Tuan Peterson memandang punggung Eliana dengan heran, seheran - herannya. Entah apa yang ada di pikiran wanita yang beberapa hari ini sigap melayaninya. Meski dirinya sering memaki Eliana, tak bisa dipungkiri perawat ini telah berhasil menaklukkan hatinya. Meski sering mengomel, hati kecilnya bisa merasakan ketulusan Eliana saat merawatnya.
"Suster Eliana." panggilnya lagi untuk kesekian kalinya.
Yang dipanggil diam saja. Wanita itu sedang berdiri di balcony kamar Tuan Peterson yang menghadap taman St Paul. Matanya menerawang jauh, tersirat kesedihan di dalamnya. Beberapa kali, Tuan Peterson melihatnya menghembuskan napas seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Suster.... " panggilnya lagi beberapa menit kemudian setelah panggilan pertama tak mendapat respons. Melihat Eliana yang nampak bersedih, Tuan Peterson menahan diri untuk marah.
Eliana membalikkan tubuhnya.
Fiuuuh... Tuan Peterson merasa lega, akhirnya ada tanda - tanda kehidupan dari perawat yang ada di depannya.
Eh?
Bukannya datang menghampiri, Eliana malah melipat tangannya di dada dan menyandarkan bahu pada dinding balcony. Hanya merubah posisi.
Hhhh....
"Suster Eliana!" kali ini nada suara Tuan Peterson sudah mulai naik dan volumenya mulai membesar.
Eliana menggelengkan kepalanya.
"Aku akan merawatnya dengan sungguh - sungguh hingga dia pulih." katanya pelan. Tapi masih bisa didengar oleh Tuan Peterson.
"Siapa yang mau dirawat oleh tukang melamun sepertimu. Bisa - bisa aku mati karena darah tinggi." sahut Tuan Peterson kesal. Dia masih jengkel karena Eliana lebih banyak melamun sejak masuk ke ruangannya.
"Lagipula, kamu tak punya siapa - siapa." ucap Eliana. Matanya terlihat redup karena mengingat Toni.
"Kurang ajar. Apa maksudmu? Kamu pikir keluargaku tak menginginkan aku, hah?" sergah Tuan Peterson tanpa menyadari kalau Eliana tidak sedang bicara padanya.
Eliana menganggukkan kepalanya, sambil membulatkan tekat untuk terus merawat Toni.
HAH?! Sungguh keterlaluan perawat satu ini.
"Dasar bodoh! Apa kamu mau dipecat?" geram Tuan Peterson, kesabarannya habis.
Dia kesal pada Eliana, tapi yang dikatakan oleh wanita itu benar. Uangnya boleh banyak, tapi tak ada anggota keluarganya yang menyempatkan diri menemaninya. Mereka hanya menengok sesekali, itu pun kalau mereka sempat.
Sedangkan Eliana? Ya. Karena terlalu memikirkan Toni, dia jadi lupa kalau sedang berada di kamar pasien.
"SUSTER ELIANA!!!" geram Tuan Peterson, suaranya menggelegar.
"IIIYAAA!"
Eliana terjengit, dia kaget mendengar suara Tuan Peterson. Lebih kaget lagi mendengar suaranya sendiri. Apa yang dilakukannya tadi? Dia berteriak pada pasien? Astaga! Habis sudah riwayatnya, Eliana merutuki dirinya yang melamun.
"Maaf, Tuan. Apa ada yang anda butuhkan Tuan?" tanya Eliana cepat - cepat, khawatir kalau pasien di hadapannya semakin emosi.
Tuan Peterson mendengus. "Lama - lama aku kena stroke karena terus - terusan marah padamu."
"Maaf, Tuan." Eliana membungkukkan tubuhnya dalam - dalam.
"Aku mau makan." ucap Tuan Peterson tanpa mau melihat kearah Eliana.
"Siap, Tuan."
Eliana berlari ke ruang perawat, lalu dengan cepat kembali.
"TARAA.... "
Eliana tersenyum ceria. Dia sudah kembali ke mode perawat cantik dan berbahagia seperti biasanya.
Tuan Peterson terbelalak lebar, dihadapannya tersedia trolley penuh berisi berbagai macam kebutuhan. Beberapa macam minuman sudah tersedia disana, teh dengan beberapa macam variasi, su--su, air putih, roti gandum dan biskuit low fat, cake less sugar, dan beberapa macam makanan sehat lainnya. Belum lagi sekeranjang besar berisi banyak varian buah - buahan segar.
Detik berikutnya, Tuan Peterson tertegun.
Wanita di hadapannya tersenyum - senyum bahagia, puas terhadap dirinya sendiri. Kini pasien di hadapannya tak akan menyuruhnya mondar mandir lagi.
"Huh! Aku sedang tak mau apa pun." ucap pria tua itu sambil melengos. Harga dirinya tak mau mengakui kalau Eliana menang kali ini.
"Yah.... "
***
Di Coffee Shop,
PRANG!
Sebuah cangkir jatuh dan pecah, siku Toni tak sengaja menyenggolnya. Tangannya mer--emas grinder yang sedang digunakannya. Wajahnya berkerut - kerut.
