Ada sedikit celah terbuka di depan pintu apartment yang tidak tertutup rapat. Toni berdiri di depan pintu dan keningnya berkerut. "Eliana... " panggilnya pelan.
Perlahan Toni menarik handel pintu, sambil mengingat - ingat, jangan - jangan tadi dia lupa menutup pintu saat meninggalkan apartment.
No! No!
Toni sangat yakin kalau dirinya sudah menguncinya baik - baik. Dia bukan tipe orang ceroboh yang sembarangan meninggalkan sesuatu. Bahkan selalu double check sebelum meninggalkan apartment.
Tak ada siapa - siapa di apartment saat Toni masuk. Ruangan semua gelap. Tak ada lampu yang menyala. Sepertinya Eliana belum pulang.
Eits! Sudut matanya menangkap sedikit cahaya dari celah pintu kamar Eliana. Tadi pintu kamar itu pun dalam kondisi tertutup dan lampu tak menyala saat Toni meninggalkannya.
Seingat Toni, tadi seorang pelayan coffee shop menyampaikan pesan dari Eliana kalau Toni tak perlu menjemputnya di halte karena Eliana ada sedikit urusan di tempat lain.
Pintu utama apartment dan pintu kamar Eliana terbuka? Seharusnya Eliana sudah pulang, tapi kenapa lampu tak dinyalakan? Apa yang dia lakukan?
Toni menyalakan satu per satu lampu ruangan sambil melayangkan pandangan ke seluruh ruangan apartment sederhana mereka. Kemudian, dia berjalan tanpa suara menuju ke kamar Eliana.
"Eliana.... "
Toni mengetuk pintu dan memanggil Eliana dengan suara pelan. Hanya ada cahaya dari lampu tidur di kamar Eliana. Toni mengintip ke dalam, redup. Apa dia tidur? Atau sakit?
Sambil bertanya - tanya, Toni perlahan masuk ke dalam kamar Eliana. Dia bisa melihat wanita itu berbaring di tempat tidurnya.
"Permisi, aku masuk." kata Toni sambil membuka pintu lebih lebar.
Laki - laki itu mendekat. Sesaat dia memperhatikan wajah Eliana. Tidak terlalu jelas, tapi Toni tahu Eliana tidak tidur. Dia hanya memejamkan mata dan pura - pura tidur. Ada apa dengan Eliana hari ini?
Toni semakin bertanya - tanya, kemudian dia menempelkan tangannya di kening Eliana. Suhunya normal, tidak panas.
"Kamu sakit?" tanya Toni dengan wajah bingung. Dia merasa ada yang berbeda dengan Eliana hari ini.
Eliana menggeleng, matanya masih terpejam.
Tangan Toni yang besar dan hangat membuat Eliana setengah mati menahan tangis. Dia tak berani membuka mata, takut ada yang meleleh dan turun dari matanya.
Kenapa semua orang berpandangan buruk tentang Toni? Jarang sekali orang yang mau berpikiran terbuka dan memandangl positif tentang mereka. Toni bukan penjahat. Eliana bisa merasakan kalau pria itu orang yang baik. Pria itu bisa bersikap sedemikian lembut, bahkan selalu membalas setiap kebaikan yang dilakukan Eliana padanya.
"Eliana, aku buatkan makan malam. Ya?" tanya Toni lagi.
Mendengar ucapan Toni yang penuh perhatian, setetes air mata meleleh. Mau dititipkan kepada siapa pria baik dihadapannya ini.
"Kamu menangis?"
"Aku cuma lelah, mau tidur saja." Eliana menjawab dengan suara pelan. Matanya tetap terpejam dan bersikap seperti orang sedang kelelahan.
Toni menghela napas. Dia mencoba mengerti, Eliana sedang tak ingin di ganggu. Tangannya mengusap air mata Eliana. Sambil menahan rasa ingin tahunya, dia menarik selimut untuk menutup tubuh Eliana.
"Have a nice dream." ucap Toni. Kemudian dia berdiri dan meninggalkan Eliana, memberinya ruang untuk sendiri.
Eliana mengangguk sambil pura - pura menguap.
Klek!
Pintu kamar Eliana ditutup.
'Begini lebih baik. Toni tak perlu tahu sehingga dia tak merasa bersalah.'
***
Keesokan paginya,
"Toni, aku pergi dulu." pamit Eliana.
Lho, Eliana? Kamu tidak sarapan?" tanya Toni heran melihat Eliana sudah berpakaian rapi dan berdiri di dekat pintu keluar.
