"Maaf, Toni. Aku tak bisa menemanimu lebih lama karena harus visit ke banyak pasien dan ada tugas lainnya. Tapi aku janji akan menemanimu sebelum dan setelah pulang kerja sampai kamu sembuh." kata Eliana sambil memasang wajah penuh penyesalan. "Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Eliana kemudian.
Tangan Eliana menyisir rambut Toni ke belakang supaya rapi. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan mencuci rambutnya di kamar mandi pasien. Tadi Eliana sudah menawarkan pada Toni untuk menyeka tubuhnya di kamar saja, tapi Toni menolak. Toni merasa masih sanggup mengerjakan semuanya sendiri, meski harus pelan dan hati - hati.
"Tidak, terima kasih." jawab Toni singkat. Dia tak mau menatap Eliana, ada rasa tak rela saat tau wanita itu hendak meninggalkannya.
Eliana tersenyum - senyum sambil memandangi wajah Toni.
"Eh, kenapa?" Tanya Toni saat merasakan tatapan Eliana padanya.
"Aku tak pernah salah menilai. Kamu memang tampan." ucap Eliana spontan, sorot matanya memancarkan rasa kagum.
Heh?! Apa - apaan Suster cantik ini.
Toni melengos, dia tak siap menerima pujian mendadak dan blak - blakan dari Eliana. Hatinya berdebar. Mungkin beginilah rasanya dipuji oleh wanita cantik, membuat orang jadi salah tingkah.
"Baiklah. Aku akan kembali bertugas." Eliana berpamitan sambil merapikan barang - barangnya.
Kemudian dia memandang berkeliling, memastikan tidak ada sesuatu lagi yang terlewat dan belum dikerjakannya. Sprei sudah diganti, lantai dan meja juga setidaknya sudah disapu meski tidak sempat mengepelnya. Makanan dan vitamin Toni pun sudah ada di meja. Sepertinya tugas merawat Toni beres.
"O'ya. Ransel dan pakaianmu aku kembalikan besok, aku akan mencucinya terlebih dahulu. Jangan lupa minum obat dan vitaminnya." pesan Eliana sebelum meninggalkan ruangan.
Toni diam saja, matanya memandang ke arah jendela yang masih tetap tak bisa dibuka. Sepeninggal Eliana, diam - diam Toni merasakan sepi merayap masuk kedalam hatinya.
***
Keesokan harinya
Setelah jam kerjanya usai, Eliana datang untuk mengunjungi dan mengobrol dengan Toni. Hari ini waktu untuk menemani Toni akan lebih panjang karena dia sudah bebas tugas.
"Permisi, Toni. Aku masuk ya?" sapa Eliana ramah. Tangannya mengetuk pintu.
Tak ada jawaban.
Eliana memutuskan masuk ke dalam. Seketika matanya terbelalak. Ruangan di hadapannya kosong dan bersih. Selimut pun sudah terlipat rapi di ujung tempat tidur. Tak ada siapa - siapa disana, nampak seperti ruangan yang tak pernah digunakan.
Perasaan tak enak mulai menyergap, kemudian Eliana buru - buru keluar ruangan. Dia berniat mencari Toni. Bisa saja Toni ada di taman mencari udara segar atau berjalan - jalan di lorong untuk melatih fisiknya supaya makin cepat pulih.
"Oh, Suster Eliana?" sapa seorang Suster kepala saat Eliana keluar dari ruangan itu.
"Selamat sore, Suster." Eliana mengucapkan salam dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Tugas jaga malam?"
"Shift saya sudah selesai, Suster. Sebelum pulang, saya mau menengok teman terlebih dulu." jawab Eliana sopan.
"Maksudmu pasien kamar nomer nol?" tanya Suster itu dengan nada sinis, matanya melirik ke arah pintu dari mana Eliana keluar.
Desas desus bahwa Eliana meminta Dokter Nathan untuk mengijinkannya merawat pasien 'buronan' itu sudah tersebar di kalangan perawat dan dokter.
"Pasien itu sudah tidak apa - apa, jadi tak perlu dirawat lagi disini." lanjut Suster Kepala.
Ha?
"Aku dengar siang ini dia meninggalkan rumah sakit."
Apa? Bukannya tadi pagi mereka masih bertemu dan Toni tidak mengatakan apa - apa. Dia bahkan masih sempat mengembalikan ransel dan baju Toni pagi tadi.
"Tapi, dia tak punya siapa - siapa dan tak ingat apa pun." kata Eliana.
"Memangnya apa rencanamu?"
"Aku akan mencarinya." jawab Eliana yakin.
"Lalu?"
"Aku akan membawanya kemari."
"Tidak perlu. Kalau ketemu, jangan bawa dia kembali."
"Tapi daya ingatnya belum pulih."
