I think I love you.
Sebuah kalimat sederhana tapi mampu menghancurkan dan merobohkan, tak hanya benteng pertahanan tapi juga logika seorang Eliana.
Tubuhnya membeku. Hatinya terbagi antara kebahagiaan dan profesioanalisme seorang perawat terhadap pasien.
"Eliana.... " panggil Toni lagi.
"Ya?"
"Promise me." ucap Toni penuh harap.
Tatapan penuh harap itu berhasil meluluhkan hati Eliana. "Kalau kamu belum bertunangan atau menikah, aku akan mengejarmu Toni, sampai kamu mengingatku kembali."
Haduuuh!!! Bisa - bisanya dirinya mengatakan hal seperti itu. Benar - benar memalukan.
"Argh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" gerutu Eliana. Tangannya memukuli kepalanya sendiri dengan gemas.
"Bau apa ini?"
Eliana gelagapan, tersadar dari monolognya. Hidungnya mencium bau sangit seperti bau sesuatu yang terbakar.
Toni berdiri di pintu kamarnya, hidungnya mengendus - endus. Sejak pulang dari rumah sakit, Toni memang disuruh beristirahat oleh Eliana. Dan Eliana berjanji akan memasak makanan enak untuk Toni yang baru sakit.
Eliana jadi ikutan mengendus - endus.
"YA TUHAN!" serunya panik ketika menyadari daging yang ditumis gosong akibat dirinya melamun.
Wuah! Teflon yang ada di hadapannya sudah berasap - asap, tergopoh - gopoh Eliana mematikan api.
Psstt... blup... blupp...
Suara desisan mengganggu pendengarannya.
Ya ampun sup di sebelahnya sudah mendidih. Airnya membludak, menyiram api dibawahnya hingga menimbulkan bunyi mendesis. Buru - buru Eliana mengangkat panci sup.
"OUCH!"
BRAK BRENG BRONG
"WADOOWW"
"ELIANA!" teriak Toni.
"Haduh, panas! Aku lupa memakai sarung tangan." rintih Eliana sambil meringis. Ekspresinya campuran antara malu dan sakit.
"Apinya terlalu besar." ucap Toni. Dengan tenang tangannya mematikan kompor yang masih menyala, padahal isi panci sup sudah berantakan di lantai.
Wajah Eliana merah padam. Dia benar - benar malu pada Toni. Masakannya gagal, dapurnya berantakan pula. Menyedihkan sekali.
"Maaf, aku bodoh kalau membuat sup." lirih Eliana.
"Memangnya sup saja?" tanya Toni sambil mengulum senyum. Matanya melirik kearah daging gosong diatas teflon.
'Duh!'
Wajah Eliana semakin merah hingga ke telinga.
"Biar aku yang bereskan dan memasak. Aku kuatir apartment ini kebakaran karenamu." ucap Toni lagi sambil tertawa kecil. Dia menarik kursi makan dan mempersilahkan Eliana duduk. Kemudian mengambil salep dan mengolesi tangan Eliana yang terkena air panas.
"Hufff... sepertinya aku tak akan bisa jadi istri yang baik." keluhnya pelan sambil meletakkan kepala di meja.
"Kalau aku yang menjadi suamimu, kamu tak perlu pintar memasak. Serahkan urusan dapur padaku." sahut Toni sambil mengedipkan sebelah mata.
Haiz, Toni! Eliana menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
***
"Suster Eliana, dokter Nathan menunggumu di ruangannya." ucap Suster Julie sambil tersenyum sinis pada Eliana.
"Baiklah, Suster Julie." jawab Eliana datar.
Tanpa banyak kata, Eliana langsung meninggalkan suster Julie. Tak mau berbasa basi, tak mau pula memperpanjang masalah. Eliana cukup tahu saja, siapa orang - orang yang tak menyukainya dan menyebarkan gossip tentang Toni dan dirinya. Iya, Suster Julie adalah salah satunya.
Eliana hanya mengikuti suara hatinya, and this is the day!
(Inilah harinya.)
Eliana melangkah keluar dengan mantap menuju ruang kepala rumah sakit. Dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, kemudian mengetuk pelan pintu ruangan.
"Masuk." terdengar suara berat dokter Nathan dari dalam ruangan.
"Selamat sore, Dok."
"Hm."
Hanya itu jawaban Dokter Nathan, matanya tak mau beralih dari kertas yang dipegangnya.
Sepi dan muram adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana ruangan dokter Nathan. Eliana berdiri diam ditempatnya, menunggu kata - kata dari dokter senior tersebut.
Tanpa sadar, Eliana menundukkan kepalanya.
Hmmm... lampu ruangan ini pun tak seterang biasanya. Mungkin sudah waktunya diganti. Eliana membiarkan pikirannya berkelana untuk memikirkan hal - hal random demi mengurangi kegelisahan yang mendadak muncul.
Dokter Nathan berdehem. Eliana mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan tatapan kecewa bercampur sedih milik dokter Nathan.
"Kamu tahu kenapa aku menyuruhmu datang menemuiku?"
"Tahu, Dok."
