13| Pernikahan

Langit sore menunjukan kecantikannya. Seorang gadis dengan jaket hitamnya tengah berjalan-jalan menikmati semilir angin yang menghembuskan wajahnya.

   "Ah! Udah lama gue gak jalan-jalan sendiri."

Sudah hampir empat bulan Nala berada di tubuh Carissa dan selama itu pula masalah semakin banyak, seakan takdir tak peduli beban seberat apa yang dia pikul seorang diri.

Mata sayu itu menatap jalanan yang ramai, hingga manik cantiknya menemukan dua insan yang tengah berdiri di seberang jalan. Seorang pria yang Carissa sangat kenal berjongkok, lalu menunjukan cincin pada seorang wanita.

Jantungnya berdetak lebih cepat, matanya memanas melihat pemandangan menyakitkan itu. Apalagi melihat keduanya berpelukan mesra hingga si pria melihat Carissa yang menatap lurus padanya. Dia menghentikan aktivitas memeluk dan mencoba melihat ke seberang jalan lagi, tetapi tidak ada yang berdiri di sana.

   "Zidan, ada apa?" gadis itu menggenggam tangan Zidan, tersenyum manis ke arah calonnya.

   "Bukan apa-apa."

Carissa meremas jaketnya dan terduduk dibalik pohon. Dia menangis hingga jam delapan malam. Jalanan masihlah ramai, setelah merasa tenang dia berjalan tak tentu arah dan membawanya ke taman tempat pertama dirinya bertemu dengan Zidan. 

Diduduki sebuah ayunan dengan tatapan mata sendu. Menurutnya, hati milik Carissa cukup aneh. Harusnya setelah melihat pemandangan tadi, dia bisa menutuskan untuk berhenti menyukai Zidan, tetapi ini kebaliknnya. Hatinnya semakin ingin memiliki pria itu, tetapi dia tahu bahwa hal itu hanya akan berujung pada obsesi.

Ditatapnya bulan yang bersinar terang dan bintang di sampingnya.

   "Bahkan bintang pun nggak cukup sinarnya buat bantu bulan nerangin dunia."

Dia merasa ada seseorang yang duduk di ayunan sebelah, tetapi Carissa tetap menatap ke atas. Dia takut, takut jika menatap orang di sampingnya, maka niat untuk melupakan semakin sulit.

   "Ngapain di sini sendirian?"

Suara itu, suara yang selalu ingin dia dengar setiap harinya.

   "Bukan urusan bapak!" ucapnya ketus, mencoba menyembunyikan ekspresinya.

   "Santai aja. Kita bukan lagi di sekolah, jadi panggil nama juga gak masalah. Umur kita nggak beda jauh, kok!"

   "Nggak, nanti gue dicap gak sopan sama yang lebih tua."

Pria itu menghembuskan napasnya, ada apa dengan Carissa?

   "Kamu kelihatan kayak habis nangis, lagi ada masalah? Kalo iya, cerita aja."

   "Pak, gak usah sok peduli gitu. Nanti saya salah paham, apalagi bapak udah punya calon istri. Tolong jaga jarak sama saya!" Sungguh, nada bicara Carissa sangat ketus membuat Zidan agak kesal.

   "Nggak bisa. Nana terus nyariin kamu, besok kamu bisa main ke rumah?" pintanya menatap Carissa, tetapi gadis itu masih setia menatap bulan.

   "Udah ada bu Feli, kenapa harus saya? Saya bukan babysitternya Nana."

Carissa berdiri tanpa memandangi wajah Zidan.

   "Saya permisi pak, udah malam. Mending bapak pulang dari pada berduaan sama saya di sini, takutnya jadi salah paham!"

Carissa langsung melongos pergi meninggalkan Zidan yang terdiam di tempat. Tidak biasanga Carissa begini, padahal kemarin-kemarin gadis itu biasa saja dan sering datang ke rumah untuk bermain dengan Nana.

Zidan ini polos apa kelewat bego? Eh.

Carissa tengah menatap ponsel dan melihat postingan milik Zidan. Dadanya semakin sesak melihat betapa romantisnya kedua gurunya itu.

