"Gawat, Eliana!... hhh...." Seorang gadis menyongsong Eliana di lobby rumah sakit.
"Gawat!... " ucapnya lagi disela - sela napasnya yang terputus - putus setelah berlari kencang dari UGD menuju lobby karena hendak memberi kabar pada Eliana.
"Ada apa?" tanya Eliana pada gadis yang dikenalnya sebagai pelayan di coffee shop. Tadi di kamar Tuan Peterson, seorang perawat datang dan memberitahunya kalau ada gadis berseragam pelayan cafe datang dan ingin bertemu dengannya.
"Kakakmu..."
Gadis itu langsung menarik tangan Eliana dan menyeretnya berjalan menyusuri lorong rumah sakit. "Kakakmu pingsan."
'Kakakku? Toni?'
"Ada apa dengan Toni?"
"Aku tak tahu, kami semua tak tahu. Dia berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya."
Eliana dan gadis pelayan itu terus berbicara sambil berjalan.
"Dimana Toni sekarang?"
"Awalnya Pak Boss menyuruhnya istirahat di ruang istirahat coffee shopp. Tapi Toni malah pingsan, jadi beliau membawanya kemari. Lagipula, kamu bekerja disini."
"Disini?" Eliana terbelalak.
"Pak Boss bilang kalau kamu harus segera menyusulnya di ruang rawat. Dia yang menjamin Toni disini. Dia sedang dipindahkan ke ruang rawat saat aku mencarimu barusan. Setelah melihat Toni, aku akan kembali ke coffee shop. Kuserahkan dia padamu."
"Ya, ya." sahut Eliana.
***
Dejavu!
Sebut saja begitu. Eliana merasa seperti mengulang lagi saat dimana Toni terbaring di kamar nomer nol. Perbedaannya hanyalah pada ruangan yang dipakai oleh Toni.
Eliana tertegun. Wajah Toni begitu pucat, seperti orang sudah meninggal. Perlahan Eliana mendekati tubuh yang sedang terbaring diatas tempat tidur.
"Are you okay, Toni?" bisik Eliana di telinga Toni.
"Nampaknya Toni sedang beristirahat. Aku pergi dulu, Eliana. Pak Boss pasti mencariku." pamit gadis pelayan tadi.
Eliana mengangguk, kemudian dia menggeser kursi dan duduk di dekat tempat Toni berbaring.
Beberapa waktu kemudian,
Mata Toni terbuka lebar, namun tatapannya kosong saat melihat ke arah Eliana. Tiba - tiba saja hati Eliana mendadak perih saat mengingat apa yang dialami Toni barusan bisa saja pertanda ingatannya akan kembali.
"Aku dimana?" bisik Toni. Lalu pria itu menyebutkan nama - nama kota yang sepertinya pernah dia kunjungi.
Mendengar pertanyaan itu, rasa takut menyeruak dari dasar hati Eliana yang paling dalam. Ketakutan akan kemungkinan Toni akan kembali ingat masa lalunya dan pergi darinya.
Hey, dirinya adalah seorang perawat. Bukankah dari awal dia sudah tahu kalau orang yang lupa ingatan suatu hari akan mengingat kembali masa lalunya? Eliana mengingatkan dirinya untuk back to reality.
Lagipula, mungkin saja ini jalan Tuhan untuk berpisah dengan Toni. Dokter Nathan membatalkan skorsing-nya atas permintaan Tuan Peterson. Orang kaya itu tak mau dirawat dengan orang lain selain Eliana. Dua hari adalah waktu yang diberikan oleh Dokter Nathan untuk menyelesaikan segala urusannya dengan Toni. Atau tak ada lagi kesempatan berikutnya untuk terus bekerja disini, meski Tuan Peterson yang memintanya sekalipun.
"Ini Lake Wood, Toni. Apa kamu mengingat sesuatu?" Eliana berusaha berbicara setenang dan selembut mungkin.
"Kenapa aku di Lake Wood?" Tanya Toni lagi.
Astaga! Sungguh pertanyaan Toni membuat Eliana semakin takut. Sepengetahuannya ada beberapa kasus yang membuat pasien amnesia lupa pada masa sekarang saat ingatan masa lalunya kembali.
Dengan berat hati, Eliana memberitahu Toni.
"Emmm... kamu sakit, Toni. Setelah sembuh, kamu bisa kembali ke tempat asalmu."
Good job, Eliana. Inilah yang terbaik. Toni nampaknya mengingat masa lalunya dan pergi tanpa harus merasa diusir. Eliana tak sampai hati mengucapkan kata perpisahan pada Toni.
SRET!
Toni tiba - tiba saja duduk, wajahnya seperti orang yang terbangun dari mimpi.
