Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?

"Hey, dia saudaraku. Bukan pria asing." kata Eliana sambil membuka pintu rumahnya. Dia ingin segera masuk dan terlepas dari Brenda yang super kepo.

"Saudara atau bukan, kamu harus lapor ke chief head atau neighborhood watch. Itu peraturannya." tegas Brenda.

Eliana meneguk salivanya, Brenda benar. Ada peraturan tak tertulis yang mengharuskannya melapor apabila membawa seseorang menginap. Bagaimana ini?

"Nona, apa keberadaan saya disini menganggumu? tanya Toni. Suaranya terdengar tegas dan mantap, tak ada sedikit pun keraguan.

Brenda menoleh, pandangannya bertemu dengan sorot mata tegas dan dominan Toni. Hatinya sedikit gentar.

Nada suara yang semula terdengar meninggi, seketika terdengar mencicit. "Ehm... maaf, aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh." Mata Brenda menunduk, tak sanggup melawan sorot mata Toni yang begitu tajam dan mengintimidasi.

Eliana terkesiap, dia ikut merasakan perubahan suasana di sekitarnya. Ada yang lain dalam diri Toni, sosoknya terlihat begitu berbeda, nampak begitu berwibawa dan dominan.

"Kalau tak ada kepentingan lain, silahkan Nona pulang." kata Toni lagi. Tangannya mempersilahkan Brenda untuk pergi seolah - olah daerah ini adalah teritorialnya, dan dia tak mau seorang pun mengganggunya.

Brenda sedikit bergidik, di dalam pandangannya Toni nampak begitu menyeramkan. Tanpa banyak bicara, dia bergegas keluar dari pekarangan rumah Eliana.

Eliana menghela napas lega, kemudian diliriknya Toni yang sedang berdiri di pintu masuk. Berkelebat perasaan janggal di hati Eliana saat mendapati ekspresi Toni terasa berbeda. Dia tak pernah melihat Toni seperti itu.

"Toni... " panggil Eliana pelan.

Tapi hanya itu yang diucapkannya, Eliana merasa serba salah dan tak tahu harus berkata apa pada pria di hadapannya. Ada rasa tak enak menyusup di hatinya, mengingat bagaimana Brenda mencecarnya. Andai saja dirinya yang menjadi Toni, sudah pasti merasa tak nyaman dengan situasi seperti saat ini.

"Selamat tinggal, Eliana. Lebih baik kita berpisah disini." kata Toni sambil tersenyum.

He?

Hati Eliana mencelos melihat Toni membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan dan ucapan selamat tinggal. Ada rasa sedih yang mendadak muncul dari dalam hatinya.

"TONI!" panggil Eliana lagi.

Eliana tak tahu untuk alasan apa dia memanggil Toni, yang pasti saat ini dia hanya mengikuti intuisi-nya untuk melarang Toni pergi.

Toni menghentikan langkahnya, dan menoleh. Senyum lembut tak lepas dari mulutnya. "Hey, aku bisa hidup sendiri. Jangan kuatir seperti itu." kata Toni saat mendapati kilatan - kilatan rasa kuatir di mata Eliana.

"Tapi... --

Lidah Eliana kelu, kalimatnya menggantung begitu saja, kehilangan kata - kata. Toni membalikkan badannya, kemudian dia sedikit membungkukkan tubuhnya supaya tingginya sejajar dengan Eliana. Dan mereka bisa berbicara, sambil saling menatap mata masing - masing.

"Terima kasih sudah menolongku, aku berhutang budi padamu." Toni berhenti sejenak.

"Kondisi tubuhku sudah pulih. Kamu kan seorang perawat seharusnya kamu lebih tahu kondisiku saat ini. Jadi, sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk tinggal bersamamu." ucap Toni, suaranya lembut seperti seorang ayah yang sedang membujuk anaknya untuk berpamitan pergi.

"Jangan...!"

"Ya?"

'pergi'

Eliana termenung, dia menelan kata 'pergi' kembali ke dalam tenggorokannya. Padahal jelas - jelas hatinya berkata 'Jangan pergi, Toni.'

"Kalau ingatanku pulih kembali, orang pertama yang akan aku temui adalah kamu." kata Toni, berjanji pada Eliana. Tangannya menepuk pelan bahu Eliana.

Oh! Eliana tak tahan lagi.

"JANGAN PERGI!" teriaknya sekuat yang dia bisa. Lehernya tercekat, tanpa sadar dia sudah menahan tangisannya.

Toni tertegun melihat tetes demi tetes air mata meluncur dari mata cantik Eliana, turun dan meleleh di pipi perawat cantik itu.

'Siapa dirinya hingga ada seorang wanita yang menangisinya seperti ini? Begitu berhargakah dirinya untuk ditangisi oleh wanita yang baru dikenalnya?'

"Toni, kamu tau kan kalau aku hidup seorang diri?" tanya Eliana sambil sambil menunduk. Tangannya yang satu menarik ujung baju Toni, sedangkan tangan lainya mengusap pipinya yang basah karena air mata.

Toni diam, tak merespon apa pun. Matanya menatap haru tangan Eliana yang memegang ujung kaos yang dipakainya.

