Bab 4 -- Dia Saudaraku!

"Hmm... jadi kamu panik dan menangis karena berpikir aku mau bunuh diri?" tanya Toni menarik kesimpulan, setelah mendengar cerita bagaimana Eliana kebingungan karena dirinya menghilang. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Eliana.

Eliana tak menjawab, dia hanya mengangguk - angguk dan kepalanya sedikit menunduk. Rasanya malu setiap kali mengingat bagaimana paniknya dia tadi saat mencari Toni. Dan, parahnya dia sampai menangis sambil memeluk Toni. Astaga!

Toni tertawa pelan. "Aku tak sebodoh itu. Tadi itu aku cuma berpikir, kemana aku akan pergi setelah ini."

"Hhh... aku cuma nggak nyangka aja kalau mereka bakal mengusirmu. Dan hanya kuatir padamu yang tak mengingat apa pun." ucap Eliana, dia mencoba memberi alibi. "Lagipula aku nggak suka cara suster kepala ngomong soal kamu, benar - benar tak punya perasaan."

Eliana terus mengomel, wajahnya nampak begitu serius, alisnya berkerut hampir menyatu satu sama lain, bibirnya mencebik dan tangan bersedekap seolah - olah dia sedang marah pada seseorang. Sayangnya, wajah cantik nan lembut itu sama sekali tak cocok untuk mengekspresikan perasaan marah. Di mata Toni, Eliana justru tampak semakin menggemaskan.

"Melihatmu wajahmu saat ini, membuatku teringat pada seseorang." komentar Toni.

"O'ya? Seseorang di masa lalu?"

"Ehem... biar aku ingat - ingat lebih dulu." sahut Toni, sambil memasang ekspresi sedang berpikir keras.

"Wah! Jangan - jangan sebentar lagi kamu bisa mengingat masa lalumu." katanya bersemangat, tangannya menepuk bahu Toni pelan. Eliana dengan sabar menunggu jawaban Toni dengan kedua sudut bibir yang melengkung keatas

"AHA! Aku ingat sekarang." Toni menjentikkan jarinya.

"Siapa? Siapa?" tanya Eliana tak sabar.

"Suster kepala." jawab Toni sambil mengulum senyum, matanya bersinar jahil. Dan dia juga bersedekap menirukan gerakan dan mimik wajah Eliana.

"HAH? ENAK SAJA!" sahut Eliana sewot.

Dia tak mau disamakan dengan suster kepala yang galak dan tak sabaran. Apalagi saat ini Eliana masih sakit hati karena kata - kata suster kepala tentang Toni.

"Nah! Kalau melotot begini semakin mirip." goda Toni lagi.

Hhhh... tak sopan sekali laki - laki ini! Elisa tak terima, tangannya terangkat hendak mencubit Toni.

Eits! Toni lebih cepat, dia berhasil menghindar. Dia berjalan mundur sambil menjulurkan lidahnya. Eliana kesal, dia menghentakkan kaki. Toni malah tertawa. Semakin Eliana kesal, semakin dia senang. Tawanya pun semakin membahana.

"Catch me if you can."

(Tangkap aku kalau bisa.)

Eliana masih tak terima, dia mengejar Toni. Melihat Toni memperlambat kecepatan larinya, Eliana memperlebar langkahnya, bergerak secepat mungkin berusaha menangkap Toni.

Ah, jarak mereka tinggal satu ayunan tangan.

Siuuutt...

"Ups, nggak kena."

Toni berkelit dengan lincah, kemudian lari menjauh. Tangan Eliana hanya menangkap angin.

"Hey! Stop! Aku nggak akan memukulmu." panggil Eliana akhirnya. Dia menyerah, napasnya sedikit terengah karena berkejaran dengan Toni.

Toni tak mendengar, dia malah berlari menuju ke arah keramaian pasar malam.

Eh? Dimana Toni? Eliana celingukan di depan pasar malam, kehilangan jejak Toni.

"Cih, kemana perginya orang itu." Eliana mulai bersungut - sungut dalam hati.

Langkah kakinya melambat, tapi matanya terus saja berkeliaran kesana kemari mencari sosok Toni. Diam - diam ada perasaan takut yang merayap di hati Eliana, kuatir kalau Toni akan tersesat. Dia tak tahu daerah ini.

"Nona, maukah berkencan denganku?" suara berat seorang pria menyapanya.

HEH!

Sesaat Eliana terkesiap, siapa yang berani kurang ajar padanya.

"Psst, nona cantik."

Eliana bersiap menghajar orang yang menyapanya dengan tidak sopan, dia menghirup udara dalam - dalam untuk menghimpun kekuatan. Kemudian menoleh dan menyemburkan kekesalannya.

"JANGAN SEMBARANGAN! KAU PIKIR ---"

"Nona perawat kalau marah - marah terus, nanti cantiknya bisa hilang." potong pria itu.

'Toni?'

Seketika kalimat Eliana menggantung di udara saat mendapati seraut wajah tampan sedang tersenyum di hadapannya. Matanya bertemu dengan mata coklat gelap yang menatap hangat ke dalam manik mata Eliana.

"Kamu mencariku?" tanyanya, memutus lamunan Eliana.

Eliana mengerjapkan matanya, mencoba tak hanyut dalam pesona Toni.

"Bagaimana kalau jalan - jalan ke pasar malam dulu?" tanya Toni. Jempolnya menunjuk ke belakang punggungnya, ke arah kerumunan orang dan stand - stand yang di pasangi lampu warna warni.

