Pagi - pagi, Eliana sudah bangun. Dia mengeluarkan koper besar dari lemarinya. Kemudian dengan cepat mengeluarkan barang - barangnya dari lemari dan menyusunnya ke dalam sebuah koper besar. Bahkan dia sudah menyiapkan sebuah kardus untuk barang - barang kecil lainnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Toni yang baru keluar dari kamarnya.
Eliana menoleh sekilas, "Oh, Toni? Maafkan, aku belum sempat menyiapkan sarapan karena ada banyak hal yang harus aku persiapkan." katanya. Kemudian pandangan Eliana kembali fokus kepada barang - barang yang akan di bawanya.
Toni berjalan mendekat. Sepertinya Pria itu sudah mandi, wajahnya terlihat lebih bersih dan segar. Bahkan bulu - bulu halus di sekitar rahang dan di bawah hidungnya pun sudah bersih.
"Kamu mau kemana?" tanya Toni heran.
Matanya memindai satu per satu barang yang ada di sekitar Eliana. Ada baju - baju, termasuk seragam perawat dan juga sepatu. Kemudian skincare, tas, setumpuk buku dan beberapa peralatan makan.
"Aku mau kita pindah ke apartment." jawab Eliana sambil tersenyum, dia berlutut di depan koper. Memasukkan beberapa barang yang mungkin akan diperlukannya nanti.
"Apartment?" tanya Toni lagi. Dia berjongkok di dekat tempat dimana Eliana duduk.
"Iya. Hari ini juga kita pindah ke apartment."
Eliana mengangguk, kali ini dia berkata sambil menatap mata Toni. Wajah Eliana nampak begitu tenang, terlihat yakin dengan apa yang dikatakannya.
"Karena aku?"
Toni mencoba menebak alasan kenapa Eliana pindah. Dan semalaman Toni juga berpikir keras bagaimana caranya supaya Eliana tidak mendapat masalah karena dirinya. Biar bagaimana pun, dia menyadari kalau setiap wilayah mempunyai peraturannya sendiri.
Semalam dia memang berhasil mengintimidasi orang - orang itu, tapi bukan tak mungkin mereka akan kembali dalam waktu dekat. Yang dilakukannya semalam hanyalah menunda masalah.
"Tinggal di apartment akan lebih baik untuk kesembuhanmu Toni. Letaknya memang sedikit jauh dari rumah sakit, tapi dia dekat dengan kota. Kita bisa berjalan - jalan di hari libur, ada taman bermain, cafe dan toko - toko pun lebih banyak disana. Kamu bisa bersosialisasi dengan banyak orang disana. Aku yakin semua itu akan membantumu mengingat kembali masa lalumu." Eliana mencoba menjelaskan, sekaligus beralasan karena tak mau Toni merasa bersalah atau terbebani.
"Dan yang paling penting adalah disana tak ada seorang pun mengenalmu. Kita bisa mengaku kakak beradik tanpa ada yang nosy. Is that right?" komentar Toni.
Tangan Toni mulai bergerak, menumpuk buku - buku Eliana, mengambil tali yang ada di dekat situ dan mengikatnya dengan rapi. Kemudian memasukkannya ke dalam kardus.
Ya ampun! Toni berhasil menebak alasannya untuk pindah dengan tepat, laki - laki itu tak bisa dibohongi. Eliana terdiam dan mengamati pria di hadapannya. Terlihat dari gaya bicara dan cara berpikirnya, sepertinya Toni bukan orang sembarangan.
"Apa benar tebakanku?" tanya Toni lagi, mengusik lamunan Eliana.
"Kamu bilingual dan kemarin aku juga melihat aura yang berbeda darimu. Siapa kamu itu Toni?" tanya Eliana pelan, seperti bertanya pada dirinya sendiri. Tangannya berhenti bekerja lalu duduk di lantai, kemudian Eliana menghembuskan napas dan menatap Toni dengan sorot mata lembut bercampur prihatin.
'Hmm... '
Toni meletakkan pantatnya dan duduk di sebelah Eliana. "Kamu bertanya padaku siapa aku? Lalu aku harus bertanya kepada siapa?" Toni bertanya balik sambil tertawa ironi.
'O'ya.'
Eliana ikut tertawa, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa konyol dengan dirinya sendiri.
"Baiklah, nona perawat. Ceritakan padaku apa rencanamu." katanya bersiap mendengarkan.
Toni memilih mengalah pada Eliana, mau bagaimana lagi? Uang tak ada, saudara pun tak punya. Tujuan? Boro - boro tujuan, tidak dianggap penjahat atau gelandangan saja dirinya sudah sangat bersyukur. Saat ini menuruti keinginan Eliana adalah yang terbaik.
