Eliana membuka kotak berisi empat potong donat dengan topping berbeda yang menggugah selera. Matanya berbinar saat melihat topping almond, capucino, tiramisu dan keju. Pilihan Toni memang yang terbaik.
"Mau aku suapi?" Eliana menawari Toni.
Toni hanya melirik dan tersenyum sebagai jawaban. Dia terus melajukan mobilnya.
"Ada empat donat dengan empat topping yang berbeda. Bagaimana kalau masing - masing mendapat separoh untuk setiap rasa?" tanya Eliana sambil tersenyum manis.
"Kamu selalu berbagi hal yang baik denganku, Eliana. Aku berterima kasih sekali padamu."
Pipi Eliana memerah. "Jangan begitu, Toni. Aku--- "
"Eliana, bagaimana kalau kita terus berbagi?" potong Toni sebelum Eliana menyelesaikan kalimatnya.
Eliana menoleh dan tertegun menatap wajah Toni yang nampak serius. Dia tak jadi mengambil donat untuk disuapkan ke Toni, tangannya berhenti diatas kotak donat.
"Kesedihanmu, kesedihanku. Kebahagiaanmu, kebahagiaanku. Bisakah kita berbagi segalanya?" ucap pria itu padanya. Mobil terus melaju menuju ke tempat kencan yang dimaksud oleh Toni.
Eliana kembali memandangi donat - donat cantik dihadapannya. "Baiklah, Toni." ucapnya sambil menahan haru, tak bisa dipungkiri kata - kata Toni menyentuhnya.
"Hey, wajahmu jangan seperti itu." tegur Toni. Dia bisa melihat wajah Eliana yang terharu bercampur bahagia dari sudut matanya. Ekspresi yang selalu membuat dirinya ingin merengkuh dan memeluk wanita itu erat - erat.
"Ha?" Eliana memegang pipinya dengan satu tangan.
"Aku jadi ingin menci-ummu." celetuk Toni asal.
DIENG!
Blak - blakan sekali laki - laki ini. Jantung Eliana seperti gong yang dipukul oleh palu godam raksasa dan sekarang bertalu - talu begitu nyaring sampai - sampai Eliana takut kalau Toni bisa mendengar bunyi detak jantungnya.
Tak berani melihat kearah Toni, Eliana berpura - pura menikmati pemandangan yang nampak dari kaca jendela mobil. Mulutnya komat kamit, merapal mantra yang sama berulang - ulang.
'Santai, Eliana. Calm down!'
Tawa Toni membahana, gemas sekaligus geli melihat tingkah wanita itu. Tanpa Eliana sadari mobil sudah berhenti di tepi sebuah danau yang masih bersih dengan pohon - pohon rindang di sekelilingnya.
"Aku tak tahu ada tempat seperti ini di Lake Wood." kata Eliana. Toni membantunya turun dari mobil dan menggandeng tangannya berjalan di sekitar danau. Tangan Eliana yang satunya membawa sekotak donat yang tadi tak jadi dimakan.
"Aku suka tempat seperti ini, Eliana. Sepi dan tak ada siapa - siapa. Disini kamu bisa melepaskan semua penat."
Hati Eliana berdebar. Apakah Toni sedang membicarakan masa lalunya.
"Apa lagi yang kamu suka Toni?"
Naluri perawat Eliana mulai bekerja, secara otomatis dia mencoba menstimulus ingatan Toni dengan pertanyaan - pertanyaan ringan.
Toni benar. Tempat ini sangat bagus, sejuk dan membuat orang merasa relax. Mereka duduk bersebelahan di rerumputan pinggir danau, pandangan mereka tertuju pada air yang beriak kecil karena tiupan angin.
"Freedom!" jawab Toni yakin.
Eliana terkejut. Apa maksudnya? Bebas darimana? Benarkah Toni adalah napi yang kabur dari tahanan? Tidak, tidak. Toni tak pernah menyakitinya, dia bukan seorang penjahat. Eliana harus tetap percaya pada Toni.
"Apa yang ada di dalam pikiranmu Toni?" kali ini tangan Eliana menggenggam tangan Toni.
"Akhir - akhir ini aku sering melihat wajah - wajah asing di kepalaku."
"Siapa?"
"Aku tak tahu siapa, tapi aku tak menyukai mereka."
"Kenapa?" tanya Eliana sambil tersenyum. Dia berusaha mengajukan pertanyaan yang membuat 'pasiennya' bercerita.
Ada rasa perih bercampur takut di dalam hati Eliana. Hatinya mengatakan tinggal selangkah lagi, Toni ingat masa lalunya. Dan dia tak pernah tahu, apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka.
"Kalau aku mengingat kembali masa laluku, apa aku masih bisa bersamamu Eliana?"
Toni kembali mengajukan pertanyaan yang sama, yang selalu menghantuinya selama ini. Ada sebuah harapan didalam manik mata Toni, harapan yang sama seperti yang ada di hati Eliana. Tetap bersama meski masa lalu Toni sudah kembali.
