekitar sini." jawab Eliana terbata, takut salah bicara.
Suster Julie memicingkan matanya.
"O'ya?" tanyanya tak percaya. Aku kemarin lewat di dekat rumahmu dan kudengar dari tetanggamu kalau kamu pindah ke kota lain bersama seorang pria."
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nanda Lelo
jiaaah,, si Julie malah wawancarain Eliana,,
2022-11-02
1
hary as syifa
hahahahaha ngakak 🤣 kena deh Eliana 🤣
2022-10-18
1
Mamahe 3E
jgn2 tuan menyebalkan itu bpknya toni ya🤪
2022-10-18
1