Bab 18 -- Toni Berbohong

"Siapa yang tak jelas identitasnya?" geram Eliana. Suaranya meninggi.

"Laki - laki yang tinggal denganmu! Entah itu kakakmu atau bukan." jawab Ibu Rebecca sinis.

"Dia itu pasti bandit!" celetuk seorang wanita yang berdiri di belakang Ibu Rebecca.

Hah?!

"Iya, jelas - jelas dia bandit."

"Aku yakin sekali kalau dia adalah anggota mafia."

"Benar. Aku pernah melihatnya berbicara dengan kawanan berjas hitam. Nampak sekali dari gelagatnya kalau dia berbicara sembunyi - sembunyi."

"Aku juga melihat laki - laki berkacamata hitam masuk ke mobilnya."

Wanita - wanita di hadapan Eliana saling bersahutan satu sama lain.

Eliana menutup mulut, sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tak percaya! Eliana tak percaya pada mereka.

"BOHONG! JAHAT SEKALI KALIAN!" teriaknya penuh emosi.

"Kami mengatakan fakta yang kami lihat." sergah ibu Rebecca. "Yang melihat tidak hanya satu orang, tapi banyak. Apa mungkin orang sebanyak itu salah lihat?"

"Kenapa kalian tak menyelidikinya dulu? Jangan asal tuduh. Kakakku bekerja sebagai konsultan saham." protes Eliana.

"Tidak! Laki - laki yang bersama gerombolan mafia itu adalah kakakmu, Eliana. TONI!" sekali lagi Ibu Rebecca menegaskan perkataannya.

"Konsultan saham tak harus berjas dan berkacamata hitam. Kami tak bodoh! Mana ada orang baik - baik yang bertemu di tempat tersembunyi. Konsultan saham tempatnya di bursa, Eliana. Bukan di belakang gedung ini!" Seorang ibu muda menimpali perkataan Ibu Rebecca.

Eliana pucat pasi, lututnya mulai terasa goyah. Hatinya masih tetap menolak percaya pada semua yang didengarnya saat ini.

"Aku akan membawa Toni kesini! Akan kubuktikan kalau dia bukan seperti yang kalian katakan." ucap Eliana. Matanya menatap nanar pada ibu - ibu tetangga yang bergerombol.

KLEK!

Eliana menutup pintu unit apartmentnya dengan kasar dan bergegas keluar gedung. Lari turun dari gedung melalui tangga, secepat yang dia bisa. Tidak mempedulikan tatapan orang - orang yang memandang punggungnya dengan tatapan tak suka.

'Argh... Toni bukan bandit!'

'Identitasnya tidak jelas, tapi dia bukan mafia.'

'Tega sekali mereka.'

'Tak seorang pun berhak menghakimimu, Toni.'

Air mata Eliana terus meleleh mengiringi setiap langkah kakinya. Setiap orang yang berpapasan dengannya menoleh dan menatap bingung pada Eliana yang menangis sambil berlari. Tapi, Eliana tak peduli apa pun. Saat ini, hanya satu yang dia pedulikan saat ini, Toni.

Coffee shop sudah dekat, Eliana mempercepat langkahnya. Sesak sekali. Dada Eliana sesak mendapatkan fakta yang lagi - lagi memojokkan Toni. Kenapa selalu begini? Tak bisakah mereka hidup dengan tenang lebih lama lagi?

Ah, itu dia coffee shop tempat Toni bekerja.

Eliana menghapus air mata yang mengalir dengan punggung tangannya. Toni tak boleh melihatnya menangis. Dengan menangis, Eliana justru menunjukkan kalau dia percaya pada kata - kata Ibu Rebecca dan teman - temannya.

'Be strong, Eliana!' perintahnya pada dirinya sendiri.

Sorry, we're CLOSED.

C

L

O

S

E

D

Eliana mengeja huruf demi huruf, satu kata terakhir yang tertera di papan, dengan hati - hati. Jangan sampai dia salah membaca.

CLOSED!

Coffee shop tempat Toni bekerja tutup.

Tidak pernah hati Eliana berdebar sedemikian kencang hanya karena melihat papan bertuliskan closed di sebuah toko, kantor atau cafe mana pun. Ini pertama kali dalam hidupnya, merasakan kalau hatinya hancur dan begitu kecewa hanya dengan melihat sebuah coffee shop yang tutup.

'Toni berbohong.'

Eliana menatap kosong pintu coffee shop yang tertutup. Sekelebat bayangan terlihat dari balik kaca coffee shop, gadis pelayan itu. Benar sekali, gadis pelayan itu tinggal di lantai paling atas coffee shop ini. Mungkin saja ada kesalah pahaman disini. Tanpa berpikir panjang, Eliana langsung mengetuk pintu.

