Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?

Berkali - kali, mata Eliana melirik kepada pria yang berjalan di sampingnya. Toni sudah selesai bekerja, dan mereka akan pulang ke rumah. Sebenarnya tadi Eliana berniat mengajaknya makan malam diluar setelah Toni selesai bekerja.

Sayangnya, laki - laki itu diam seribu bahasa. Wajahnya datar dan tanpa ekspresi. Eliana tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Toni. Hanya satu yang bisa dia rasakan, atmosphere di sekitar mereka terasa dingin.

"Toni... " panggil Eliana pelan.

Dia tak nyaman dengan suasana canggung seperti ini. Yang disapa hanya menghembuskan napas sebagai respons. Toni terus melangkah, dan dari tadi tak sekali pun matanya melihat ke Eliana. Pandangannya lurus ke depan, terlihat fokus pada jalanan yang ada di depannya.

"Fuuuuu...h."

Mendapati reaksi Toni yang dingin, Eliana menghembuskan napasnya. Kepalanya menunduk, berjalan sambil menendang - nendang kerikil yang tak bersalah.

Diam - diam Toni melirik, ada rasa tak tega melihat Eliana menjadi tak bersemangat. Tapi pria itu masih kesal dengan kejadian tadi di coffee shop.

'Nampaknya wanita ini mudah bergaul dengan siapa pun. Dan sepertinya dia tak menganggap penting diriku. Baginya aku hanyalah seorang pasien amnesia yang perlu dikasihani. I'm not her special one.' Toni bermonolog dalam hati.

"Kalau tahu jadinya akan seperti ini, aku tidak akan pernah mengijinkanmu menungguku selesai bekerja." ucap Toni akhirnya.

Meski kalimat itu diucapkan Toni tanpa emosi, tapi cukup untuk membuat perasaan Eliana merasa tak enak.

"Jadi maksudmu kamu menyesal mengajakku ke coffee shop?" tanya Eliana sambil sedikit mendongak ke arah Toni.

"Of course." jawab Toni singkat, tanpa penjelasan apa pun di belakangnya.

Eliana memajukan bibirnya, manyun. Dahinya berkerut, terlihat sedang berpikir. Ekspresinya begitu menggemaskan. Andai saja Toni tidak sedang dalam mode mengambek pasti dia sudah tertawa atau menggoda wanita yang berjalan di sampingnya.

"Apa kamu marah padaku?" Eliana mencoba menebak.

Toni masih diam. Hati Eliana mencelos.

"Aku cuma ngobrol sebentar dengan Marcel, kami baru saja berkenalan di sana. Tidak ada pembicaraan penting apa pun, sekedar basa basi."

Eliana berinisiatif untuk menjelaskan kejadian tadi pada Toni, sambil meraba - raba apa yang ada di kepala Toni.

Mendengar ucapan Eliana, Toni hanya mendengus kesal. Dia benar - benar tak suka dengan fakta bahwa Eliana ramah terhadap laki - laki lain.

Ish... Eliana jadi menyesal sekaligus bodoh karena menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Toni, padahal Toni tak meminta penjelasan apa pun dari tadi. Lihat saja reaksi Toni yang hanya seperti itu.

"Andaikata si Marcel itu tak punya tempat tinggal, apa kamu juga akan mengajaknya untuk tinggal bersamamu?" celetuk Toni tiba - tiba.

"Heeeeeh.... "

Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Eliana saat mendengar celetukan Toni. Wajahnya melongo.

"Jawab pertanyaanku!" perintah Toni.

Kali ini dia menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Eiliana dan menatapnya tajam.

Eliana terkesiap. Lagi - lagi tatapan seperti itu muncul seolah - olah sedang mengintimidasi seseorag. Nampaknya berasal dari alam bawah sadar Toni. Eliana hanya menghela napas.

"Apa kamu cemburu Toni?" akhirnya Eliana balik bertanya.

Exactly!

Toni nampak terkejut dengan pertanyaan Eliana. Dia melengos, menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya.

"Aku hanya kuatir kalau kamu terlalu percaya pada orang asing. Tidak semua orang baik, Eliana." jawab Toni dengan sedikit canggung. Dia tak mau mengakui kalau Eliana berhasil menebak perasaannya.

Wow... hati Eliana seperti mau terbang keluar dari dada. Ah, senangnya mengetahui kalau Toni sedang cemburu.

"Iya, maaf... " jawab Eliana sambil mengulum senyum.

"Untuk apa?" tanya Toni sinis, memasang gengsinya tinggi - tinggi.

"Pokoknya, ... " Eliana mengerlingkan matanya, menggoda Toni. "MA - AF." sahut Eliana sambil mengulum senyum. Dia mengeja kata maaf dan juga memberi penekanan pada kata itu.

Toni berdecak kesal.