Ada apa dengan dirinya?
Perut mual dan kepalanya juga pusing. Oh, ya ampun! Semua terasa berputar. Putaran itu semakin lama semakin kencang, seperti menyedotnya masuk ke dalam sebuah pusaran.
Argh... kepalanya sakit.
Napasnya sesak, sesak sekali. Dia kesulitan bernapas, seperti ada yang mencekiknya. Toni memegang kepalanya erat - erat, sekarang tak hanya pusing tapi juga sakit. Seperti ada sebuah benda besar menghantam kepalanya.
"WOAHHH!!!" teriaknya menahan sakit.
"Hey, Toni... "
"Kenapa dia?"
"Toni, Toni."
Pekikan - pekikan panik memenuhi ruangan itu, seluruh rekan kerja mengerumuni Toni yang meringkuk kesakitan di dekat meja barista. Keringat meluncur deras di pelipisnya, tubuh Toni gemetar menahan sakit.
"HEY! Jangan diam saja, bawa ke ruang istirahat." perintah owner coffee shop yang baru saja datang dan menyaksikan kegaduhan itu.
Toni memejamkan matanya, siapa tahu dengan begitu rasa sakitnya akan sedikit berkurang.
JREK JREK JREK... TUUT!
Bayangan sebuah kereta melintas di kepalanya, suaranya bising di telinga. Ada seorang pemuda duduk di lantai kereta, wajahnya nampak suram dan putus asa.
"Hey... tangkap dia!"
"Larinya kearah sana!"
Siapa mereka itu? Ada orang - orang yang mengejarnya. Napas Toni tersengal, dia berusaha sekuat tenaga untuk lari. Tak bisa, langkahnya berat dan lambat. Paru - parunya juga seperti hampir kehabisan udara.
"Tolong." teriak Toni sekuat tenaga. Yang keluar dari mulutnya hanyalah suara yang menyerupai sebuah bisikan.
Sekali lagi Toni mencoba berteriak. "Tolong."
Dan, gagal! Tak ada sedikit pun suara keluar dari mulutnya. Toni memutuskan terus berlari, entah apa yang mengejarnya. Yang pasti dia harus pergi.
UGH! Dia terperosok dari tempat yang tinggi, sebentar lagi dia pasti jatuh dan tubuhnya hancur berkeping - keping.
Oh, tidak. Dia salah. Kakinya tak juga menjejak dasar jurang dan tubuhnya terus melayang. Perasaan takut mendera, terasa begitu menyiksa.
SLAP!
Toni tersentak, matanya terbuka lebar dan nyalang menatap langit - langit diatasnya. Napasnya memburu, keringat dingin meluncur didahinya.
'Dimana dirinya sekarang?'
'Apa yang dilakukannya?'
'Bersama siapa?''
"Apa yang kamu rasakan, Toni?"
Sebuah suara lembut terdengar dari samping tempatnya berbaring. Suara yang begitu familiar dan juga dirindukannya.
Toni menoleh.
Seorang wanita cantik, memandangnya dengan penuh kasih sayang. Senyumnya begitu tulus, membuatnya merasa dicintai.
'Wanita ini... ?'
Toni menatap kosong wanita dihadapannya, terlihat jelas wajahnya sedang mengingat - ingat sesuatu.
Ouch! Kepalanya kembali berdenyut.
Toni memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.
"Istirahatlah dulu, Toni. Aku akan menemanimu disini." wanita itu mengusap lengan Toni. Hangatnya menyelusup masuk ke dalam hati laki - laki itu.
"Aku dimana?" bisik Toni. Sakit kepalanya sudah mereda, tapi dia belum berani membuka matanya. "Apa ini Greenland? Rock town?" Toni menyebutkan nama - nama kota yang terlintas di ingatannya.
"Ini Lake Wood, Toni. Apa kamu ingat sesuatu?"
"Kenapa aku di Lake Wood?"
"Emmm... kamu sakit, Toni. Setelah sembuh, kamu bisa kembali ke tempat asalmu."
"Sakit?"
OH! Toni ingat sekarang.
SRET! Serta merta dia duduk, dan langsung menoleh pada wanita yang ada disebelah tempat tidurnya.
"Eliana!" serunya.
Tatapan Toni hangat dan penuh rindu. Sesaat tadi, dia seperti pindah ke dimensi lain. Dan, sendiri! Sungguh mengerikan.
Wanita dihadapannya mengangguk penuh haru.
"Toni---"
Kalimat Eliana terputus saat kedua tangan Toni menariknya ke dalam pelukan. Napas Eliana tercekat kaget, dia mengerjapkan matanya saat lengan kokoh Toni memeluknya semakin erat. Tiba - tiba saja tubuh Toni sudah melingkupinya.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nanda Lelo
aiiishhhh,,,, cepatlah pulih Tony,, bungkam semua mut sampah yg menjelekkan Eliana tu
2022-11-02
1
EYN
Dear All,
Sorry, kena review lama. Nggak lolos2 dari semalam. 😅
2022-10-26
0
Mamahe 3E
sebenernya tony tuh siapa???
aq jd makin pinisirin...
2022-10-25
1