Berkali - kali, mata Eliana melirik kepada pria yang berjalan di sampingnya. Toni sudah selesai bekerja, dan mereka akan pulang ke rumah. Sebenarnya tadi Eliana berniat mengajaknya makan malam diluar setelah Toni selesai bekerja.
Sayangnya, laki - laki itu diam seribu bahasa. Wajahnya datar dan tanpa ekspresi. Eliana tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Toni. Hanya satu yang bisa dia rasakan, atmosphere di sekitar mereka terasa dingin.
"Toni... " panggil Eliana pelan.
Dia tak nyaman dengan suasana canggung seperti ini. Yang disapa hanya menghembuskan napas sebagai respons. Toni terus melangkah, dan dari tadi tak sekali pun matanya melihat ke Eliana. Pandangannya lurus ke depan, terlihat fokus pada jalanan yang ada di depannya.
"Fuuuuu...h."
Mendapati reaksi Toni yang dingin, Eliana menghembuskan napasnya. Kepalanya menunduk, berjalan sambil menendang - nendang kerikil yang tak bersalah.
Diam - diam Toni melirik, ada rasa tak tega melihat Eliana menjadi tak bersemangat. Tapi pria itu masih kesal dengan kejadian tadi di coffee shop.
'Nampaknya wanita ini mudah bergaul dengan siapa pun. Dan sepertinya dia tak menganggap penting diriku. Baginya aku hanyalah seorang pasien amnesia yang perlu dikasihani. I'm not her special one.' Toni bermonolog dalam hati.
"Kalau tahu jadinya akan seperti ini, aku tidak akan pernah mengijinkanmu menungguku selesai bekerja." ucap Toni akhirnya.
Meski kalimat itu diucapkan Toni tanpa emosi, tapi cukup untuk membuat perasaan Eliana merasa tak enak.
"Jadi maksudmu kamu menyesal mengajakku ke coffee shop?" tanya Eliana sambil sedikit mendongak ke arah Toni.
"Of course." jawab Toni singkat, tanpa penjelasan apa pun di belakangnya.
Eliana memajukan bibirnya, manyun. Dahinya berkerut, terlihat sedang berpikir. Ekspresinya begitu menggemaskan. Andai saja Toni tidak sedang dalam mode mengambek pasti dia sudah tertawa atau menggoda wanita yang berjalan di sampingnya.
"Apa kamu marah padaku?" Eliana mencoba menebak.
Toni masih diam. Hati Eliana mencelos.
"Aku cuma ngobrol sebentar dengan Marcel, kami baru saja berkenalan di sana. Tidak ada pembicaraan penting apa pun, sekedar basa basi."
Eliana berinisiatif untuk menjelaskan kejadian tadi pada Toni, sambil meraba - raba apa yang ada di kepala Toni.
Mendengar ucapan Eliana, Toni hanya mendengus kesal. Dia benar - benar tak suka dengan fakta bahwa Eliana ramah terhadap laki - laki lain.
Ish... Eliana jadi menyesal sekaligus bodoh karena menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Toni, padahal Toni tak meminta penjelasan apa pun dari tadi. Lihat saja reaksi Toni yang hanya seperti itu.
"Andaikata si Marcel itu tak punya tempat tinggal, apa kamu juga akan mengajaknya untuk tinggal bersamamu?" celetuk Toni tiba - tiba.
"Heeeeeh.... "
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Eliana saat mendengar celetukan Toni. Wajahnya melongo.
"Jawab pertanyaanku!" perintah Toni.
Kali ini dia menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Eiliana dan menatapnya tajam.
Eliana terkesiap. Lagi - lagi tatapan seperti itu muncul seolah - olah sedang mengintimidasi seseorag. Nampaknya berasal dari alam bawah sadar Toni. Eliana hanya menghela napas.
"Apa kamu cemburu Toni?" akhirnya Eliana balik bertanya.
Exactly!
Toni nampak terkejut dengan pertanyaan Eliana. Dia melengos, menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya.
"Aku hanya kuatir kalau kamu terlalu percaya pada orang asing. Tidak semua orang baik, Eliana." jawab Toni dengan sedikit canggung. Dia tak mau mengakui kalau Eliana berhasil menebak perasaannya.
Wow... hati Eliana seperti mau terbang keluar dari dada. Ah, senangnya mengetahui kalau Toni sedang cemburu.
"Iya, maaf... " jawab Eliana sambil mengulum senyum.
"Untuk apa?" tanya Toni sinis, memasang gengsinya tinggi - tinggi.
"Pokoknya, ... " Eliana mengerlingkan matanya, menggoda Toni. "MA - AF." sahut Eliana sambil mengulum senyum. Dia mengeja kata maaf dan juga memberi penekanan pada kata itu.