Eliana malah tertawa. Setengah meloncat, dia mendekat kepada Toni dan langsung bergelanyut di lengan Toni yang kokoh.

Meski telah bekerja seharian, Eliana masih bisa mencium bau aftershave yang dipakai oleh Toni. Wanita itu menghirup udara dalam - dalam sambil memejamkan matanya, seolah - olah sedang menikmati udara segar.

"Apa yang kamu lakukan, Eliana?" tanya Toni, heran dengan kelakuan Eliana.

"Aku suka kamu cemburu." spontan Eliana menjawab, sudut bibirnya melengkung ke atas.

Astaga, Eliana!

Gengsinya runtuh, harga dirinya porak poranda. Wanita ini terlalu pintar untuk dibohongi. Percuma berpura - pura.

Lagipula, sebenarnya Toni tak tega berlama - lama marah pada orang yang selalu ada di saat - saat terburuknya. Perhatian dan kasih sayang Eliana padanya, berhasil memenuhi ruang hatinya yang kosong saat ini.

"Kamu belum makan malam kan tadi?" nada suara Toni sudah kembali ramah dan hangat.

"Tadi kamu sudah memberiku cinnamon roll dan sandwich di coffe shop. Tapi aku rasa aku masih sanggup makan satu porsi lagi." ujar Eliana ceria. Dia tahu kalau Toni belum sempat makan apa pun karena sibuk bekerja. Ditambah lagi mood Toni yang buruk. Baiklah, sekarang dia akan menemani makan.

Toni mengangguk, langkah kaki mereka berubah arah menuju resaturant kecil yang menyajikan steak dengan harga terjangkau dan rasa yang cukup enak.

Jam - jam segini restaurant masih cukup ramai. Toni memesan dua porsi sirloin dan jasmine tea untuk mereka. Eliana menambahkan gellato almond untuk disajikan nanti sebagai dessert mereka.

Saat makanan datang, seperti biasa Toni menyiapkan makanan Eliana. Dia memotong daging menjadi potongan kecil - kecil supaya Eliana mudah memakannya. Kemudian, Toni meletakkan hotplate di hadapan Eliana, dan seperti biasa mereka makan tanpa bicara.

"Surprise!" seru seorang wanita dengan wajah ceria.

Eliana berdecak dalam hati, kenapa akhir - akhir ini dia selalu bertemu dengan orang - orang dari rumah sakit. Sepertinya semua orang sengaja berkumpul di dekatnya, Eliana mengeluh dalam hati.

"Sedang berkencan, Eliana?" sapa wanita itu ramah.

Wanita itu memandang Eliana yang terlihat berdandan hari ini dan gaun yang dipakainya pun terlihat cantik, seperti orang yang sedang berkencan.

Eliana jadi jengah dan menjawab dengan sedikit sungkan. "Hey, Anneke. Dia, temanku. Kami hanya kebetulan bertemu." Eliana sengaja tak mengenalkan Toni pada Anneke karena takut kalau - kalau Anneke mengenali Toni sebagai 'buronan' amnesia. Biar bagaimana pun Anneke juga suster di St Paul, dia pasti pernah mendengar soal Toni.

"Ow, kalau begitu boleh aku gabung?" tanya Anneke tak tahu malu dan langsung duduk di sebelah Toni.

Toni menggeser tempat duduknya, merasa tak nyaman. Eliana menunduk, sambil mengunyah potongan dagingnya.

"Habiskan makanmu, aku akan mengantarmu pulang Eliana." ucap Toni mengikuti skenario Eliana. Sudut matanya melirik ke Anneke sebagai tanda ketidak sukaannya.

Anneke bergidik mendapati Toni sedang melirik tajam kepadanya seolah berkata jangan ganggu kami. Tapi rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya terhadap Toni.

"Sudah jam segini, apa kamu tidak kemalaman untuk kembali ke daerah selatan Eliana?"

Pertanyaan jebakan!

Terdengar seperti sebuah perhatian, tapi Eliana yakin kalau Anneke sudah mendengar sesuatu dari Suster Julie. Mereka sama - sama tukang gosip.

"Oleh karena itu, kami harus pulang sekarang. Maaf, Nona. Terpaksa anda harus sendirian." Tanpa menunggu jawaban, Toni sudah berdiri dan memberi kode pada Eliana untuk mengikutinya.

Bersambung ya....

Terpopuler

Comments

@MEIMEI🙃🤩

@MEIMEI🙃🤩

cembokur si toni

2023-04-08

1

Nanda Lelo

Nanda Lelo

kebanyakan makhluk kepo y d sekitarnya Eliana y

2022-11-02

1

hary as syifa

hary as syifa

Tony, aku juga suka cinnamon Roll. eliana aja nih yg dikasih? wkwkwkwk.

2022-10-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!