"Eliana? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah rumahmu di daerah selatan?" tanya Suster Julie dengan nada menyelidik.
"Oh... ehm... , aku sedang ada urusan di sekitar sini." jawab Eliana gelagapan. Dia takut salah bicara.
Suster Julie memicingkan matanya.
"O'ya?" tanyanya tak percaya. "Aku kemarin lewat di dekat rumahmu dan kudengar dari tetanggamu kalau kamu pindah ke kota lain bersama seorang pria."
Heh? Apa - apaan ini? Niat baiknya ingin menolong seorang wanita yang sedang diintimidasi malah jadi boomerang bagi Eliana. Orang yang ditolong tak tahu terima kasih, malah kepo dengan kehidupan Eliana.
"Aku tak mengerti maksudmu, Suster Julie. Maaf kalau aku mengganggu kalian, aku harus pulang sekarang atau aku kemalaman sampai di rumah." ucap Eliana sedikit berbohong.
Dia tak mau lagi berurusan dengan Suster Julie yang tak hanya suka ikut campur urusan orang lain, tapi juga bermulut tajam. Lagipula, selama ini hubungannya dengan Suster Julie juga tak terlalu baik. Setiap kali bertemu dia selalu menggunjingkan orang lain dan Eliana tak menyukainya.
Setelah agak jauh dari Suster Julie, Eliana memperlambat langkahnya. Dihirupnya udara dalam - dalam, lalu perlahan dihembuskan. Sepertinya hari ini bukan hari yang baik untuknya. Mulai dari pasien kaya yang semena - mena, lalu Toni menghilang...
'Toni?'
O'ya tujuannya keluar tadi adalah mencari Toni.
'Arrgh... gara - gara Suster Julie, aku jadi lupa soal Toni.' dengus Eliana dalam hati.
"Kenapa wajahmu cemberut?"
Hey, suara itu...
"Toni.... " lirih Eliana.
Laki - laki itu berdiri di bawah lampu jalan yang sudah mulai menyala, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Tampan dan manly.
"Kamu kemana saja Toni?" katanya pelan sambil berjalan menghampiri Toni. "Aku mencarimu kemana - mana." Mata Eliana menatap sendu kepada Toni, terpancar rasa lega bercampur kuatir.
Toni tertegun. Ada sesuatu yang berbeda di hatinya saat matanya bertemu dengan mata Eliana yang selalu menatapnya dengan sorot penuh kasih.
"Maaf, aku tak sempat memberitahumu tadi. Apa kamu khawatir karena aku tak di rumah?" Toni balik bertanya dengan raut wajah menyesal.
Eliana mengangguk. Tangan Toni terulur, dia menggenggam tangan Eliana dan mengajaknya berjalan pulang. Telapak tangan Toni terasa besar dan hangat, ada nyaman menyelusup masuk di hati Eliana.
"Tadi aku mencari pekerjaan." Toni memulai ceritanya. "Hari ini aku bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah cafe."
Tukang cuci piring? Astaga!
Eliana menghentikan langkahnya dan menoleh ke Toni dengan sorot mata yang memancarkan pertanyaan 'kenapa'.
"Hehe.... habisnya aku tak mau terus merepotkan kamu." Toni terkekeh pelan.
'Oh, begitu.'
Eliana mengangguk pelan. Meski tak tega saat mengetahui Toni bekerja sebagai tukang cuci piring, Eliana mencoba memahami niat baik Toni. Mereka pun kembali berjalan beriringan.
"Kamu tahu? Ternyata aku bisa membuat kopi yang enak. Karena sesuatu hal, barista yang biasa bekerja di cafe tersebut dipecat. Lucky me! Disaat pemiliknya kebingungan mencari pengganti, aku spontan menawarkan bantuan. Dan... --- "
Toni berhenti sejenak dan menghembuskan napas lega, "Ternyata dia menyukai kopi racikanku." Terlihat jelas rasa puas dan bangga di matanya.
"Jadi? Besok kamu bekerja sebagai Toni si barista?" tebak Eliana sambil tertawa kecil.
Toni mengangguk dengan senyum yang lebar, mereka berpandangan dengan ekspresi lega untuk dua alasan yang berbeda.
Eliana merasa lega karena ternyata Toni tidak pergi kemana pun. Yah... , setidaknya untuk saat ini. Toni masih akan terus bersamanya.
Dan Toni? Laki - laki itu merasa bangga karena bisa menghasilkan sedikit uang, untuk meringankan beban Eliana.