Tapi yang menjadi beban pikirannya sekarang adalah bagaimana cara membalas kebaikan Eliana dan mengurangi beban yang ditanggung wanita itu. Dia adalah laki - laki, sungguh memalukan kalau harus menumpang hidup pada seorang wanita.
"Semalam aku melihat di internet dan langsung menyewa sebuah apartment yang kebetulan kosong di dekat kota. Kehidupan disana lebih bebas dibandingkan disini."
'I got the point, Nona.'
"Apartmentnya tak besar, hanya ada dua kamar. Tapi aku rasa cukup untuk kita berdua dan harga sewanya pun terjangkau. Kita akan tinggal disana sampai ingatanmu kembali."
'Kalau ingatanku sudah kembali, apakah aku masih bisa tinggal bersamamu, Eliana?'
"Pasien amnesia butuh kasih sayang dan perhatian, supaya cepat pulih. Aku tak mau kamu banyak berpikir karena orang - orang itu karena itu akan memperlambat proses pemulihanmu."
'Hmm... senangnya kalau kamu terus menyayangi dan memperhatikanku nona cantik.'
"O'ya kemarin aku tak sengaja melihat, ternyata disana ada coffee shop yang baru buka. Kapan - kapan kita bisa mampir kesitu, kalau kamu bosan."
'My pleasure, Nona.'
Toni duduk manis di sebelah Eliana, terlihat seperti sedang mendengarkan cerita Eliana. Tapi pikirannya sudah berkelana kemana - mana.
"Hey Toni, Toni... "
Eliana menggoyang - goyangkan tangannya di depan wajah Toni.
Toni tersentak.
"Aku ikut kemana pun kamu pergi, Eliana. Aku akan terus bersamamu." jawab Toni cepat, tanpa berpikir lagi.
'Terus bersamamu?'
BLUSH!
Pipi Eliana merona, dia melengos. Ada rasa senang saat mendengar Toni akan terus bersamanya. Ah, tapi yang keluar dari mulut tentu saja berbeda dengan apa yang ada di hati.
"Kamu melamun Toni." kata Eliana sambil tertawa pelan, mencoba menutupi perasaannya. "Aku tadi bertanya, kamu mau sarapan apa?"
"Oh? Aku saja yang menyiapkan sarapan untuk kita. Aku lihat dulu isi kulkasmu di dapur." jawab Toni sambil langsung berdiri dan berjalan menuju dapur tanpa menunggu jawaban Eliana.
"Hey, Toni. Kita bisa membelinya, kamu tak perlu repot." cegah Eliana.
"Tak apa, Eliana. Aku bisa mengatasinya." sahut Toni dari dapur.
Eliana mengedikkan bahunya, lalu cepat - cepat memasukkan beberapa barang - barang tambahan yang akan dibawanya ke dalam kardus. Dia harus cepat ke dapur untuk membantu Toni.
Tak lama, harum bawang bombay yang di tumis menguar dan menggugah selera.
Eliana menajamkan penciumannya. Benarkah Toni memasak? Sungguh diluar dugaan, dia pikir Toni hanya akan menyiapkan cereal atau minuman hangat dan roti untuk mereka. Bergegas Eliana berjalan ke dapur, penasaran dengan apa yang dimasak oleh Toni.
Hal pertama yang dilihat Eliana begitu sampai di dapur adalah punggung Toni yang lebar. Pria itu sedang memunggunginya, serius mengaduk - aduk sesuatu di penggorengan, tangannya begitu luwes memasak.
"Baunya harum eeuy.... " sapa Eliana, hidungnya mengendus di dekat penggorengan.
"Duduklah, sebentar lagi selesai." Toni menoleh sebentar dan melanjutkan kembali aktifitasnya.
Dia mengambil piring, meletakkan telur dan daging cincang yang di goreng dengan bawang bombay ke atas piring. Kemudian meletakkannya di meja.
"Ready to eat, Nona." katanya sambil membungkuk, bersikap ala - ala pelayan restaurant.
"Kamu tau? Aku lupa segalanya, tapi ternyata aku bisa memasak. Dan aku rasa, aku bisa memasak macam - macam, bukan cuma ini." ucap Toni sambil menyodorkan sepotong sandwich yang juga baru selesai dibuatnya.
Eliana termangu. Benar juga, Toni tidak kehilangan kemampuan bahasa dan skill memasak. Lagipula kemampuannya mengendalikan situasi juga bagus.
'Kira - kira seperti apa kehidupannya dulu?'
Bersambung ya....
Note :
1. Nosy : istilah untuk kelakuan orang yang suka ingin tau urusan orang lain / kepo
2. Bilingual : dua bahasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nanda Lelo
aku baca bilingual tu taci bingung 🤭
ini othor typo atau gimana ini y 🤗 ternyata begitu toh 🤗🤣
2022-11-02
1
Asep Dawet
jangan lama2 tour up nya....
2022-10-17
1