Tangan Toni terulur, telapak tangannya menghadap keatas. Eliana menatap telapak tangan dan wajah Toni bergantian, mencoba menebak apa mau laki - laki di hadapannya.

'Apa dia mau menggandengku?'

Toni tersenyum. Dia melangkah mendekat, meraih tangan Eliana dan menggenggamnya, hangat. Eliana tak merespon apa pun, kakinya melangkah mengikuti arah kemana Toni berjalan. Berkali - kali tangannya melirik ke tangan Toni yang terus menggenggamnya.

Ehm, apakah mereka saat ini tampak seperti pasangan yang sedang kasmaran? Eliana bermonolog dalam hati. Eliana tak bisa memungkiri, ada sesuatu yang menyergap hatinya yaitu perasaan aman dan nyaman.

Tapi kadang apa yang ada di hati dan apa yang keluar dari mulut bertolak belakang. Karena tak ingin menarik perhatian siapa pun, dia melepaskan genggaman Toni. Kemudian jarinya menunjuk kearah stand yang menjual pakaian.

"Eh Toni, sepertinya ini cocok untukmu." Eliana menunjukkan sebuah celana jeans model slim fit kekinian.

"Tapi aku sedang tak mau belanja, Eliana." sahut Toni. Biar bagaimana pun Toni tahu diri, dia tak punya uang. Harga dirinya melarang untuk menerima pemberian wanita cantik di hadapannya.

"Aku mau membelinya untukmu Toni. Pasti akan bagus menempel di kakimu yang panjang itu." ucap Eliana tak peduli. Tangannya menempelkan celana itu ke kaki Toni, mengira - ngira ukuran yang pas.

"Tapi aku nggak perlu itu." jawab Toni. Dia membalikkan tubuhnya, menghindari Eliana.

"Yes, you do. Memangnya kamu mau memakai pakaian yang itu - itu terus?" sergah Eliana. Tangannya menarik baju Toni untuk tetap tinggal.

"Jangan buang - buang uangmu untukku. Pakai saja untuk keperluanmu yang lain." jawab Toni lagi. Dia benar - benar malu kalau sampai Eliana membelanjakannya pakaian.

"Hey! Ini uangku dan aku ingin membelanjakannya. Kenapa tak boleh?"

"Belanjalah untukmu sendiri, bukan untukku." Toni bersikeras menolak.

Wanita penjaga stand yang ada di hadapan mereka hanya bisa mematung, menoleh bergantian pada sepasang pria dan wanita yang sedang berdebat.

"Hai, Eliana. Pacar baru, hm?" tiba - tiba terdengar sapaan suara seorang gadis.

Eh?

Serempak Eliana dan Toni menghentikan perdebatan dan menoleh. Seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahunan tersenyum di hadapan mereka, matanya mengerling genit kearah Toni.

"Brenda?" sapa Eliana pada tetangganya.

"Kencan, huh?" Gadis itu menyikut lengan Eliana.

"No! Dia.... " Otak Eliana berputar cepat untuk menemukan jawaban. "Oh, bukan kencan. Dia saudaraku, kakak sepupuku. Kenalkan, namanya Toni."

"Tapi, aku tak pernah melihatnya berkunjung ke rumahmu selama ini." kata Brenda, dia memiringkan wajahnya.

"Dia baru kembali dari luar negeri." jawab Eliana cepat, berbohong.

"Kata ibuku, orang tuamu jarang dikunjungi saudara - saudaranya sejak dulu. Itulah sebabnya kamu sebatang kara setelah orang tuamu tak ada." ucap Brenda lagi. Dia masih penasaran dengan pria tampan yang berdiri di dekat Eliana.

Ingin menghindari Brenda si tukang gosip, Eliana segera mengumpulkan barang - barang yang tadi diincarnya.

"Nona, bungkus semuanya." perintahnya pada penjual pakaian. Dia tak mau membahas soal Toni lagi kepada Brenda dan berniat langsung pulang.

Setelah belanjaannya terbungkus rapi, Eliana segera membayarnya dan mengajak Toni pulang.

Sialnya, Brenda terus mengikuti mereka.

"Jadi dia akan tinggal disini?" tanyanya begitu mereka sampai di depan rumah Eliana.

"Ya, untuk sementara waktu."

"Sejak kapan kamu tinggal dengan pria asing?"

"Hey, dia saudaraku. Bukan pria asing." kata Eliana sambil membuka pintu rumahnya. Dia ingin segera masuk dan terlepas dari Brenda yang super kepo.

"Saudara atau bukan, kamu harus lapor ke neighborhood watch atau ke chief head. Itu peraturannya." tegas Brenda.

Bersambung ya....

Note :

1. Chief head adalah jabatan yang setara dengan ketua RT, mereka bertanggung jawab pada keamanan lingkungan. (luar negeri)

2. Neighbourhood Watch semacam kumpulan orang yang bertugas menjaga keamanan kampung / lingkungan (di luar negeri). Mungkin di Indonesia semacam petugas siskamling.

.

Terpopuler

Comments

Sisca Puspita

Sisca Puspita

lake wood, rock town, st paul, suster kepala, anthony, kamar nomor 0....jd keinget sama candy white n william albert

2023-06-06

1

Nanda Lelo

Nanda Lelo

dimana mana manusia super kepo itu sllu ada 🤭

2022-11-02

1

Effie Widjaja

Effie Widjaja

bagus, awal cerita yg menarik

2022-10-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!