***
Sore itu, Eliana sudah berdandan cantik. Hari ini dia mendapatkan jatah libur dan berencana menemui Toni di cafe tempatnya bekerja. Diam - diam Eliana merasa penasaran dan ingin melihat bagaimana Toni saat bekerja. Dan hari inilah kesempatannya untuk pergi kesana.
Begitu sampai, cafe terlihat ramai pengunjung. Hanya tersisa dua kursi kosong di sudut sana. Tak mau mengganggu Toni, Eliana langsung mengambil tempat duduk di sudut. Dia memesan secangkir espresso dan membaca buku sambil menunggu pesanannya.
"Halo."
Eliana mendongak saat seseorang sudah duduk di sampingnya.
"Eh, hai." sapa Eliana canggung.
Lelaki yang duduk disampingnya itu terlihat seumuran Toni, dia masih mengenakan setelan kerjanya. Dia tersenyum manis pada Eliana. "Sendirian?"
Eliana bingung harus menjawab apa. Saat ini dia memang sendirian, Toni sedang bekerja. Tapi Toni seharusnya tahu kalau Eliana menunggunya disini. Tadi pagi sebelum Toni berangkat, mereka sudah janjian akan bertemu di cafe selesai jam kerja Toni.
"Iya... sekarang sedang sendirian." Akhirnya Eliana menjawab pelan.
"Marcell Smith." Pria itu mengulurkan tangannya. "Kamu bisa memanggilku Marcel." Pria itu memperkenalkan dirinya dengan ramah.
"Eliana." katanya sambil menjabat tangan Marcel. Tak apalah sedikit mengobrol dengan pria ini sembari menunggu Toni selesai bekerja. Eliana memberi excuse pada dirinya sendiri.
"Pulang kerja?" tanya Marcel lagi, dia menatap Eliana dengan penuh minat.
Eliana menggeleng. "Aku sedang day off."
Sejenak mereka terdiam, pelayan datang dan membawakan pesanan Eliana. Dengan cepat pria itu membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang kertas.
"Aku traktir punya dia. Ambil kembaliannya." Tangan Marcel memberi kode pada pelayan untuk segera meninggalkan mereka.
Eliana membelalakkan mata. "Terima kasih, Tuan. Aku bisa bayar sendiri." tolaknya dengan halus.
"Eliana."
Panggilan yang lembut tapi tegas membuat Eliana dan Marcel menoleh.
Wajah Toni terlihat lelah dan tidak suka. Bola matanya memerah dan sudut matanya menyipit, memandang pria itu dengan sorot curiga. Rahangnya keras, ekspresinya seakan mau mengajak perang.
"Sorry for interrupting your conversation. Saya kembalikan uangnya, Tuan. Saya yang mengajaknya kemari, jadi saya yang akan mentraktirnya."
"Tapi tadi dia sedang sendirian." bantah Marcel tak terima. Siapa pria yang tiba - tiba datang dan mengganggu kesenangannya.
Eliana bergerak - gerak, gelisah. Apalagi dia merasakan tatapan Toni yang mengarah padanya. Mendadak saja Eliana merasa serba salah, seperti sedang ketahuan selingkuh.
Toni tersenyum simpul, "Ya, saya tahu. Tadi dia sendirian karena menunggu saya selesai bekerja."
"Hm-hm." Marcel mengangguk, wajahnya terlihat jelas kalau dia tak suka pada Toni. Kemudian pria itu menoleh kearah Eliana. "Apa kamu mengenal laki - laki ini?" jempolnya menunjuk kearah Toni.
"Ya. Dia.... " Eliana berdehem. "Kakakku."
Marcel tak berkata apa pun.
Dada Toni bergemuruh saat Eliana menyebutnya kakak. Toni tak suka pada kenyataan kalau Eliana hanya menganggapnya seorang Kakak. Sorot matanya seketika berubah dan kembali mengeras.
"Kalau begitu, saya akan mengajaknya pindah ke meja lain yang lebih nyaman." Toni mengemasi buku dan tas Eliana.
"Come." ucap Toni.
Lagi - lagi Toni menggunakan nadanya yang lembut tapi tegas. Telapak tangannya menghadap ke atas, menunggu Eliana berdiri dan menyambutnya.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sagara Banyu
cemburu yaaaaa? 😁😁😁
2023-07-23
1
Nanda Lelo
cembulu nih yeee 🤭
2022-11-02
1
kenzie
lanjut thor semnggt 🥰
2022-10-23
1