"Kak, Kak Irma." panggil Eliana.

"Hai, Eliana." Gadis itu langsung menyapanya sambil melongokkan kepalanya dari jendela coffee shop yang dia buka sedikit.

"Kami tutup hari ini, besok saja datanglah kemari bersama Toni. Sampaikan padanya kalau dia harus sering - sering kemari untuk mengunjungi kami."

Eliana kembali merasa ditampar, lidahnya kelu.

"Eliana... woi... Eliana." Irma menggoyang - goyangkan tangannya di depan wajah Eliana yang pucat pasi.

"Kamu tak apa - apa?" tanya gadis itu lagi.

"Toni bilang padaku kalau dia hari ini bekerja, aku ingin menjemputnya." lirih Eliana, lemah seperti batere yang kehabisan daya.

Irma melongo.

"Apa kamu tak tahu kalau Toni sudah resign dari sini tiga hari yang lalu?"

Eliana seperti diterpa badai, hancur berkeping - keping. Pikirannya berantakan dan jiwanya terguncang. Dia tak bisa memahami apa yang terjadi sebenarnya.

Jangan tanya bagaimana caranya Eliana kembali ke apartment, karena Eliana tak tahu. Yang jelas disinilah dia, menangisi Toni di atas tempat tidurnya. Otaknya kembali menyetel ulang scene demi scene beberapa hari terakhir ini bersama Toni.

"Hari ini hari minggu, coffee shop pasti ramai. Aku harus bekerja." pamit Toni dua hari yang lalu.

"Makan malam tak usah disiapkan, biar aku beli saja."

"Akhir - akhir ini kita sering membeli makanan, benar - benar tidak ekonomis." keluh Eliana. Dia sudah tak bekerja sekarang, khawatir tabungannya akan menipis.

"Ini untukmu, aku mendapat tips lumayan dari tamu hari ini." Toni menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke tangan Eliana.

"Eliana, Eliana, aku sangat menyayangimu." ucap Toni sambil memberikan kotak berisi gaun baru untuknya.

"Bagusnya, pasti mahal sekali."

"Haha... itu barang cuci gudang, Eliana. Maaf, aku hanya mampu memberimu barang - barang sale." sahut Toni sambil meringis.

"Mobil siapa ini?" tanya Eliana siang tadi.

"Mungkin karena kasihan melihatku naik bis, dia meminjamiku mobil ini." sahur Toni sambil tersenyum. Tak sedikit pun nampak kebohongan di wajahnya.

Tap! Tap! Tap!

Kresek...

Eliana menajamkan telinganya, sepertinya Toni sudah datang. Buru - buru Eliana mengusap air matanya, dan berkaca. Matanya sedikit bengkak, dia mengoleskan concealer di bawah matanya. Sebenarnya dia sendiri bingung, seharusnya saat ini dirinya langsung keluar dan meminta penjelasan dari Toni.

Tapi, kenyataannya?

Dia malah berdandan, tak ingin Toni tahu kalau dirinya baru menangis. 'Silly you, Eliana!'

"Sudah pulang, Toni?" Eliana menyambutnya sambil berusaha tersenyum sebaik yang dia bisa.

"Hey, sayang." Toni tersenyum. Ingin sekali Eliana menghambur dan memeluknya erat, namun kakinya terasa berat untuk melangkah.

"Sit down, please." Toni menunjuk kursi di hadapannya dengan dagu sambil mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang berdesign exclusive.

"Apa itu Toni?" tanya Eliana, ingin tahu.

"Boss memberiku cake enak. Dia bilang aku boleh membawanya pulang untukmu. Tunggu sebentar, aku potongkan untukmu. Kamu pasti menyukainya." ujar Toni bersemangat. Dia sangat suka melihat Eliana makan banyak.

'Boss yang mana Toni?' gumam Eliana dalam hati, matanya menatap sedih punggung Toni yang sedang menghadap meja dapur.

"Silahkan, Eliana sayang." Toni menyodorkan piring kecil dengan potongan cheese cake diatasnya. Tak lupa Toni mengecup kening Eliana.

Oh, My...

Eliana salah fokus. Matanya menatap horor pergelangan tangan Toni.

Tangan Eliana gemetar dan napasnya tercekat.

"Toni... " bisiknya hampir tak bersuara. Rasanya seperti ada gumpalan di leher yang membuatnya susah mengeluarkan suara.

Bersambung ya....

Terpopuler

Comments

Nanda Lelo

Nanda Lelo

apa tuh d pergelangan tangan tony

2022-11-02

1

PENASARAN...,

2022-10-31

1

Asep Dawet

Asep Dawet

adh bikin penasaran aj ih knp ya kira2?

2022-10-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!