Saat ini Carissa sedang memeluk Nana yang menangis sesegukan. Setelah bocah itu tenang, barulah Carissa merasa tenang juga.
"Nana nanti pulang sekolah bareng kakam aja, ya? Kita mampir ke toko es krim. Mau nggak?" tawarnya membuat senyum di bibir gadis kecil itu mengembang.
"Nana mau es krim dua, terus nanti kita jajan snack."
"Iya, nanti kita beli jajan yang Nana mau. Sekarang Nana nggak boleh nangis lagi nanti cantiknya ilang," goda Carissa sembari mencolek hidung bocah itu.
Saat pulang sekolah, Zidan hendak memaksa Nana untuk segera masuk ke mobil, tetapi gadis itu berteriak hingga menjadi pusat perhatian para siswa dan beberapa guru.
"Nggak mau, Nana mau pulang sama kak Carissa. Nana masih marah sama abang, jangan deket-deket Nana!"
Seorang guru mendekati ketiganya.
"Zidan, sudah biarin adik kamu pulang sama Carissa. Kamu sebagai guru juga harusnya profesional dan tidak melibatkan masalah pribadi ke ranah pendidikan. Kamu tahu, kan akibatnya kalau sampai masalah kamu dan Donna terdengar di telinga kepala sekolah?"
Dina dan Lala menunjukan rekaman CCTV pada para guru dan juga Zidan. Pria itu terdiam melihat bagaimana calon istrinya menampar Nana dengan begitu keras hanya karena sang adik tak ingin ikut bersama dia.
"Sudah, pak. Nggak apa-apa, jangan di ungkit lagi. Kalau begitu saya permisi."
Carissa menggenggam tangan Nana dan masuk ke dalam mobil bersama Abian. Di dalam, Nana sudah akrab dengan Abian.
"Pak Adi, kita mampir ke toko dulu. Mau beliin Nana es krim."
"Siap non."
Setibanya di tujuan, Carissa dan Abian keluar dari mobil sembari menggandeng tangan Nana menuju toko. Mereka membelikan bocah tersebut dengan es krim dan juga snack. Di mobil, Nana terlihat sangat senang karena di manja seperti ini. Di rumah, dia sudah harus seperti orang dewasa yang melakukan apapun mesti sendirian.
Nana yang masih empat tahun kadang harus menangis diam-diam, karena sering tak bisa melakukan semuanya sendirian. Di umur segitu harusnya dia masih menikmati masa anak-anaknya sebelum dia beranjak remaja dan dewasa.
Nyatanya dia menjadi anak yang lebih dewasa dari pada Zidan yang melihat segala sesuatunya dengan teliti. Setibanya di depan halaman rumah Zidan, mobil berhenti.
"Kak Carissa, kapan-kapan ajak Nana main ke rumah kakak, ya? Nana kadang suka di tinggal sendirian di rumah sama abang Zidan. Kata akan Zidan keluarnya nggak lama, tapi biasanya sampai tiga jam."
Abian lantas berinisiatif memberikan nomor ponselnya berjaga-jaga kalau Nana sendirian di rumah, gadis itu bisa menelepon Abian dan menjemputnya di rumah.
Carissa menjadi semakin kesal ada Zidan. Dia tak bisa marah pada orang tua Zidan, mengingat mereka juga lumyan sibuk di perusahaan sampai kadang pulang larut malam. Alasan mereka tak memakai maid atau supir pribadi adalah, Zidan yang memintanya.
"Ini, simpan nomor kak Abian. Kalau Nana sendirian di rumah, Nana langsung hubungi kak Abian. Biar kakak ajak Nana jalan-jalan!"
"Siap kak, hehe."
Nana menggenggam kertas berisikan nomor ponsel Abian dan berjalan keluar dengan Carissa. Setibanya di depan pintu, Carissa sedikit berjongkok dan membenahi poni gadis itu.
"Nana, kalau ada apa-apa langsung kasih tau kak Abian, ya? Kak Abian orang baik, kok. Nana juga jangan sering-sering nangis sendirian di dalam kamar. Kalau Nana bosan di dalam rumah, Nana bisa main di halman rumah atau pergi ke tetangga. Nana anak yang baik, pasti bakalan ada yang nerima Nana dengan senang hati."
"Iya kak. Makasih, ya udah anterin Nana sampai rumah. Hati-hati pulangnya, Nana masuk dulu."
Setelah memastikan bocah itu masuk, Carissa kembali ke dalam mobil. Tangannya terkepal sempurna. Kenapa semua orang kaya memilik watak yang sama?
Anak yang masih kecil sudah mereka paksa menjadi dewasa, dijodohkan dengan pilihan mereka, memaksa masa depan anak-anak mengikuti kemauan mereka. Padahal semua itu berada jelas di dalam genggaman sang anak yang memiliki kemauan jelas.