   "Romantis banget. Gue yang udah deket aja masih nggak bisa buat dia tersenyum kayak gitu ke gue."

Carissa memang sering bermain dengan Nana dan otomatis bertemu Zidan. Hanya saja, pria itu akan berbicara seperlunya pada Carissa dan hampir tak pernah tersenyum. Mungkin hanya perasaannya saja, menganggap bahwa dia sudah dekat dengan Zidan.

   "Cinta bertepuk sebelah tangan, ya?"

Dia langsung teringat pada temannya, yaitu Amira. Ketika gadis itu mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, maka dirinya akan menyuruh Amira berhenti menyakiti diri sendiri. Menyukai secara sepihak hanya akan menimbulkan luka yang dalam dan akhirnya meninggalkan trauma dan menolak untuk membuka hati pada siapapun.

Sekarang, dia yang menyukai seseorang secara sepihak. Jika Amira tahu, pasti dia akan mengomeli Carissa sepanjang waktu.

.

.

.

Carissa baru saja pulang dari rumah Dina, dia sudah berjanji akan menginap di rumah gadis itu bersama Nala. Setibanya di sana, matanya menangkap sebuah bingkai foto yang di mana ada empat orang berpose dengan baik di depan kamera.

Abian yang melihat kehadiran Carissa pun terkejut. Pasalnya gadis itu izin menginap di rumah Dina selama tiga hari dan pulang pada minggu sore.

Carissa membeku di tempat, Wijaya dan Feli baru saja turun dan melihat Carissa menatap mereka tak percaya.

Sebuah foto pernikahan dengan ukuran lumayan besar.

   "Cariss-"

   "Jadi ... "

Suasana menjadi tegang, Wijaya langsung merasa bersalah pada anaknya. Apalagi mereka menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan gadis itu dan kejamnya lagi mereka melakukan sesi foto keluarga tanpa adanya gadis itu.

Carissa terlalu banyak menangis, sampai rasanya dia tak memiliki air mata lagi. Tangannya terkepal sempurna, rahangnya mengeras.

   "Wahahaha!" Carissa tertawa secara tiba-tiba membuat mereka keheranan.

   "Hebat banget!"

   "Nggak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba udah ada foto pernikahan dan keluarga baru aja. Hebatnya lagi, gue gak ada. Anak pungut kali, ya!"

Carissa masih tertawa, tetapi matanya menangis. Ada apa dengan keluarga ini, batinnya.

   "Kerena banget. Gue jadi tersanjung ngelihat foto keluarga baru itu, damai banget mukanya. Seneng, ya punya mama sama adik baru. Oh, nggak apa-apa kalau nganggep gue debu."

Abian ingin mendekat, raut wajahnya sulit dijelaskan apalagi melihat Carissa yang terus mengoceh.

   "Gue mah cuma debu yang numpang lewat di keluarga ini, kagak di anggep. Makasih udah mau nampung gue, gue izin pamit. Gue bakalan pergi dari rumah dan nggak nunjukin tampang ngemis gue ke sini lagi."

Carissa berjalan melewati Abian, pria itu dengan cekatan menahan tangan adiknya, menatapnya dengan tatapan sedih.

   "Please, Carissa. Jangan kayak gini!"

Wijaya dan Feli langsung berjalan turun dan menghampiri Carissa. Ayahnya ingin memeluk gadis tersebut, tetapi Carissa buru-buru mebghindar.

   "Lepas!"

Carissa menepis tangan Abian dengan kasar dan menatap tajam pada sang kakak.

   "Kenapa? Mau larang gue buat pergi dari sini? Loh, harusnya seneng dong. Pengganggu di rumah ini bakalan pergi!"

   "Carissa, dengerin penjelasannya dulu. Kam-"

   "Apa yang mau dijelasin? Dari awal juga gue emang nggak ada tempat di sini. Mau tau gak? Gue nyesel terlahir sebagai seorang anak dari keluarga Wijaya. Papanya aja nggak peduli tentang pendapat anaknya, gimana mau bahagia?"