"Maaf, aku terburu - buru."
"Tunggulah sebentar. Makanannya sudah matang. Bawalah untuk sarapanmu. Kenapa terburu - buru sih?" perintah Toni pada Eliana.
Tangannya dengan cekatan mengambil lunch box dan meletakkan potongan kentang tumis daging, beberapa potong buah dan dua buah sandwich. Tak lupa Toni mengisi sebuah botol berisi su--su segar untuk Eliana.
"Tak usah repot, Toni. Siapkan untuk dirimu sendiri saja. Aku akan sarapan bersama Tuan Peterson."
Bagus sekali, Eliana. Makin hari kamu makin pintar berbohong, Eliana menyindir dirinya sendiri.
"Sudah selesai. Bawalah."
Toni meletakkan tas kecil berisi lunch box ke dalam genggaman Eliana. Kemudian, pria itu langsung berbalik arah tanpa berkata apa pun. Bahkan tak menawarkan untuk mengantar Eliana ke halte, seperti yang biasa dilakukannya selama ini.
Diam - diam Eliana merasa lega, setidaknya dia tak perlu berbohong pagi ini. Bergegas Eliana meninggalkan apartment, kuatir Toni berubah pikiran dan malah membuatnya semakin serba salah.
Hari ini dia bertekad akan mencari pekerjaan, meskipun harus berjalan kaki ke seluruh Lake Wood. Sebelum Toni tahu kalau dirinya dipecat, Eliana harus sudah menemukan pekerjaan baru.
***
Eliana menghembuskan napas dan duduk di bangku taman. Ternyata benar kata Dokter Nathan, dia akan kesulitan menemukan pekerjaan setelah dipecat dari St Paul tanpa referensi.
Sepanjang pagi ini, semua rumah sakit yang didatangi menolaknya. Apalagi saat mendengar dia berhenti dari St. Paul tanpa alasan yang jelas, mereka langsung memandangnya sebelah mata.
"Jangan - jangan namaku di blacklist oleh semua rumah sakit di Lake Wood." gerutu Eliana. Dia meluruskan kakinya yang pegal karena berjalan seharian.
"Ah, yang benar saja. Perawat cantik dan ramah begini, mereka akan rugi kalau tak mau memberiku pekerjaan." Eliana melanjutkan monolognya.
"Tentu saja mereka akan rugi karena memecatmu. Tak ada perawat sebaik dirimu."
DEG!
'Mati aku! Toni?'
Eliana melompat dari tempat duduknya. "Toni, apa yang kamu lakukan disini? Kamu tidak bekerja?"
"Aku off hari ini. Lagipula, aku yang seharusnya bertanya padamu. Kenapa kamu tidak bekerja dan malah mondar mandir dari pagi?" tanya Toni dengan tatapan penuh selidik.
'Mondar mandir dari pagi?'
Ya ampun! Jangan - jangan Toni mengikuti dirinya dari tadi. Eliana tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terkejut bercampur malu.
"Benarkah kamu dipecat dari St. Paul?" tanya Toni sebelum Eliana sempat melontarkan kebohongan lagi.
"Eh, anu... ehm... "
Eliana jadi merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.
Toni melipat kedua tangannya di depan dada, satu alisnya terangkat. Menunggu jawaban dari Eliana.
"Ii-iya." lirih Eliana akhirnya, sambil menundukkan kepala.
"Ehm... tapi aku bisa mencari pekerjaan di rumah sakit lain, Toni. Rumah sakit di Lake Wood bukan hanya St. Paul kan?"
"Rumah sakit lain tak sebesar dan sebagus St. Paul."
Eliana menelan salivanya, Toni benar.
Bingung harus berkata apa dan bagaimana, Eliana akhirnya hanya berdiri sambil bermain - main dengan tali tasnya. Bagaimana ini, Toni sudah tau kalau dia dipecat.
"Kamu dipecat karena aku?" tanya Toni.
Bersambung ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Lala lala
semoga dpt t4 kerja yg lbh baik gak ada lambe turah ala lake wood hehe
2024-11-25
0
Nanda Lelo
bukan karena mu Tony,,
tapi karena mulut2 orang yg tak bertanggung jawab ,,
"kadang bikin aku kessaaalll
2022-11-02
1
kenzie
sabar Eliana mungkin nanti bisa mndpt pekerjaan yng lebih baik semngaaat
2022-10-29
0