Siang itu di SMA Hasanudin, Carissa tengah menikmati es krim pemberian dari Dina dan Lala. Mereka meminta izin ke satpam untuk keluar membeli buku yang kebetulan di koperasi sedang habis.
"Enak banget ni es krim!" ucapnya sembari melempar stik es krim ke arah tong sampah.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri ketiganya yang sedang menikmati jam istirahat di taman belakang.
"Carissa, lo di cariin sama Ayara!"
Carissa mengernyitkan dahinya, dia tidak kenal siapa itu Ayara.
"Buat?" tanyanya dan hanya mendapatkan gelengan dari perempuan itu.
"Nggak tau, gue cuma di suruh buat manggil lo doang."
"Ck, kalo gak penting males gue."
Wajahnya terlihat sendu. Carissa hanya pasrah dan akhirnya beranjak dari sana.
"Kalian ke kelas duluan aja, ntr ngu nyusul." Setelah kedua temannya mengangguk, dia bergegas mengikuti langkah gadis tadi.
Setibanya di kelas, beberapa gadis terlihat tengah mengobrol. Carissa tebak ini adalah kelas tiga. Matanya menatap salah satu dari mereka yang langsung berdiri begitu Carissa menampakan wajahnya.
"Carissa?" tanyanya dan diangguki oleh gadis itu.
"Jadi ini cewe yang dirumorin deket sama Cakra? Beda banget, ya!"
Dahi Carissa mengkerut tanda tak paham, matanya sedikit menyipit saat mereka tertawa mengejek.
"Maksudnya?" Tangan Carissa telah terkepal sempurna, dia bukan gadis penyabar jika harus berhadapan dengan orang semacam ini.
Gadis itu maju dan menunjuk tepat pada Carissa. Satu hal yang harus kalian tahu bahwa dia benci di tunjuk seperti itu.
"Jauhin Cakra karena lo gak pantes bersanding sama dia. Secara yang pantes buat Cakra itu cuma gue!"
Carissa langsung memegang jari telunjuk gadis itu dan sedikit membuatnya kesakitan.
"Gue gak ada hubungan apapun sama Cakra, kalo lo mau, ya ambil. Jangan keliatan murahan ngemis-ngemis ke cowo!"
Carissa menghempaskan tangannya, lantas berjalan meninggalkan Ayara yang sudah emosi.
"Ck! Sial. Awas lo, ya. Gue bukan Fay yang bisa lo balas semudah itu. Lihat aja pembalasan gue!"
.
.
.
Sore itu Abian dan Carissa tengah berjalan berdua di mall. Ayahnya meminta mereka untuk membeli pakaian yang akan digunakan nanti malam pada acara ulang tahun perusahaan.
Tak sangka mereka bertemu dengan Bella, teman Abian. Sejujurnya di sini Carissa yang antusias, Bella ada kakak kelas yang dia sukai.
"Kak Bella cari apa?" tanyanya dengan menggandeng tangan Bella manja, sementara Abian membuang pandangan malas.
"Cari baju buat nanti malam. Perusahaan om Wijaya, kan ulang tahun. Sekeluarga di undang jadi harus datang."
Bella tersenyum sangat cantik, Carissa memang tidak salah memilih calon kakak ipar. Bahkan saat dia membaca novelnya, ia juga tertarik pada Bella yang sifatnya sangat lembut dan pengertian.
"Kalau gitu, ayo cari sama-sama. Biarin kak Abian sendiri, kita yang cewe-cewe harus bareng."
Bella hanya tertawa kecil dan melambai pada Abian yang terkejut saat keduanya semakin menjauh.
"Ck! Anak itu."
Mereka tiba pada tempat di mana menjual gaun-gaun dan dress yang cantik. Mata Carissa sejak tadi menatap ke arah sebuah dress selutut berwarna hitam.
"Adira mau dress hitam itu?" Bella yang peka langsung menunjuk ke arah dress tersebut.
"Mau, tapi pasti nggak cocok."