"Aku tak tahu. Semua tergantung kondisi dan situasi yang kita hadapi nanti." sahut Eliana tak. mau menjanjikan apa pun. Tangannya membuka kotak donat yang dari tadi terlupakan. Dia menepis semua kekhawatiran yang akhir - akhir ini sering berdesakan di dada. Ini adalah kencan mereka, biarkan semua berkesan.
Toni memandang jauh kearah danau.
Eliana membagi masing - masing rasa menjadi dua, dan menyodorkan kotak donat ke Toni.
"Ambillah." kata Eliana sambil menepuk bahu Toni.
Toni membuka mulutnya, telunjuknya bergantian menunjuk donat dan mulutnya. Eliana terbelalak. Melihat reaksi Eliana, mulut Toni kembali tertutup. Dia melengos.
"Kamu tadi bilang mau menyuapi aku." bibir Toni mencebik seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Baiklah, baiklah. Aaaa.... " Dengan hati merekah, Eliana menyuapi Toni.
"I wish I could be your man." ucap Toni sungguh - sungguh, saat donat mereka sudah habis.
(Aku berharap aku bisa menjadi lelakimu.)
He? Entah sudah keberapa kalinya laki - laki dihadapannya ini membuatnya terkejut dengan kata - katanya.
"I think I love you." ucap Toni beberapa waktu yang lalu.
Eliana tak tahu harus menjawab apa, yang pasti dia takut. Takut untuk bahagia dan kemudian menghadapi ketidak pastian karena mencintai pria amnesia.
"Let it flows, Toni." sahut Eliana waktu itu. Eliana tak berani menjanjikan dan mengharapkan apa pun. Just let it flow.
(Biarkan mengalir.)
Tanpa aba - aba, Toni sudah mencondongkan wajahnya ke wajah Eliana. Bibirnya menempel ke bibir Eliana yang sedikit terbuka karena terkejut. Ciuman itu terasa hangat di hati Eliana. Wanita itu memejamkan matanya, menerima Toni dengan sepenuh hati. Dan, ci-um-an mereka meleburkan semua kekhawatiran dan kegugupan akan perjalanan kisah cinta mereka.
Come what may.
***
Atmosphere yang sama seperti saat di St. Paul kembali dirasakan oleh Eliana ketika memasuki apartment mereka. Para penghuni apartment yang biasa ramah, tak lagi mengucapkan salam. Bisik - bisik dan pandangan sinis kembali dilayangkan kepadanya.
Tak mau mengambil pusing, Eliana hanya mengangkat bahu dan membuka pintu unit miliknya.
"Eliana."
"Oh, Ibu Rebecca... " sapa Eliana pada pemilik apartment yang disewanya. Dibelakangnya nampak beberapa wanita yang juga tinggal di apartment yang sama dengan Eliana.
"Dimana Kakakmu?"
"Dia kembali bekerja setelah mengantarkanku pulang." jawab Eliana dengan jujur.
Setelah dari danau, Toni memang berkata kalau dia akan ke coffee shop untuk bekerja disana sore ini. Eliana mengatakan apa adanya kepada ibu Rebecca.
Pemilik apartment itu mendengus tak percaya.
"Sebaiknya aku membicarakannya denganmu sekarang, dari pada kalian menjadi gunjingan orang."
Eliana tertegun, perasaan tak enak kembali merayap masuk ke dalam hatinya. Perasaan yang sama seperti saat menjelang pemecatannya di St. Paul. Tatapan menghakimi itu kembali di layangkan kepadanya.
"Aku rasa kalian harus keluar dari apartment. Ini adalah keputusanku dan juga seluruh penghuni apartment. Kami sudah membicarakannya."
Eliana shock. "Kenapa?" tanyanya pelan.
"Aku tak sudi unitku dihuni oleh kamu dan kakakmu. Aku tak mau ada orang yang tak jelas tinggal di sini."
'Tak jelas?'
Seketika darah naik ke kepala Eliana. Dia tak terima dengan ungkapan 'tak jelas' yang dilontarkan oleh wanita paruh baya dihadapannya.
"Siapa yang tak jelas identitasnya?" geram Eliana. Suaranya meninggi.
"Laki - laki yang tinggal denganmu! Entah itu kakakmu atau bukan." jawab Ibu Rebecca sinis.
"Dia itu pasti bandit!" celetuk seorang wanita yang berdiri di belakang Ibu Rebecca.
Hah?!
"Iya! Dia bandit!" sahut yang lainnya.
Bersambung ya....
Note:
Come what may : Datanglah yang mungkin datang / Apapun yang terjadi.
Gaes, sorry aku ga bisa terjemahin artinya yang pas. Intinya : Yang terjadi nanti biarin terjadi. Kalau ada yang bisa bantu terjemahin, monggo comment 😅
Thanks before.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sagara Banyu
terjadilah apa yang akan terjadi...gitu kali ya....😁
2023-07-24
1
Nanda Lelo
aduuuh,, dpt gossip gak2 dari mana lagi tuh Bu Rebecca
2022-11-02
1
Mamahe 3E
ibarat pepatah sdh jatuh tertimpa pohon gede pulal,hns di phk dr rmh skt eh skrg diusir dr apartemen...
kasian bener nasibmu eliana...
2022-10-30
1