"Hey, dia saudaraku. Bukan pria asing." kata Eliana sambil membuka pintu rumahnya. Dia ingin segera masuk dan terlepas dari Brenda yang super kepo.
"Saudara atau bukan, kamu harus lapor ke chief head atau neighborhood watch. Itu peraturannya." tegas Brenda.
Eliana meneguk salivanya, Brenda benar. Ada peraturan tak tertulis yang mengharuskannya melapor apabila membawa seseorang menginap. Bagaimana ini?
"Nona, apa keberadaan saya disini menganggumu? tanya Toni. Suaranya terdengar tegas dan mantap, tak ada sedikit pun keraguan.
Brenda menoleh, pandangannya bertemu dengan sorot mata tegas dan dominan Toni. Hatinya sedikit gentar.
Nada suara yang semula terdengar meninggi, seketika terdengar mencicit. "Ehm... maaf, aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh." Mata Brenda menunduk, tak sanggup melawan sorot mata Toni yang begitu tajam dan mengintimidasi.
Eliana terkesiap, dia ikut merasakan perubahan suasana di sekitarnya. Ada yang lain dalam diri Toni, sosoknya terlihat begitu berbeda, nampak begitu berwibawa dan dominan.
"Kalau tak ada kepentingan lain, silahkan Nona pulang." kata Toni lagi. Tangannya mempersilahkan Brenda untuk pergi seolah - olah daerah ini adalah teritorialnya, dan dia tak mau seorang pun mengganggunya.
Brenda sedikit bergidik, di dalam pandangannya Toni nampak begitu menyeramkan. Tanpa banyak bicara, dia bergegas keluar dari pekarangan rumah Eliana.
Eliana menghela napas lega, kemudian diliriknya Toni yang sedang berdiri di pintu masuk. Berkelebat perasaan janggal di hati Eliana saat mendapati ekspresi Toni terasa berbeda. Dia tak pernah melihat Toni seperti itu.
"Toni... " panggil Eliana pelan.
Tapi hanya itu yang diucapkannya, Eliana merasa serba salah dan tak tahu harus berkata apa pada pria di hadapannya. Ada rasa tak enak menyusup di hatinya, mengingat bagaimana Brenda mencecarnya. Andai saja dirinya yang menjadi Toni, sudah pasti merasa tak nyaman dengan situasi seperti saat ini.
"Selamat tinggal, Eliana. Lebih baik kita berpisah disini." kata Toni sambil tersenyum.
He?
Hati Eliana mencelos melihat Toni membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan dan ucapan selamat tinggal. Ada rasa sedih yang mendadak muncul dari dalam hatinya.
"TONI!" panggil Eliana lagi.
Eliana tak tahu untuk alasan apa dia memanggil Toni, yang pasti saat ini dia hanya mengikuti intuisi-nya untuk melarang Toni pergi.
Toni menghentikan langkahnya, dan menoleh. Senyum lembut tak lepas dari mulutnya. "Hey, aku bisa hidup sendiri. Jangan kuatir seperti itu." kata Toni saat mendapati kilatan - kilatan rasa kuatir di mata Eliana.
"Tapi... --
Lidah Eliana kelu, kalimatnya menggantung begitu saja, kehilangan kata - kata. Toni membalikkan badannya, kemudian dia sedikit membungkukkan tubuhnya supaya tingginya sejajar dengan Eliana. Dan mereka bisa berbicara, sambil saling menatap mata masing - masing.
"Terima kasih sudah menolongku, aku berhutang budi padamu." Toni berhenti sejenak.
"Kondisi tubuhku sudah pulih. Kamu kan seorang perawat seharusnya kamu lebih tahu kondisiku saat ini. Jadi, sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk tinggal bersamamu." ucap Toni, suaranya lembut seperti seorang ayah yang sedang membujuk anaknya untuk berpamitan pergi.
"Jangan...!"
"Ya?"
'pergi'
Eliana termenung, dia menelan kata 'pergi' kembali ke dalam tenggorokannya. Padahal jelas - jelas hatinya berkata 'Jangan pergi, Toni.'
"Kalau ingatanku pulih kembali, orang pertama yang akan aku temui adalah kamu." kata Toni, berjanji pada Eliana. Tangannya menepuk pelan bahu Eliana.
Oh! Eliana tak tahan lagi.
"JANGAN PERGI!" teriaknya sekuat yang dia bisa. Lehernya tercekat, tanpa sadar dia sudah menahan tangisannya.
Toni tertegun melihat tetes demi tetes air mata meluncur dari mata cantik Eliana, turun dan meleleh di pipi perawat cantik itu.
'Siapa dirinya hingga ada seorang wanita yang menangisinya seperti ini? Begitu berhargakah dirinya untuk ditangisi oleh wanita yang baru dikenalnya?'
"Toni, kamu tau kan kalau aku hidup seorang diri?" tanya Eliana sambil sambil menunduk. Tangannya yang satu menarik ujung baju Toni, sedangkan tangan lainya mengusap pipinya yang basah karena air mata.