Carissa bisa insecure juga ternyata. Bella hanya tersenyum simpul, lalu menarik gadis itu dan menyuruynya untuk mencoba terlebih dulu.
"Sana dicoba dulu. Nggak akan tahu kalau kamu belum coba."
Carissa menerimanya sembari mengangguk. Setelah menunggu beberapa menit, Carissa keluar. Bella bahkan sampai tercengang melihat bagaimana cantiknya gadis itu menggunakan dress tersebut.
"Mbak, beli dress ini, ya!" teriak Bella membuat Carissa terkejut.
"Ini bagus Carissa, pokoknya nanti malam kamu harus pakai."
Bella memaksa dan Carissa hanya mengangguk setuju. Hari semakin sore, ketiganya telah bertemu di parkiran. Sebenarnya Bella ingin menolak, tetapi Carissa memaksanya untuk diantarkan oleh keduanya. Masalah mobil yang Bella bawa, bisa menyuruh supir di rumahnya.
"Kak Abian, ayo anterin kak Bella pulang. Nggak boleh nolak, kalau nggak nanti aku laporin ke papa."
Abian pasrah, sepasrah-pasrahnya. Jika menolak pun kemungkinan besar Carissa akan membuat masalah dan dia tak mau itu. Bella tak enak dengan Abian, apalagi melihat wajah masamnya.
"Ayo kak Bella, duduk sama aku."
Keduanya duduk di belakang dan berbicara dengan riang, sementara Abian sesekali melirik ke arah spion di atas kepalanya yang mengarah langsung pada Bella.
Mereka akhirnya tiba di depan gerbang rumah Bella. Setelah turun, Carissa melambai-lambai senang dan akhirnya mobil hitam itu melaju meninggalkan kekediaman keluarga Rajasa.
Malam itu, Bella nampak sedang menunggu Carissa yang di dandani beberapa maid. Acaranya di adakan secara indoor di salah satu hotel terkenal. Wijaya sendiri memesan lantai atas dan rooftopnya agar para tamu undangan tidak bosan nantinya.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis cantik. Rambut sepunggung itu bergelombang cantik dengan polesan make up di wajahnya yang terlihat ringan, tetapi betah untuk dipandang lama-lama.
"Kak?" panggilnya membuat Bella terbangun dari lamunannya.
"Ahahah, kamu cantik banget sampai-sampai kakak pangling. Udah, yuk berangkat. Acaranya sebentar lagi dimulai!"
Carissa mengangguk dan mereka pun berangkat.
Setibanya di sana, jantung Carissa berdetak lebih cepat saat memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai atas.
Bella yang melihat itu hanya tersenyum dan menggenggam tangan Carissa lembut.
"Jangan tegang gitu. Pasti semuanya bakalan pangling lihat kamu cantik banget. Ada Dina sama Lala juga, loh."
Carissa mengangguk, dia lupa kalau kedua temannya juga diundang. Mengingat ayah keduanya juga pernah bekerja sama dengan Wijaya.
Ting...
Pintu lift pun terbuka dan Carissa langsung menggenggam erat tangan Bella. Sungguh, dia belum pernah sekalipun memakai dress di acara-acara begini. Seingatnya saat belum pindah tubuh, dia selalu menolak untuk datang. Alasannya sangat membuat orang terkejut, yaitu dirinya tak suka memakai dress.
Namun, kali ini berbeda. Dia berada di tubuh orang lain jadi harus bersikap lebih lemah lembut lagi, walaupun sama saja, sih.
Pintu terbuka dan keduanya sontak menjadi pusat perhatian. Bella dengan percaya diri membawa Carissa ke hadapan Wijaya serta Abian.
"Ehehehe!" tawa Carissa malu saat kedua keluarganya itu menatapnya kagum.
"Carissa, ini kamu?" Wijaya mendekat dan melihat anak perempuannya.
"Papa lihat sendiri, dong!" ketusnya.