Dokter Nathan mengangguk. Dia kagum sekaligus heran melihat bagaimana Eliana tampak begitu tenang menghadap padanya. Eliana tampak begitu siap mendengar apa pun yang akan dikatakannya nanti.
"Dengan berat hati, aku harus menyampaikan keputusan direksi padamu, Eliana."
Dokter Nathan berhenti berbicara, dia tak sampai hati melanjutkan kalimat selanjutnya.
Eliana mengangguk.
"Tidak apa, Dokter. Saya mengerti kalau dokter hanya menjalankan tugas."
"Kenapa kamu membuatku terpaksa melakukan ini, Eliana?" suara dokter Nathan terdengar tak berdaya.
Lidah Eliana terasa kelu.
"Kamu tau? Aku sedih saat harus menanda tangani surat pemutusan hubungan kerja antara St. Paul Hospital denganmu." ucap dokter Nathan lagi. Suaranya yang tegas berbalut rasa getir.
"Maafkan saya, Dok."
Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Eliana, matanya berkaca - kaca. Bukan karena dia menyesali keputusan pihak rumah sakit tapi karena dirinya telah membuat kecewa dokter Nathan. Orang yang sudah seperti ayahnya sendiri.
"Seandainya saja kamu menuruti saranku, tentu kamu masih bisa bekerja disini." keluh pria paruh baya itu. Dia benar - benar menyesali tindakan Eliana.
"Andaikata di beri kesempatan lagi... "
Dokter Nathan mendongak, menunggu kalimat Eliana berikutnya.
"Saya akan melakukan hal yang sama. Saya akan tetap menolong dan tinggal bersamanya, Dok."
Final!
Dokter Nathan tahu, keputusan Eliana sudah bulat tak ada yang bisa mengubahnya lagi.
"Yang menyedihkan adalah aku tak bisa memberimu referensi yang baik."
"Saya paham. Itu sudah konsekuensi dari tindakan saya, Dok. Jangan khawatir, saya tak menyalahkan Dokter." Eliana mengucapkannya sambil tersenyum.
"Terima kasih atas bimbingannya selama ini. Mohon maaf karena telah menyusahkan anda." Eliana membungkukkan tubuhnya dalam - dalam.
Kemudian Eliana berpamitan pada Tuan Peterson.
"Itulah kenapa aku selalu menyebutmu perawat dungu." ketus Tuan Peterson.
Terbiasa dengan keketusan Tuan Peterson, Eliana hanya meringis dan menggaruk kepalanya.
"Sudahlah." kata Tuan Peterson sambil melambaikan tangannya.
"Tapi aku menyukaimu karena kamu dungu. Biasanya orang dungu itu memiliki hati yang tulus." ujar Tuan Peterson lagi.
Dia melengos, memandang ke arah taman St. Paul. Dia tak mau mengakui kalau hatinya sedih karena Eliana tak lagi melayaninya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya akan merindukan Tuan." ucap Eliana sambil tersenyum manis.
Tuan Peterson menoleh dengan pandangan tak percaya. Bagaimana bisa wanita ini merindukannya sedangkan selama ini dirinya lebih banyak memaki - maki. Tapi wanita yang dilihatnya malah tersenyum, ada ketulusan terpancar dari wajah Eliana.
"Biarkan saya menyuapi Tuan. Apa anda mau makan?" tanya Eliana.
Tuan Peterson mengangguk, matanya berkaca - kaca.
"Kamu bodoh." katanya lagi dengan suara bergetar. "Aku akan kesepian kalau tak ada perawat bodoh sepertimu."
Eliana tertawa kecil. Berapa kali pun dikatakan bodoh oleh Tuan Peterson, dia tak akan marah. Pria tua itu tipe orang yang tak bisa mengungkapkan perasaannya selain marah.
"Aku akan menengok Tuan setiap hari kalau Tuan mau. Bagaimana?" Eliana menawari, dia tahu Tuan Peterson kesepian.
"Tidah usah. Bisa - bisa aku darah tinggi setiap bertemu denganmu." sahut Tuan Peterson cepat. Sebutir air mata menetes dari sudut matanya, yang cepat - cepat dihapusnya.
"Aaaa.... Tuan." kata Eliana mencoba mengalihkan perhatian. Dia menyodorkan sepotong apel di depan mulut pasiennya itu.
"Terima kasih, Eliana." bisik Tuan Peterson hampir tak terdengar.
Eliana mengangguk. "Maafkan saya kalau sering membuat anda darah tinggi." Tangan Eliana menangkup tangan keriput Tuan Peterson. Lembut dan hangat.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Lala lala
bingung yah..rumkit inggres ngurusin pribadi org tinggal bersama smpe dipecat, kayak pak RT indo grebek warga yg blm syah, pdhl rumkit di indonesia ndk ky gt juga 😀 kecuali si eliana melakukan malpraktek br blh dipecat
2024-11-25
0
Sagara Banyu
kok aku jadi 😭😭😭
2023-07-24
1
Nanda Lelo
Thor,, jgn sampai Eliana jadi PTT y Thor 🙂🤭
#pengangguran tingkat tinggi 🤭
2022-11-02
1