Bab 9 -- Toni Si Barista

"Eliana? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah rumahmu di daerah selatan?" tanya Suster Julie dengan nada menyelidik.

"Oh... ehm... , aku sedang ada urusan di sekitar sini." jawab Eliana gelagapan. Dia takut salah bicara.

Suster Julie memicingkan matanya.

"O'ya?" tanyanya tak percaya. "Aku kemarin lewat di dekat rumahmu dan kudengar dari tetanggamu kalau kamu pindah ke kota lain bersama seorang pria."

Heh? Apa - apaan ini? Niat baiknya ingin menolong seorang wanita yang sedang diintimidasi malah jadi boomerang bagi Eliana. Orang yang ditolong tak tahu terima kasih, malah kepo dengan kehidupan Eliana.

"Aku tak mengerti maksudmu, Suster Julie. Maaf kalau aku mengganggu kalian, aku harus pulang sekarang atau aku kemalaman sampai di rumah." ucap Eliana sedikit berbohong.

Dia tak mau lagi berurusan dengan Suster Julie yang tak hanya suka ikut campur urusan orang lain, tapi juga bermulut tajam. Lagipula, selama ini hubungannya dengan Suster Julie juga tak terlalu baik. Setiap kali bertemu dia selalu menggunjingkan orang lain dan Eliana tak menyukainya.

Setelah agak jauh dari Suster Julie, Eliana memperlambat langkahnya. Dihirupnya udara dalam - dalam, lalu perlahan dihembuskan. Sepertinya hari ini bukan hari yang baik untuknya. Mulai dari pasien kaya yang semena - mena, lalu Toni menghilang...

'Toni?'

O'ya tujuannya keluar tadi adalah mencari Toni.

'Arrgh... gara - gara Suster Julie, aku jadi lupa soal Toni.' dengus Eliana dalam hati.

"Kenapa wajahmu cemberut?"

Hey, suara itu...

"Toni.... " lirih Eliana.

Laki - laki itu berdiri di bawah lampu jalan yang sudah mulai menyala, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Tampan dan manly.

"Kamu kemana saja Toni?" katanya pelan sambil berjalan menghampiri Toni. "Aku mencarimu kemana - mana." Mata Eliana menatap sendu kepada Toni, terpancar rasa lega bercampur kuatir.

Toni tertegun. Ada sesuatu yang berbeda di hatinya saat matanya bertemu dengan mata Eliana yang selalu menatapnya dengan sorot penuh kasih.

"Maaf, aku tak sempat memberitahumu tadi. Apa kamu khawatir karena aku tak di rumah?" Toni balik bertanya dengan raut wajah menyesal.

Eliana mengangguk. Tangan Toni terulur, dia menggenggam tangan Eliana dan mengajaknya berjalan pulang. Telapak tangan Toni terasa besar dan hangat, ada nyaman menyelusup masuk di hati Eliana.

"Tadi aku mencari pekerjaan." Toni memulai ceritanya. "Hari ini aku bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah cafe."

Tukang cuci piring? Astaga!

Eliana menghentikan langkahnya dan menoleh ke Toni dengan sorot mata yang memancarkan pertanyaan 'kenapa'.

"Hehe.... habisnya aku tak mau terus merepotkan kamu." Toni terkekeh pelan.

'Oh, begitu.'

Eliana mengangguk pelan. Meski tak tega saat mengetahui Toni bekerja sebagai tukang cuci piring, Eliana mencoba memahami niat baik Toni. Mereka pun kembali berjalan beriringan.

"Kamu tahu? Ternyata aku bisa membuat kopi yang enak. Karena sesuatu hal, barista yang biasa bekerja di cafe tersebut dipecat. Lucky me! Disaat pemiliknya kebingungan mencari pengganti, aku spontan menawarkan bantuan. Dan... --- "

Toni berhenti sejenak dan menghembuskan napas lega, "Ternyata dia menyukai kopi racikanku." Terlihat jelas rasa puas dan bangga di matanya.

"Jadi? Besok kamu bekerja sebagai Toni si barista?" tebak Eliana sambil tertawa kecil.

Toni mengangguk dengan senyum yang lebar, mereka berpandangan dengan ekspresi lega untuk dua alasan yang berbeda.

Eliana merasa lega karena ternyata Toni tidak pergi kemana pun. Yah... , setidaknya untuk saat ini. Toni masih akan terus bersamanya.

Dan Toni? Laki - laki itu merasa bangga karena bisa menghasilkan sedikit uang, untuk meringankan beban Eliana.

