Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?

Ada sedikit celah terbuka di depan pintu apartment yang tidak tertutup rapat. Toni berdiri di depan pintu dan keningnya berkerut. "Eliana... " panggilnya pelan.

Perlahan Toni menarik handel pintu, sambil mengingat - ingat, jangan - jangan tadi dia lupa menutup pintu saat meninggalkan apartment.

No! No!

Toni sangat yakin kalau dirinya sudah menguncinya baik - baik. Dia bukan tipe orang ceroboh yang sembarangan meninggalkan sesuatu. Bahkan selalu double check sebelum meninggalkan apartment.

Tak ada siapa - siapa di apartment saat Toni masuk. Ruangan semua gelap. Tak ada lampu yang menyala. Sepertinya Eliana belum pulang.

Eits! Sudut matanya menangkap sedikit cahaya dari celah pintu kamar Eliana. Tadi pintu kamar itu pun dalam kondisi tertutup dan lampu tak menyala saat Toni meninggalkannya.

Seingat Toni, tadi seorang pelayan coffee shop menyampaikan pesan dari Eliana kalau Toni tak perlu menjemputnya di halte karena Eliana ada sedikit urusan di tempat lain.

Pintu utama apartment dan pintu kamar Eliana terbuka? Seharusnya Eliana sudah pulang, tapi kenapa lampu tak dinyalakan? Apa yang dia lakukan?

Toni menyalakan satu per satu lampu ruangan sambil melayangkan pandangan ke seluruh ruangan apartment sederhana mereka. Kemudian, dia berjalan tanpa suara menuju ke kamar Eliana.

"Eliana.... "

Toni mengetuk pintu dan memanggil Eliana dengan suara pelan. Hanya ada cahaya dari lampu tidur di kamar Eliana. Toni mengintip ke dalam, redup. Apa dia tidur? Atau sakit?

Sambil bertanya - tanya, Toni perlahan masuk ke dalam kamar Eliana. Dia bisa melihat wanita itu berbaring di tempat tidurnya.

"Permisi, aku masuk." kata Toni sambil membuka pintu lebih lebar.

Laki - laki itu mendekat. Sesaat dia memperhatikan wajah Eliana. Tidak terlalu jelas, tapi Toni tahu Eliana tidak tidur. Dia hanya memejamkan mata dan pura - pura tidur. Ada apa dengan Eliana hari ini?

Toni semakin bertanya - tanya, kemudian dia menempelkan tangannya di kening Eliana. Suhunya normal, tidak panas.

"Kamu sakit?" tanya Toni dengan wajah bingung. Dia merasa ada yang berbeda dengan Eliana hari ini.

Eliana menggeleng, matanya masih terpejam.

Tangan Toni yang besar dan hangat membuat Eliana setengah mati menahan tangis. Dia tak berani membuka mata, takut ada yang meleleh dan turun dari matanya.

Kenapa semua orang berpandangan buruk tentang Toni? Jarang sekali orang yang mau berpikiran terbuka dan memandangl positif tentang mereka. Toni bukan penjahat. Eliana bisa merasakan kalau pria itu orang yang baik. Pria itu bisa bersikap sedemikian lembut, bahkan selalu membalas setiap kebaikan yang dilakukan Eliana padanya.

"Eliana, aku buatkan makan malam. Ya?" tanya Toni lagi.

Mendengar ucapan Toni yang penuh perhatian, setetes air mata meleleh. Mau dititipkan kepada siapa pria baik dihadapannya ini.

"Kamu menangis?"

"Aku cuma lelah, mau tidur saja." Eliana menjawab dengan suara pelan. Matanya tetap terpejam dan bersikap seperti orang sedang kelelahan.

Toni menghela napas. Dia mencoba mengerti, Eliana sedang tak ingin di ganggu. Tangannya mengusap air mata Eliana. Sambil menahan rasa ingin tahunya, dia menarik selimut untuk menutup tubuh Eliana.

"Have a nice dream." ucap Toni. Kemudian dia berdiri dan meninggalkan Eliana, memberinya ruang untuk sendiri.

Eliana mengangguk sambil pura - pura menguap.

Klek!