Terkadang orang tua akan memaksa anak mereka memiluh cita-cita yang bahkan anak itu tak suka. Alih-alih menjadi orang tua yang baik, mereka justru seperti orang yang menjadi anak sendiri sebagai alat.
Setibanya di rumah, Carissa dan Abian langsung masuk. Keduanya berpisah di ujung tangga dan masuk ke dalam kamar masing-masing.
Carissa melepas tas dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya masih tertuju pada ucapan Cakra waktu itu. Apa dia harus coba untuk membuka hati?
Carissa akan coba walaupun kenyataannya adalah sulit.
.
.
.
Akhirnya SMA Hasanudin akan mengadakan ulangan akhir semester yang di mana Abian dan Bella lulus, sementara Carissa menginjak kelas tiga.
Semuanya berjalan lancar sampai hari kelulusan tiba, Carissa memberi selamat pada Abian dan Bella. Di sisi lain, Amelia yang hendek mendekati Abian, pun dihalangi oleh Dina dan Lala.
"Eits, lo mau ke mana?" Dina menatap Amelia dengan tajam. Dia masih kesal pada gadis itu, karena sudah berani menyentuh Leon.
"Apasih, minggir kak. Aku mau ngucapin selamat ke kak Abian."
"Nggak. Lo gak boleh ngerusak kebahagiaan mereka bertiga, lagian lo bisa, kok ngucapinnya di rumah. Kalian, kan satu rumah!" sahut Lala dengan melipat kedua tangan di depan dada.
"Bener juga. Yaudah, nanti aja di rumah."
Melihat Amelia yang polos itu meninggalkan mereka, keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Kak Bella, selamat, ya. Huhu, udah lulus aja!" Carissa memeluk Bella dan belum mau melepaskannya.
"Carissa belajarnya yang rajin, biar cepet lulus. Eh, jangam cepet-cepet deng. Nikmatin aja dulu masa sekolahnya sama temen-temen, soalnya lulus itu nggak enak kata orang."
Setelah sesi memberikan selamat, mereka pulang. Di rumah Abian dan Carissa duduk di sofa dengan kipas yang menyala menghadap keduanya.
Tiba-tiba Amelia dari arah belakang memeluk leher Abian hingga pria itu memekik kaget dan menepis tangan Amelia kasar.
"Kak Abian, kok kasar sama Amelia?"
Carissa menatap gadis itu malas, sementara Abian menatap tajam Amelia.
"Stop meluk gue kayak tadi. Lo.mau nyekik gue, ha?" bentaknya membuat Amelia mengerucutkan bibirnya. Duh, pengen Carissa tabok itu bibir, sok imut.
"Nggak ada salahnya meluk kakak sendiri. Kak Carissa aja nemplok ke kak Abian, nggak masalah."
"Beda. Lo bukan adek kandung gue, jadi stop berlagak seakan lo Carissa. Gue muak!"
Abian lalu meraih tas dan berjalan menuju kamarnya, sementara dua gadis itu masih setia di sana dengan Carissa sibuk memejamkan mata, merasakan hembusan angin yang menjamah tubuhnya.
Tiba-tiba dia merasa kembali gerah, membuka matanya perlahan Carissa terkejut melihat wajah Amelia yang berjarak hanya beberapa senti saja.
"Anjir, gue kirain kingkong. Bangs*t, muka lo jauhin dikit. Ganggu aja!" Carissa mendorong Amelia agar menjauh dan bergegas pergi dari sana.
Malam itu Carissa sedang melihat bintang dari rooftop kamarnya. Dia menghembuskan napasnya lalu menutup mata. Lelah rasanya kalau melihat masalah yang datang tidak ada habisnya.
Carissa sendiri semakin hari semakin merindukan kehidupan aslinya. Kapan ini akan berakhir?
Setiap masalah yang datang, selalu saja dengan orang yang sama. Carissa bahkan hampir lupa kapan terakhir kali dia makan bersama kedua orang tuanya.
"Kangen sama mama papa, kangen Amira. Huhu, kangen kehidupan gue yang sebenarnya. Tuhan, kapan selesainya."
Carissa akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya. Dia butuh istirahat untuk menghadapi hari esok.
Malam itu Carissa terlihat tertidur lebih cepat dan pulas dari biasanya. Rasanya seperti tidak tak pernah tertidur selama beberapa tahun saja.
Bahkan lihatlah sang author yang susah lelah dengan tugas dari dosen yang judul praktikumnya tak kunjung diterima. Sungguh sial bukan nasibnya? Dia dan Carissa sama lelahnya, mengeluh juga percuma.
Baiklah, mari kita tinggalkan sedikit curhatan author yang terasakiti—uhuk.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
AK_Wiedhiyaa16
Semangat yaa author!
Demi masa depan yg cerah (Aamiin)
2022-11-07
1