Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?

Pagi - pagi, Eliana sudah bangun. Dia mengeluarkan koper besar dari lemarinya. Kemudian dengan cepat mengeluarkan barang - barangnya dari lemari dan menyusunnya ke dalam sebuah koper besar. Bahkan dia sudah menyiapkan sebuah kardus untuk barang - barang kecil lainnya.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Toni yang baru keluar dari kamarnya.

Eliana menoleh sekilas, "Oh, Toni? Maafkan, aku belum sempat menyiapkan sarapan karena ada banyak hal yang harus aku persiapkan." katanya. Kemudian pandangan Eliana kembali fokus kepada barang - barang yang akan di bawanya.

Toni berjalan mendekat. Sepertinya Pria itu sudah mandi, wajahnya terlihat lebih bersih dan segar. Bahkan bulu - bulu halus di sekitar rahang dan di bawah hidungnya pun sudah bersih.

"Kamu mau kemana?" tanya Toni heran.

Matanya memindai satu per satu barang yang ada di sekitar Eliana. Ada baju - baju, termasuk seragam perawat dan juga sepatu. Kemudian skincare, tas, setumpuk buku dan beberapa peralatan makan.

"Aku mau kita pindah ke apartment." jawab Eliana sambil tersenyum, dia berlutut di depan koper. Memasukkan beberapa barang yang mungkin akan diperlukannya nanti.

"Apartment?" tanya Toni lagi. Dia berjongkok di dekat tempat dimana Eliana duduk.

"Iya. Hari ini juga kita pindah ke apartment."

Eliana mengangguk, kali ini dia berkata sambil menatap mata Toni. Wajah Eliana nampak begitu tenang, terlihat yakin dengan apa yang dikatakannya.

"Karena aku?"

Toni mencoba menebak alasan kenapa Eliana pindah. Dan semalaman Toni juga berpikir keras bagaimana caranya supaya Eliana tidak mendapat masalah karena dirinya. Biar bagaimana pun, dia menyadari kalau setiap wilayah mempunyai peraturannya sendiri.

Semalam dia memang berhasil mengintimidasi orang - orang itu, tapi bukan tak mungkin mereka akan kembali dalam waktu dekat. Yang dilakukannya semalam hanyalah menunda masalah.

"Tinggal di apartment akan lebih baik untuk kesembuhanmu Toni. Letaknya memang sedikit jauh dari rumah sakit, tapi dia dekat dengan kota. Kita bisa berjalan - jalan di hari libur, ada taman bermain, cafe dan toko - toko pun lebih banyak disana. Kamu bisa bersosialisasi dengan banyak orang disana. Aku yakin semua itu akan membantumu mengingat kembali masa lalumu." Eliana mencoba menjelaskan, sekaligus beralasan karena tak mau Toni merasa bersalah atau terbebani.

"Dan yang paling penting adalah disana tak ada seorang pun mengenalmu. Kita bisa mengaku kakak beradik tanpa ada yang nosy. Is that right?" komentar Toni.

Tangan Toni mulai bergerak, menumpuk buku - buku Eliana, mengambil tali yang ada di dekat situ dan mengikatnya dengan rapi. Kemudian memasukkannya ke dalam kardus.

Ya ampun! Toni berhasil menebak alasannya untuk pindah dengan tepat, laki - laki itu tak bisa dibohongi. Eliana terdiam dan mengamati pria di hadapannya. Terlihat dari gaya bicara dan cara berpikirnya, sepertinya Toni bukan orang sembarangan.

"Apa benar tebakanku?" tanya Toni lagi, mengusik lamunan Eliana.

"Kamu bilingual dan kemarin aku juga melihat aura yang berbeda darimu. Siapa kamu itu Toni?" tanya Eliana pelan, seperti bertanya pada dirinya sendiri. Tangannya berhenti bekerja lalu duduk di lantai, kemudian Eliana menghembuskan napas dan menatap Toni dengan sorot mata lembut bercampur prihatin.

'Hmm... '

Toni meletakkan pantatnya dan duduk di sebelah Eliana. "Kamu bertanya padaku siapa aku? Lalu aku harus bertanya kepada siapa?" Toni bertanya balik sambil tertawa ironi.

'O'ya.'

Eliana ikut tertawa, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa konyol dengan dirinya sendiri.

"Baiklah, nona perawat. Ceritakan padaku apa rencanamu." katanya bersiap mendengarkan.

Toni memilih mengalah pada Eliana, mau bagaimana lagi? Uang tak ada, saudara pun tak punya. Tujuan? Boro - boro tujuan, tidak dianggap penjahat atau gelandangan saja dirinya sudah sangat bersyukur. Saat ini menuruti keinginan Eliana adalah yang terbaik.

Tapi yang menjadi beban pikirannya sekarang adalah bagaimana cara membalas kebaikan Eliana dan mengurangi beban yang ditanggung wanita itu. Dia adalah laki - laki, sungguh memalukan kalau harus menumpang hidup pada seorang wanita.