"Eliana."
Panggilan Toni dan cara Toni menatap seakan membuat jantung Eliana kembali berdenyut dan mendapatkan kembali nyawanya. Fakta bahwa Toni masih mengingatnya melebihi segala kecemasannya akan pekerjaan dan nasib mereka setelah ini.
Toni menariknya ke dalam pelukan. Napas Eliana tercekat kaget, dia mengerjapkan matanya saat lengan kokoh Toni memeluknya semakin erat. Tiba - tiba saja tubuh Toni sudah melingkupinya.
Eliana memejamkan matanya, membiarkan dirinya menikmati aroma maskulin yang terpancar dari tubuh Toni, menghirupnya dalam - dalam dan menyimpannya baik - baik di dalam ingatannya.
'Beri waktu sedikit lagi untukku menyiapkan hati hingga saatnya mengucapkan selamat tinggal. Meski aku tahu, kapan pun aku tak akan pernah siap.' ~ Eliana ~
Merasakan kegelisahan Toni yang memeluknya, Eliana membalas pelukan Toni dan mengusap punggungnya dengan telapak tangan. Toni mencium pucuk kepalanya dengan sayang.
Oh, My....
Tak ada kakak beradik yang berpelukan semesra ini, tak ada saudara atau pun teman yang merasakan emosi yang dirasakannya saat ini.
"Apa kamu baik - baik saja Toni?" tanya Eliana akhirnya merasa Toni dan dirinya lebih tenang.
"Aku seperti mengingat sesuatu, Eliana." Toni mengurai pelukannya dan mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang kamu ingat?" Eliana menepuk tempat tidur yang tadi dipakai oleh Toni sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Toni meminumnya dan meletakkan gelas di meja samping tempat tidur.
"Ada orang mengejarku, aku terjatuh dan.... " Toni memejamkan matanya, dia berusaha mengingat kelebatan - kelebatan yang muncul di dalam 'mimpinya' tadi. Wajahnya kembali berkerut seperti kesakitan.
Eliana mengusap lengan Toni. "Kamu bisa memulainya pelan - pelan. Pasien sepertimu tak boleh merasa tertekan. Relax dan kumpulkan lagi ingatanmu perlahan."
"Tapi aku benar - benar takut, Eliana."
"Apa yang kamu khawatirkan?"
"Yeah, You."
"Me?" Eliana mengerutkan keningnya dengan tatapan penuh tanya.
Toni menganggukkan kepalanya, tangannya meraih jari Eliana dan menggenggamnya erat.
"Aku tak melihatmu di dalam mimpiku. Tak ada dirimu disana." Toni berhenti sejenak. "Aku takut kalau aku melupakanmu saat ingatanku kembali." suara Toni bergetar.
Mata Eliana berkedip beberapa kali, menahan supaya tak ada air yang meluncur dari matanya. Tidak bisa, tak boleh ada perasaan diantara mereka. Dia tak pernah tahu apakah pria ini sudah menikah atau belum. Mempunyai kekasih atau tidak.
"Masih bisakah aku tinggal bersamamu kalau ingatanku kembali, Eliana?"
Oh, Toni! Dia tak tahu kalau semakin banyak dia berbicara, semakin tak baik untuk perasaan Eliana. Wanita itu bisa merasakan semakin hari, hatinya semakin terikat pada laki - laki tampan dihadapannya.
Eliana tersenyum pilu. Bukan dia tak mau, tapi dia tak mau menyulitkan Toni kemudian hari dengan perasaan mereka. Cepat atau lambat, Toni akan mengingat kembali masa lalunya. Eliana tak berani berharap banyak pada hubungan mereka.
"Bukankah kau bilang kamu menyayangiku Eliana?" cecar Toni lagi.
Eliana menggigit bibirnya, menahan jawaban 'Yes, I do.' keluar dari mulutnya.
Toni tak mau menyerah, dia melanjutkan kata - katanya.
"Kalau aku melupakanmu, tolong ingatkan aku. I promise you, Eliana. Just find me. Dan aku pasti jatuh cinta lagi padamu."
Jatuh
Cinta
Lagi
Padamu
Empat kata itu melayang masuk ke dalam telinga Eliana, merasuk ke dalam dadanya dan mendarat di hati Eliana.
"Apa kau bilang?"
"I think I love you, Eliana."
Eliana membeku.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nanda Lelo
tuan Peterpan eeh Peterson baik juga y walaupun mulutnya pedes kyk BonCabe y
2022-11-02
1
kenzie
hmm kasian eliana kalau harus di skors
2022-10-26
1
Mamahe 3E
yaelah nembak cinta kok ga ada romantis2 nya ya..
kalah niih sm tristan🤭🤭
2022-10-26
2