"Aku tak mau tahu, bawa saja ke rumah sakit lain. Lagian, kamu punya tugas yang lebih bermanfaat dari pada merawat seorang penjahat. Sampah masyarakat."
Kata - kata itu terasa tajam menusuk di hati. Dada Eliana terasa nyeri mendengar setiap kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Suster Kepala kepadanya. Eliana hanya diam dan menunduk saat suster kepala berjalan meninggalkannya.
"Aku tak memandang apa dan siapa. Setiap orang berhak untuk dicintai." ~ Eliana ~
Eliana melirik ke arloji yang ada ditangannya, sepertinya Toni belum terlalu lama meninggalkan rumah sakit ini. Dengan ingatan seperti itu dan tanpa uang sepeser pun, Elian yakin kalau dia belum pergi jauh.
Bergegas Eliana mengganti seragam dinasnya dan segera mencari Toni. Tempat pertama yang dikunjunginya adalah taman di rumah sakit, tapi tak ada. Baik di taman sebelah utara maupun timur rumah sakit.
Eliana terus berjalan cepat, menyusuri jalanan kota Lake Wood. Matanya berkeliaran kemana - mana mencari sosok Toni.
Kemana? Kemana kamu akan pergi kalau tak ada seorang pun yang kamu kenal? Kalau tak ada sepeser pun uang di tangan, baju pun hanya ada satu yang menempel di tubuh.
Kemana biasanya orang kesepian dan putus asa akan pergi? Bagaimana rasanya terbuang dan ditolak oleh semua orang? Kalau aku, mungkin saja ingin bunuh diri.
Bunuh diri?
Eliana tersentak. Segera dia membalikkan tubuh dan berlari sekuat tenaga kembali ke Rumah Sakit, menuju lantai ke tujuh. Ya. Di sekitar sini tak ada tempat yang lebih tinggi dari pada RS St Paul.
"Argh... " seru Eliana kesal.
Lift yang akan digunakan sedang dalam perbaikan. Tak ada waktu lagi. Eliana melesat pergi ke tangga darurat, dari situ akan lebih cepat sampai ke lantai tujuh. Dipacunya kakinya kuat - kuat agar bisa segera sampai di tempat yang ditujunya.
Kakinya kebas, dadanya terasa mau meledak. Eliana tak peduli, dia berlari dan berlari. Kemudian berhenti di ambang pintu rooftop. Napasnya sudah tersengal - sengal saat mencapai roof top. Tapi dia tak boleh berhenti. Dengan sisa - sisa tenaga, dia mendorong pintu kayu di hadapannya.
BRAK!!
Deru angin kencang menyambutnya begitu pintu terbuka, rambutnya berkelebat terkena hembusan angin. Matanya memindai roof top di hadapannya.
Ah. Itu dia! Pria itu sedang berdiri tegap di tepian rooftop, matanya memandang kosong bangunan - bangunan dibawahnya.
"TONI! TONI!!!" teriak Eliana sambil berlari dan menubruk Toni.
Toni menoleh terkejut.
"Aku mencarimu kemana - mana." teriak Eliana sambil menangis. Eliana memeluk erat punggung Toni dari belakang
Toni membalikkan badanya dan melepaskan pelukan Eliana.
"Wanita aneh, kenapa menangisi orang yang tak dikenal? Tak usah pedulikan aku. Aku tak ingin merepotkanmu yang tidak ada hubungan apa - apa denganku."
"Tak ada hubungannya bagaimana? Kamu pasienku, dan aku menyayangimu." bantah Eliana.
"Kamu bahkan tak tahu nama, alamat dan pekerjaanku, bagaimana bisa kamu menyayangiku? Lagipula aku ini gelandangan atau orang jahat."
"Aku bisa merasakan kamu tak seperti yang mereka bilang." kali ini Eliana mengucapkannya sambil tersenyum tulus.
Toni memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa haru yang merebak di dada.
"Ijinkanlah aku merawatmu, setidaknya hingga ingatanmu pulih. Dengan demikian, aku tak akan dihinggapi rasa bersalah karena perlakuan mereka terhadapmu. Pulanglah bersamaku"
Pulang bersamaku?
Sekali lagi Toni terkejut, tak pernah menyangka ada orang sebaik wanita di hadapannya.
Eliana mengulurkan telapak tangannya, menghadap keatas bersiap menyambut tangan Toni. "Aku sebatang kara dan tak punya siapa pun. Kamu bisa menjadi saudaraku atau kakakku." kata Eliana dengan lembut.
Oh, Eliana....
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nanda Lelo
baik ya Eliana
2022-11-02
1
Ayu Diya Wahyuni
yuk bisa yuk up everyday😍
2022-10-01
1
Wulan Sari
yakin deh cerita nya pasti seru,, ditunggu up ny ya ka author sayang,, 🥰🥰
2022-09-29
1