   "Semua ini gara-gara lo!" Carissa menunjuk tepat pada Feli.

   "Dasar runtah! Kalo aja lo gak gatel buat godain papa gue, gak akan begini jadinya."

   "Carissa!"

Plak

Renyah sekali bunyi tamparan yang mendarat di pipi Carissa. Bukan Wijaya ataupun Feli yang melakukannya, tetapi Abian. Rasa panasnya menjalar sampai ke seluruh tubuh, membuat Carissa membulatkan matanya sempurna. Tak ada yang pernah menampar dia selama ini.

    "Ucapan kamu udah keterlaluan. Dia itu mama kamu, harusnya kamu hormatin!"

Para maid terkejut melihat keribuatn itu, apalagi saat Abian main tangan pada Carissa.

Abian akhirnya tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan dan berniat meminta maaf, tetapi hasilnya.

Bugg

Carissa menghujami pukulan ke wajah Abian, membuat Feli histeri dan Wijaya dengan cekatan memeluk Carissa dari belakang agar gadis itu berhenti memukul Abian.

   "Bangs*t, berani banget lo mukul gue. Sini lo anj*ng, muka lo harus gue  buat rusak!" teriaknya kesal.

Abian sudah babak belur dengan darah yang mengalir dari ujung bibir, giginya pun lepas satu. Dia tak menyangka bahwa Carissa akan seperti ini.

Abian melihar Carissa yang menatapnya dengan tajam. Itu bukan Carissa, tetapi orang lain.

   "Lo kira, lo doang yang bisa ringan tangan? Gue juga bisa. Jangan mentang-mentang lo kakak, terus seenaknya nampar gue demi perempuan luar kayak dia. Sampai mati gue bakalan inget gimana lo nampar gue dan bela orang asing."

Carissa melepaskan diri dari Wijaya yang shock akan perbuatan anaknya. Carissa sudah kehilangan kendali, bahkan berani memukul Abian seperti itu.

   "Gak usah kepedean lo jadi bagian keluarga ini. Sampai kiamat juga gue gak akan nerima lo sama anak lo jadi bagian keluarga Wijaya dan jangan sok peduli sama gue. Mama gue cuma satu!"

Carissa langsung berjalan menuju tangga, dia berpas-pasan dengan gadis tersebut bernama Amelia. Ia langsung menyenggol bahu Amelia secara sengaja.

Di kamar, ia mengambil foto keluarganya. Dia menatap Carissa yang tersenyum manis sembari berada dalam rangkulan Abian. Wijaya dan istrinya tersenyum manis menatap kamera.

   "Carissa ... Maafin gue!" Akhirnya dia terisak, dia tahu kalai Carissa tidak akan suka ayahnya menikah lagi. Sulit bagi Carissa menerima orang baru dalam kehidupannya.

   "Maaf, gue nggak bisa nyegah papa lo nikah lagi. Mereka nikah tanpa sepengetahuan gue, maafin gue!"

   "Padahal gue udah janji buat bikin ending yang bahagia buat, lo tetapi gue bahkan gagal cegah keluarga ini supaya gak berantakan."

Malam itu, Carissa menangis di samping ranjang sampai tertidur dengan posisi foto berada di sampingnya. Dia lupa mengunci pintu kamar hingga Wijaya masuk dan melihat foto keluarganya.

Hatinya mencelos, melihat betapa hancurnya sang putri yang mati-matian menjaga agar Wijaya tak menikah lagi, tetapi dia akhirnya menghancur harapan putrinya.

Dulu, Carissa pernah mengatakan pada Wijaya bahwa dia tidak membutuhkan mama baru, karena sulit baginya menerima orang asing. Dia menyukai keluarga ini, tanpa adanya campur tangan dari luar.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

DewaSistem05

DewaSistem05

tolol lu pada keluarga wijaya

2023-03-10

2

AK_Wiedhiyaa16

AK_Wiedhiyaa16

Carissa terlalu galau sama perasaannya sendiri sampe lupa masalahnya di rumah makin runyam

2022-11-07

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!