"Habisnya papa nggak pernah lihat kamu dandan begini. Cantik banget mirip mama kamu!"
Abian mendekati Carissa dan melepaskan jas yang dia gunakan lantas melampirkannya ke pundak sang adik.
"Nggak boleh ada yang lihat bahu kamu."
Dress Carissa memang bahunya terekspos. Dia terkekeh pelan dan melihat kue ulang tahun yang lumayan besar.
Perutnya mendadak berbunyi, untunglah berisik jadi tidak ada yang mendengar. Carissa alias Nala itu maniak makanan.
Beberapa pria yang tengah berbicara, pun menatap kagum pada Carissa. Mereka tak menyangka gadis bar-bar itu bisa menjadi feminin dan sangat cantik.
"Cantik banget."
Acara pun dimulai, Wijaya mulai mengucapkan sepatah dua kata sebelum akhirnya peniupan lilin dan pemotongan kue.
Sebelum kue itu tiba, Carissa lebih dulu mencomot krim hingga membuat Abian keheranan.
"Carissa!" tegurnya membuat gadis itu menoleh.
"Aku lapar. Cepat, aku mau kuenya."
Tibalah pada acara yang ditunggu banyak orang. Akan ada sesi dansa, ini sudah menjadi kebiasaan bagi Wijaya.
Carissa dan dua temannya sedang menikmati kue kecil di meja. Mereka kadang tertawa sendiri saat ada yang membuat lelucon atau berbicara sesuatu yang lucu.
"Carissa, lo cantik banget malam ini. Gue yakin, pasti Keenan, Cakra sama Leon bakalan kagum liat kecantikan lo!" Dina berbicara asal ceplos sampai-sampai gadis itu tersedak kue dan segera minum.
"Ngadi-ngadi."
Baru saja selesai mengelap mulutnya dengan tisu, tiga tangan telah berada di bawah pandangannya. Carissa mendongak dan mendapatkan pria yang baru saja namanya disebutkan oleh Dina.
Belum ada yang berbicara, tetapi mereka sudah saling beradu tatap. Tiba-tiba tangan ketiga di pukul membuat mereka melihat siapa pelakunya.
"Menjauh dari Carissa. Sana cari cewe lain, adek gue nggak boleh di sentuh sama manusia modelan kayak kalian."
Itu adalah Abian. Carissa menatap canggung pada ketiganya yang menelan saliva kasar saat berhadapan dengan Abian.
"Kak Abian, biarin gue dansa sama Carissa. Setelah ini kak Abian mau apapun dari gue, bakalan gue kabulin!" Itu Cakra. Apa dia sudah gila? Abian bisa saja meminta debuah resort padanya. Ya, ayah Cakra adalah seorang pengusaha resort.
"Wahai calon kakak ipar, lebih baik saya saja yang berdansa dengan adik anda. Sa-"
"Najis banget lo pake bahasa formal!" ucap Lala sembari tertawa nyaring.
"Diem lo!" ucap Keenan, padahal dia sudah menurunkan gengsinya demi bisa berdansa dengan Carissa.
Di sisi lain, Leon hanya menggaruk tekuknya bingung, pasalnya semua pasang mata tertuju padanya.
Namun, netra Carissa dan Keenan saling bertemu. Dia langsung ingat tentang perjanjian keduanya, ini belum sebulan jadi dia tidak boleh menolak permintaan pria itu.
Carissa berdiri dan menerima uluran tangan Keenan, membuat remaja itu terkejut bukan main.
"Kalau bukan gara-gara perjanjian waktu itu, gue juga ogah!" batinnya terpaksa.
Senyuman mengembang di bibir Keenan, membuat Cakra dan Leon sedikit geram, tetapi bisa apa? Toh, yang dipilih itu dia bukan mereka.
Alhasil keduanya duduk bergabung dengan Dina dan Lala, menyantap kue basah dengan perasaan galau.
Dina dan Lala hanya menggeleng pelan melihat betapa merajuk keduanya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments