Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku

"Maaf, Toni. Aku tak bisa menemanimu lebih lama karena harus visit ke banyak pasien dan ada tugas lainnya. Tapi aku janji akan menemanimu sebelum dan setelah pulang kerja sampai kamu sembuh." kata Eliana sambil memasang wajah penuh penyesalan. "Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Eliana kemudian.

Tangan Eliana menyisir rambut Toni ke belakang supaya rapi. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan mencuci rambutnya di kamar mandi pasien. Tadi Eliana sudah menawarkan pada Toni untuk menyeka tubuhnya di kamar saja, tapi Toni menolak. Toni merasa masih sanggup mengerjakan semuanya sendiri, meski harus pelan dan hati - hati.

"Tidak, terima kasih." jawab Toni singkat. Dia tak mau menatap Eliana, ada rasa tak rela saat tau wanita itu hendak meninggalkannya.

Eliana tersenyum - senyum sambil memandangi wajah Toni.

"Eh, kenapa?" Tanya Toni saat merasakan tatapan Eliana padanya.

"Aku tak pernah salah menilai. Kamu memang tampan." ucap Eliana spontan, sorot matanya memancarkan rasa kagum.

Heh?! Apa - apaan Suster cantik ini.

Toni melengos, dia tak siap menerima pujian mendadak dan blak - blakan dari Eliana. Hatinya berdebar. Mungkin beginilah rasanya dipuji oleh wanita cantik, membuat orang jadi salah tingkah.

"Baiklah. Aku akan kembali bertugas." Eliana berpamitan sambil merapikan barang - barangnya.

Kemudian dia memandang berkeliling, memastikan tidak ada sesuatu lagi yang terlewat dan belum dikerjakannya. Sprei sudah diganti, lantai dan meja juga setidaknya sudah disapu meski tidak sempat mengepelnya. Makanan dan vitamin Toni pun sudah ada di meja. Sepertinya tugas merawat Toni beres.

"O'ya. Ransel dan pakaianmu aku kembalikan besok, aku akan mencucinya terlebih dahulu. Jangan lupa minum obat dan vitaminnya." pesan Eliana sebelum meninggalkan ruangan.

Toni diam saja, matanya memandang ke arah jendela yang masih tetap tak bisa dibuka. Sepeninggal Eliana, diam - diam Toni merasakan sepi merayap masuk kedalam hatinya.

***

Keesokan harinya

Setelah jam kerjanya usai, Eliana datang untuk mengunjungi dan mengobrol dengan Toni. Hari ini waktu untuk menemani Toni akan lebih panjang karena dia sudah bebas tugas.

"Permisi, Toni. Aku masuk ya?" sapa Eliana ramah. Tangannya mengetuk pintu.

Tak ada jawaban.

Eliana memutuskan masuk ke dalam. Seketika matanya terbelalak. Ruangan di hadapannya kosong dan bersih. Selimut pun sudah terlipat rapi di ujung tempat tidur. Tak ada siapa - siapa disana, nampak seperti ruangan yang tak pernah digunakan.

Perasaan tak enak mulai menyergap, kemudian Eliana buru - buru keluar ruangan. Dia berniat mencari Toni. Bisa saja Toni ada di taman mencari udara segar atau berjalan - jalan di lorong untuk melatih fisiknya supaya makin cepat pulih.

"Oh, Suster Eliana?" sapa seorang Suster kepala saat Eliana keluar dari ruangan itu.

"Selamat sore, Suster." Eliana mengucapkan salam dan sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Tugas jaga malam?"

"Shift saya sudah selesai, Suster. Sebelum pulang, saya mau menengok teman terlebih dulu." jawab Eliana sopan.

"Maksudmu pasien kamar nomer nol?" tanya Suster itu dengan nada sinis, matanya melirik ke arah pintu dari mana Eliana keluar.

Desas desus bahwa Eliana meminta Dokter Nathan untuk mengijinkannya merawat pasien 'buronan' itu sudah tersebar di kalangan perawat dan dokter.

"Pasien itu sudah tidak apa - apa, jadi tak perlu dirawat lagi disini." lanjut Suster Kepala.

Ha?

"Aku dengar siang ini dia meninggalkan rumah sakit."

Apa? Bukannya tadi pagi mereka masih bertemu dan Toni tidak mengatakan apa - apa. Dia bahkan masih sempat mengembalikan ransel dan baju Toni pagi tadi.

"Tapi, dia tak punya siapa - siapa dan tak ingat apa pun." kata Eliana.

"Memangnya apa rencanamu?"

"Aku akan mencarinya." jawab Eliana yakin.

"Lalu?"

"Aku akan membawanya kemari."

"Tidak perlu. Kalau ketemu, jangan bawa dia kembali."

"Tapi daya ingatnya belum pulih."

"Aku tak mau tahu, bawa saja ke rumah sakit lain. Lagian, kamu punya tugas yang lebih bermanfaat dari pada merawat seorang penjahat. Sampah masyarakat."