"Aku..., aku sungguh - sungguh sudah menganggap Toni sebagai kakak. Aku tak sampai hati melihat kakakku keluyuran tak tentu arah dan tak punya tempat untuk pulang."

Kalimat demi kalimat yang diucapkan Eliana bagaikan embun yang menetes, membasahi hati Toni yang sedang bimbang dan merasa terbuang, perasaan yang akhir - akhir ini sering menghampirinya.

"Eliana... terima kasih."

"No!" potong Eliana cepat. Dia tak mau mendengar Toni berterima kasih dan mengucapkan selamat tinggal.

"Aku berjanji akan mengurus dan merawatmu hingga sembuh. Setelah itu kamu boleh pergi, kembalilah ke kehidupanmu sebelumnya. Ya?" pinta Eliana dengan sungguh - sungguh. Dia bahkan tak segan menghambur ke pelukan Toni.

Toni menunduk, memandang wanita yang ada di pelukannya. Dia menghembuskan napas, membalas pelukan itu. Tangan satunya terulur mengusap kepala Eliana.

"Terima kasih, Eliana." bisiknya dengan suara sedikit bergetar. Tak dapat dipungkiri, hati Toni terasa tenang setiap kali bersama wanita itu.

***

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan pintu dengan bunyi tak teratur, berulang - ulang dan tergesa, sepertinya orang yang diluar tak sabar ingin segera dibukakan atau masuk ke dalam rumah.

Eliana baru saja selesai menyiapkan kamar yang akan dipakai Toni setelah tadi dia menunjukkan ruangan demi ruangan di rumahnya supaya Toni merasa nyaman dan tahu dimana saja letak barang - barangnya. Dia ingin Toni feels at home di rumahnya.

Eliana tergopoh berjalan mendekati pintu dan membukanya. Toni mengikutinya dari belakang.

"Nona Eliana!" sapa seorang pria paruh baya berbadan tegap, tinggi dan besar. He is the chief head. Dibelakangnya ada beberapa warga sekitar, dan juga Brenda.

"Yes, Sir." ucap Eliana pelan.

Dia sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya, sekarang saatnya menyiapkan hati dan alasan yang kuat supaya Toni bisa tetap tinggal.

Toni bergerak cepat, dia berjalan menghampiri chief head tersebut.

"Selamat malam, Sir. Ada yang bisa kami bantu?" sapa Toni ramah dan tegas. Tak ada sedikit pun ragu atau pun takut di sorot matanya. Tangannya terulur, bersiap menyambut tangan petugas tadi.

Sebaliknya, Chief Head tadi nampak sedikit bingung bagaimana menanggapi lelaki yang nampak begitu dominan di hadapannya.

"Ingin bicara padaku, Sir?" dengan luwes Toni mengajak pria itu berjalan menuju ke pekarangan rumah Eliana. Orang - orang di belakangnya otomatis mengikuti.

Toni sedikit menoleh pada Eliana, dia tersenyum kecil seakan berkata everthing's gonna be okay. Langkah orang - orang itu berjalan semakin mendekat ke tembok pembatas di depan rumah Eliana.

"Saya mau melapor, kalau saya adalah kakak sepupu Eliana. Sementara saya harus menginap disini karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Mohon pengertiannya."

Ucapan Toni lebih terdengar seperti sebuah pemberitahuan dan bukan permohonan untuk ijin tinggal. Tangannya merangkul erat bahu Chief Head seolah mereka adalah sahabat lama.

Chief head nampak canggung, tak tahu harus berkata apa. Mendadak pamornya merosot jauh dihadapan lelaki muda itu.

"Baiklah, Sir. Anda sudah melakukan tugas dengan baik. Selamat malam. Hati - hati dijalan."

Tanpa menunggu jawaban, Toni menutup pembicaraan. Dia melepaskan rangkulannya, sebelah tangannya menepuk akrab bahu pria paruh baya tadi.

Tangan satunya mempersilahkan mereka semua pergi meninggalkan pekarangan Eliana. Tanpa sadar, orang - orang itu meninggalkan rumah Eliana tanpa keributan sama sekali.

Toni menghembuskan napas lega dan tersenyum pada Eliana. "Baiklah, untuk malam ini urusan kita selesai."

Eliana melongo, tak percaya dengan apa yang tadi dilihatnya.

'Siapa Toni sebenarnya?'

Bersambung ya....

Note :

Intuisi adalah gagasan atau ide yang muncul berdasarkan naluri tanpa pertimbangan yang logis.

Terpopuler

Comments

Lala lala

Lala lala

kalau org barat sih mau lapor gak lapor ga da masalah mau nu.pang tdr mau kumpul kebo tetangga ga urus yg pnting gak ganggu ketentraman ga bikin huru hara dan bkn kriminal.

2024-11-25

0

Sagara Banyu

Sagara Banyu

Rony emang kereeeen 😁😁😁

2023-07-22

1

Nanda Lelo

Nanda Lelo

Tony is mine 🤣🤣🤣🤣

wong sugih iku paklek,,

2022-11-02

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!