"Siapa yang tak jelas identitasnya?" geram Eliana. Suaranya meninggi.
"Laki - laki yang tinggal denganmu! Entah itu kakakmu atau bukan." jawab Ibu Rebecca sinis.
"Dia itu pasti bandit!" celetuk seorang wanita yang berdiri di belakang Ibu Rebecca.
Hah?!
"Iya, jelas - jelas dia bandit."
"Aku yakin sekali kalau dia adalah anggota mafia."
"Benar. Aku pernah melihatnya berbicara dengan kawanan berjas hitam. Nampak sekali dari gelagatnya kalau dia berbicara sembunyi - sembunyi."
"Aku juga melihat laki - laki berkacamata hitam masuk ke mobilnya."
Wanita - wanita di hadapan Eliana saling bersahutan satu sama lain.
Eliana menutup mulut, sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tak percaya! Eliana tak percaya pada mereka.
"BOHONG! JAHAT SEKALI KALIAN!" teriaknya penuh emosi.
"Kami mengatakan fakta yang kami lihat." sergah ibu Rebecca. "Yang melihat tidak hanya satu orang, tapi banyak. Apa mungkin orang sebanyak itu salah lihat?"
"Kenapa kalian tak menyelidikinya dulu? Jangan asal tuduh. Kakakku bekerja sebagai konsultan saham." protes Eliana.
"Tidak! Laki - laki yang bersama gerombolan mafia itu adalah kakakmu, Eliana. TONI!" sekali lagi Ibu Rebecca menegaskan perkataannya.
"Konsultan saham tak harus berjas dan berkacamata hitam. Kami tak bodoh! Mana ada orang baik - baik yang bertemu di tempat tersembunyi. Konsultan saham tempatnya di bursa, Eliana. Bukan di belakang gedung ini!" Seorang ibu muda menimpali perkataan Ibu Rebecca.
Eliana pucat pasi, lututnya mulai terasa goyah. Hatinya masih tetap menolak percaya pada semua yang didengarnya saat ini.
"Aku akan membawa Toni kesini! Akan kubuktikan kalau dia bukan seperti yang kalian katakan." ucap Eliana. Matanya menatap nanar pada ibu - ibu tetangga yang bergerombol.
KLEK!
Eliana menutup pintu unit apartmentnya dengan kasar dan bergegas keluar gedung. Lari turun dari gedung melalui tangga, secepat yang dia bisa. Tidak mempedulikan tatapan orang - orang yang memandang punggungnya dengan tatapan tak suka.
'Argh... Toni bukan bandit!'
'Identitasnya tidak jelas, tapi dia bukan mafia.'
'Tega sekali mereka.'
'Tak seorang pun berhak menghakimimu, Toni.'
Air mata Eliana terus meleleh mengiringi setiap langkah kakinya. Setiap orang yang berpapasan dengannya menoleh dan menatap bingung pada Eliana yang menangis sambil berlari. Tapi, Eliana tak peduli apa pun. Saat ini, hanya satu yang dia pedulikan saat ini, Toni.
Coffee shop sudah dekat, Eliana mempercepat langkahnya. Sesak sekali. Dada Eliana sesak mendapatkan fakta yang lagi - lagi memojokkan Toni. Kenapa selalu begini? Tak bisakah mereka hidup dengan tenang lebih lama lagi?
Ah, itu dia coffee shop tempat Toni bekerja.
Eliana menghapus air mata yang mengalir dengan punggung tangannya. Toni tak boleh melihatnya menangis. Dengan menangis, Eliana justru menunjukkan kalau dia percaya pada kata - kata Ibu Rebecca dan teman - temannya.
'Be strong, Eliana!' perintahnya pada dirinya sendiri.
Sorry, we're CLOSED.
C
L
O
S
E
D
Eliana mengeja huruf demi huruf, satu kata terakhir yang tertera di papan, dengan hati - hati. Jangan sampai dia salah membaca.
CLOSED!
Coffee shop tempat Toni bekerja tutup.
Tidak pernah hati Eliana berdebar sedemikian kencang hanya karena melihat papan bertuliskan closed di sebuah toko, kantor atau cafe mana pun. Ini pertama kali dalam hidupnya, merasakan kalau hatinya hancur dan begitu kecewa hanya dengan melihat sebuah coffee shop yang tutup.
'Toni berbohong.'
Eliana menatap kosong pintu coffee shop yang tertutup. Sekelebat bayangan terlihat dari balik kaca coffee shop, gadis pelayan itu. Benar sekali, gadis pelayan itu tinggal di lantai paling atas coffee shop ini. Mungkin saja ada kesalah pahaman disini. Tanpa berpikir panjang, Eliana langsung mengetuk pintu.