Toni diam, tak merespon apa pun. Matanya menatap haru tangan Eliana yang memegang ujung kaos yang dipakainya.
"Aku..., aku sungguh - sungguh sudah menganggap Toni sebagai kakak. Aku tak sampai hati melihat kakakku keluyuran tak tentu arah dan tak punya tempat untuk pulang."
Kalimat demi kalimat yang diucapkan Eliana bagaikan embun yang menetes, membasahi hati Toni yang sedang bimbang dan merasa terbuang, perasaan yang akhir - akhir ini sering menghampirinya.
"Eliana... terima kasih."
"No!" potong Eliana cepat. Dia tak mau mendengar Toni berterima kasih dan mengucapkan selamat tinggal.
"Aku berjanji akan mengurus dan merawatmu hingga sembuh. Setelah itu kamu boleh pergi, kembalilah ke kehidupanmu sebelumnya. Ya?" pinta Eliana dengan sungguh - sungguh. Dia bahkan tak segan menghambur ke pelukan Toni.
Toni menunduk, memandang wanita yang ada di pelukannya. Dia menghembuskan napas, membalas pelukan itu. Tangan satunya terulur mengusap kepala Eliana.
"Terima kasih, Eliana." bisiknya dengan suara sedikit bergetar. Tak dapat dipungkiri, hati Toni terasa tenang setiap kali bersama wanita itu.
***
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu dengan bunyi tak teratur, berulang - ulang dan tergesa, sepertinya orang yang diluar tak sabar ingin segera dibukakan atau masuk ke dalam rumah.
Eliana baru saja selesai menyiapkan kamar yang akan dipakai Toni setelah tadi dia menunjukkan ruangan demi ruangan di rumahnya supaya Toni merasa nyaman dan tahu dimana saja letak barang - barangnya. Dia ingin Toni feels at home di rumahnya.
Eliana tergopoh berjalan mendekati pintu dan membukanya. Toni mengikutinya dari belakang.
"Nona Eliana!" sapa seorang pria paruh baya berbadan tegap, tinggi dan besar. He is the chief head. Dibelakangnya ada beberapa warga sekitar, dan juga Brenda.
"Yes, Sir." ucap Eliana pelan.
Dia sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya, sekarang saatnya menyiapkan hati dan alasan yang kuat supaya Toni bisa tetap tinggal.
Toni bergerak cepat, dia berjalan menghampiri chief head tersebut.
"Selamat malam, Sir. Ada yang bisa kami bantu?" sapa Toni ramah dan tegas. Tak ada sedikit pun ragu atau pun takut di sorot matanya. Tangannya terulur, bersiap menyambut tangan petugas tadi.
Sebaliknya, Chief Head tadi nampak sedikit bingung bagaimana menanggapi lelaki yang nampak begitu dominan di hadapannya.
"Ingin bicara padaku, Sir?" dengan luwes Toni mengajak pria itu berjalan menuju ke pekarangan rumah Eliana. Orang - orang di belakangnya otomatis mengikuti.
Toni sedikit menoleh pada Eliana, dia tersenyum kecil seakan berkata everthing's gonna be okay. Langkah orang - orang itu berjalan semakin mendekat ke tembok pembatas di depan rumah Eliana.
"Saya mau melapor, kalau saya adalah kakak sepupu Eliana. Sementara saya harus menginap disini karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Mohon pengertiannya."
Ucapan Toni lebih terdengar seperti sebuah pemberitahuan dan bukan permohonan untuk ijin tinggal. Tangannya merangkul erat bahu Chief Head seolah mereka adalah sahabat lama.
Chief head nampak canggung, tak tahu harus berkata apa. Mendadak pamornya merosot jauh dihadapan lelaki muda itu.
"Baiklah, Sir. Anda sudah melakukan tugas dengan baik. Selamat malam. Hati - hati dijalan."
Tanpa menunggu jawaban, Toni menutup pembicaraan. Dia melepaskan rangkulannya, sebelah tangannya menepuk akrab bahu pria paruh baya tadi.
Tangan satunya mempersilahkan mereka semua pergi meninggalkan pekarangan Eliana. Tanpa sadar, orang - orang itu meninggalkan rumah Eliana tanpa keributan sama sekali.
Toni menghembuskan napas lega dan tersenyum pada Eliana. "Baiklah, untuk malam ini urusan kita selesai."
Eliana melongo, tak percaya dengan apa yang tadi dilihatnya.
'Siapa Toni sebenarnya?'
Bersambung ya....
Note :
Intuisi adalah gagasan atau ide yang muncul berdasarkan naluri tanpa pertimbangan yang logis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Lala lala
kalau org barat sih mau lapor gak lapor ga da masalah mau nu.pang tdr mau kumpul kebo tetangga ga urus yg pnting gak ganggu ketentraman ga bikin huru hara dan bkn kriminal.
2024-11-25
0
Sagara Banyu
Rony emang kereeeen 😁😁😁
2023-07-22
1
Nanda Lelo
Tony is mine 🤣🤣🤣🤣
wong sugih iku paklek,,
2022-11-02
2