Kata - kata itu terasa tajam menusuk di hati. Dada Eliana terasa nyeri mendengar setiap kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Suster Kepala kepadanya. Eliana hanya diam dan menunduk saat suster kepala berjalan meninggalkannya.

"Aku tak memandang apa dan siapa. Setiap orang berhak untuk dicintai." ~ Eliana ~

Eliana melirik ke arloji yang ada ditangannya, sepertinya Toni belum terlalu lama meninggalkan rumah sakit ini. Dengan ingatan seperti itu dan tanpa uang sepeser pun, Elian yakin kalau dia belum pergi jauh.

Bergegas Eliana mengganti seragam dinasnya dan segera mencari Toni. Tempat pertama yang dikunjunginya adalah taman di rumah sakit, tapi tak ada. Baik di taman sebelah utara maupun timur rumah sakit.

Eliana terus berjalan cepat, menyusuri jalanan kota Lake Wood. Matanya berkeliaran kemana - mana mencari sosok Toni.

Kemana? Kemana kamu akan pergi kalau tak ada seorang pun yang kamu kenal? Kalau tak ada sepeser pun uang di tangan, baju pun hanya ada satu yang menempel di tubuh.

Kemana biasanya orang kesepian dan putus asa akan pergi? Bagaimana rasanya terbuang dan ditolak oleh semua orang? Kalau aku, mungkin saja ingin bunuh diri.

Bunuh diri?

Eliana tersentak. Segera dia membalikkan tubuh dan berlari sekuat tenaga kembali ke Rumah Sakit, menuju lantai ke tujuh. Ya. Di sekitar sini tak ada tempat yang lebih tinggi dari pada RS St Paul.

"Argh... " seru Eliana kesal.

Lift yang akan digunakan sedang dalam perbaikan. Tak ada waktu lagi. Eliana melesat pergi ke tangga darurat, dari situ akan lebih cepat sampai ke lantai tujuh. Dipacunya kakinya kuat - kuat agar bisa segera sampai di tempat yang ditujunya.

Kakinya kebas, dadanya terasa mau meledak. Eliana tak peduli, dia berlari dan berlari. Kemudian berhenti di ambang pintu rooftop. Napasnya sudah tersengal - sengal saat mencapai roof top. Tapi dia tak boleh berhenti. Dengan sisa - sisa tenaga, dia mendorong pintu kayu di hadapannya.

BRAK!!

Deru angin kencang menyambutnya begitu pintu terbuka, rambutnya berkelebat terkena hembusan angin. Matanya memindai roof top di hadapannya.

Ah. Itu dia! Pria itu sedang berdiri tegap di tepian rooftop, matanya memandang kosong bangunan - bangunan dibawahnya.

"TONI! TONI!!!" teriak Eliana sambil berlari dan menubruk Toni.

Toni menoleh terkejut.

"Aku mencarimu kemana - mana." teriak Eliana sambil menangis. Eliana memeluk erat punggung Toni dari belakang

Toni membalikkan badanya dan melepaskan pelukan Eliana.

"Wanita aneh, kenapa menangisi orang yang tak dikenal? Tak usah pedulikan aku. Aku tak ingin merepotkanmu yang tidak ada hubungan apa - apa denganku."

"Tak ada hubungannya bagaimana? Kamu pasienku, dan aku menyayangimu." bantah Eliana.

"Kamu bahkan tak tahu nama, alamat dan pekerjaanku, bagaimana bisa kamu menyayangiku? Lagipula aku ini gelandangan atau orang jahat."

"Aku bisa merasakan kamu tak seperti yang mereka bilang." kali ini Eliana mengucapkannya sambil tersenyum tulus.

Toni memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa haru yang merebak di dada.

"Ijinkanlah aku merawatmu, setidaknya hingga ingatanmu pulih. Dengan demikian, aku tak akan dihinggapi rasa bersalah karena perlakuan mereka terhadapmu. Pulanglah bersamaku"

Pulang bersamaku?

Sekali lagi Toni terkejut, tak pernah menyangka ada orang sebaik wanita di hadapannya.

Eliana mengulurkan telapak tangannya, menghadap keatas bersiap menyambut tangan Toni. "Aku sebatang kara dan tak punya siapa pun. Kamu bisa menjadi saudaraku atau kakakku." kata Eliana dengan lembut.

Oh, Eliana....

Bersambung ya....

Terpopuler

Comments

Nanda Lelo

Nanda Lelo

baik ya Eliana

2022-11-02

1

Ayu Diya Wahyuni

Ayu Diya Wahyuni

yuk bisa yuk up everyday😍

2022-10-01

1

Wulan Sari

Wulan Sari

yakin deh cerita nya pasti seru,, ditunggu up ny ya ka author sayang,, 🥰🥰

2022-09-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!