Pintu kamar Eliana ditutup.

'Begini lebih baik. Toni tak perlu tahu sehingga dia tak merasa bersalah.'

***

Keesokan paginya,

"Toni, aku pergi dulu." pamit Eliana.

Lho, Eliana? Kamu tidak sarapan?" tanya Toni heran melihat Eliana sudah berpakaian rapi dan berdiri di dekat pintu keluar.

"Maaf, aku terburu - buru."

"Tunggulah sebentar. Makanannya sudah matang. Bawalah untuk sarapanmu. Kenapa terburu - buru sih?" perintah Toni pada Eliana.

Tangannya dengan cekatan mengambil lunch box dan meletakkan potongan kentang tumis daging, beberapa potong buah dan dua buah sandwich. Tak lupa Toni mengisi sebuah botol berisi su--su segar untuk Eliana.

"Tak usah repot, Toni. Siapkan untuk dirimu sendiri saja. Aku akan sarapan bersama Tuan Peterson."

Bagus sekali, Eliana. Makin hari kamu makin pintar berbohong, Eliana menyindir dirinya sendiri.

"Sudah selesai. Bawalah."

Toni meletakkan tas kecil berisi lunch box ke dalam genggaman Eliana. Kemudian, pria itu langsung berbalik arah tanpa berkata apa pun. Bahkan tak menawarkan untuk mengantar Eliana ke halte, seperti yang biasa dilakukannya selama ini.

Diam - diam Eliana merasa lega, setidaknya dia tak perlu berbohong pagi ini. Bergegas Eliana meninggalkan apartment, kuatir Toni berubah pikiran dan malah membuatnya semakin serba salah.

Hari ini dia bertekad akan mencari pekerjaan, meskipun harus berjalan kaki ke seluruh Lake Wood. Sebelum Toni tahu kalau dirinya dipecat, Eliana harus sudah menemukan pekerjaan baru.

***

Eliana menghembuskan napas dan duduk di bangku taman. Ternyata benar kata Dokter Nathan, dia akan kesulitan menemukan pekerjaan setelah dipecat dari St Paul tanpa referensi.

Sepanjang pagi ini, semua rumah sakit yang didatangi menolaknya. Apalagi saat mendengar dia berhenti dari St. Paul tanpa alasan yang jelas, mereka langsung memandangnya sebelah mata.

"Jangan - jangan namaku di blacklist oleh semua rumah sakit di Lake Wood." gerutu Eliana. Dia meluruskan kakinya yang pegal karena berjalan seharian.

"Ah, yang benar saja. Perawat cantik dan ramah begini, mereka akan rugi kalau tak mau memberiku pekerjaan." Eliana melanjutkan monolognya.

"Tentu saja mereka akan rugi karena memecatmu. Tak ada perawat sebaik dirimu."

DEG!

'Mati aku! Toni?'

Eliana melompat dari tempat duduknya. "Toni, apa yang kamu lakukan disini? Kamu tidak bekerja?"

"Aku off hari ini. Lagipula, aku yang seharusnya bertanya padamu. Kenapa kamu tidak bekerja dan malah mondar mandir dari pagi?" tanya Toni dengan tatapan penuh selidik.

'Mondar mandir dari pagi?'

Ya ampun! Jangan - jangan Toni mengikuti dirinya dari tadi. Eliana tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terkejut bercampur malu.

"Benarkah kamu dipecat dari St. Paul?" tanya Toni sebelum Eliana sempat melontarkan kebohongan lagi.

"Eh, anu... ehm... "

Eliana jadi merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.

Toni melipat kedua tangannya di depan dada, satu alisnya terangkat. Menunggu jawaban dari Eliana.

"Ii-iya." lirih Eliana akhirnya, sambil menundukkan kepala.

"Ehm... tapi aku bisa mencari pekerjaan di rumah sakit lain, Toni. Rumah sakit di Lake Wood bukan hanya St. Paul kan?"

"Rumah sakit lain tak sebesar dan sebagus St. Paul."

Eliana menelan salivanya, Toni benar.

Bingung harus berkata apa dan bagaimana, Eliana akhirnya hanya berdiri sambil bermain - main dengan tali tasnya. Bagaimana ini, Toni sudah tau kalau dia dipecat.