Toni berdecak kesal.
Eliana malah tertawa. Setengah meloncat, dia mendekat kepada Toni dan langsung bergelanyut di lengan Toni yang kokoh.
Meski telah bekerja seharian, Eliana masih bisa mencium bau aftershave yang dipakai oleh Toni. Wanita itu menghirup udara dalam - dalam sambil memejamkan matanya, seolah - olah sedang menikmati udara segar.
"Apa yang kamu lakukan, Eliana?" tanya Toni, heran dengan kelakuan Eliana.
"Aku suka kamu cemburu." spontan Eliana menjawab, sudut bibirnya melengkung ke atas.
Astaga, Eliana!
Gengsinya runtuh, harga dirinya porak poranda. Wanita ini terlalu pintar untuk dibohongi. Percuma berpura - pura.
Lagipula, sebenarnya Toni tak tega berlama - lama marah pada orang yang selalu ada di saat - saat terburuknya. Perhatian dan kasih sayang Eliana padanya, berhasil memenuhi ruang hatinya yang kosong saat ini.
"Kamu belum makan malam kan tadi?" nada suara Toni sudah kembali ramah dan hangat.
"Tadi kamu sudah memberiku cinnamon roll dan sandwich di coffe shop. Tapi aku rasa aku masih sanggup makan satu porsi lagi." ujar Eliana ceria. Dia tahu kalau Toni belum sempat makan apa pun karena sibuk bekerja. Ditambah lagi mood Toni yang buruk. Baiklah, sekarang dia akan menemani makan.
Toni mengangguk, langkah kaki mereka berubah arah menuju resaturant kecil yang menyajikan steak dengan harga terjangkau dan rasa yang cukup enak.
Jam - jam segini restaurant masih cukup ramai. Toni memesan dua porsi sirloin dan jasmine tea untuk mereka. Eliana menambahkan gellato almond untuk disajikan nanti sebagai dessert mereka.
Saat makanan datang, seperti biasa Toni menyiapkan makanan Eliana. Dia memotong daging menjadi potongan kecil - kecil supaya Eliana mudah memakannya. Kemudian, Toni meletakkan hotplate di hadapan Eliana, dan seperti biasa mereka makan tanpa bicara.
"Surprise!" seru seorang wanita dengan wajah ceria.
Eliana berdecak dalam hati, kenapa akhir - akhir ini dia selalu bertemu dengan orang - orang dari rumah sakit. Sepertinya semua orang sengaja berkumpul di dekatnya, Eliana mengeluh dalam hati.
"Sedang berkencan, Eliana?" sapa wanita itu ramah.
Wanita itu memandang Eliana yang terlihat berdandan hari ini dan gaun yang dipakainya pun terlihat cantik, seperti orang yang sedang berkencan.
Eliana jadi jengah dan menjawab dengan sedikit sungkan. "Hey, Anneke. Dia, temanku. Kami hanya kebetulan bertemu." Eliana sengaja tak mengenalkan Toni pada Anneke karena takut kalau - kalau Anneke mengenali Toni sebagai 'buronan' amnesia. Biar bagaimana pun Anneke juga suster di St Paul, dia pasti pernah mendengar soal Toni.
"Ow, kalau begitu boleh aku gabung?" tanya Anneke tak tahu malu dan langsung duduk di sebelah Toni.
Toni menggeser tempat duduknya, merasa tak nyaman. Eliana menunduk, sambil mengunyah potongan dagingnya.
"Habiskan makanmu, aku akan mengantarmu pulang Eliana." ucap Toni mengikuti skenario Eliana. Sudut matanya melirik ke Anneke sebagai tanda ketidak sukaannya.
Anneke bergidik mendapati Toni sedang melirik tajam kepadanya seolah berkata jangan ganggu kami. Tapi rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya terhadap Toni.
"Sudah jam segini, apa kamu tidak kemalaman untuk kembali ke daerah selatan Eliana?"
Pertanyaan jebakan!
Terdengar seperti sebuah perhatian, tapi Eliana yakin kalau Anneke sudah mendengar sesuatu dari Suster Julie. Mereka sama - sama tukang gosip.
"Oleh karena itu, kami harus pulang sekarang. Maaf, Nona. Terpaksa anda harus sendirian." Tanpa menunggu jawaban, Toni sudah berdiri dan memberi kode pada Eliana untuk mengikutinya.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
@MEIMEI🙃🤩
cembokur si toni
2023-04-08
1
Nanda Lelo
kebanyakan makhluk kepo y d sekitarnya Eliana y
2022-11-02
1
hary as syifa
Tony, aku juga suka cinnamon Roll. eliana aja nih yg dikasih? wkwkwkwk.
2022-10-23
1