"Kamu dipecat karena aku?" tanya Toni.
Nah, ini!
Ini yang dari kemarin malam dikhawatirkan oleh Eliana. Bukan dipecat yang membuat dirinya gelisah dan bingung.
Tapi, Toni!
Iya, Toni dan pertanyaan laki - laki itu.
"No, Toni. Bukan karena kamu. Semua ini hanya karena perbedaan point of view antara pihak rumah sakit dan aku." Eliana buru - buru menjelaskan.
Toni hanya diam dan memandang sedih pada Eliana. Beberapa saat dia tidak mengatakan apa pun, kemudian Toni menghempaskan pant-atnya di bangku yang tadi di duduki oleh Eliana. Kedua tangannya bertumpu di atas kedua lutut, tubuhnya condong kedepan.
"Kamu tahu kalau berbagi itu adalah baik. Tapi kenapa kamu tak mau berbagi kesulitanmu denganku, Eliana?" tanya Toni, suaranya terdengar kecewa.
Menyadari kekecewaan Toni, Eliana kembali menunduk. Hatinya ikut pilu, dia tahu Toni tak ingin dirinya yang menanggung semua resiko itu sendirian. Tapi tetap saja, dia tak tahu harus mulai dari mana bercerita.
'St Paul memutuskan aku berhenti kerja karena aku tinggal bersamamu?'
'St Paul memberiku waktu untuk membicarakan semuanya denganmu."
'Apa sebaiknya kita tinggal sendiri - sendiri? Terpisah? Aku janji akan menemuimu setiap hari.'
'Toni, kamu sudah mulai punya teman di daerah sini. Biarkan aku kembali ke rumahku sendiri.'
'Penghasilanmu sebagai barista sudah cukup untuk menghidupimu, Toni.'
Cih! Eliana berdecih dalam hati. Entah kenapa tak satu pun kalimat yang cocok dihatinya untuk diucapkan kepada Toni.
Toni menggelengkan kepala saat menyadari Eliana yang hanya diam dan menunduk, ekspresinya seperti seorang anak yang baru selesai dimarahi.
Mendadak saja Toni merasa perannya berubah menjadi antagonis yang sedang semena - mena. Laki -laki itu menghembuskan napas kasar.
"Duduklah." ucapnya, tangannya menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Akhirnya mereka duduk berdua di bangku, sama - sama diam. Suasana taman kota siang itu terasa sepi, mungkin karena anak - anak masih sekolah. Hanya ada beberapa orang melintas dan anak - anak berusia dibawah tiga tahun bermain bersama mamanya disana.
"Kok kamu tau aku ada disini?" tanya Eliana untuk membuka percakapan.
"Aku mengikutimu." jawab Toni. Sekarang dia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. "Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari kemarin."
Eliana tersenyum canggung.
"Aku tak sanggup bercerita padamu."
"Kenapa? Takut aku berpikiran jelek?" tanya Toni lagi sambil tertawa pelan.
Tawa yang terdengar sumbang di telinga Eliana. Dan, Eliana pun hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
"Lagipula, aku kuatir kamu akan langsung pergi begitu tau syarat dari dokter Nathan."
"Syarat?"
Duh! Eliana merutuki dirinya sendiri. Kenapa malah melebar kemana - mana.
Toni masih menunggunya bicara.
Baiklah! Baiklah! Eliana menyerah, sudah kepalang tanggung untuk apa lagi disembunyikan. Toh, Toni sudah tau dia dipecat.
"Yeah, dokter Nathan memberiku waktu dua hari untuk pindah dari apartment dan kembali ke rumahku. Dia sarankan supaya kita hidup terpisah." Eliana berhenti sejenak, mencoba membaca reaksi Toni.
Tak ada. Ekspresi Toni datar, tak ada gejolak emosi apa pun disana.
"Dan kamu memilih dipecat daripada berpisah denganku?"
Tepat sasaran! Eliana tertegun, tak tahu harus menjawab apa. Toni menatap Eliana dalam - dalam dengan pandangan yang tak terbaca.
"Sudahlah! Yuk, kita pulang."
Toni meraih tangan Eliana dan membawa tas Eliana dengan tangannya yang lain. Eliana tidak menolak, hatinya lega untuk alasan yang dia sendiri tak tahu.
Toni melepaskan genggamannya, menarik tubuh Eliana kian merapat, tangannya berpindah ke bahu Eliana dan merangkulnya.
"Aku yang akan bekerja untukmu, Eliana. Bagaimana?"
***
Hari - hari berikutnya Eliana lebih banyak diam di apartment, sibuk mencari lowongan kerja. Dia bahkan tak lagi memasukkan rumah sakit dalam list pencarian lowongan kerjanya.
Dia mulai memasukkan surat lamaran ke lowongan apa pun yang dilihatnya. Tak peduli itu marketing, waiters, sekretaris, baby sitter untuk orang tua. Eliana sudah tak memikirkannya lagi. Dia harus bekerja, apa pun itu. Tak mungkin dia membiarkan Toni bekerja keras untuk mereka.