"Kamu dipecat karena aku?" tanya Toni.

Bersambung ya....

Terpopuler

Comments

Lala lala

Lala lala

semoga dpt t4 kerja yg lbh baik gak ada lambe turah ala lake wood hehe

2024-11-25

0

Nanda Lelo

Nanda Lelo

bukan karena mu Tony,,
tapi karena mulut2 orang yg tak bertanggung jawab ,,

"kadang bikin aku kessaaalll

2022-11-02

1

kenzie

kenzie

sabar Eliana mungkin nanti bisa mndpt pekerjaan yng lebih baik semngaaat

2022-10-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2 Bab 2 -- Namamu Toni
3 Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4 Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5 Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6 Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7 Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8 Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9 Bab 9 -- Toni Si Barista
10 Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11 Bab 11 -- Gosip
12 Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13 Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14 Bab 14 -- This Is The Day
15 Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16 Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17 Bab 17 -- Come What May
18 Bab 18 -- Toni Berbohong
19 Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20 Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21 Bab 21 -- Dimana Toni?
22 Bab 22 -- I Saw Toni
23 Bab 23 -- Flashback From That Day
24 Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25 Bab 25 -- Back To The Past
26 Bab 26 -- Gut Feeling
27 Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28 Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29 Bab 29 -- Gelisah
30 Bab 30 -- Missunderstanding
31 Bab 31 -- Blank
32 Bab 32 -- Tiffany Wilson
33 Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34 Bab 34 -- Garden Tour
35 Bab 35 -- Astaga Alex!
36 Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37 Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38 Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39 Bab 39 -- A Poor Story
40 Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41 Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42 Bab 42 -- A Terrible Morning
43 Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44 Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45 Bab 45 -- Barbeque Time
46 Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47 Bab 47 -- Tiffany's Anger
48 Bab 48 -An Unexpected Moment
49 Bab 49 -- Can't Stop!
50 Bab 50 -- Konseling
51 Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52 Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53 Bab 53 -- Be Mine!
54 Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55 Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56 Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57 Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58 Bab 57 -- The Dinner
59 Bab 58 -- Chandelier Club
60 Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61 Bab 60 -- Find Eliana!
62 Bab 61 -- Bad Things Happened
63 Bab 62 -- Fail To Protect Her
64 Bab 63
65 Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66 Bab 65 -- Something Fishy
67 Bab 66 -- Guilty Feeling
68 Bab 67 -- Negosiasi
69 Bab 68 -- A Nightmare
70 Bab 69 -- Pain
71 Bab 70 -- Let Me Help You
72 Bab 71 -- Wanna Hug You
73 Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74 Bab 73 -- I Love You
75 Bab 74
76 Bab 75 -- Elianaku
77 Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78 Bab 77
79 Bab 78 -- Vacation
80 Bab 79 -- Australia
81 Bab 80 -- First Sight