"Kak, Kak Irma." panggil Eliana.
"Hai, Eliana." Gadis itu langsung menyapanya sambil melongokkan kepalanya dari jendela coffee shop yang dia buka sedikit.
"Kami tutup hari ini, besok saja datanglah kemari bersama Toni. Sampaikan padanya kalau dia harus sering - sering kemari untuk mengunjungi kami."
Eliana kembali merasa ditampar, lidahnya kelu.
"Eliana... woi... Eliana." Irma menggoyang - goyangkan tangannya di depan wajah Eliana yang pucat pasi.
"Kamu tak apa - apa?" tanya gadis itu lagi.
"Toni bilang padaku kalau dia hari ini bekerja, aku ingin menjemputnya." lirih Eliana, lemah seperti batere yang kehabisan daya.
Irma melongo.
"Apa kamu tak tahu kalau Toni sudah resign dari sini tiga hari yang lalu?"
Eliana seperti diterpa badai, hancur berkeping - keping. Pikirannya berantakan dan jiwanya terguncang. Dia tak bisa memahami apa yang terjadi sebenarnya.
Jangan tanya bagaimana caranya Eliana kembali ke apartment, karena Eliana tak tahu. Yang jelas disinilah dia, menangisi Toni di atas tempat tidurnya. Otaknya kembali menyetel ulang scene demi scene beberapa hari terakhir ini bersama Toni.
"Hari ini hari minggu, coffee shop pasti ramai. Aku harus bekerja." pamit Toni dua hari yang lalu.
"Makan malam tak usah disiapkan, biar aku beli saja."
"Akhir - akhir ini kita sering membeli makanan, benar - benar tidak ekonomis." keluh Eliana. Dia sudah tak bekerja sekarang, khawatir tabungannya akan menipis.
"Ini untukmu, aku mendapat tips lumayan dari tamu hari ini." Toni menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke tangan Eliana.
"Eliana, Eliana, aku sangat menyayangimu." ucap Toni sambil memberikan kotak berisi gaun baru untuknya.
"Bagusnya, pasti mahal sekali."
"Haha... itu barang cuci gudang, Eliana. Maaf, aku hanya mampu memberimu barang - barang sale." sahut Toni sambil meringis.
"Mobil siapa ini?" tanya Eliana siang tadi.
"Mungkin karena kasihan melihatku naik bis, dia meminjamiku mobil ini." sahur Toni sambil tersenyum. Tak sedikit pun nampak kebohongan di wajahnya.
Tap! Tap! Tap!
Kresek...
Eliana menajamkan telinganya, sepertinya Toni sudah datang. Buru - buru Eliana mengusap air matanya, dan berkaca. Matanya sedikit bengkak, dia mengoleskan concealer di bawah matanya. Sebenarnya dia sendiri bingung, seharusnya saat ini dirinya langsung keluar dan meminta penjelasan dari Toni.
Tapi, kenyataannya?
Dia malah berdandan, tak ingin Toni tahu kalau dirinya baru menangis. 'Silly you, Eliana!'
"Sudah pulang, Toni?" Eliana menyambutnya sambil berusaha tersenyum sebaik yang dia bisa.
"Hey, sayang." Toni tersenyum. Ingin sekali Eliana menghambur dan memeluknya erat, namun kakinya terasa berat untuk melangkah.
"Sit down, please." Toni menunjuk kursi di hadapannya dengan dagu sambil mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang berdesign exclusive.
"Apa itu Toni?" tanya Eliana, ingin tahu.
"Boss memberiku cake enak. Dia bilang aku boleh membawanya pulang untukmu. Tunggu sebentar, aku potongkan untukmu. Kamu pasti menyukainya." ujar Toni bersemangat. Dia sangat suka melihat Eliana makan banyak.
'Boss yang mana Toni?' gumam Eliana dalam hati, matanya menatap sedih punggung Toni yang sedang menghadap meja dapur.
"Silahkan, Eliana sayang." Toni menyodorkan piring kecil dengan potongan cheese cake diatasnya. Tak lupa Toni mengecup kening Eliana.
Oh, My...
Eliana salah fokus. Matanya menatap horor pergelangan tangan Toni.
Tangan Eliana gemetar dan napasnya tercekat.
"Toni... " bisiknya hampir tak bersuara. Rasanya seperti ada gumpalan di leher yang membuatnya susah mengeluarkan suara.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nanda Lelo
apa tuh d pergelangan tangan tony
2022-11-02
1
PENASARAN...,
2022-10-31
1
Asep Dawet
adh bikin penasaran aj ih knp ya kira2?
2022-10-31
1