Beberapa hari ini, Toni berangkat pagi - pagi sekali saat dirinya masih tidur dan pulang larut malam di waktu Eliana sudah naik ke tempat tidur. Eliana benar - benar khawatir dengan kondisi tubuhnya.
TIN! TIN!
'Siapa sih, tak sopan sekali!' Maki Eliana dalam hati. Dia tak menggubris bunyi klakson mobil di belakangnya, dan melanjutkan langkahnya. Tangannya menenteng kantong sampah dan berniat meletakkan di tong besar di belakang gedung.
TIN!
"Hey! Berisik sekali." ucap Eliana sambil berbalik dan melotot.
"Hey, sayang. Kenapa marah - marah begitu?" Kepala Toni muncul dari balik jendela mobil.
Mata Eliana terbelalak lebar. Toni mengenakan kaca mata hitam duduk di dalam sebuah mobil yang berisik tadi. Tampan sekali!
Ow! Tapi bukan itu, ada yang lebih menarik perhatian Eliana.
Hal pertama yang menjadi perhatian Eliana adalah Toni duduk di belakang kemudi. Jadi dia bisa menyetir mobil? Dan kedua, mobil itu. Mobil siapa yang dibawa oleh Toni? Memang bukan mobil mewah, tapi tetap saja mobil. Orang seperti mereka tak akan bisa dengan mudah membeli mobil.
Dengan wajah sumringah, Toni keluar dari mobil sambil tersenyum lebar.
"Silahkan masuk, Nona." ucapnya penuh gaya.
Toni membukakan pintu dan mempersilahkan Eliana untuk masuk.
"Tunggu, Toni. Mobil siapa ini?"
"Diam - diam aku mempelajari saham bersama seorang pelanggan coffee shop. Dan ternyata dia memberiku pekerjaan sebagai konsultan saham. Kantornya ada di kota sebelah. Setiap hari aku harus stand by mulai pukul sembilan pagi dan selesai pukul empat sore."
Toni berhenti sejenak dan tersenyum sambil menepuk body mobilnya. "Mungkin karena kasihan melihatku naik bis, dia meminjamiku mobil ini."
"Ooh... jadi itu sebabnya kamu berangkat subuh dan pulang malam?"
Toni mengangguk dengan bangga. "Bagaimana kalau kita kencan satu jam saja?"
Heh! Astaga!
Eliana melirik kantong sampah yang masih ada di tangannya, kencan kata Toni? Dasar laki - laki tak peka. Mana ada pria mengajak wanita kencan dengan cara seperti ini.
Menyadari kemana arah lirikan Eliana, Toni kembali bertanya. " Yang dipegang itu apa sih?"
Eliana memutar bola matanya. "Ini, sampah."
"Ooh... "
Toni ber 'oh', tangannya langsung meraih sampah yang ada di tangan Eliana, kemudian berjalan ke tempat pembuangan sampah.
PLUK!
Dengan santai kantong itu dilempar ke dalam tong super besar yang ada disana.
"Beres kan? Yuk kita kencan." ucapnya sambil tersenyum puas. Tangannya merangkul bahu Eliana, membimbingnya masuk mobil dan langsung menutup pintu mobilnya.
What?! Eliana benar - benar speechless. Tak tahukah Toni? Wanita butuh paling sedikit satu jam untuk berdandan sebelum kencan.
'Kamu mengajakku kencan! Kencan kan? Bukan jalan - jalan ke pasar!'
Oh, ya ampun. Eliana hanya memakai kaos berlengan pendek, celana kulot tujuh per delapan dan sandal rumah.
BRRMMM... BRRMMM...BRRT... BRRT...
Mobil melaju dengan bunyi yang memekakkan telinga. "Mobilnya hebat sekali." sindir Eliana.
Perasaan kesal yang tadi muncul karena pergi tanpa persiapan, berubah menjadi was was. Khawatir kalau mobil Toni mogok sewaktu - waktu.
"Iya, aku tau sekarang kenapa mobil ini dipinjamkan ke aku. Berdoalah supaya kita bisa sampai di tujuan dengan selamat." sahut Toni sambil terkekeh.
"Nih! Aku beli ini untukmu." Toni mengambil sebuah kotak dari atas dashboard dan meletakkannya di pangkuan Eliana.
Sekotak donat merek terkenal di kota sebelah.
"Wah, ini kan mahal?"
"Aku hanya beli sedikit, karena uangnya habis buat beli bensin."
Eliana tersenyum. "Anyway, thank you. Tak apa, kita berbagi saja." ucapnya sambil membuka kotak.
"Mau aku suapi?" Eliana menawarkan.
"Eliana, bagaimana kalau kita terus berbagi? Kesedihanmu, kesedihanku. Kebahagiaanmu, kebahagiaanku. Bisakah kita berbagi segalanya?"
Bersambung ya....
Note:
Point of view \= sudut pandang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ricis
mobilnya bagus sekali, dan seketika aq ngakak membacanya 🤣
2022-11-03
1
Nanda Lelo
bisa bgt kok Tony 🤭
2022-11-02
1
Mamahe 3E
jangan2 tony udh ingat sm siapa dirinya tp msh pura2 lupa kl didepan eliana
2022-10-29
2