82 Bab 81
83 Bab 82 -- Who Is Coming?
84 Bab 83 -- Stay At Home
85 Bab 84 -- First Fight
86 Bab 85 -- Insecure
87 Bab 86 -- Case Closed
88 Bab 87 -- Enjoy The Moment
89 Bab 88 -- The Reason
90 Bab 89
91 Bab 90 -- New Experience
92 Bab 91 -- The Same Question
93 Bab 92 -- A Good Night Kiss
94 Bab 93 -- Saying I Love You
95 Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96 Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Pengumuman Karya Baru
101 Pengumuman Karya Baru
102 PENGUMUMAN KARYA BARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1 -- Pasien Kamar Nomer Nol
2
Bab 2 -- Namamu Toni
3
Bab 3 -- Tinggallah Bersamaku
4
Bab 4 -- Dia Saudaraku!
5
Bab 5 -- Siapa Toni Sebenarnya?
6
Bab 6 -- Seperti Apa Masa Lalumu?
7
Bab 7 -- Toni Is So Sweet
8
Bab 8 -- Tak Bisa Menganggapnya Orang Lain
9
Bab 9 -- Toni Si Barista
10
Bab 10 -- Apa Kamu Cemburu?
11
Bab 11 -- Gosip
12
Bab 12 -- Apa Kamu Ingat Sesuatu?
13
Bab 13 -- Jatuh Cinta Lagi Padamu
14
Bab 14 -- This Is The Day
15
Bab 15 -- Apa Kamu Dipecat?
16
Bab 16 -- Berbagi Itu Baik
17
Bab 17 -- Come What May
18
Bab 18 -- Toni Berbohong
19
Bab 19 -- Tetap Percaya Pada Toni
20
Bab 20 -- Toni Dan Gerombolan Itu
21
Bab 21 -- Dimana Toni?
22
Bab 22 -- I Saw Toni
23
Bab 23 -- Flashback From That Day
24
Bab 24 -- Flashback From That Day 2
25
Bab 25 -- Back To The Past
26
Bab 26 -- Gut Feeling
27
Bab 27 -- Menunda Kejujuran
28
Bab 28 -- Pretend Everything Is Fine
29
Bab 29 -- Gelisah
30
Bab 30 -- Missunderstanding
31
Bab 31 -- Blank
32
Bab 32 -- Tiffany Wilson
33
Bab 33 -- Kembali Ke Eliana
34
Bab 34 -- Garden Tour
35
Bab 35 -- Astaga Alex!
36
Bab 36 -- The Other Side Of Toni
37
Bab 37 -- Eliana Is Mine!
38
Bab 38 -- It Drives Them Crazy
39
Bab 39 -- A Poor Story
40
Bab 40 -- Nyaman Dan Tenang Bersama Eliana
41
Bab 41 -- Grandpa Is Number One
42
Bab 42 -- A Terrible Morning
43
Bab 43 -- Benar - Benar Tak Ada Kesempatan?
44
Bab 44 -- Aku Tak Mau Mengingatnya Lagi
45
Bab 45 -- Barbeque Time
46
Bab 46 -- Call Me Mr. Anthony
47
Bab 47 -- Tiffany's Anger
48
Bab 48 -An Unexpected Moment
49
Bab 49 -- Can't Stop!
50
Bab 50 -- Konseling
51
Bab 51 -- Mid-Nite Proposal
52
Bab 52 -- Sebuah Kenyataan
53
Bab 53 -- Be Mine!
54
Bab 54 -- Pisahkan Toni Dan Eliana
55
Bab 55 -- Unforgetable Seven Minute
56
Bab 56 -- A Twilight Kiss And Dance
57
Catatan Penulis (Kumpulan istilah asing)
58
Bab 57 -- The Dinner
59
Bab 58 -- Chandelier Club
60
Bab 59 -- Lake Wood Harbour
61
Bab 60 -- Find Eliana!
62
Bab 61 -- Bad Things Happened
63
Bab 62 -- Fail To Protect Her
64
Bab 63
65
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan
66
Bab 65 -- Something Fishy
67
Bab 66 -- Guilty Feeling
68
Bab 67 -- Negosiasi
69
Bab 68 -- A Nightmare
70
Bab 69 -- Pain
71
Bab 70 -- Let Me Help You
72
Bab 71 -- Wanna Hug You
73
Bab 72 -- Deserve To Be Loved
74
Bab 73 -- I Love You
75
Bab 74
76
Bab 75 -- Elianaku
77
Bab 76 -- Last Thing Before Vacation.
78
Bab 77
79
Bab 78 -- Vacation
80
Bab 79 -- Australia
81
Bab 80 -- First Sight
82
Bab 81
83
Bab 82 -- Who Is Coming?
84
Bab 83 -- Stay At Home
85
Bab 84 -- First Fight
86
Bab 85 -- Insecure
87
Bab 86 -- Case Closed
88
Bab 87 -- Enjoy The Moment
89
Bab 88 -- The Reason
90
Bab 89
91
Bab 90 -- New Experience
92
Bab 91 -- The Same Question
93
Bab 92 -- A Good Night Kiss
94
Bab 93 -- Saying I Love You
95
Bab 94 -- The Heart Of The Ocean
96
Bab 95 -- Berebut Dengan Burung Camar
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Pengumuman Karya Baru
101
Pengumuman Karya Baru
102
PENGUMUMAN KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!