***

Sore itu, Eliana sudah berdandan cantik. Hari ini dia mendapatkan jatah libur dan berencana menemui Toni di cafe tempatnya bekerja. Diam - diam Eliana merasa penasaran dan ingin melihat bagaimana Toni saat bekerja. Dan hari inilah kesempatannya untuk pergi kesana.

Begitu sampai, cafe terlihat ramai pengunjung. Hanya tersisa dua kursi kosong di sudut sana. Tak mau mengganggu Toni, Eliana langsung mengambil tempat duduk di sudut. Dia memesan secangkir espresso dan membaca buku sambil menunggu pesanannya.

"Halo."

Eliana mendongak saat seseorang sudah duduk di sampingnya.

"Eh, hai." sapa Eliana canggung.

Lelaki yang duduk disampingnya itu terlihat seumuran Toni, dia masih mengenakan setelan kerjanya. Dia tersenyum manis pada Eliana. "Sendirian?"

Eliana bingung harus menjawab apa. Saat ini dia memang sendirian, Toni sedang bekerja. Tapi Toni seharusnya tahu kalau Eliana menunggunya disini. Tadi pagi sebelum Toni berangkat, mereka sudah janjian akan bertemu di cafe selesai jam kerja Toni.

"Iya... sekarang sedang sendirian." Akhirnya Eliana menjawab pelan.

"Marcell Smith." Pria itu mengulurkan tangannya. "Kamu bisa memanggilku Marcel." Pria itu memperkenalkan dirinya dengan ramah.

"Eliana." katanya sambil menjabat tangan Marcel. Tak apalah sedikit mengobrol dengan pria ini sembari menunggu Toni selesai bekerja. Eliana memberi excuse pada dirinya sendiri.

"Pulang kerja?" tanya Marcel lagi, dia menatap Eliana dengan penuh minat.

Eliana menggeleng. "Aku sedang day off."

Sejenak mereka terdiam, pelayan datang dan membawakan pesanan Eliana. Dengan cepat pria itu membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang kertas.

"Aku traktir punya dia. Ambil kembaliannya." Tangan Marcel memberi kode pada pelayan untuk segera meninggalkan mereka.

Eliana membelalakkan mata. "Terima kasih, Tuan. Aku bisa bayar sendiri." tolaknya dengan halus.

"Eliana."

Panggilan yang lembut tapi tegas membuat Eliana dan Marcel menoleh.

Wajah Toni terlihat lelah dan tidak suka. Bola matanya memerah dan sudut matanya menyipit, memandang pria itu dengan sorot curiga. Rahangnya keras, ekspresinya seakan mau mengajak perang.

"Sorry for interrupting your conversation. Saya kembalikan uangnya, Tuan. Saya yang mengajaknya kemari, jadi saya yang akan mentraktirnya."

"Tapi tadi dia sedang sendirian." bantah Marcel tak terima. Siapa pria yang tiba - tiba datang dan mengganggu kesenangannya.

Eliana bergerak - gerak, gelisah. Apalagi dia merasakan tatapan Toni yang mengarah padanya. Mendadak saja Eliana merasa serba salah, seperti sedang ketahuan selingkuh.

Toni tersenyum simpul, "Ya, saya tahu. Tadi dia sendirian karena menunggu saya selesai bekerja."

"Hm-hm." Marcel mengangguk, wajahnya terlihat jelas kalau dia tak suka pada Toni. Kemudian pria itu menoleh kearah Eliana. "Apa kamu mengenal laki - laki ini?" jempolnya menunjuk kearah Toni.

"Ya. Dia.... " Eliana berdehem. "Kakakku."

Marcel tak berkata apa pun.

Dada Toni bergemuruh saat Eliana menyebutnya kakak. Toni tak suka pada kenyataan kalau Eliana hanya menganggapnya seorang Kakak. Sorot matanya seketika berubah dan kembali mengeras.

"Kalau begitu, saya akan mengajaknya pindah ke meja lain yang lebih nyaman." Toni mengemasi buku dan tas Eliana.

"Come." ucap Toni.

Lagi - lagi Toni menggunakan nadanya yang lembut tapi tegas. Telapak tangannya menghadap ke atas, menunggu Eliana berdiri dan menyambutnya.

Bersambung ya....

Terpopuler

Comments

Sagara Banyu

Sagara Banyu

cemburu yaaaaa? 😁😁😁

2023-07-23

1

Nanda Lelo

Nanda Lelo

cembulu nih yeee 🤭

2022-11-02

1

kenzie

kenzie

lanjut thor semnggt 🥰

2022-10-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!