"Semalam aku melihat di internet dan langsung menyewa sebuah apartment yang kebetulan kosong di dekat kota. Kehidupan disana lebih bebas dibandingkan disini."

'I got the point, Nona.'

"Apartmentnya tak besar, hanya ada dua kamar. Tapi aku rasa cukup untuk kita berdua dan harga sewanya pun terjangkau. Kita akan tinggal disana sampai ingatanmu kembali."

'Kalau ingatanku sudah kembali, apakah aku masih bisa tinggal bersamamu, Eliana?'

"Pasien amnesia butuh kasih sayang dan perhatian, supaya cepat pulih. Aku tak mau kamu banyak berpikir karena orang - orang itu karena itu akan memperlambat proses pemulihanmu."

'Hmm... senangnya kalau kamu terus menyayangi dan memperhatikanku nona cantik.'

"O'ya kemarin aku tak sengaja melihat, ternyata disana ada coffee shop yang baru buka. Kapan - kapan kita bisa mampir kesitu, kalau kamu bosan."

'My pleasure, Nona.'

Toni duduk manis di sebelah Eliana, terlihat seperti sedang mendengarkan cerita Eliana. Tapi pikirannya sudah berkelana kemana - mana.

"Hey Toni, Toni... "

Eliana menggoyang - goyangkan tangannya di depan wajah Toni.

Toni tersentak.

"Aku ikut kemana pun kamu pergi, Eliana. Aku akan terus bersamamu." jawab Toni cepat, tanpa berpikir lagi.

'Terus bersamamu?'

BLUSH!

Pipi Eliana merona, dia melengos. Ada rasa senang saat mendengar Toni akan terus bersamanya. Ah, tapi yang keluar dari mulut tentu saja berbeda dengan apa yang ada di hati.

"Kamu melamun Toni." kata Eliana sambil tertawa pelan, mencoba menutupi perasaannya. "Aku tadi bertanya, kamu mau sarapan apa?"

"Oh? Aku saja yang menyiapkan sarapan untuk kita. Aku lihat dulu isi kulkasmu di dapur." jawab Toni sambil langsung berdiri dan berjalan menuju dapur tanpa menunggu jawaban Eliana.

"Hey, Toni. Kita bisa membelinya, kamu tak perlu repot." cegah Eliana.

"Tak apa, Eliana. Aku bisa mengatasinya." sahut Toni dari dapur.

Eliana mengedikkan bahunya, lalu cepat - cepat memasukkan beberapa barang - barang tambahan yang akan dibawanya ke dalam kardus. Dia harus cepat ke dapur untuk membantu Toni.

Tak lama, harum bawang bombay yang di tumis menguar dan menggugah selera.

Eliana menajamkan penciumannya. Benarkah Toni memasak? Sungguh diluar dugaan, dia pikir Toni hanya akan menyiapkan cereal atau minuman hangat dan roti untuk mereka. Bergegas Eliana berjalan ke dapur, penasaran dengan apa yang dimasak oleh Toni.

Hal pertama yang dilihat Eliana begitu sampai di dapur adalah punggung Toni yang lebar. Pria itu sedang memunggunginya, serius mengaduk - aduk sesuatu di penggorengan, tangannya begitu luwes memasak.

"Baunya harum eeuy.... " sapa Eliana, hidungnya mengendus di dekat penggorengan.

"Duduklah, sebentar lagi selesai." Toni menoleh sebentar dan melanjutkan kembali aktifitasnya.

Dia mengambil piring, meletakkan telur dan daging cincang yang di goreng dengan bawang bombay ke atas piring. Kemudian meletakkannya di meja.

"Ready to eat, Nona." katanya sambil membungkuk, bersikap ala - ala pelayan restaurant.

"Kamu tau? Aku lupa segalanya, tapi ternyata aku bisa memasak. Dan aku rasa, aku bisa memasak macam - macam, bukan cuma ini." ucap Toni sambil menyodorkan sepotong sandwich yang juga baru selesai dibuatnya.

Eliana termangu. Benar juga, Toni tidak kehilangan kemampuan bahasa dan skill memasak. Lagipula kemampuannya mengendalikan situasi juga bagus.

'Kira - kira seperti apa kehidupannya dulu?'

Bersambung ya....

Note :

1. Nosy : istilah untuk kelakuan orang yang suka ingin tau urusan orang lain / kepo

2. Bilingual : dua bahasa.

Terpopuler

Comments

Nanda Lelo

Nanda Lelo

aku baca bilingual tu taci bingung 🤭
ini othor typo atau gimana ini y 🤗 ternyata begitu toh 🤗🤣

2022-11-02

1

Asep Dawet

Asep Dawet

jangan lama2 tour up nya....

2022-10-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!